Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
38


__ADS_3

*SUK*


#38


Kamu, Mei, Kent sama saja, nggak ada calon lain apa?" ujar James dengan nada kesal.


"Apa yg kurang dari dia James?" tanya Edwin. Mei menganggukkan kepalanya.


"Iyah bener apa yang kurang dari Alice, cantik  mandiri dan mapan,  meski agak tomboi," ujar Mei menambahkan.


"Dia punya masa lalu yang nggak enak, aku kawatir masa lalunya akan mengganggu hubungan kami ke depannya," ujar James pelan. Mei dan Edwin berpandangan.


 


"Kamu tahu dari siapa?" tanya Edwin.


"Kent ," James menjawab pendek.


Mereka menghentikan pembicaraan saat Kent dan Alice bergabung. Kent menatap wajah Edwin dan Meisya bergantian dengan wajah ceria.


"Waaaah nih pengantin baru kok ada disini, aduh nggak nyangka masih sempet keluar kamar," Kent tertawa geli melihat Mei melotot padanya.


"Kamu kira kami mau di kamar sepanjang hari?" tanya Mei menahan malu. Edwin dan Kent tertawa bersamaan. James hanya tersenyum sedang Alice nampak bingung mau duduk di mana.


"Sini Alice dekat aku, sini," panggil Mei yang sengaja mendekatkan Alice dengan James, James menggeser kursinya agak menjauhi Alice.


"Malam kayak gini kalian baru mau makan?" tanya Meisya. 


"Lah si Al baru enakan, tadi dia sempat sakit perutnya," ujar Kent dan Mei membelalakkan matanya.


"Lah kok bisa?" tanya Mei.


 


"Biasa dalam rangka diet," jawab Kent asal, Al menatap Kent sambil memberengut.


Mei dan Edwin menunggu Kent dan Al selesai makan, barulah mereka pamit untuk masuk kamar.


"Mei, kamu kenapa kok jalannya kayak gitu?" Kent berteriak dan menahan geli saat Mei melotot lagi padanya. 


"Biasalah Kent, efek baru buka segel," Edwin terbahak dan menahan tawa saat Mei memukul bahunya perlahan.


James hanya tersenyum sambil menunduk dan pura-pura sibuk menghabiskan ice lemon teanya.


Edwin memeluk Mei dan melangkah ke arah kamar mereka. Jam 12 tepat mereka baru masuk kamar.


Edwin terlihat sudah berganti kaos dan celana pendek, ia sempat mengaduk-aduk baju apa saja yang disiapkan mamanya dan sempat terkekeh geli melihat piyama berwarna offwhite.


"Mama ini aneh-aneh aja, masa aku dibawain piyama model gini, mending gak usah pake baju dari pada keliatan aneh," ujar Edwin memperlihatkan piyama pada Mei.


"Ya sama, yang Mei ya gitu, masa baju tidur kok model nakutin semua, duh jadi nggak nyaman deh, mending besok kita pulang ya kak?" Mei merengek pada Edwin. Edwin menggeleng dengan cepat.


"Kamu ini gimana sih,  kalo untuk kamu, itu model bagus baju tidurnya, bikin nggakbisa tidur yang liatin, dan kita nih sayang harus ngehargain mama kalo masalah hotel, dia yang booking nih hotel jauh- jauh hari, masak cuman sehari, masih dua hari lagi kita disini, ayo cepet ganti baju, trus sini,deket kakak," Edwin berbaring sambil menepuk kasur agar Mei mendekat, Mei hanya melotot dan berganti baju membelakangi Edwin. Edwin menatap Mei yang terlihat malu dan ragu membuka bajunya.


"Cepet ah buka aja, kakak nggak akan gangguin, kalo lama ntar kakak samperin loh," Edwin menahan tawa, melihat Mei patuh segera mengganti bajunya dengan baju tidur yang dirasa aneh oleh Mei.


Dengan menahan malu Meisya berjalan menuju kasur dan menenggelam kan badannya dalam selimut. Edwin dengan gemas memeluk erat Meisya sambil menciuminya dan Meisya menjerit-jerit sejadinya.


"Apaan sih Mei?" tanya Edwin sambil tertawa.


"Aaaah kakak sih meluk- meluk sambil gelitiki Mei geli tau, Mei nggak suka digelitiki, peluk aja, ato cium aja," Meisya terlihat kesal.


 


"Iya iyaaaaa, sini dekat kakak," Edwin memeluk Meisya dengan lembut,  menciumi telinganya dan.. 


Ponsel Edwin berbunyi.... aduuh gangguan lagi, pikir Edwin, ia beranjak dengan malas dilihatnya eh ternyata mamanya..


