Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
13


__ADS_3

Hadduuuh pagi-pagi pake acara telanjang lagi, dikira aku gak napsu apa?" Meisya bergumam pelan menyeret langkahnya ke dapur.


James melotot ke arah Mei sambil geleng-geleng kepala. 


"Siapa yang telanjang, aku pake celana pendek gini, Meiii Mei, badan kecil mungil mulut nggak kira-kira kalo ngomong," James tertawa dan segera memakai kaosnya, lalu kemeja putihnya.


"Lah kamu kan tadi nggak pake baju, mana badan kamu bagus gitu, aku kan normal meski rada-rada nggak nyambung gara-gara sakit, untung nggak langsung aku gigiti kamu," Mei menyeduh jahe hangat agar menghilangkan batuk dan pileknya.


Terdengar tawa James yang membahana memenuhi penjuru apartemen Mei.


"Kamu kalo ngomong kayak dah pengalaman bolak balik pacaran, padahal pacaran aja baru setengah jalan, LDR-an lagi, nggak asik kalo pas kangen," James memakai jasnya dan berkemas untuk balik ke apartemennya.


"Kangen ya tinggal vidcall kok repot," sahut Mei.


"Halah, mulai sembuh, mulai juga ngocehnya, ingat kemarin tuh, melek aja gak bisa, ya dah aku balik apartku dulu Meisya,"James berjalan ke arah pintu dan berlalu dari hadapan Meisya.


***


Sudah dua hari ini tumben Edwin tidak menelponnya. Ada rasa kangen dalam hati Meisya. Iseng-iseng Mei mengirim pesan singkat.


Sudah bangun kakak ganteng?


Lama tidak ada balasan, setengah jam kemudian saat Mei dari kamar mandi baru ada notif masuk


Sudah sayang, kakak nggak enak badan


Lah kok sama, Mei juga, batuk, pilek


Tak lama berganti pada panggilan video


Trus gimana kamu, sudah minum obat sayang


Sudah kak, ini sudah mendingan, kemarin pas pusing-pusingnya, meriang lagi


Keliatan tuh wajah masi amburadul


Ih kakak, masa aku amburadul


Cantiiik, cantiiikkk, eh iya minggu depan kakak ke kamu Mei, ada rekanan bisnis disana yang ngundang kakak, biasalah urusan bisnis


Oh yaaa, asik dah ada kakak lagi yang nemenin


Aku bawa bumbu soto ya Mei, tak nyuru bik Sum nyiapin


Sekalian Mei ajari bikin kakak ya


Nggak, biar kamu aja, lebih enak kalo calon istri yang masakin


Ih manjanyaaa


Hahahaha iya lah biar ada mesra-mesranya kalo kamu yang nyiapin, udah dulu ya sayang, mau ke kantor, mau siap-siap dulu, meski sakit tetep masuk.


Iya kak, Mei mau tiduran lagi, masih agak lemes, mumpung kuliahnya ntar siang, bai kak muah


Bai Mei


Meisya segera menutup sambungan vidcallnya dan merebahkan badannya lagi ke kasur. Mengeratkan selimut, mulai memejamkan matanya.


***


"Meisyaaaa...," suara pelan Gavin mengagetkannya.


"Ih apaan, bikin kaget aja," Mei memukul pundak Gavin.


"Hayooo ada hubungan apa sama dosen ganteng yaa?" Gavin menaik turunkan alisnya Mei mengerutkan kening


"Dosen ganteng, kamu jangan bikin gosip di kampus," Mei terlihat jengkel. Dan Gavin mendekatkan mulutnya ke telinga Meisya.


"Tadi pagi-pagi, aku lihat Pak James keluar dari apartemen kamu, ih aku kaget, mundur selangkah, sembunyi di balik tembok,ah ternyata dirimu menyimpan sebuah misteri Meisya cantik," Gavin merendahkan suaranya.


Seketika Mei memukul pundak Gavin.


