Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
15


__ADS_3

Sini duduk dekat tante sayang, ada yang ingin tante katakan, sebelum kamu mengatakan sesuatu pada tante," mama James menggapai Meisya untuk lebih dekat ke arahnya. Meisya mendekat dan menatap wajah lembut di depannya dengan dada berdebar,  tak urung ia agak bingung juga,  nanti mulai dari mana ia akan bicara.


"Terima kasih sudah hadir dalam kehidupan keluarga kami, terima kasih sudah menjadi yg terbaik untuk James. Meisya, sebelum tante menutup mata, tante ingin melihat kalian bahagia sebagai pasangan suami istri, hidup tante tak akan lama, hanya karena obatlah tante masih bisa bertahan, tante tidak ingin melihat James selalu sendiri,  tidak ada yang mengurus, tante bahagia saat dia menemukanmu Meisya cantik, kanker ovarium yang tante derita seakan menggerogoti kesehatan tante sedikit demi sedikit,tante hanya ingin kamu berjanji untuk tidak meninggal kan James, Meisya," dan mama menangis, Meisya memeluk mama dengan wajah bingung dan mata berkaca-kaca,  ia tak sanggup untuk mengatakan keinginannya, semua kata yg ia susun seolah hilang lenyap dari pikirannya. Ia tak tega mengatakan itu semua pada wanita yg hidupnya hanya menunggu waktu.


Mama mengurai pelukannya, dan menatap Meisya. 


"Katakanlah, apa yang ingin kamu sampaikan pada tante," mama menunggu dengan resah.


"Emmm saya, saya tidak bisa berjanji, bisa membahagiakan James atau tidak tante, karena sifat kami berbeda jauh,  saya hanya kawatir di tengah perjalanan kami tidak bisa melanjutkan," Meisya menelan salivanya, dia tidak yakin dengan apa yang ia katakan barusan,  ia hanya mengalihkan pembicaraan agar mama James tidak curiga padanya jika ia tidak menyampaikan apapun.


James memegang dadanya dan menghembuskan napas lega, mata James terlihat memerah. Dan melangkah pelan meninggalkan mereka berdua. Di depan kamar Meisya, James menunggu. Ia dapat melihat Mei yg berjalan menunduk, melangkah gontai, James mengerti apa yang dipikirkan Meisya, sekali lagi James menyesal telah menyeret Meisya terlalu jauh dalam masalah keluarganya.


Sesaat Meisya menegang melihat James menunggunya di depan kamar. Meisya masuk dan tak mempedulikan James. James menahan pintu saat akan ditutup oleh Meisya.


"Mau apa lagi, mau menambah bebanku menjadi semakin berat?" tanya Meisya dengan lemah.


James masuk ke kamar Meisya dan menutup pintunya. Mata Meisya terlihat mulai berkaca- kaca. Mereka saling berpandangan,  berhadapan. Air mata Meisya mulai turun dengan deras. Dan James memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku, maafkan aku," mata James pun mulai berkaca-kaca.


"Apa salahku padamu James sampai membawaku dalam masalah yg pelik seperti ini?" suara Meisya terdengar lirih dan menyayat. 


"Aku tidak punya kekuatan untuk mengatakan hal jujur pada mamamu, saat menerima kenyataan bahwa mamamu sakit, aku tidak ingin menghancurkan harapan hidupnya yang hanya tinggal beberapa saat saja," suara Mei semakin kabur diantara tangisannya.


James tidak bisa mengatakan apapun, ia hanya mengusap kepala dan punggung Meisya berkali-kali.


"Aku hanya ingin kak Edwin saat ini James,  aku ingin memeluknya menumpahkan segala kekesalanku, aku bisa berbuat apa saja pada badannya, menciumnya,  menggigitnya, memukulnya, kaaak,  kak Edwiiiin," tangisan Meisya semakin menjadi namun ia tekan suaranya.


"Lakukan padaku,  lakukan padaku Mei," pinta James dengan suara pelan.


 


"Tidak, aku tidak ingin melakukannya padamu,  kamu bukan kak Edwin, kamu bukan apa-apaku," Meisya menggeleng pelan.


James memegang kedua pipi Mei dengan kedua tangannya, wajahnya merunduk dan mencium bibir Mei perlahan. Mei mendorong badan James, namun James semakin menekan bibirnya pada bibir Mei. Airmata Meisya semakin deras mengalir, wajah Edwin semakin jelas tergambar dalam pikirannya.


