
Pagi-pagi Mei sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk James ia ambil yang simpel aja untuk sarapan, nasi goreng, lauk ayam goreng plus telor ceplok, heh ribet amat ngurus satu orang, setelah semuanya siap ia memasukkannya dalam wadah bekal nan simpel.
Ponsel Mei berdering memanggilnya ah panggilan video, tampak di layar wajah Edwin yang baru bangun tidur, rambut nggak karuan, tapi tetap ganteng heheh
Halo Meisya sayang...
Yaaa kakak ganteng, tumben manggil pake nama lengkap
Kangen aja, lagi ngapain?
Lagi mau mandi, trus ngampus
Meeiii
Yaaa kakaaak
Kangen
Samaaa Mei kangen ngelus-ngelus pipi kakak
Heys kamu mancing- mancing, kakak jadi pengen di elus beneran, kamu kok kayak berkeringat ngapain aja disitu
Masak kak
Sepagi ini? toh kamu makan sendiri bisa ntar ntar aja masaknya
Eemmm iiyaaa biar cepet selesai kak
Oooh gitu
Meeeiii
Ya kak, manggil-manggil terus
Kamu kapan libur Mei?
Leh ya masih lama kak, sekitar empat bulan lagi lah
Haduuuh lamanya, ya kakak akan ke kamu lagi aja, terlalu lama kakak nunggu empat bulan
Mei takut sama bu Minda kak, kalo kakak sering ke aku
Nggak papa, mama kayaknya nggak masalah itu aku ntar jadi sering ke kamu
Hmmmm iya deh Mei tunggu kakak kesini
Ok kakak mandi dulu Mei, ntar kakak sambung lagi ya
Yah, bai kakak muah
Love you Mei
Love you too kakak
Mei jadi merasa bersalah saat tadi ditanya Edwin tentang masakan yang ia masak, untuk pertama kali ia berbohong pada Edwin. Mei mendesah berkali- kali, maafkan aku kak, aku nggak punya perasaan apa-apa sama James, cuman kasian aja nggak ada yang ngurus, pikiran Mei jadi kemana-mana.
***
Mei mengetok pintu perlahan, nggak dibuka- buka, aduh kemana nih anak. Digedornya kuat- kuat, baru Mei ingat jika ia sudah diberi tahu passwordnya oleh James.
Pintu terbuka dan Mei melihat James yang duduk di dekat jendela sambil minum.
Heh ni anak di ketuk- ketuk gak dibukain," Mei terlihat sewot sambil mengeluarkan sekotak nasi dan lauk.
"Emang sengaja, dikasi password masih gedor-gedor," ujar James kalem.
"Kalo udah sembuh maidnya dibuat mainan, huh dasar, ya dah aku ke kampus dulu ya, eh kamu nggak ada jam ya?" tanya Mei.
"Ada, ntar siang," jawab James.
"Eh iya itu nasinya, James, aku bikinin nasi goreng, lauknya ayam goreng sama telur ceplok, nggak papa ya?" Mei menoleh sebelum keluar, James menatap Mei dan mengangguk.
Kenapa tuh anak, kok liatnya gak enak, kesambet jin ifrit kali ya.
Mei keluar dari apartemen James sambil berpikir tentang kelakuan aneh James.
***
Sore saat akan pulang Mei berpapasan dengan James, James berjalan lurus seolah tak melihat Mei, Mei pun demikian, namun yg Mei herankan tak biasanya James berwajah datar, biasanya meski dengan ujung mata, ia akan melirik Mei dan menggerakkan sedikit alisnya. Apa salahku ya? Pikir Mei.
__ADS_1
Saat akan membuka pintu apartemennya tiba-tiba James nyelonong masuk ke aparemen Mei. Dan duduk di sofa.
"Hem benar-benar kesambet jin ifrit ni anak, tadi di apartemen cuek, di kampus ya cuek, eh sekarang nyelonong aja," Mei masuk ke kamarnya dan mengganti bajunya dengan baju rumah.
Mei menuju kulkas dan mengambil buah yang sudah ia potong-potong, dibawanya ke ruang tamu meletakkan dimeja
"Nih makan cemilan sehat," Mei memasukkan satu potong semangka ke mulutnya. James menatap Mei sambil geleng-geleng kepala.
"Kakakmu tercinta tau kamu pakek pakaian kayak gitu di depan cowok lain heh bisa kebakaran jenggot dia," James mengalihkan pandangannya pada potongan buah, mengambilnya dengan garpu dan memasukkan ke mulutnya. Mei melihat penampilannya dari atas ke bawah.
"Ada yang salah?" tanyanya bingung.