Iya mamaaa


Belum tidur Ed


Baru makan sama Mei ma, ketemu om Ben,  James juga


Eh sempat keluar juga kalian


Iya maaa cuman sekitar hotel aja


Emmm Mei gimana sayang

__ADS_1


Yaaa baik-baik saja maaaa


Emmm maksud mama, Mei nggak papa kan?


Ya nggak papa maaa hahahah mama nih ya, ya biasalah ma, Mei kan gitu merengek-rengek aja, tapi ya tetep mau juga kok ma


Ih kamu ini, titip Mei ya sayang, jangan aneh- aneh, jangan capek- capek, jangan sering- sering maksud mama, kasian kan dia baru pertama Ed


Lah Ed juga baru pertama maaa gimana sih, dulu juga gak ngapa-ngapain sama Freya, kayak nggak tau Freya aja, nyium aja maunya kening doang, lagian kalo Meinya mau kan gak papa maaa hahahah


Iiisshh nih anak, ya udah tidur sana, salam sama Mei yah


Iya maa


Edwin menutup sambungan telponnya dan meletakkan di meja. Kembali mendekati Mei yang sudah mulai memejamkan matanya. Edwin memeluk Mei dan membiarkan istrinya beristirahat. Keduanya akhirnya tertidur.


***


Edwin bangun saat jam menunjukkan pukul empat pagi, dilihatnya baju tidur Mei yang sudah tidak pada tempatnya, diciumnya perlahan bahu Mei yang terbuka. Edwin geleng- geleng kepala, nih anak tidur apa pingsan, dari tadi diciumi nggak bangun juga.


Perlahan Edwin menyentuh dada Mei dan Mei mulai bergerak. 


"Iiih kakak, ngantuk masiiih, nggak usah pegang-pegang sumpah Mei capek," Mei memejamkan matanya lagi, namun ia terbangun lagi saat tangan dan ciuman Edwin kemana-mana.....


"Maaf Mei," hanya itu yang Edwin ucapkan saat Mei lemas dalam pelukannya. Meisya masih memejamkan matanya yang semakin berat.


"Heran deh kak, kok kakak nggak capek,  akunya capek banget, udah ya, jangan lagi," Mei masih memeluk Edwin dan Edwin tersenyum melihat keringat Mei yang masih mengalir dipelipisnya.


"Kakak mandi duluan ya, ntar kalo Mei masih capek, biar kakak yang mandiin," Mei masih saja memejamkan matanya,  sedang Edwin menuju kamar mandi. Selesai mandi Edwin menggendong Mei yang masih terlihat capek menuju kamar mandi dan menurunkannya di bathup yang telah diisi air hangat oleh Edwin.


"Mandilah, kakak tinggal ya eeeh kok masih merem, ayo kakak mandiin?" Edwin terkekeh saat, Mei berusaha membuka matanya.


Edwin keluar dari kamar mandi dan terdengar menelpon untuk memesan sarapan.


Agak lama Mei di kamar mandi barulah ia keluar dengan menggunakan bathrobe. Ia melihat sarapan yang sudah tersaji di atas meja.


"Kapan pesannya kok sudah datang kak?" tanya Meisya duduk di depan meja rias.


"Baruuu aja dateng, kamu lama banget di kamar mandi, kakak pikir dah pingsan di sana," tawa Edwin terdengar dan Mei yang terlihat jengkel.


"Iyaaa kakak yang bikin pingsan, ih bikin mangkel bener, dah dibilangin, masih capek kok masiiii aja terusan, apaan tuh sarapannya,  Mei laper, sumpah," Mei berjalan mendekati Edwin dan melihat dua porsi nasi goreng dengan lauk telur ceplok dan ayam goreng plus irisan timun dan tomat serta dua gelas besar coklat panas.


Saat keduanya hampir selesai sarapan, bel di pintu berbunyi,  keduanya saling tatap.


"Siapa ya Mei perasaan aku nggak pesan apa- apa lagi, masa mama pagi-pagi kesini,  kayak nya nggak mungkin deh," ujar Edwin berjalan ke arah pintu dan bel berbunyi lagi...


"Sayang ganti baju ya,  takut ada tamu ato siapa nggak enak kayaknya kalo liat kamu pake bathrobe kayak gitu," Edwin menahan tawa saat wajah Mei mulai memerah.


Edwin membuka pintu dan terbelalak melihat siapa saja yg datang, pagi-pagi kok dah nyerbu, emang sengaja mau gangguin aku dan Mei nih pastinya, datang kok rombongan...


