
*SUK*
#41
"Mama, om Ben bilang apa, ma?" Edwin menatap mamanya. Bu Minda masih menempel kan ponsel Edwin ke telinganya. Menarik napas panjang, dan..
Ya, aku akan menemanimu bersama Meisya atau Edwin
Terima kasih Minda, terima kasih
Bu Minda menyerahkan ponsel ke tangan Edwin, setelah memutuskan sambungan ponselnya.
"Mama nggak salah kan Ed, ngambil keputusan kayak gini?" tanya bu Minda dengan wajah bingung dan mata berkaca-kaca.
"Nggak apa-apa mama, nggak papa, toh nanti akan ditemani Mei kan, ato kalo mama sendirian pun, akan ada James yg menemani, mama tidak akan benar-benar sendiri," kata Edwin menenangkan.
"Biarlah aku berangkat sendiri Ed, toh ada James disana, mama tidak ingin merusak rencana yg sudah kalian persiapkan, pergilah bulan madu Ed, mama tahu bagaimana inginnya kamu pergi berdua dengan Meisya," ujar bu Minda menatap Edwin dengan serius.
"Iya sih, tapi kan Mei liburnya masih sebulan lagi ma, lumayan lama juga, nggak papa mama berangkat bareng Mei, nanti aku nyusul, aku ingin lihat apartemen yang kami dapat dari om Ben," ujar Edwin yang bersiap berangkat dan mencium bibir Mei sekilas.
"Hei dari tadi kok diam saja sayang?" tanya Edwin.
"Nggak tau kenapa Mei agak pusing kayaknya," Mei memijat keningnya perlahan.
"Hah pusing, istirahat aja sayang ya," Edwin terlihat kawatir.
"Hmmm gimana nggak pusing dan capek non Meinya deeen lah wong terus-terusan, untung nggak pingsan, den Ed yang kebangeten ini, hari ini non Mei harus istirahat dari gempuran den Ed," bik Sum tampak melangkah ke sisi Meisya dan mulai memijiti bahu, leher dan kening Meisya.
Edwin tertawa dengan keras dan sekali lagi mencium pipi Meisya.
"Aku berangkat ya sayang."
"Edwin kamu kan belum sarapan gimana sih," ucap bu Minda.
"Udah cukup minuman hangat bikinan Mei ma, ntar siang aja makan nya," Edwin pamit pada bu Minda, dan Meisya lalu melangkah keluar namun sebelumnya sempat menggelitiki bik Sum.
"Eh copot sapi mabur, den Eeed kuwalat orang tua kok dikerjain," bik Sum tampak marah- marah dan tawa Edwin diluar rumah terdengar sampai ke ruang makan.
***
Dua hari lagi Bu Minda berangkat ke Sudney, keputusan akhir, ditemani Meisya, karena menurut Edwin, James sepertinya benar-benar sibuk akhir-akhir ini dan jika ditelpon selalu agak sulit dihubungi.
***
Malam hari saat Edwin dan Mei duduk di ruang keluarga setelah makan malam, bu Minda menghampiri mereka.
"Maaf mengganggu kalian," ujar bu Minda duduk di dekat Meisya.
"Ah nggak kok ma, dari tadi Mei sama aku asik dengan ponsel masing- masing ini," Edwin meletakkan ponselnya dan menatap mamanya.
"Sudah ngubungi Ben kamu Ed, bilang kalo mama kesana bareng Mei," ujar bu Minda.
"Sudah ma, om Ben bilang makasih, dan minta maaf sudah gangguin aku dan Mei, eh iya ada salam dari om Ben sayang," Edwin menatap istrinya yang tampak mulai mengantuk. Mei hanya mengangguk.
"Kok ngantuk sih Mei, keliatan capek lagi, lagi dapet ya?" tanya bu Minda.
"Nggak ibu, kan pas nikah itu Mei baru aja selesai mens ibu," jawab Mei sambil menutup mulutnya yang menguap berkali-kali.