"Eh jangan jadi the nyinyir's man next door ya, aku itu nggak ada hubungan apa-apa sama pak James, kami hanya bersahabat, nggak lebih, cintaku cuma untuk kakak gantengku," Mei melotot pada Gavin.


 


"Alaaah alesan paling kamu jalan dua, iya kan, sono iya, sini iya, " Gavin semakin menggoda Meisya.

__ADS_1


"Eh makhluk lidah tak bertulang, aku itu sakit ceritanya kemarin, makanya pak James ke apartemenku," Mei semakin ngotot menjelaskan.


"Hmmmm segitunye, masa ada dosen sampe nginep, demi mahasiswa nya yang sakit, kamu servis apaan tuh dosen ganteng sampe bisa nempel ke kamu," Gavin menahan tawa melihat wajah Mei semakin memerah.


 


"Servis servis, bengkel kali servis, percuma nerangkan sama kamu, pokoknya cintaku cuma sama kakak ganteng," Mei mulai tidak mempedulikan Gavin.


"Itu lagi, manusia aneh, aku cuman mau ngasi buku yang mau kamu pinjam eeeh langsung ngenalkan diri sebagai calon suami Meisya, haduh siaaapa yang mau ngambil makhluk rumpi macam kamu,"


Gavin menggebu-gebu berbicara. Mei hampir saja tertawa tapi ia urungkan, dan tetap memasang muka jutek.


"Ya dah udahan ngomongin dua makhluk tak berguna itu, makan yuk Mei, tuh ada food truck, ada macam- macam masakan Indonesia, yang punya orang Indonesia Mei, yuk, laaaah malah nyelonomg sendiri Meeei Meiii," Gavin mengejar Meisya menyebrangi jalan. Nih kalo pingin tahu wajah si Gavin, hehe


Berdua mereka terlihat duduk sambil makan cemilan khas Indonesia. Bukan cemilan sih lumayan mengenyang kan jadi seperti makan saja. Sate 10 tusuk sama lontong. Hmmm nyam nyam kayaknya.


"Eh Gav kenapa kamu menghindar terus setelah ketemu kak Edwin yang masalah buku tuh?" tanya Mei dengan mulut penuh.


"Mangkel aku, kamunya juga kok nggak bilang kalo ntar ada temen yang antar buku, jadinya aku gak hina-hina banget, nakutin bener kakak kamu itu," Gavin terlihat ngeri.


Saat mereka tertawa- tawa bersama, terlihat dari jauh James memandangi mereka, seolah-olah ingin memastikan Meisya atau bukan.


"Meiiii...Meiiii...lihat tuh kamu dicariin dosen gantengmu," Gavin mencubit lengan Meisya


"Manaaa..Manaaa..eh iya, biarin aja Gav, pura-pura nggak tau, paling dia cuman sekedar liat aja," Meisya pura-pura asik minum dan sibuk dengan tasnya.


"Haduuu pasti nih aku kena semprot kayak kakak gilamu, kenapa juga aku ditakdirkan ketemu orang kayak kamu ya Meeei, huh paling karena aku ganteng jadi selalu dicemburuin sama om-om itu," Gavin tak henti-henti berkicau sambil menghabiskan minumannya.


"Ya ampun Gaaav aku nggak ngiraaa kamu secerewet ini, pertama liat kamu, aku pikir kamu pendiam, cuek, ternyataaaa adu duuu, lebih parah dari nenek-nenek," Mei geleng-geleng kepala.


"Pertama ya mestilah diam kan gak kenal, punya teman kayak kamu harus cerewet, kalo nggak, hmmm akan tertindas, dimarahin kakak gila, sama dosen gak waras," Gavin terbahak-bahak.


Mereka berdua tidak sadar jika ada tatapan yang memperhatikan keduanya. James sempat menghilang dari pandangan keduanya, lalu mencari jalan lain mengalihkan pandangan mereka, dan duduk tak jauh dari Mei dan Gavin.