*****


Terlihat wajah-wajah ceria, Edwina, suaminya, anak-anaknya dan terakhir bu Minda juga turut serta.


"Yuhuuuu apa kabar pengantin baruuu, sempat mandi nggak yaaa, sempat keluar kamar nggak yaaa?" tawa Edwina memenuhi kamar Edwin dan Meisya.


"Huus Edwina, ramenya, pintu belum ditutup sama Edwin tuh," kata bu Minda. Suami Edwina terdengar tertawa. Anak-anak Edwina berlarian di dalam kamar hotel itu.


"Hei hei ayo duduk nih om punya cekelat dua, ayo duduk yang manis," ujar Edwin, sambil memberikan cokelat yang ia beli tadi malam di minimarket hotel saat akan masuk ke kamarnya.


"Weh tumben nyediain cokelat segala, apa ntar mainnya sambil makan cokelat biar sensasinya beda?" tanya Edwina yg disambut tawa Edwin.


Meisya keluar dan bergabung bersama tamu-tamu yang telah membuatnya pontang panting ganti baju.


"Waduuuh Mei tambah cantik aja," ujar Edwina memeluk Mei dan mencium pipi Mei kanan kiri, lalu Mei juga memeluk bu Minda yang mendekapnya dengan erat dan lama.


"Maaa maaaa, duduk dulu, kasian Mei kayaknya dia kecapean banget," kata Edwina dan Mei tersenyum dengan wajah memerah.


"Loh ini kok nggak dihabiskan makannya, punya siapa ini, kalo masih laper ini mama bawa makanan, ayo kita makan semua yok, sekalian," ajak mama pada Mei dan Edwin.


"Ini nasi saya ibu mau saya lanjutkan emang eeemmm saya lapar banget," Mei meraih piring di meja dengan malu-malu. Dan tawa Edwina meledak.


"Ya ampun Eeed segitunya sampe Mei dibuat kelaperan, kasi jedalah ato gimana kek, keasikan paling tuh si Ed, ya Tuhaaan sekian lama menahan hasrat jadinya membabi buta," Edwina kembali tertawa terbahak-bahak, Edwin hanya geleng-geleng kepala sambil menahan tawa.


"Sudah kaaak kami makan teratur, cuman tumben aja Mei makan banyak," ujar Ed menjelaskan sambil menatap Meisya yang wajahnya semakin memerah.


"Sudah sudah, ayo makan, bentar lagi Edwina sekeluarga ini mau ke bandara, balik ke Singapura," ujar buMinda menata kotak-kotak nasi lengkap dengan sendok dan garpu.


"Anak-anakmu suapi duluan Wina biar cepet selesai, ayo Ed ini makan, Wina, ambilkan suamimu dulu nasinya," bu Minda terlihat mulai makan.

__ADS_1


"Aku mau makan juga ya ma, masih laper," Edwin meraih kotak nasi dan membukanya.


"Wah ini lebih asik pake tangan aja, ayam panggang kayak gini nggak seru kalo pake sendok," ujar Edwin mulai mencocol ayam pada sambel yang ada dalam kotak.


"Heeem ternyata dirimu juga laper banget," ujar Edwina mulai menyuapi anaknya satu persatu. Terdengar tawa Edwin yang keras.


"Biasalah kak, kayak nggak ngerti pengantin baru aja, kayak nggak tau jadi pengantin baru," Edwin kembali makan dengan lahap.


"Heeem makan kok ya sambil ngomong, nih Mei ayo makan lagi, ini punyamu, kan sudah habis nasi gorengnya, ayo ayo ngak usah malu, ibu lihat meski baru selesai mandi, wajahmu terlihat kalo capek, ayo makan," bu Minda memaksa Mei menerima kotak nasi yang ia berikan dan Mei melanjutkan makan dengan malu-malu, Edwin terlihat menahan tawa.


"Laper bener ya sayang?" tanya Edwin. Dan Mei mengangguk pelan. Tawa Edwina membahana memenuhi kamar.


"Huus ini," ujar bu Minda meletakkan kotak nasi dan mulai mengambil minum.


"Lah liat tingkah mereka berdua lucu ma, efek melakukan huru-hara keliatan kalo kelaperan banget," Edwina masih saja tertawa dan melanjutkan makan setelah menyuapi anak-anaknya.


"Ayo kamu cepetan makannya bentar lagi kita ke bandara," bu Minda mengingatkan Edwina.


Ponsel Edwin berbunyi dan Edwin meraih ponselnya dengan tangan kiri...