Hadeh alamat nih, bakalan cepet dapet cucu nyonyah," kata bik Sum yg tiba-tiba datang dengan pisang goreng yg masih panas dalam piring saji dan meletakkannya di meja. Dan Edwin mencomot nya satu lalu mendesis kepanasan waktu memasukkan pisang goreng ke mulutnya.
__ADS_1
"Ya nggak papa bik, aku malah senang Mei cepet hamil," bu Minda terlihat bahagia.
"Ih bik Sum bisa aja," ujar Mei mengambil pisang goreng dan meletakkannya di atas tisu, menekannyanya sebentar untuk menghilangkan sisa minyak goreng yang menempel, lalu memakannya dengan pelan.
***
Jam 9 Mei sudah tidak kuat lagi dan pamit pada Edwin dan bu Minda untuk tidur lebih dulu.
"Tidurlah Mei, istirahat lah yang cukup, dua hari lagi kita melakukan perjalanan lagi," ujar bu Minda dan Mei mengangguk sambil tersenyum dan melangkah menuju kamarnya.
"Edwin, mengapa mama mengajak Mei, mama nggak mau benar-benar berdua sama Ben, mama nggak mau Ben nyentuh-nyentuh mama kayak yang kapan hari, mama merasa papamu mengawasi mama dan mama merasa berdosa padanya, dia laki-laki baik, sabar dan hebat, tidak akan ada laki-laki yg mau mengorbankan perasaannya dan harga dirinya menikahi mama yang kondisi mama seperti itu, makanya saat papamu meninggal, mama sudah memutus kan untuk tidak akan menikah lagi," bu Minda menerawang mengingat kenangan masa lalunya.
"Iya nggak papa ma, Edwin setuju aja, toh nanti Edwin akan nyusul, itung-itung bulan madu ke Sydney, mau ngerasain apartemen baru sama Mei ma, yang dikasi om Ben tuh," Edwin melihat mamanya yang mengangguk.
"Edwin tidur dulu ya ma, besok banyak kerjaan," Edwin beranjak menuju kamarnya.
***
Dua hari kemudian....
Edwin mengantar bu Minda dan Meisya ke bandara, menunggu sampai mereka boarding, baru Edwin melanjutkan perjalanan nya ke kantor.
***
Setelah menempuh perjalanan hampir tujuh jam akhirnya sampai mereka di Sydney, ternyata ada James dan Kent yang sudah menunggu mereka. Ternyata Edwin yang berkabar pada James bahwa mamanya dan Meisya menuju Sydney.
James melihat penampilan yang agak berbeda dari Meisya, yang biasanya cerah ceria, kali ini terlihat capek, mungkin efek perjalanan jauh, begitu pikir James.
James membawakan travel bag menuju mobil Kent, setelah sebelum nya memeluk bu Minda dan Mei bergantian.
"Sakit Mei, kok kelihatan pucat?" tanya Kent melihat Mei dari samping sambil berjalan menuju mobilnya.
"Ato kebanyakan lembur kali ya tante, si Mei sama Edwin?" Kent tertawa dan bu Minda serta Edwin hanya senyum-senyum melihat wajah Meisya memerah.
"Ih Kent, ada-ada aja," Mei terlihat malu.
"Nah bener kan tante, dia nggak menyangkal, ntar disini kamu tiduuur sepanjang hari pasti balik lagi tuh tenaga," ujar Kent masih saja ngoceh.
"Emang kamu pengalaman gitu, kok ngasi saran ke Mei?" tanya James dan Kent hanya garuk-garuk kepala.
"Yaaah si James, orang ngasi saran itu belum tentu pengalaman, bisa jadi karena banyak baca dan dengerin pengalaman orang," balas Kent dengan cepat.
"Oh ternyata untuk hal itu kamu sampe bela-belain baca dan dengerin orang," James memasang muka datar dan Kent terlihat gemas.
"Heh sudah, sudah, nih dah sampe ke mobil Kent, heran deh, didepan mahasiswa sok galak, sok pelit ngomong eh di sini minta ampuun cerewetnya," Mei menghentikan keduanya dan bu Minda hanya geleng-geleng kepala.
***
Sampai di apartemen Meisya mereka membantu membawa kan travel bag bu Minda dan Meisya lalu keduanya pamit kembali ke kampus.