Saat James melepas ciumannya, Mei kembali menangis. 


"Aku tidak merasakan apapun James, tidak seperti saat aku melakukannya dengan kak Ed, ini tidak boleh James, aku mengkhianati kakakku,  aku sangat mencintainya, tidak ada yang bisa menggantikannya," tangisan Meisya menyadarkan James bahwa ia tidak akan pernah dapat menggantikan Edwin di hati Meisya. Ia peluk Meisya dengan hatisakit, menerima kenyataan bahwa cintanya tidak bersambut, getaran yg ia rasakan tidak Mei rasakan sama sekali.


Tidurlah, besok siang kita akan kembali ke Sydney," James melepas pelukannya, mencium kening Mei dan keluar kamar.


*** 


Di luar kamar James menyandarkan kepalanya pada pintu kamar Meisya. Ia menyesal telahmencium Meisya, ia merasakan penolakan dari bibir Mei, dorongan yang kuat dari kedua tangan Mei di dadanya. James berjalan gontai masuk ke kamarnya. Membuka jasnya perlahan,menarik dasi lalu merebahkan badannya dengan masih menggunakan kemeja dan celananya.


***


Pagi, Meisya dikejutkan oleh ketukan di pintu kamarnya. Meisya berjalan gontai menyeret langkahnya dan membuka pintu,  tampak wajah James yang terlihat lelah meski telah rapi dan terlihat akan bepergian.


"Cepatlah mandi, mama menunggu kita," ujar James pelan. Meisya mengangguk dan menutup kembali pintu kamarnya.


***


Meisya membuka pintu kamarnya dan mendapati James yang duduk menunggunya di depan pintu kamarnya.


"Mau kemana?" tanya Meisya.


"Entahlah, kita menuju mama saja," jawab James, bangun, melangkah dan menjejeri Meisya ke bawah.


Di bawah mama sudah menunggu,  melihat Meisya dan tersenyum lebar melihat dandanan Meisya.


"Sini Meisya dekat tante, kamu sangat lucu dengan dandanan seperti itu?" mama James memeluk bahu Meisya.


Meisya berusaha tersenyum semanis mungkin. 


"Nggak papa kan tante kalo dandanan saya kayak gini?" tanya Meisya kawatir.


 


"Tidak apa-apa sayang, cuman jalan-jalan aja kok," jawab mama James


"Ayolah James kamu jangan ikut memandangi Meisya, ayo kita ke mobil, ambil kuncinya,  kita berangkat," mama James menggandeng Meisya keluar sementara James mengambil kunci mobil di ruang kerja papa.

__ADS_1


"Mau kemana ini tante?" tanya Mei


"Tante pengen ngajak kalian jalan-jalan, kamu terlalu singkat di Perth Mei, nanti siang sudah balik ke Sydney, 500 m dari sini ada cafe, orang Indonesia yang punya,  menyediakan makanan khas Indonesia, kita breakfast disana,  sayang papa terlalu lelah, dia sampai larut di kamar kerjanya tadi malam, jadi tidak bisa ikut dengan kita," mama menyilakan Meisya duduk di depan menemani James, sementara mama duduk di belakang. James menoleh, menatap Meisya, namun Mei tetap menghadap ke depan. Saat James memasangkan seatbealt Meisya kaget dan menahan napas, ia tidak bisa protes karena ada mama di belakang. Sekilas wajah mereka sangat dekat, Mei memundurkan wajahnya Dan James kembali memegang kemudi menghadap ke depan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tak lama kemudian mereka telah sampai di cafe yg dituju. Suasana cafe cukup ramai, berbagai makanan Indonesia dan internasional tersaji,  Mei memilih pancake dengan topping madu dan cappucino latte, sedang James lebih memilih hot chocolate  dan setangkup rotibakar, mama James memesan segelas teh hangat yang diberi madu dan sepotong kecil chesee cake. James duduk di samping Meisya dan mama James berada di depan mereka dipisah kan oleh meja kecil.


"James, lebih mendekat ke Meisya, mama ingin mengambil foto kalian, lebih mesralah James," mama mengambil beberapa gambar. Meisya berusaha tersenyum dengan wajar, meski hatinya terasa gundah dan tak menyukai situasi seperti ini.


"James ayo foto bertiga pakai ponselmu, nanti mama kirimi, ayolah kita foto selfi James, ayo Meisya, senyum manisnya mana?" mama terlihat sangat bersemangat.


