
*SUK*
#49
Sepanjang perjalanan menuju apartemen James keduanya diam, hanya menatap lurus jalanan di depannya.
Saat turun dari mobil James melihat Alice yg berjalan mendahuluinya, setelah memarkirkan mobil,James melangkah lebar mengejar Alice.
Saat sudah dekat, ditariknya lengan Alice dan keduanya saling menatap. Dilihatnya mata Alice yang masih memerah.
"Sejak awal aku sudah katakan padamu, bahwa aku dalam proses melupakan Mei, jadi, aku tidak bermaksud menyakitimu," James berusaha menjelaskan pada Alice, meski ia belum ada perasaan apapun pada Alice, ia mulai ada rasa tak tega menyakiti Alice.
Alice terlihat menunduk lalu menatap James lagi
"Apakah kamu pernah menciumnya?" tanya Alice lagi dan James mengangguk.
"Yah, aku pernah menciumnya, dengan sepenuh hatiku, tapi jawabannya sangat menyakitkan, ia tak merasakan apapun," James melepaskan tangannya pada lengan Alice.
"Sama dengan yg kamu rasakan tadi James, kamu tidak merasakan apa-apa dengan ciumanku kan, malah yang hadir dalam bayanganmu pasti wajah Meisya," Alice menunduk, menatap ujung snikersnya.
"Apakah kamu sangat mencintainya?" tanya Alice lagi dengan tatapan sedih.
"Yah, sangat, Mei memiliki semua hal yang laki-laki inginkan pada seorang wanita, ramah, sabar, mengalah, ceria, manja, dan cantik, yang jelas aku selalu merasa nyaman jika berada di sisinya, satu kelebihan dia lagi, pandai memasak. Al, aku bilang begini bukan mau membandingkan kamu dengan Mei, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, jadilah dirimu sendiri, kamu tidak akan bisa sama dengan siapapun," James menatap wajah Alice dengan perasaan iba.
"Ayolah kita masuk, Edwin dan Mei akan segera ke bandara, aku akan mengantar mereka," ujar James menarik tangan Alice.
***
Edwin dan Meisya pamit pada omBen dan diantar James ke bandara. Sedangkan Alice menemani om Ben di apartemen James.
***
"Om tidur saja, ini sudah malam, takut om capek," ujar Alice yang melihat om Ben masih melihat beberapa dokumen di ruang tamu. Sekilas om Ben tersenyum dan memasukkan dokumen- dokumen perjanjian yg ia tandangani dengan Edwin.
"Alice, kamu mencintai anak om?" tanya omBen dan menangkap keterkejutan Alice.
"Yah sejak awal saya melihatnya om, entah mengapa sejak itu saya tidak pernah bisa melupakan wajah James," suara Alice terdengar pelan.
"Satu saran om, bertahanlah di sisinya, jika kau mau bersabar menunggu perasaan James padamu, cinta nya pada Meisya terlalu besar, dan James harus segera disadarkan bahwa Meisya sudah ada yang memiliki, dia harus melanjutkan hidup, harus belajar mencintai wanita lain," om Ben manatap Al yg masih saja menunduk.
"Mau kan Al mengikuti saran om, bersabarlah, satu lagi, dia tidak suka terlalu dikejar," om Ben tersenyum menatap wajah Alice yang menurutnya juga cantik, dan Alice mengangguk perlahan.
***
Om Ben merebahkan badannya,Al membenahi selimut om Ben.
"Selamat tidur om,besok jika James sibuk, biar Al yg antar ke rumah sakit, om harus sehat, om harus melihat kami,saya dan James menikah," Al tersenyum menahan malu, om Ber terkekeh perlahan.
"Om kagum pada kegigihanmu, terkadang ada tipe laki-laki yang memang harus dikejar, om akan mendukung mu," om Ben menepuk lengan Al sekilas.
Al keluar kamar om Ben dan duduk di sofa menunggu James datang, sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
***
Jam 10 malam James sampai diapartemennya, ia mendapati Alice yang tidur meringkuk di sofa. James mengambil selimut dan menyelimuti badan Al. Saat akan masuk ke kamarnya lagi, ia mendengar suara papanya yg sepertinya, mual-mual. Bergegas James mendatangi papanya dan duduk di sampingnya.
James meninggikan bantal om Ben dan membalur obat gosok hangat pemberian bu Minda, ke dada dan perut papanya. Om Ben memandang wajah James dengan iba, wajah James mengingatkan ia pada almarhum istrinya.
"Makasih James, kamu mau merawat papa," ujar om Ben. James tersenyum dan berdiri hendak keluar namun om Ben memanggilnya, James menoleh.
