
*SUK*
#48
"Beeen, kamu harus sehat, kamu harus kuat, aku akan ada di sisimu, James juga, ada apa kok tiba-tiba sedih, udah tidur, rebahan, nggak enak ada James, masa kamu meluk aku kayak gini," Bu Minda melepas kan pelukan om Ben dan merebahkannya lagi.
Bu Minda menghapus air mata om Ben sambil tersenyum.
"Kenapa jadi melo Ben, karena aku mau pulang besok?" tanya bu Minda sambil membetulkan selimut om Ben. James mengerti kesedihan papanya, tapi ia hanya diam saja, menatap wajah papanya dengan sedih.
Saat bu Minda akan berdiri, tangan om Ben menahan bu Minda.
"Kamu betul-betul tidak memberiku kesempatan Minda, bahkan saat kondisiku seperti ini?" tanya om Ben menatap bu Minda dengan tatapan putus asa.
"Berapa kali aku harus mengingatkan Ben, aku akan selalu ada di sisimu, sebagai teman, cerita kita sudah selesai Ben, jika mengingat apa yang kamu lakukan padaku, mungkin aku tidak akan ada disini, tapi apa gunanya mengingat rasa sakit itu, semuanya telah berlalu dan aku memaafkanmu yg telah menelantarkan aku dan anakmu, jadi jika kamu meminta lebih, aku tidak bisa, semuanya telah aku serahkan pada mas Seno, semua, tak tersisa untuk siapapun, aku harap kamu mengerti Ben," bu Minda menepuk lembut punggung tangan om Ben.
"Tidurlah, aku masih di sisimu," bu Minda menatap omBen dengan perasaan tak menentu, antara kasihan dan sedih, Ben, cerita kita sudah selesai, dan tak kan pernah terulang lagi.
"Tidurlah James, besok jam 9 pagi aku ke bandara, kalo ada apa- apa hubungi tante ya," bu Minda menepuk bahu James dan melangkah keluar.
Bu Minda berganti dengan baju tidur, ke kamar mandi dan merebahkan badannya. Menghela napas panjang, berusaha memejamkan matanya.
***
Pagi-pagi bu Minda bangun, menengok ke kamar om Ben dan bersyukur semalam om Ben tidur nyenyak, berarti kondisi om Ben kuat, ia tidak mual lagi setelah menangis.
Melihat James yang meringkuk di sofa dengan tubuhnya menekuk, ada rasa iba dalam hati bu Minda, anak yang baik, meski tahu papanya tidak pernah mencintai mamanya, ia sangat menyayangi papanya, bahkan lebih mengherankan lagi, memintanya untuk bersama-sama dengan papanya, bu Minda mengerti maksud James, ia ingin buMinda menikah dengan papanya. Bu Minda tersenyum dan menggeleng pelan. Maafkan tante James, bisik hati bu Minda perlahan.
Bu Minda masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya. Setelah mandi ia menelpon Edwin, memberi tahu bahwa jam 9 akan ke bandara.
***
Tak lama ada ketukan lalu bel berbunyi di pintu apartemen James.
Bu Minda bergegas membuka.
"Alice sepagi ini sayang?" tanya bu Minda, Alice tersenyum malu dan dipersilakan masuk oleh bu Minda, tampak ia membawa banyak makanan. Dengan dibantu bu Minda diletakkannya makanan yang dibawa Alice, di meja makan.
"Untuk sarapan tante, saya kawatir karena om Ben sakit," ujar Alice sambil duduk di ruang makan, ia menoleh ke sofa dan menemukan James meringkuk di sana sambil bersedekap
Bu Minda masih asik menata makanan, mengambil piring, sendok dan garpu untuk persiapan sarapan.
Alice mendekati James dan menyentuh lengannya perlahan lalu menepuknya dan James bergerak, mulai membuka mata. Kaget saat melihat wajah Alice sepagi ini. James duduk dan menatap Al yang masih saja tersenyum.
"Sepagi ini?" tanya James pelan.
"Ya, aku kawatir papa kamu,aku bawa sarapan, mandilah," Al duduk di lantai di dekat meja, James melihat Al yang tampak segar sepagi ini.