"Lihat celana pendekmu, hampir ke pangkal pahamu, kaosmu juga, pake yg ada lengannya, nih anak ya, untung aku orang baik-baik, kalo nggak sudah...," James tetap asik dengan buah tanpa melihat Mei.
"Halaaah paling kamu nggak normal wahahahah...ganteng sih iya, masak nggak punya cewek, makanya aku merasa aman-aman aja dekat kamu," Mei mendekatkan wajahnya pada James yang memasukkan potongan buah terakhir ke mulutnya. James menoleh tepat saat wajah Mei ada di depannya, sesaat ia tertegun.
"Mundur Meeeeiii atau kamu memang ingin aku cium," ancam James. Mei segera memundurkan wajahnya
"Waduuuuuh bisa marah juga nih, si muka pucat, makan ya biar aku siapkan?" tanya Mei. James menggeleng.
"Aku kesini mau minta tolong kamu, sekaliiii saja Mei, ntar malam ikut aku ya, ke acara pernikahan kerabat papa, sedikit cuma Mei yang diundang, jadi acaranya privat banget, aku malu kalo nggak bawa pasangan, aku akan jadi bulan-bulanan sepupu-sepupuku," wajah James memelas.
"Ogah, itu kan masalah kamu, ngapain aku yang pusing, nggak ah, pasti disana ada papa mama kamu, cari masalah namanya James, nggak," Mei menggeleng dengan keras.
James tiba-tiba duduk bersila di bawah, di depan kaki Mei.
"Please Mei, sekaliiii aja bantu aku," James menatap Mei dengan pandangan memelas. Dan Mei akhirnya mengangguk tak tega. James merangkul kaki Mei dengan riang.
"Makasih Mei, nanti aku jemput jam tujuh tiga puluh ya, bai Mei aku pulang," James bergegas keluar dari apartemen Mei.
***
James mengetuk apartemen Mei dan sejenak terpana pada wajah Mei.
Sapuan sederhana pada wajah Mei, semakin membuat Mei cantik, rambutnya pun hanya digerai begitu saja, menggunakan dress hitam selutut tanpa lengan dan stiletto hitam.
"Haaaah dirimu terpana, pada diriku yg cantik?" Mei berputar-putar di depan James.
"Kamu kan yang bilang kamu cantik heh nggak lah biasa aja, ayo berangkat," ajak James. Mei melihat James dari atas ke bawah.
"Kita kayak yin dan yang, lah aku pake baju hitam, kamunya pakai baju putih," Mei terkekeh dan segera mengambil clucth hitamnya.
Di dalam mobil mereka diam tak bicara.
"Tenang aja, kan nggak akan ketemu calon mertua, ntar gandeng lenganku ya Mei," pinta James. Mei mendengus kesal.
***
Benar dugaan Mei, di gedung mungil ini mereka berdua jadi pusat perhatian. James memperkenalkan Mei pada seluruh kerabatnya
Badan Mei menegang saat James memperkenalkannya pada papa dan mamanya. Mama James terlihat kaget lalu tersenyum manis pada Meisya.
"Gadismu James, ah you look so beautiful, like a princess," mama James memeluk Mei dan Mei membalas pelukan mama James. Mati akuuu, dosa apa yang telah aku perbuat kok masuk dalam masalah seperti ini. Pikiran Mei mendadak berputar- putar nggak jelas.
*****
Saat akan pulang James pamit pada papa dan mamanya.
"Kapan-kapan datanglah ke rumah kami di Perth, kami tunggu ya Meisya," MamaJames tersenyum manis dan sekali lagi mencium dan memeluk Mei. Ya Tuhaaan kenapa juga aku mauuu, mati akuu gimana ini, mereka berharap aku main ke Perth, awas nanti kamu James, aku juga kenapa mau, nggak lagi deh. Pikiran Mei mendadak buntu seketika.
Selama perjalanan pulang Mei diam saja. Wajahnya ia tekuk sedemikian rupa.
"Kok diam Mei?" tanya James dengan nada geli ia mengerti kemarahan Meisya. Karena selama acara James mendapat ucapan selamat hampir dari semua kerabatnya bahkan bertanya kapan mereka akan menikah. James menikmati perubahan wajah Mei selama siksaan itu berlangsung.
James sengaja membiarkan Meisya bersama dengan kerabat wanitanya, sedang James menjauh, berkumpul bersama sepupu-sepupunya yang lain.Dari jauh James mengamati wajah Meisya yang selalu tersenyum manis, Meisya memang menyenangkan dan ramah sehingga siapapun mudah berbincang ramah dengannya.
Saat akan pulang barulah James menggamit lengan Meisya dan membawanya pulang.