"Al terlihat sangat mencintaimu James," ujar om Ben. Dan James berbalik menghadap papanya.
"Tak ada salahnya mencoba James, dia anak baik, kamu harus melupakan Meisya dan belajar mencintai wanita lain, belajarlah dari pengalaman papa, jangan seumur hidup kamu terikat pada cinta lama, akan sangat menyakitkan anakku," om Ben menatap James dengan pandangan sedih. James mengangguk
"Yah, aku memang belajar melupakan Mei papa, tapi aku belum merasakan apapun pada Alice, biarlah waktu yang nantinya menjawab, akan seperti apa perjalananku dengan Alice, akan berlanjut atau tidak," sahut James dan keluar dari kamar papanya.
James bingung dia harus tidur dimana, mau tidur di kamar sebelah, kasian Alice yang meringkuk di sofa, sementara sofa sudah ditempati Alice.
Akhirnya, James menggendong Alice dan membawanya ke kamar sebelah. Saat akan membaringkan ke kasur tiba-tiba Alice membuka mata dan memeluk leher james. James menatap wajah Alice dari jarak dekat dan dilepaskannya kedua tangan Alice yang melingkar di lehernya.
"Aku tidak ingin menyakitimu lagi, aku tidak ingin kamu mendengar aku memanggil nama Mei lagi, tidak untuk saat ini Al, tidurlah," saat James akan keluar, tiba-tiba Al menarik tangan James dan seketika Al bangun dan memeluk James. James diam saja. Tak lama, ia hanya mendengar isakan Alice.
"Aku mencintaimu James," suara Al hampir tak terdengar. James tak berkata apapun,perlahan dan ragu James memegang kedua bahu Alice lalu mengusap rambut Al perlahan.
"Aku, aku tidak bisa menjawab apa-apa Al untuk saat ini," ujar James.
"Tak apa, yang penting kamu tahu, kalo aku mencintaimu," Alice mengeratkan pelukannya.
"Tidurlah, aku ambilkan kaosku agar kamu bisa ganti baju besok pagi- pagi aku antar kamu ke apartemenmu dan aku akan mengantarkan papa ke rumah sakit," ujar James melepaskan pelukan Al.
***
Sesampainya di Kamar Edwin, keduanya melanjutkan tidurnya.
***
"Bik Sum, tadi Mei dan Edwin ya yang datang, aku dengar samar- samar suara Edwin?" tanya bu Minda sambil melihat-lihat yang di masak bik Sum.
"Iya nyah, capek kayaknya dua orang itu, langsung tidur paling, nggak denger suaranya lagi tuh," jawab bik Sum asik memetiki daun kangkung untuk teman sambel pecel.
"Heeeh nggak capek gimana, lah selama di sana Edwin nggak ada capeknya biiik ngerjain Meisya, mangkel bener, sampek pernah aku keganggu dan nggak bisa tidur," bu Minda terlihat kesal.
"Leh masak gituan sampek ganggu tidur nyonyah, aneh to?" ujar bik Sum terkekeh.
"Heeeh bik Sum nggak tau, aku ya baru tau kalo Edwin sampek gitu suaranya, pengen tak gedor pintu kamarnya, cuman kasian Mei saja, untung punya istri penurut, diem aja diapa- apain, kalo aku bik, heeemm," bu Minda terlihat jengkel.
"Alaaah wong dulu nyonya ya manut sama tuan Seno," ujar bik Sum terkekeh.
"Mas Seno suabar gitu bik, suaranya selalu lembut, siapa yg nggak akan manut, selalu menatap dengan mesra, selama jadi istrinya, aku nggak pernah dimarahin, dibentak apalagi, maka nya waktu mas Seno meninggal, aku nggak ada pikiran buat nikah lagi bik, sudah selesai semua," bu Minda menghela napas, tiba-tiba ia mengingat om Ben dan tetap berharap padanya.
***
Bu Minda mengetuk kamar Edwin, muncul wajah lelah Edwin.
__ADS_1
"Bangun Ed, nggak ngantor kamu?" tanya bu Minda.
"Iya ma, ngantor, ntar lagi, jam 8 paling aku ke kantor, mau nyiapin dokumen perjanjian sama perusahaannya Alfa, besok Alfa datang," jawab Edwin sambil tiada henti menguap.
"Alfa teman kamu yang ganteng itu, ah iya iya mama ingat pernah kamu ajak kesini dulu kan nginap disini, sekarang dimana dia?" tanya bu Minda.