"Aku tidak terbiasa mandi terlalu pagi, masi ngantuk lagi," James masih sulit membuka matanya.
"Mandilah biar segar," ujar Al lagi.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu rajin mandi?" entah mengapa James baru kali ini merasa mulai bisa berbicara agak banyak pada Alice.
Alice tersenyum malu, membetulkan letak topinya dan tersenyum lagi sambil menyandar kan pipinya pada meja yang ada di depannya.
"Sejak tau kamu dan kenal kamu," ujar Al pelan, dan James tersenyum meski senyumnya hampir tak terlihat.
"Katanya nggak mau menemui aku,cuma mau nunggu," tanya James lagi. Wajah Alice memerah dan duduk di samping James.
"Yah, maunya gitu, ternyata nggak bisa," Al menatap mata James dari jarak dekat. James menunduk dan bendiri.
"Aku mau mandi," ujar James pelan.
Alice terlihat bahagia, ia merasa James mulai memperhatikannya meski hanya berupa percakapan singkat seperti tadi, buktinya James masih mengingat apa yang diucapkan di depan pintu apartemennya.
Bu Minda memperhati kan keduanya dari ruang makan sambil menahan senyum. Terlihat jika Alice sangat menyukai James.
Alice mendekati bu Minda yg sudah selesai menata meja makan.
"Nggak kerja hari ini sayang?" tanya bu Minda.
"Nanti siang tante, ada kelas yang harus saya datangi, ada beberapa peserta baru di galeri saya dan hari ini mereka baru mulai," Alice menjawab sambil duduk di dekat bu Minda.
Muncul om Ben, menatap bu Minda dan bu Minda segera mendekat.
"Butuh apa Ben, mandi dulu ya, trus sarapan," bu Minda menatap wajah omBen yg masih terlihat enggan berbicara, ia hanya mengangguk dan kembali masuk dalam kamar, bu Minda meng ekor di belakangnya.
"Ada apa di wajahku?" tanya James pelan, duduk di dekat Al, Alice menggeleng, dan masih menatap wajah James dari jarak dekat.
"Aku mau sarapan, bisa nggak jangan liat aku terus?" tanya James sambil tangannya sibuk mengambil piring dan sendok, seketika wajah Al memerah.
James menoleh, dan mendapati Al yg masih menatapnya. Cantik, kata James dalam hati, tapi kok belum ngerasa apa-apa ya? James menggeleng pelan.
James mulai menyuap kan makanan ke mulutnya dan menoleh pada Al.
"Aku makan dulu ya, kamu makan sana, biar nggak liat aku?" ujar James, mulai tersenyum meski setelah itu kembali serius menekuni makanannya. Hati Al terasa menghangat kembali saat James tersenyum padanya.
Bu Minda keluar bersama om Ben dan mereka pun duduk bersama di ruang makan. Bu Minda melayani om Ben, dan om Ben masih saja tak mengeluarkan sepatah katapun. Mereka makan dalam diam sampai tak lama terdengar bel berbunyi di pintu dan James membukanya.
"Ah kalian, kenapa nggak buka sendiri, Mei tau kok passwordnya," James menyuruh Mei dan Edwin masuk, lalu mengajak mereka sarapan sekalian.
"Aaaallll wah nggak ngajak-ngajak nih yaaaa sudah disini ternyata," sapa Mei dengan riang lalu, mencium pipi bu Minda dan om Ben bergantian.
Mei dan Edwin menolak saat diajak makan karena mereka sudah makan saat menuju ke apartemen James tadi.
"Mama pulang hari ini kan ya, kayaknya Edwin sama Mei juga ma, cuman beda jam aja paling ntar malem, mau nungguin om Ben dulu, tadi Edwin ditelpon dari perusahaan ada masalah penting, Ed lupa lusa akan datang tamu penting ke kantor, teman lama waktukuliah di SG, kerjasama dengan perusahaan kita ma, sudah aku suruh sekretaris nyiapin semua dokumen," ujar Edwin pada bu Minda dan dijawab dengan anggukan oleh bu Minda.
"Dan kalian akan membiarkan aku sendiri?" tanya om Ben tiba-tiba.
