Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
21


__ADS_3

"Jaaameees, kok udah disini, kan harusnya masih dua hari lagi?" Meisya terlihat senang, James hanya tersenyum dan memberikan bungkusan pada Meisya


"Ini sedikit oleh-oleh,  aku pulang lebih cepat karena mama masuk rumah sakit lagi di Perth, aku langsung ke bandara setelah ini, bai Meisya, eh siapa tuh lagi makan ah anak itu lagi,  suru pulang dia, bai Mei, doakan mama ya," James berlalu dengan langkah lebar, Meisya hanya mampu melongo melihat James yg pergi bagai angin berlalu.


Secepat kilat Mei mengejar James, namun kakinya seolah ada yang menahannya ia hanya mampu berteriak.. 


"Jaaames mengapa kau tidak menjawab panggilanku kapan hari?


James menoleh dan berhenti, berusaha tersenyum dengan wajah sedih... 


"Selamat. " Dan James melambaikan tangannya melanjutkan langkah lebarnya.


***


"Hei ngapain kamu bengong, cepet buka oleh-oleh dari dosen galak," Gavin meraih bungkusan dari tangan Meisya dan membuka nya tanpa seijin Mei.


Mei hanya diam tanpa melihat Gavin yang telah mengobrak abrik bingkisan dari James.


Tante Melda masuk rumah sakit lagi? Separah apa penyakitnya? Wajah James terlihat lelah meski dipaksakan tersenyum tadi. Dan tadi dia bilang selamat?  Pikiran Meisya mengembara ke mana-mana.


"Eh cantiknyaaa, kaos bergambar black pink, trus apaan ini,  gantungan kunci, tempelan kulkas, trus apaan ini lagi majalah apaaa ini gambar- gambar personil 2pm hahaha Mei..Mei kayak anak smp aja sukanya kayak ginian," Gavin geleng-geleng kepala. Dan menepuk lengan Meisya yang masih melamun. Meisya menoleh dan mengerjab pelan.


"Mama James masuk rumah sakit lagi Gav, separah apa aku nggak tahu, wajah James terlihat lelah tadi," ujar Mei menerawang.


"Nggak usah terlalu dipikir, ntar kamunya ikutan sakit, udah aku pulang dulu ya, makasih makanannya udah aku habisin, tapi udah aku cuci semua piring kotornya," Gavin berlalu dan menutup kembali pintu apartemen Mei.


***


Jam menunjukkan angka 12 malam, Meisya belum juga mampu memejamkan matanya. Pikirannya seolah penuh, antara Edwin dan James. Mereka memiliki porsi masing-masing.


Cintanya pada Edwin yg tak mungkin tergantikan oleh siapapun, dan sayangnya pada James sebagai sahabat yang tak mungkin ia anggap remeh.


Mungkin orang lain akan menganggapnya berjalan di dua rel yang berbeda tapi tidak bagi Meisya, ia bisa merasakan debaran tak menentu jika ada di dekat Edwin yang tak ia rasakan jika berada di dekat James, namun kesabaran dan kebaikan James mampu membuat Meisya tak bisa mengabaikannya jika James membutuhkannya. Hal ini yang tak akan bisa diterima oleh siapapun termasuk Edwin.


Kembali Meisya mengingat ucapan selamat dari James, apakah karena ia mengatakan akan menikah tempo hari lewat telpon, sehingga dia mengatakan selamat? Meisya yakin karena itu, lalu wajah sedihnya, apa karena mamanya sakit atau karena kabar pernikahan itu?


Menjelang jam 3 dini hari, Meisya baru memejamkan matanya setelah kelelahan.


***

__ADS_1


Meisya baru saja datang dari mini market depan apartemennya. Ia membeli beberapa bahan untuk ia masak. Setelah mengganti bajunya dengan baju rumah, Mei mulai memasukkan sayur, buah dan ikan ke dalam kulkas. Dan mengeluarkan sebagian untuk ia masak hari ini.


Ah sedikit saja toh hanya untuk dia sendiri,  besok akan memasak agak banyak karena ada bu Minda dan Edwin.


Saat Mei hendak memasak, ia baru ingat barang-barang pemberian James. Segera Mei masuk ke kamarnya. Memasukkannya ke dalam lemari, mencari tempat teraman agar Edwin atau bu Minda tidak perlu tahu, bukannya Meisya tidak mau jujur, tapi akanlebih baik ia simpan saja dulu.