"Ya tetep di SG ma, keluarganya disana semua, perusahaan keluarganya ya disana, ya dah, aku mandi dulu," ujar Edwin dan terlihat Mei yang baru selesai mandi.
Mei dan bu Minda menuju ruang makan dan menata sarapan yang sudah disiapkan bik Sum. Sarapan sederhana yang menggugah selera, ada sambel pecel plus sayur kangkung, kecambah dan kacang panjang rebus, tahu tempe goreng, ayam goreng dan telor ceplok.
Bel pintu depan berbunyi sepagi ini ada tamu, Mei dan bu Minda saling pandang, Mei bergegas menuju pintu dan mendapati seorang laki-laki jangkung yang menatapnya dengan kaget, diantar oleh Pak Sarpin, petugas keamanan yang biasa berjaga di pintu depan, Pak Sarpin pamit kembali ke pos depan.
"Edwin atau mamanya ada, kamu siapa?" tanyanya ramah, sambil tersenyum dan Mei hanya mengangguk.
"Ada, ada, ibu sama kak Ed ada, mari silakan duduk, saya panggil ibu sama kak Ed," ujar Mei menyilakan tamunya duduk tanpa menjelas kan siapa dirinya.
Mei bergegas ke ruang makan dan terlihatEdwin yang segar dengan kaos putih dan celana jins.
"Kaaak tuh ada tamu nanyain kakak, kayak kakak orangnya, tinggi," ujar Mei menunjuk ruang tamu.
Edwin bergegas keruang tamu, siapa sepagi ini sudah bertamu. Sesampaimya di ruang tamu ia terkejut dan merentangkan tangannya, mereka berpelukan dengan erat.
"Alfa, kamu kok nggak ngasi kabar kalo hari ini mau datang, katanya besok, tapi nggak papa deh, lama banget nggak ketemu, makin ok aja," ujar Edwin menyilakan Alfa duduk kembali.
"Emang mau kasi kejutan, makin ok apanya, tetep nggak laku gini, eh tadi ada gadis mungil cantik, adik angkat kamu apa gimana, setauku kamu cuman berdua sama kak Edwina, dia tadi bilang kak Ed deh kayaknya pas buka pintu, kenalin aku ke dia Ed," ujar Al yang membuat Edwin terbahak dan ingin meninju wajah Alfa.
"Kamu ya tetep aja main embat, itu istriku tahu, Mei sayaaang, mamaaa ini si Alfa datang," Edwin masih saja terbahak dan memanggil mamanya serta Meisya.
Alfa kaget dan tertawa-tawa juga.
"Eh pedofil kamu ya, anak kecil kamu jadikan istri," ujarnya sambil tertawa.
"Dia ambil magister di Aussie, Alfa, bukan anak-anak lagi,wajahnya aja yang nggak boros," ujar Edwin yang menarik lengan Mei untuk duduk di dekatnya.
"Ini temen kuliah kakak Mei, Alfa namanya, ini istriku, nggakusah pakek acara salaman, ngerti," Edwin menatap Alfa yg masih saja tertawa.
"Ya mana aku tahu kalo ini istrimu Ed, lah kamu nggak ngundang aku pas nikah," ujar Alfa masih sesekali melihat pada Meisya yang tak percaya itu istri Edwin karena wajahnya yang seperti gadis remaja.
Meisya hanya mengangguk dan tersenyum pada Alfa, lalu bu Minda yg datang memeluk Alfa dan mengajak mereka semua sarapan. Alfa menolak karena sudah sarapan tadi di bandara. Akhirnya mereka bercerita sambil sarapan, sedang Alfa menikmati teh hangat buatan bik Sum.
***
James membangunkan Alice sambil menepuk bahunya perlahan. Alice bangun dan menatap James yang duduk di sampingnya.
"Bangunlah, aku antar kamu dulu, nanti aku ke rumah sakit bareng papa, mobilmu akhirnya ada di mana Al?" tanya James.
"Di galeri ku," jawab Al singkat, James hendak bangun namun lengan James ditarik lagi oleh Alice sehingga James terduduk lagi dan badannya hampir menindih badan Al. Jarak mereka jadi sangat dekat.
"Jangan bergurau Al, nanti aku nindih kamu," ujar James tanpa senyum namun justru Al memegang pipi James dan mendaratkan bibirnya pada bibir James. James diam saja saat ciuman Alice semakin menjadi, lengan James menopang di kasur kawatir badannya benar-benar menindih Alice, saat tangan Alice menahan tengkuknya, James mengerang perlahan dan berusaha melepaskan diri....
Jaaames...," suara papanya tiba-tiba berada di belakangnya....
__ADS_1
****