"Ada Al sama James, om, yang akan selalu menemani om, saat tante Minda dan Mei tidak di sini," sahut Al tiba-tiba, Meisya mendekati om Ben dan memeluk bahunya.
__ADS_1
"Kami semua menyayangi om, tapi hidup terus berjalan, kami mau pulang dulu ke Indonesia, dan jangan lupa, Mei masih melanjutkan kuliah di sini, Mei pasti balik ke sini, untuk om, untuk melanjukan kuliah juga tentunya," Mei mencium pipi om Ben dan om Ben tersenyum pada Meisya.
"Dan jangan lupa om, tadi Al sudah bilang, akan merawat om, iya kan Al?" tanya Mei yang dijawab anggukan oleh Al dan melihat James yang masih saja serius dengan sarapannya.
"Jangan lupa besok antar papamu kontrol ya James dan tanyakan ke dokter gimana kalo papamu pakai obat minum saja untuk kemoterapinya," pinta bu Minda yang di jawab dengan anggukan dan senyuman dari James.
***
Jam 9 bu Minda pamit pada om Ben untuk pulang, disentuhnya punggung tangan om Ben.
"Kamu harus kuat, harus sembuh, aku janji, jika kamu benar-benar sembuh, aku akan menuruti keinginanmu untuk berjalan-jalan di kampus," suara bu Minda menjadi pelan.
Om Ben menatap bu Minda penuh harap.
"Benarkah?" ucapnya dengan mata berkaca- kaca. Bu Minda mengangguk.
"Aku pulang, nanti aku telpon setelah sampai rumah," bu Minda kembali menyentuh tangan om Ben.
***
Bu Minda diantar James ke bandara, sekalian mengantar Al ke galerinya.
Saat akan turun, Al menoleh menatap James.
"Nanti sore jemput aku disini ya James, mobilku ada di apartemenmu," James kaget dan menghela napas.
"Kenapa tadi kamu nggak bilang, kan bisa naik mobil kamu sendiri kesini," ujar James terlihat kesal.
"Sengaja, biar kamu jemput aku lagi," ujar Al sambil tesenyum.
"Nggak janji deh, aku agak lama di kampus," jawab James.
"Nggak papa, aku akan menunggumu," ujar Alice, memegang lengan James sekilas dan membuka pintu lalu melangkah cepat menuju galerinya.
***
James terlihat capek setelah seharian menekuni pekerjaannya. Saat hari semakin sore dan beranjak malam ia merasakan penat yang amat sangat, ia tadi ditelepon oleh Edwin bahwa akan ke bandara jam 8 malam, untuk kembali ke Indonesia.
James melangkah ke kursi panjang, ia rebahkan badannya, punggungnya terasa pegal setelah mengoreksi pekerjaan mahasiswanya yang seolah menumpuk tiada henti. Setelah semuanya selesai, terasa lega meski penat mulai ia rasakan.
James mulai memejam kan matanya, namun sesaat kemudian ia terbangun saat mendengar pintu dibuka Ah si Al rupanya. Al melangkah mendekati James dan duduk di sampingnya.
"Aku sudah menduga, kamu pasti masih disini," Al menatap James yang masih berbaring, tiba-tiba entah mengapa dada Al jadi berdebar saat melihat James terpejam lagi dengan bibir agak terbuka, didekatinya wajah James dan James membuka matanya saat terpaan napas menerpa wajahnya.
"Al," suara James terdengar pelan, lalu ia merasakan bibir Alice menyentuh bibirnya pelan, sekelebat bayang Meisya melintas di matanya, ia balas ciuman Al, lalu ia pegang pipi Alice, ditatapnya mata wanita yang selalu menatapnya penuh cinta.
James menggeleng pelan, dan menatap wajah Alice dengan sedih.
"Jangan lagi, aku belum merasakan apa-apa padamu." Alice menjauh dari James dan menunduk sedih, menatap tas yang ada di pangkuannya, James duduk dan mengajak Alice ke apartemennya karena sebentar lagi Edwin dan Mei akan kembali ke Indonesia.
Saat berjalan menuju mobil, Al menarik lengan James. James menoleh dan mendapati mata Al yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mei begitu kuat di pikiran dan hatimu, saat aku cium kau tadi, nama Mei yang kau panggil..." dan James terperangah.