Hai James


Aku mau pamit, hari ini kami kembali ke Aussie


Ok ok nih di kamar ku rame, kak Wina juga mau balik ke SG, nggak mau ka kamarku James


Ah nggak lah Ed, papa kayaknya nggak enak sama mamamu, biarlah titip salam saja sama Meisya, mama dan kak Wina


Ok ok deh eh kamu bareng Kent dan Alice juga


Yah


Hahahhaah suaramu jadi terdengar aneh


Ah kamu ada-ada saja, ok Ed aku pamit ya


Ok


Edwin meletakkan ponselnya dan melanjutkan makannya yang tinggal sedikit. 


"James tadi ya Ed?" tanya Edwina. Edwin menggangguk, dalam hati ingin rasanya ia menanyakan om Ben tapi apa daya ada mamanya,ia tahu bahwa mamanya tidak akan berkenan jika James dan om Ben juga ada di kamar Edwin di hotel ini.


"Sayang kita berangkat yok ke bandara," ajak Edwina pada suaminya.


"Kok?" tanya bu Minda tiba-tiba.


"Nggak papalah ma, meski masih kurang dua jam, aku pengen ketemu papa Ben," ujar Edwina pelan dan bu Minda diam saja.


Edwina, suami dan anak-anaknya pamit pada Edwin dan Meisya. 


"Mama hanya akan menurunkanmu di tempat parkir ya, udah gitu mama langsung balik," ujar bu Minda, anak-anaknya diam saja, seolah tahu apa yg ada dalam pikiran bu Minda.


***


Setelah semuanya berangkat, Edwin dan Meisya tiduran di kasur. Mei merebahkan kepala nya ke dada Edwin. 


"Ibu kayak masihgimana gitu ya kak, kalo ketemu om Ben, tapi aku nggak nyalahin ibu juga dalam masalah ini, meski memaafkan tapi, wajahnya tetep dingin kalo ada om Ben," ujar Mei sambil sesekali mengusap dada Edwin. Edwin menghembuskan napas berat.


"Entahlah aku juga nggak tau harus ngomong apa, kita kan nggak tau menderitanya mama dulu kayak apa, eh sayang, kamu kok tetep aja manggil ibu ke mama, sudah dibilangin panggil mama sayaaang ke aku juga tetep aja panggil kakak, jadi nggak enak ditelinga, masa istri panggil kakak ke suaminya, aneh deh kayaknya," Edwin mengusap kepala Meisya dan sesekali mencium kepala Mei. Mei hanya tersenyum.


"Aku nggak bisa deh kayaknya kak kaloikutan panggil mama, kayak nggak pantes aja, orang yang begitu baik dan aku hormati, trus kalo ke kakak, aku harus panggil apa, bingung juga kan, apa panggil sayang aja ya?" tanya Mei sambil tertawa geli.


"Kamu selalu gitu, kamu itu sudah dianggap anak sama mama, kayaknya mama lebih sayang kamu deh daripada aku, trus kalo ke aku iya dah panggil sayang aja, manggil mas kayaknya kok kayak gimanaaa gitu," Edwin tertawa lalu mencium kening Mei pelan.


"Nanti aja kalo kita sudah punya anak, Mei akan mengubah panggilan pada kakak dengan panggilan yang lebih manis," Mei memeluk Edwin dengan erat. Edwin mengusap lengan Mei perlahan.


"Anak, memang kamu mau kita segera punya anak, kamu kan sempat nggak mau kita segera nikah, aku pikir kamu keberatan kalo kita segera punya anak?" tanya Edwin menatap Mei dari jarak dekat.


"Nggak papa, kak, nggak papa kita segera punya anak, aku nggak mau nunda, usia kakak juga sudah lewat 31, kejauhan ntar jarak usia kakak sama anak kita kalo aku masih nunda- nunda," kata Mei pelan, dan Edwin semakin mengeratkan pelukannya.


"Makasih," sahut Edwin dengan suara tercekat menahan haru dan mencium kepala Mei berkali-kali. 


"Kamu mau kita bulan madu?" tanya Edwin menatap Mei dan menggesekkan hidung nya pada hidung Mei. 


"Bagiku kayakgini sudah kayak bulan madu kak, meluk kakak, nyiumin kakak aaaah sudah segalanya bagi Mei,"ujar Mei masih memeluk Edwin dan memejamkan matanya sambil tersenyum.


Edwin memegang dagu Mei mendekatkan bibirnya pada bibir Meisya yang terbuka, menciumnya dengan penuh perasaan dan...


Bel dipintu kamar mereka berbunyi lagi...

__ADS_1


Haduuuuuuh siapa lagi sih nih... nggak tau apa kalo pangantin baru pinginnya....


__ADS_2