Mei melanjutkan kegiatan tertundanya tadi, ia bingung setelah sampai di dapur, tiba- tiba selera makannya hilang. Ia masukkan kembali semua bahan, minum segelas air dan menuju sofa, ia rebah kan badannya disana.


Entah mengapa sejak kedatangan James, Mei berubah menjadi lebih murung, lebih banyak berbicara dengan pikirannya. Ada rasa sakit di dadanya mengingat tatapan sedih James. Maafkan aku James, mungkin aku telah menyiksa perasaanmu, tapi aku memang tidak bisa memaksakan diri untuk menyukaimu, terlebih lagi ada kak Ed yang sangat aku cintai.


Meisya kembali tertidur dengan perut kosong. Siang ia bangun, perut nya ia rasakan perih, melangkah ke kamar mengambil obat maag dan ia rebahkan badannya di kamar. Ia pejamkan matanya merasakan perutnya yang semakin melilit,  tak lama akhirnya bisa normal kembali,  secepatnya Mei ke dapur membuat omelet dan setelah masak, ia nikmati masakannya,  sendiri dengan pikiran mengembara ke mana-mana.


***


Saat Mei di kamarmandi terdengar ponselnya berbunyi berulang- ulang ..... bergegas ia meraih ponselnya, ah kak Edwin.... Mei menelpon balik tapi tidak diangkat.


Akhirnya Mei melanjut kan aktivitasnya menuju dapur setelah selesai ritual mengusap pelembab pada wajahnya dan body lotion ia usap pada seluruh badannya.


Mei menyiapkan beberapa masakan untuk menyambut kedatangan ibu Minda dan Edwin.


Namun di dapur kembali Meisya hanya melamun, menatap bahan masakan yang sudah ia siapkan. Akhirnya ia akan masak supseafood saja, ia potong kecil wortel, kubis,  buncis, lalu ia membersihkan udang, cumi ia buang tintanya dan dipotong dadu. Nanti penyajiannya tinggal menyiapkan soun dan menyiramkan sup seafood diatasnya, taburan bawang dan seledri. Lalu Mei mulai menyiapkan bahan untuk tempura dan cumi goreng tepung. Biarlah ia masak sederhana saja.


Selesai sudah pekerjaannya di dapur. Ia bergegas mandi dan kembali merapikan keadaan kamar dan seluruh area apartemennya. Bagaimanapun juga bu Minda adalah orang yang telah membuat dia seperti sekarang ini,  rasanya tidak berlebihan jika ia menyiapkan segala sesuatunya agar bu Minda merasa nyaman.


"Ibuuuuu," Mei memeluk bu Minda dan menenggelamkan kepalanya di sela rambut bu Minda.


"Eeeh ayo kami mau masuk dulu sayaaang,  acara pelukannya kita lanjut di dalam," suara berat Edwin menyadarkan Meisya, yang tersipu dan menyilakan masuk.


"Apa kabarmu Mei?" tanya buMinda menatap Mei yang masih saja tersipu menatapnya dan Edwin bergantian.


"Baik ibu,eh iya langsung letakkan di kamarku barang-barang ibu kak," Mei menyarankan Edwin saat barang bu Minda masih ada ditangan Edwin.


"Bentar ya ibu, saya mau melanjutkan pekerjaan di dapur, ibu silakan jika mau rebahan di dalam kamar," Meisya membuka pintu kamarnya dengan lebar.


"Iya, ibu mau ganti baju dan ingin ke kamar mandi," bu Minda melangkahkan kakinya ke kamar Meisya dan menutup pintu. Meisya melangkah ke dapur dan menjerit tertahan saat pinggangnya di rengkuh Edwin dan Mei merasakan ciuman Edwin yang kasar dan agak lama, Mei mendorong dada Edwin saat dirasakan asupan oksigen mulai berkurang di dadanya. Dengan wajah merona merah,  ia pukul pelan dada Edwin.


"Ih kakak, ada ibuuuu," lirih suara Mei dan terlihat jengkel menatap Edwin. Edwin hanya terkekeh perlahan dan melepaskan pelukannya.


Meisya kembali berkutat di dapur dan menyelesai kan pekerjaannya yang tertunda. Segera ia tata makanan yang sudah ia siapkan, hanya sup saja akan dihangatkan jika mereka akan siap untuk makan.