Sejak awal James tak suka pada Gavin yang menurut James terlalu kurangajar pada Mei, karena sejak awal tangan Gavin menyentuh kepala,bahu dan lengan Mei, meski keduanya bergurau dan saling pukul.


"Bisa mengganggu kalian sebentar, saudara Meisya bisa ikut saya, ada yang perlu kita diskusikan sehubungan dengan tugas saudara," tiba-tiba James berdiri di hadapan Gavin dan Meisya saat Gavin menggetok kepala Meisya. Gavin menggangguk dengan sopan.


"Silakan," Gavin menjawab sambil melihat wajah James yang tanpa senyum.


"Heh kamu gila ya, jalan kayak ngejar maling aja, aku nggak ikut aja kalo kamu ngambek kayak gini," Mei berhenti seketika dengan wajah ditekuk. Akhirnya James mengalah, melangkah mendekati Meisya dan memandangnya dengan lembut.


"Ikut aku ke apartemen, kamu harus dihukum," James menggandeng tangan Meisya berjalan menyusuri jalan menuju apartemen James.


*****


"Nggak usah narik-narik tanganku James, aku bisa jalan sendiri, lagian gak usah pegang- pegang," Mei berusaha menarik tangannya dari genggaman James.


James melepaskan tangan Meisya, mereka berjalan beriringan menuju apartemen James.Saat akan masuk Meisya menarik bagian belakang jas James.


"Apa salahku, kenapa aku harus dihukum?" Meisya terlihat tidak suka.James menoleh dan menarik Meisya masuk.


"Duduk," suara James terdengar berat dan kaku. Untuk pertama kali Meisya merasa takut melihat James. Mata Meisya mengerjab- ngerjab menatap James dan duduk di sofa. James duduk di dekat Meisya menatap Meisya dengan pandangan menusuk meski dalam hati ia tidak tega melihat mata Meisya yang takut dan mengerjab dengan cepat.


"Aku tidak suka kamu dekat dengan anak itu,  sejak awal aku melihat kedekatan kalian, dia menyentuh hampir semua badanmu, meski dalam konteks bergurau itu tidak dibenarkan, dia kurangajar, kalian beda jenis kelamin, harusnya kamu tahu itu, apakah dibenarkan jika terkadang dia menarik kuncirmu, menggetok kepalamu,  mengguncang-guncangkan bahumu, mencubit kedua pipimu secara bersamaan, mencubit hidungmu, telingamu dan balasanmu atas perlakuan itu apa? kamu hanya menjerit tak karuan, kamu tidak menghargai tubuh kamu sendiri, jangan terlalu dekat dengan anak itu,  mengerti!" wajah James terlihat menakutkan.


Meisya menunduk dan mengangguk, ia tidak mengira jika sampai seteliti itu James mengamati kelakuannya dengan Gavin.


"Trus kenapa kamu marah sampe segininya, aku takut," suara Mei terdengar mencicit semakin tak terdengar. James terdengar berat menghembuskan napas.


"Tidak usah tanya alasanku, aku hanya tidak suka kamu dipermainkan oleh anak itu, sekarang bantu aku masak," James melangkah masuk ke kamarnya.


Ih makhluk aneh marah- marah sesukanya,  merintah-merintah, memang aku apanya? Mei terlihat mangkel dan menghentakkan kakinya ke lantai.


James keluar dari kamarnya,menggunakan celana pendek dan kaos tanpa lengan. Melihat Meisya yg masih duduk di sofa dengan wajah kesal dan mulut yang manyun aja.


"Ayo bantu aku di dapur, buka jaketmu," suara James terdengar melunak. Mei membuka jaketnya dan saat membuka kancing celananya James membelalakkan matanya.