Tak lama makanan mereka datang, Mei makan tanpa bersuara. 


"Meisya...," tiba-tiba tangan mama mengusap jemari Mei. 


"Wajahmu terlihat sedang memendam kekesalan, ada apa, apa marahmu pada James belum selesai karena Scarlett?" tanya mama hati-hati.


"Tidak, tidak tante, saya hanya kurang enak badan, capek paling tante," jawab Meisya berdalih.


"Iyah Meisya capek mama, kami tadi malam sudah bicara, sudah selesai," sahut James meyakinkan mamanya.


"Hanya ada yang perlu saya tegaskan tante,  bahwa hubungan saya dengan James baru saja dimulai, kami memiliki cara yg sangat berbeda dalam memandang sebuah hubungan yang serius, jadiiii jika suatu saat saya dan James sepakat mengakhiri hubungam ini, kami akan menyelesaikannya secara baik-baik, kami akan tetap berteman dan saya tetap menjadi sahabat tante," Meisya berucap pelan namun sanggup membuat mama James menghentikan tangan nya saat memotong chesee cake dengan garpu kecil.


"Aku melihat kalian sangat serasi, Meisya yang manja dan James yang sabar,  lalu apa yg menjadi kendala dalam hubungan kalian?" tanya mama terlihat cemas.


"Kami belum tahu kedepannya tante, kami hanya berharap hal baik yg kami mulai,  semoga berakhir dengan baik pula," ujar Meisya menenangkan mama James.


"Yah, aku sangat berharap pada hubungan kalian, aku ingin kalian menikah,  dan semoga sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia ini,  aku bisa mendapat cucuku, dari kalian," mata mama terlihat berkaca-kaca dan James tak tega melihat mamanya, ia genggam tangan mamanya. Tanpa bersuara.


***


Siang hari mereka telah sampai di bandara dan tak lama mereka segera menuju pesawat, mama dan papa bergantian memeluk James dan Meisya.


"Kami akan sangat senang jika kalian meluangkan waktu ke Perth lagi," ujar papa, pada James dan Meisya Mei tersenyum dan mengangguk pelan. Sementara mata mama James  berkaca-kaca memandang James dan Meisya.


***


Selama di peswat Mei diam saja, memejamkan matanya dan mulai tidur.


Meisya terbangun saat tangannya terasa hangat, ia membuka matanya, melihat tangannya digenggam oleh tangan besar James. Perlahan Mei menarik, namun James semakin mengeratkan genggamannya.


Mei diam tak bersuara,  mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Ya Tuhan,  mengapa aku menghadapi situasi seperti ini, aku tidak ingin menyakiti siapapun, hatiku hanya untuk kak Edwin,  tapi James adalah teman terbaik selama di Sydney, aku juga tak ingin dia terluka.


Perlahan Mei menyusut air mata dengan jarinya,  mengalihkan pandangannya agar James tak melihat air matanya jatuh. Namun gerakan tangannya berkali-kali ke matanya membuat tangan James membawa wajahnya menghadap pada James


Dipandanginya wajah Mei yang telah penuh dengan air mata. Direngkuhnya kepala Meisya pada bahunya.


"Maafkan aku Meisya,  maafkan aku yang mencintaimu dan menyiksamu dengan cara seperti ini, akan aku coba untuk menghilang kan perasaan ini, akan aku coba mengalihkan perhatian pada yang lain, aku tidak ingin merebutmu dari Edwin," James mencium kepala Meisya, lama, sambil memejamkan mata.


***


Perjalanan yang melelahkan dan menyesakkan dada bagi keduanya, akhirnya sampai di Sydney kembali.


"Aku antar kau sampai apartemenmu Mei," ujar James. Mei menggeleng.


"Tidak usah," Mei menarik travel bagnya dan berjalan perlahan meninggalkan James yang memandangnya dengan sedih.


***


Sesampainya di apartemen Meisya menghela napas berat. Ia memencet password dan pintu terbuka,masuk perlahan dan matanya terbelalak melihat sosok tampan yang sangat ditunggunya, tersenyum lebar, duduk di ruang makan, di meja makan tersaji makanan, entah apa itu.


"Kak Eeed....