__ADS_1


Terdengar suara pintu kamar Mei terbuka dan bu Minda yg memanggil Meisya dengan cara melambaikan tangannya mengajak Meisya masuk. Mei melangkah pelan mendekati kamarnya.


Bu Minda menutup pintu dan menarik Mei pelan agar duduk di kasur. Ada debaran aneh dan takut dalam dada Meisya meski ia melihat tatapan dan senyum lembutnya.


"Sayaaang, maaf jika ini terkesan mendadak dan mengagetkan, ibu ingin bertanya kamu siap jika Edwin mengajakmu menikah empat bulan lagi?" tanya bu Minda hati-hati, meski Mei sudah mempersiapkan hal ini akan terjadi,  namun ia tetap saja bingung untuk menjawabnya.


"Ibuuuu saya memang ingin sekali menikah dengan kak Edwin karena saya... saya sangat mencintainya,  tapi mengapa harus empat bulan lagi,  mengapa tidak menunggu saya selesai kuliah?" Meisya balik bertanya dengan suara pelan.


"Jika kamu benar-benar mencintai Edwin lalu apa bedanya empat bulan lagi dan setahun lagi?" tanya bu Minda yang benar-benar membuat Mei bingung menjawabnya. Ia diam menatap tangan bu Minda yang menggenggam jemarinya.


"Edwin sangat mencintaimu, ia tidak ingin ada yang mengganggumu, kebaikanmu kadang diartikan lain oleh siapapun, sikap manis mu dan kebaikanmu akan membuat siapapun mudah jatuh cinta, sekali lagi ibu tanya,  mau ya Meisya jika Edwin mengajakmu menikah empat bulan lagi?" bu Minda mengulang pertanyaannya. Dan Meisya mengangguk pelan. Bu Minda memeluk Meisya dengan mata berkaca-kaca.


"Terima kasih Meisya,  ibu mencintai kalian berdua,  pernikahan kalian akan benar-benar menjadi obat bagi Edwin yang sekian tahun menahan sakit," bu Minda mengelus rambut panjang Mei. Saat bu Minda mengurai pelukannya, Meisya kaget melihat bu Minda yang menghapus air mata dengan pelan.


"Mari makan dulu ibu,  sudah saya siapkan," Mei mengajak bu Minda dan membuka pintu kamar.


Edwin agak kaget saat melihat mata mamanya yg memerah dan wajah Meisya yang terlihat bingung. Edwin melihat mamanya yang mengedipkan matanya sebelah dan tersenyum perlahan. Dan Edwin mengerti maksud mamanya, ia mulai tersenyum.


Mereka bertiga duduk di meja makan dan mulai menikmati masakan Meisya.


"Maaf ibu, saya hanya masak kayak gini," ujar Meisya mendekatkan sup seafood ke sisi ibu Minda.


"Hmmm ini sudah enak, segar kok, sup kayak gini emang cocok dimakan siang-siang kayak gini," bu Minda mulai mencicipi makanan Meisya dan mengangguk-angguk pelan.


"Mama, ada yang perlu Edwin sampaikan, kami,  aku dan Meisya minta ijin menikah empat bulan lagi, benar kan ya sayang, boleh ya ma?" tanya Edwin sambil melihat mamanya dan Meisya bergantian. Edwn melihat Mei yang mengangguk dan mamanya yang menahan senyum.


"Sudah pasti dan yakin kalian akan menikah?" tanya bu Minda.


"Iya mama, aku sudah siap, dan yakin, aku sangat mencintai Meisya dan ingin kami segera hidup dalam ikatan yang lebih sempurna," jawab Edwin dengan yakin. Meisya hanya mengangguk mengiyakan.


"Mama bahagia kalian akhirnya akan menikah, mama hanya berpesan kalian harus sama-sama sabar, saling mengerti karena selama kurang lebih setahun setelah kalian menikah,  maka kalian akan menjalani hubungan jarak jauh," nasehat bu Minda pada keduanya. Samar-samar terdengar bunyi ponsel Mei berbunyi dari arah kamarnya.


"Saya terima telpon dulu ya ibu, kak Ed," ujar Mei. Edwin menatap Mei yang terlihat bingung.


Mei segera mengambil ponsel yang ada di kasur. Ah James,  ada apa?


Haloooo,  James?


Mama Meisya, mama meninggal (terdengar suara James menahan tangis)

__ADS_1


Hah, kapan, trus kamu di mana, Jaaamees... Jaaaameeees


*****


__ADS_2