"Hei ngapain kamu buka celanamu?" suara James terdengar aneh antara takut dan nggak jelas hehe


"Lah aku kan bantu kamu di dapur biar enak ya pake kaos dan celana pendek, heh kamu kira, aku gila apa bantiun kamu di dapur pake celana dalam, bisa-bisa masak sambil di *****- grepein kamu, nggak jadi masak makanan malah masak yang lain," Meisya masih terlihat dongkol.


"Sudah dimara-marain, dituduh yg nggak-nggak lagi, masi disuru masak, nih liat aku buka celanaku, di dalemnya pake celana pendek," Mei menurunkan celananya, meletakkan di sofa.


"Iyaaa tapi kan ketat gitu meski celananya selutut," James masih memandangi Meisya.


"Nggak usah diliat biar nggak mesum aja tuh pikiran," Mei melangkah ke dapur dengan kesal. James menahan marah dengan mengatupkan gerahamnya,  namun merasa geli dengan ocehan Meisya.

__ADS_1


"Mau masak apa, mana bahannya, keluarin,  cepet," perintah Mei dengan nada kesal.


"Chicken katsu, yang simpel ajalah Mei, tapi aku kok pingin makan sayur ya Mei," James terlihat bingung. Mei tak menanggapi, ia mengeluarkan ayam dan daging, wortel, jagung muda dan buncis dari kulkas.


"Itu ayamnya udah nggak ada tulangnya kok Mei tinggak ngasi tepung aja, ngapain kamu ngeluarin daging?" tanya James. Mei menatap James dengan pandangan kesal.


"Diem aja, katanya pingin sayur, nih daging aku buat rolade ntar makannya sama wortel,  buncis, jagung muda, aku buatkan sausnya untuk disiramkan diatasnya, pokoknya tau jadi aja, diem aja nggak cerewet," Mei menyiapkan semua bahan dengan cekatan, tiba-tiba pintu di ketuk, bel berbunyi berkali-kali.


"Aduh James siapa? Apa perlu aku sembunyi?" tanya Meisya bingung,  beberapa kali ke apart James nggak pernah ada yang gangguin. James pun terlihat agak bingung.


"Iya yah tumben, siapa ini, santai ajalah, sedikit orang yang datang ke apartku, hanya orang istimewa yang bisa masuk apartku," James melangkah ke pintu, sementara Mei menunggu dengan gelisah.


"Mama!" suara James lebih tepat disebut dengan teriakan kaget. Beberapa detik kemudian.


"Oh Meisyaaaa, ada di sini rupanya,ah kamu,  kamu bisa masak aaah James sayaaang sempurnaaaa pilihanmu," mama memeluk lengan James. James dan Meisya bertatapan bingung,  namun sedetik kemudian Mei sadar mencuci tangannya,  mengeringkan dan segera menghampiri mama James. Mencium pipinya dan berusaha bersikap wajar. 


"Maaf tante kalo saya emm saya mengganggu kenyamanan tante dengan James, saya,  saya bisa pulang kok tante kalo tante ada perlu dengan James," Meisya berusaha ramah meski dalam hati ia mengutuki kebodohannya mengikuti James ke apart hari ini.


"Oh tidak tidak sayang, tante memang jarang ke apart James kalopun ke sini biasanya nelpon dulu, kebetulan ada sahabat dari Indonesia yang datang ke Sydney jadi tante menyempatkan diri bertemu meski sebentar, lanjutkan saja apa yang akan kalian kerjakan,  ato tante nunggu masakan kamu siap,  tante ingin mencicipi masakan kamu," mama James menatap Mei dengan pandangan suka yang amat sangat.


Mei memasak dibantu James, keduanya memasak dengan kikuk,  sesekali mereka saling berpandangan tanpa bicara, Mei tampak menggigit bibir bawah nya karena bingung, bingung mau bicara apa dengan James.


James menata makanan di meja makan, lalu masuk ke kamarnya mengganti baju dan bercelana, sementara Mei mencuci tangannya dan menggunakan kembali celana panjangnya. Menggunakan kamar sebelah untuk membetulkan riasannya dan tampak James dan mamanya menunggu Mei di ruang makan. James tersenyum aneh pada Mei saat melihat Mei baru keluar dari kamar.