*****


Edwin berdiri dan merentangkan tangannya, Meisya berlari menubruk tubuh besar Edwin dan menangis dalam pelukannya, kelelahan dan kekesalannya selama berada di Perth dan siksaan dalam pesawat tadi ia tumpahkan dalam dada Edwin.


"Heeeeiii heeii sayang,  kenapa sampai sesedih ini tangisanmu, kakak minta maaf kalo kakak tidak memenuhi janji, kakak yakin kamumarah sampai meninggalkan apartemen, pergi kemana kamu, untung kakak baru nyampe juga sejam yang lalu, kakak pikir kamu ada di apartemen eh ternyata apartemenmu kosong,  hei sudah berhenti nangisnya, kakak jadi merasa bersalah, segitu kangennya kamu sama kakak sampe kayak gini," Edwin bingung mau tertawa atau sedih karena Meisya masih saja memeluknya dengan erat.


Sesaat kemudianMeisya melepas pelukannya. 


"Kak, kalo bisa dua minggu sekali ya kakak kesini, kalo seminggu sekali, Mei kasian kakak  jadi berat di ongkos mana capeknya lagi, trus nggak enak juga sama ibu Minda," pinta Meisya sambil mendongakkan kepalanya menghadap wajah Edwin. Edwin tersenyum memandang wajah Meisya.


"Iyah kakak akan ke sini dua minggu sekali,  kakak juga kangen Mei,  sangat," Edwin menundukkan wajahnya merasakan bibir Meisya yang ia rindukan. Badan Meisya meremang saat tengkuknya di tekan oleh Edwin. Dan membiarkan Edwin lama menciumnya.

__ADS_1


Sesaat kemudian mereka saling berpelukan, lamaa,  Edwin melepas pelukannya saat Meisya mendorong pelan badannya.


"Kenapa sayang?" tanya Edwin. Wajah Meisya memerah.


"Itu, anu ada yang ganjel di perut Mei," Meisya membenamkan lagi wajahnya di dada Edwin. Edwin tertawa dan mencubit pipi Mei gemas.


"Tetep aja kamu ya, kelakuan nggak berubah nggak usah bilang,  cukup dirasakan," Edwin tertawa pelan.


"Eh iya sayang itu tadi pas dibandara kakak beli makanan, kawatir kamu belum makan, tapi ya gitu itu, jauh lebih enak masakan kamu, eh  itu lagi, sekotak bumbu soto, dikemas aman ada di tas ransel kakak, bikinkan ya sayang,  sumpah kakak kangen sama soto bikinan kamu, cuman disini apa ya ada kubis sama seledri sebagai pelengkapnya?" tanya Edwin sambil berjalan menuju tas ransel dan memberikan kotak tersegel rapi. Pasti bu Minda yg menyiapkan.


"Gampanglah kita cari di sekitar mini market di depan, kalo nggak ada,  ntar aku mau tanya rumah makan di sebelah apartemen ini, punya orang Indonesia kak,  aku cukup mengenalnya dengan baik," Mei menerima kotak dari tangan Edwin dan meletakkannya di dapur.


"Iya dah kak, aku ganti baju ya?"Mei melangkah ke kamarnya dan menggantinya dengan baju rumah setelah dari kamar mandi membersihkan diri.


"Dari mana kamu sayang, kok sampe bawa travelbag mungil?" tanya Edwin saat mereka duduk di sofa berdua. Mei menyandar kan badannya ke dada Edwin, sementara Edwin memainkan rambut panjang Meisya.


"Anu apah itu nginep di rumah teman," jawab Meisya dengan perasaan bersalah.


"Jangan gitu, jangan dibiasakan, mending teman kamu aja suru nemenin disini," ujar Edwin sambil meraih ponselnya yg berdering di meja. Seketika ia kaget dan memberikan ponselnya pada Meisya.


"Sayang, tolong terima, katakan saja siapa kamu, bilang kalo kamu calon istriku dan kita sedang di Australia,  cepet terima jangan banyak tanya dan ingat,  perhatikan nada suara kamu, jawab dengan tegas nah cepat," Edwin memberikan ponselnya pada Meisya.


Haloooo yaaaa


Loh ini siapa? Terdengar kaget suara si penelpon


Maaf ini saya dengan siapa?


Saya Violeta, rekan kerja bapak Edwin, ini siapa mana bapak Edwin


Saya Meisya, tunangan bapak Edwin, pak Edwin nya masih mandi, ada yang bisa saya sampaikan ibu?