***
"Istirahatlah Mei, kamu terlihat capek memang, benar Kent, kurang tidur kamu ya Mei?" bu Minda menatap Meisya yang tersenyum malu.
"Kak Ed gangguin terus ibu, tapi nggak papa, Meinya juga mau sih," jawab Mei terlihat malu dan bu Minda akhirnya tertawa juga.
"Meeei Mei, sudah sana mandi, trus tidur, makan nanti aja gampang, tadi di pesawat toh kita sudah makan," ucap bu Minda meletakkan travel bag di sudut kamar. Dan Meisya berganti baju lalu masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
***
Bu Minda memandang wajah Meisya yang tidur sangat nyenyak, sehabis mandi tadi, Meisya langsung tidur, dan hampir tiga jam, Meisya belum juga bangun.
Ponsel Meisya berbunyi, bu Minda melihat, ternyata Edwin yang menelpon.
Halo sayaaang
Eh kok mama, mana Meisya
Tidur Ed, nyenyak baaaanget, hampir tiga jam loh ini, belum juga bangun
Wah ya bangunin dong ma
Jangan ah kasian, sejak awal mau berangkat kan dia kelihatan capek, kamu apakan saja sayaaang hahahah
Mamaaa kok ketawa sih, ya biasalah ma, aktivitas panas hahahah
Kamu ini, liat kondisi istri kamu, jangan samakan kayak kamu, Mei itu makan nggak bisa banyak, lah kamu gituin terus ya lemes dia, untung nggak sampe pingsan, dasar kamu
Ya nggak lah ma, sudah Ed kasi vitamin
Eh vitamin aja tapi makannya kurang ya nggak ngefek sayang
Eh iya ngomong- ngomong besok jam berapa nemenin om Ben checkup
Nggak tau Ed, biar aja nanti paling James yang ngubungi mama
Oh gitu, ya dah ma, salam ke Mei ya ma muah gitu
Alah kamu, ya dah
Bu Minda merebahkan badannya di sisi Mei dan hati-hati agar Mei tidak bangun.
***
Malam semakin larut, saat Mei menggerakkan badannya dan menggeliat, ia melangkahkan kakinya keluar dan menemukan bu Minda yang melamun sambil memegang mug berisi kopi.
"Ibuuu saya kok nggak dibangunkan sih, lama banget saya tidur," ujar Mei mendekat ke arah bu Minda.
"Itu Mei makanlah kalo lapar, tadi James kesini ngantar makanan pas kamu tidur," bu Minda bangkit dan melangkah ke ruang makan diikuti Meisya.
"Makanlah, ibu sudah makan tadi," bu Minda membuka kotak yang berisi, lasagnya dan pizza ukuran sedang.
"Makanlah Mei, untuk mengganjal perutmu, ibu tau kamu nggak begitu suka, tapi kasian James yg sudah belikan buat kita," bu Minda menatap wajah Meisya yg sudah tampak segar.
"Iya ibu akan saya makan, seger deh bu, rasanya Mei, udah tidur lama," Meisya duduk, mengambil sepotong pizza dan mulai memakannya. Bu Minda memandangi wajah Mei yang terlihat asik makan pizza.
"Tumben kamu nikmat makan makanan kayak gitu Mei?" tanya bu Minda sambil menghabiskan minumannya.
"Laper banget ibu," Mei tertawa pelan
"Ibu kok dari tadi kebanyakan melamun nya kenapa ibu?" tanya Mei.
"Tadi Ben nelpon ibu, dia ingin besok ibu saja yang menemaninya pemeriksaan lanjutan di rumah sakit, aneh-aneh saja dia, tapi ibu tetep pengen sama kamu aja Mei, ikut besok ya Mei?" ajak bu Minda dan melihat Mei yang menghentikan makannya.
"Ya janganlah ibu, saya jadi nggak enak, biar aja ibu yang antar, mungkin ada yg ingin dibicarakan oleh om Ben sama ibu," Meisya memberi saran pada bu Minda.
Bu Minda mendesah pelan dan ia semakin dalam melamunkan hari esok....
__ADS_1