Mei pun melihat pada James, terlihat jika keduanya tidak siap dengan situasi seperti itu. Namun saat mama James menoleh pada Meisya sambil tersenyum, secepatnya Mei membalas senyuman mama dengan manis dan melangkah ke kursi untuk duduk.


"Ayo Meisya, persilakan mama mencicipi masakanmu?" James berusaha memecahkan kekakuan diantara mereka.


"Oh iya iya mari mama, barangkali suka masakan saya," ucap Meisya mendekatkan makanan pada mama. 


Mei menyajikan rolade daging plus sayuran dan menuangkan saus diatasnya.


"Hmmm sausnya enak banget mama pingin belajar bikin ini, ini berarti dagingnga dihaluskan dulu ya sayang trus digulung sama telur dadar ya,  ribet bikinnya kayaknya," mama menghabiskan isi piring dengan cepat.


"Emmm boleh nambah lagi?" tanya mama. James terbelalak.


 


"Lupa diet mama, tumben?" tanya James menahan senyum.


"Sekali-sekali lah James," mama tersenyum menahan malu dan menatap Meisya dengan lembut.


"Kapan main ke Perth,  mama menunggu, dan sangat berharap sayang?"


"Iiiya mama iya, segera bersama James tentunya, dia sibuk terus mama," Mei berusaha mencari alasan.


"Sempatkanlah James,  mama menunggu," mama memegang lengan James dan James memandang Mei sambil tersenyum.


"Aku cari waktu dulu mama," akhirnya James menjawab dan Mei mendengarnya dengan lega.


"Ah terima kasih jamuan istimewanya, mama pulang dulu kawatir papa menunggu," mama mencium pipi Mei dan James lalu menghilang dibalik pintu.


Meisya terlihat lega dan lemas di samping pintu apartemen James. 


"Kenapa?" tanya James bingung.


"Heh kenapa, kenapa masih tanya lagi aaaaahhhhh kenapa aku terjebak dalam keadaan seperti iniiiiiii, ah aku jadi binguuuung," Mei berteriak sekencangnya dan James membekap mulut Mei.


"Hei ngaco kamu, ntar aku dikira ngapa- ngapain kamu lagi, mama belum jauh tau,  ntar dia balik kita dikira ngapa-ngapain lagi," James memandang Mei dengan kesal.


Mei menghentak- hentakkan kakinya. 


"Benci, benci, benciiiii, aku pulang aja," Mei melangkah ke sofa mengambil tasnya dan melangkah ke arah pintu. James menarik Mei karena tak siap Mei menubruk dada James,  menatap James dari jarak dekat dan menengadah.


"Sengaja kan, sengaja, ntar kalo aku gigit badan kamu sama bibir kamu, aku lagi yang salah." James menahan untuk tidak mencium Mei,  bibir penuhnya yang terbuka seolah menantang James untuk melumatnya. 


James mendekatkan bibirnya ke bibir Mei,  tampak Meisya yang ketakutan memundurkan wajahnya dan James akhirnya menempelkan keningnya pada dinding di samping Mei.


"Jangan memancingku, aku laki-laki normal Meisya,"James menatap Mei lagi dan menarik tangannya ke ruang makan.


"Duduk, makanlah, ato kalo kamu nggak mau makan, temani aku sampe selesai makan," pinta James, Mei duduk dengan patuh.


"Trus sampe kapan kita kayak gini James, aku tidak mau melukai mamamu, bukan ge-er tapi mamamu seperti sangat berharap besar pada hubungan pura- pura kita, aku lelah juga kalo kayak gini terus James," Mei terlihat hampir menangis.


"Biarkan aku makan dulu, bentar lagi kita bahas sampe selesai," pinta James mulai mengunyah chicken katsunya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2