Ooo gitu, iya sampaikan saja, saya akan menemuinya besok di kantor


Oh maaf tapi kami sedang berada di Australia, di Sydney


Ooooh ya sudah,  sampaikan saja dari Violeta


Penelpon menutup ponselnya dan Meisya mengangkat bahu memberikan ponselnya pada Edwin.


"Siapa dia kak?" tanya Mei heran.


"Hmmmm ular betina," jawab Edwin asal.


 


"Kok?" Meisya masih penasaran.


"Aku kan nunda berangkat gara-gara ngurus perusahaan yang aku ambil alih nah ni dia, dia itu anak pemilik perusahaan itu, kamu tahu dia ngejar aku sampe ke rumah karena di kantor aku nyuru satpam ngusir dia eh nekat ke rumah,  ya kebeneran ada mama,  sama mama disuru duduk sekalian dan mama bilang bahwa tahun depan aku akan dinikahkan dengan calon pilihan mama, sama mama disuru jangan ke rumah, haduu namanya uler ya tetep aja ngejar-ngejar," Edwin terlihat mangkel.


Meisya memeluk leher Edwin dan mencium pipinya, Edwin memandang wajah Meisya.


"Dikira gampang jatuh cinta ya Mei, aku aja bisa cinta sama kamu setelah lima tahun, merasakan sakit selama itu, dan disaat sudah menemukan tempat pulang, ada penghalang kayak gini, nggak akan mampu mengalihkan pesonamu dengan yang lain," Edwin mencium kening Meisya, ada rasa sakit dalam hati Mei, rasa menyesal telah membagi perhatiannya meski sedikit pada James.


Sekali lagi Mei mencium pipi Edwin dan Edwin menatapnya dengan penuh cinta.Merebahkan kepala Meisya di sofa dan melabuhkan ciumannya pada leher Mei, Meisya merasakan gelenyar aneh di seluruh tubuhnya saat tanpa sadar kemeja Edwin dan kaos Meisya telah teronggok di bawah meja, Meisya tersentak saat tangan Edwin menyusup diantara celana dalamnya.


"Jangan kak, jangan,  aku pasti akan memberikannya pada kakak, tapi tidak sekarang, nanti setelah kita menikah," Edwin menghentikan tangannya dan menutup badan Mei dengan kemejanya. Tersenyum lembut, mencium kening Mei dan melangkah ke kamar mandi.


***


"Asik juga ya belanja di bagian sayur dan buah, seger-seger deh," ucap Edwin membantu membawakan belanjaan yang cukup banyak setelah dari minimarket karena Mei sekalian beli untuk stok dia sendiri.


"Hmmm lebih asik belanja di pasar tradisional di Indonesia kak, ada acara nawar- nawar segala, biasanya aku bisa dapat murah,  soalnya mesti ibu-ibu nya yg jual bilang, ia dah gak papa dijual murah untuk perawan cantik,  lariiis..lariiiis, biasanya gitu kak," Meisya menoleh waktu Edwin tertawa dengan keras.


"Bukan karena kamu cantik dikasi murah,  tapi lebih tepatnya wajah kamu yang memelas yang bikin mereka gak tega ahahhaah," Edwin membuka kulkas dan meletakkan buah-buahan yang dibeli tadi agar tetap segar.


"Iiih gak percaya," Meisya terlihat sewot.


"Aku ganti baju dulu kak, mau masak sotonya sekarang aja,  besok aku ada jam kuliah pagi kak, cuma ada satu mata kuliah, udah gitu kita kemana ya kak, jalan-jalan yok besok, cari tempat yang nggak rame kak, biar bisa romantis- romantisan," Meisya tersenyum semanis mungkin. Edwin tertawa lagi melihat wajah Mei yang lucu.


"Ke Darling Harbour aja, bagus disana pemandangannya, ada cafe-cafe cantik lagi," sahut Edwin cepat.


"Iya dah sembarang,  pokok aku ikut kakak,  aku ganti kaos aja dulu mau masak," Mei melangkah kekamarnya, lalu menutup pintu, tak lama kemudian pintu apartemen ada yang mengetuk, Edwin menoleh, Siapaaaa lagi, pikir Edwin. Menjelang malam kok ada yang mengunjungi kekasihnya. Dibukanya pintu, tampak wajah Edwin dan orang dihadapannya sama-sama menengang

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Edwin dengan wajah dingin.


_bersambung_


__ADS_2