"Meisyaaa, masih marah?" tanya James lagi.
"Kamu jahat, ninggalin aku setelah kamu ngenalin aku ke semua orang," bibir Mei jadi maju beberapa centi.
"Lah kan sudah kenal, jadi enak tinggal cerita- cerita aja," sahut James yang membuat Mei semakin marah.
"Kamu nggak mikir, mereka nanya macam- macam, kapan kenalan, kapan jadian, kapan nikah, kamu nggak mikir aku nggak biasa bohong," dan suara Mei terdengar menahan tangis.
James menghentikan mobilnya, ia tidak mengira jika gurauannya akan menyakiti Mei.
Mei memandang keluar jendela. Matanya berkaca-kaca. James bingung, ia akan menyentuh tangan Mei tapi diurungkannya. Ingin merengkuh bahu Mei, takut tambah salah.
__ADS_1
"Lihat aku Meisya... Meisyaaa," suara menakutkan James membuat Mei menoleh, sejenak mereka bertatapan, ada sisa air mata di mata Mei, rambutnya sedikit menutupi wajah Mei. James menyibak rambut Mei dan menyematkannya di belakang telinga Mei.
"Maafkan aku," James jadi iba melihat Mei menahan tangis.
"Kamu marah?" James mendekatkan wajahnya pada Mei.
"Kamu pernah punya cewek nggak sih, apa kamu nggak mikir, seandainya kamu yang ada di lingkungan baru, yang belum kamu kenal, siapa yg akan membuat nyaman kalo nggak pacarnya, harusnya kamu mendampingi aku, saat mereka bertanya hal yang tidak mungkin bisa aku jawab. Aku nggak pernah pacaran James, aku mulai menyukai laki-laki ya kak Edwin, tapi aku tahu gimana caranya menyenangkan dan menenangkan pasangan agar mereka merasa nyaman, kasian banget cewek kamu kalo gini caranya," Mei menyudahi pembicaraannya dan menghadap lurus ke depan.
James memundurkan wajahnya, menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi kemudi.
"Maafkan aku, aku mungkin memang tidak tahu harus bagaimana menghadapi wanita, mungkin karena itu juga Arabela dan Nichollet meninggalkanku, tapiii... tapi yang tadi itu maksudku aku bergurau Meisya, aku memang sengaja meninggalkanmu karena aku melihat kamu sangat nyaman bersama kerabatku, aku melihatmu dari jauh, kamu bisa santai menghadapi kebawelan kerabatku, dan sejujurnya aku takut menghadapi pertanyaan mereka, kapan aku akan menikah," James memejamkan matanya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu menangis," James kembali memandang Mei dari samping.
"Pulang James, besok kamu ngajar di kelasku, jam pertama lagi, aku nggak mau terlambat," ajak Mei dan James kembali melajukan mobilnya.
***
"Sekali lagi, maafkan aku Meisya," suara James pelan, saat mengantar Mei sampai di depan pintu apartemen Mei. Mei mengangguk tanpa melihat James. James menarik pelan lengan Mei.
"Apalagi?" suara Mei terdengar lelah.
"Kamu tidak melihatku, aku minta maaf," mata James memelas melihat Mei.
"Yah," jawaban singkat Mei, masuk apartemen dan menutup pintu dengan pelan.
Mei membuka bajunya pelan, masuk ke kamar mandi, membersihkan badannya.Menggunakan baju tidurnya lalu menaikkan selimutnya sampai ke leher, kenapa mendadak pusing gini? Pikir Mei. Semalaman Mei tidak bisa tidur, ia merasa mangkel tapi kasihan pada James. Ternyata dia pernah pacaran, cuma berakhir semua, berarti dia normal, aku pikir dia kelainan heh, Jaaaames kamu bikin aku marah tapi kalo lihat wajahnya jadi gak tega.
Semalaman Mei tidak bisa tidur hanya membolak balikkan badannya. Sejak dulu Mei memang menghindari makhluk yang namanya laki-laki karena tidak ingin hidupnya ribet, tapi saat melihat Edwin hatinya jadi cair. Sekarang ada James yang aneh, yang mudah berubah sikapnya, ada juga Gavin yang jadi sering menghindarinya sejak Edwin mengatakan bahwa ia calon suami Mei. Mei mendesah pelan, hai makhluk yang melelahkan jiwa, mengapa kalian datang tak diundang, pengen rasanya kalian pergi tanpa ku antar, heh kok malah mirip jelangkung.
Mei tidur saat hampir pagi.
***
James benar-benar tidak dapat berkonsentrasi pada materi yang ia diskusikan dengan para mahasiswa di kelas Meisya. Meisya terlihat benar-benar sakit. Hidung memerah, beberapa kali terlihat mengusap hidungnya dan merapatkan jaket ke badannya. Matanya terlihat berair. Begitu selesai perkuliahan, James mencari Mei, namun ia sudah menghilang dari tempat ia duduk. Kemana anak itu? James benar-benar merasa bersalah karena semalam Mei baik-baik saja. James segera bergegas berusaha mencari bayangan Mei namun tak ia temukan. James merasa kesal karena ia tidak mungkin menyusul Meisya, ia masih ada kelas sebentar lagi.
***
James mengetuk dan membunyikan bel berkali-kali. Agak lama baru pintu dibuka. Terlihat wajah Mei yang kacau, rambut panjangnya tampak semrawut. Mei tidak berkata apapun ia melangkah masuk tanpa menyilakan James, merebahkan badannya di sofa dan meringkuk bergelung dengan selimutnya.
James mendekati Mei yang tidur meringkuk. Meraba keningnya.
"Meisya kamu panas banget, ke dokter yuk Mei," ajak James dengan nada kawatir. Terdengar batuk Mei berkali-kali.
"Nggak, ini cuma penyakit biasa, makan yang banyak, istirahat cukup, sembuh dah, aku pernah sakit lebih parah dari ini, tidak ke dokter ya nggak papa, anak panti dah biasa kayak gini, aku cuma kurang tidur, semalam mata melek terus," Mei menjawab dengan suara serak dan sengau. James menggeleng,
"Kamu jangan main- main badan kamu panas banget Mei," James meraba kening Mei sekali lagi.
"Aku sudah minum obat, sekarang ngantuk, kamu pas datang itu aku dah mau tidur, aku tidur ya James, kamu nggak papa dah sana tidur di kamar kalo ngantuk," Mei memejamkan matanya.
Mei tampak terlelap di sofa. James membuka jasnya, menatap Mei yang tidur meringkuk, perasaan bersalah kembali datang pada diri James. Seandainya tadi malam tidak datang ke acara itu pasti Mei tidak akan sakit. Posisi tidur Mei yang tidak enak membuat James segera menggendong Mei ke dalam kamar. Sesaat dipandangnya wajah Mei. Mengapa ada rasa aneh tiap memandang Mei. James menggeleng kan kepalanya dan melangkah ke kasur menidurkan Mei dan menarik selimut sampai ke leher.
"Tidurlah Mei aku akan menjagamu, seperti kamu yang menjagaku waktu aku sakit," James merebahkan badannya di sisi Mei.
***
Malam hari James bangun ia meraba kening Mei. Lumayan turun panasnya, cepat sembuh Mei aku akan merasa bersalah selama kamu belum sembuh.
Pergerakan badan James membuat Mei bangun dan kaget menemukan dirinya ada di kasur dan James ada di sisinya.
"Pulanglah James, aku sudah mendingan," ujar Mei membetulkan selimutnya.
"Kau mengusirku di jam dua dini hari?" tanya James.
"Oh yaaa, ya tidurlah sana, aku ngantuuuk banget," Mei memejam kan matanya lagi.
"Aku laper Mei, aku ke dapur ya, mau bikin mi instan, lama dah nggak makan mi instan, ada stok kan Mei?" tanya James.
"Haduh kayak anak kecil aja makan mi instan, ada kayaknya lihat di dapur sana, tapi cuma dua paling, goreng nugget ayam sajalah James, ato bikin omelet aja, aku tidur yaaa," Mei menutup selimut sampai ke kepalanya.
James bergerak ke dapur, entah apa yang dimasaknya, James hanya menggunakan kaos tanpa lengan dan celana pendek, terlihat jas, kemeja dan celana bahannya tergeletak rapi di sofa. Harum masakan James menguar ke segala arah. James membawa masakannya ke meja ruang tamu. Saat menikmati omelet dan kentang goreng muncul Mei.
"Kamu masak apa, harum banget, minta dong," Mei duduk di dekat James dan duduk menaikkan kakinya meringkuk di kursi. James menyendokkan omelet ke mulut Mei. Mei mencomot kentang goreng dan mencocol ke saus tomat.
"Jangan banyak-banyak ya, kamu batuk masalahnya Mei," James memasukkan omelet ke mulutnya.
"Aku mau tidur lagi James besok aku ada jam kuliah, tapi rada siangan," Mei mulai meringkuk di sofa lagi.
__ADS_1
"Tidurlah, aku nggak ada jam besok, aku akan menjagamu biar nggak telat," James membetul kan bantal yang dibawa Mei, Mei tidur di sofa, di sisi James, meringkuk seperti bayi dalam perut ibu.
_bersambung_