Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
37


__ADS_3

*SUK*


#37


Edwin berjalan menuju ponselnya di meja dan melihat nama Zaki tertera di situ.


Apaan dokter cabul dah gak datang lo kenikahan gue, gangguin lagi


Wahahahah napa lo lagi ena ena keganggu ya hahahahha


Bangke lo, dah tau, nanya lagi


Pasti lo gak pake baju


Ngomong lagi lo, mau apa lo Zak, gue tutup nih


Tunggu, tunggu, sorry gue gak bisa hadir, gue ada seminar di Singapura Ed, seminar profesi gue, tapi istri gue hadir kan


Iyaaah trus apa lagi


Ntar gue dateng dari SG, pasti ke lo deh


Oleh-oleh, ngerti


Apaan jamu kuat ramuan Cina


Pala lo, lo kira gue impoten apa


Wakakakak emang udah berapa ronde lo


Tutup dah Zak mulut lu tamba gak karuan


Ok dah lanjut ampe pagi Ed wahahahah


Bangke lo


Edwin tersenyum sambil menutup sambungan ponselnya dan meletak kan kembali di meja lalu menuju kasur, ah Mei sudah tidur, Edwin menyibak rambut Mei yang menutupi sebagian wajahnya dan menaikkan selimut agar menutup tubuh Meisya yang masih terlihat punggungnya. Edwin sendiri masuk ke dalam selimut yang sama dengan Meisya dan menarik sampai ke pinggangnya dan memeluk tubuh Meisya dari belakang.


***


Sementara itu Kent terlihat bingung mencari Alice, karena terakhir ia melihat bersama James dan setelah kembali ke meja tempat mereka berdua duduk di ruang resepsi, ia tidak melihat mereka lagi.


Kent menelpon James dan terdengar gerutu dari James.


Gimana sih kamu Kent, kakak kamu nih sakit, dia megang perutnya dari tadi, nggak kamu kasi makan apa, cepat kesini, aku ada di bagian buffet hotel ini


Ok ok aku ke sana James


Kent melangkah cepat setengah berlari dan menemukan James yg memandang kawatir pada Alice. Sedangkan Alice menyandarkan kepalanya pada kursi sambil memejamkan matanya.


"Al kamu nggak papa kan?" tanya Kent, Alice hanya menggelengkan kepala.


"Nggak papa, ini cuman bentar kok, aku tadi sudah minum obat, aku cuman telat makan aja," Al menjawab sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Gimana sih kejadiannya James, aku tadi mencari kalian, kok di meja itu nggak ada lagi kalian," Kent merasa bersalah pada James dan Alice.


"Kamu yang kemana aja, kami nunggu lama, aku ajak dia makan nggak mau,ya udah aku makan sendiri, trus lama-lama dia megang perutnya dan aku papah kesini, nggak kuat jalan dia tadi," ujar James terlihat marah pada Kent.


"Aduh maaf James, tadi aku ketemu kawan lama teman kuliah di Sydney, dia jadi dosen juga di sini, nawarin aku jadi dosen tamu disini selama dua tahun, yah aku bilang masih mau konsultasi kelembagaku dulu, makanya maaf ninggal kalian agak lama," ujar Kent memberikan alasan.


Iyah dah Kent, bawa kakakmu ke kamarnya, aku mau nemuin papa di kamar, papa juga kurang sehat," James berdiri mengambil ponselnya dan memasukkan ke sakunya, saat akan melangkah terdengar suara Alice.


"Makasih James," ujar Alice memandang punggung James yang akan berlalu, dan James hanya mengangguk tanpa menyahut.


Kent mendekati Alice yang masih memegang perutnya. 


"Al kamu beneran sakit, nggak modus kan?" tanya Kent menahan tawa.


"Lihat wajahku, apa terlihat bohong, sudah tau melilit nih perut malah di kira modus," Alice terlihat marah pada Kent.


"Iya iyaaa aku pikir kamu pengen dipapah James," ujar Kent lagi sambil tertawa, dan Alice berusaha bangun.


"Terserah kamu mau ĺngomong apa, nggak tau perut masih melilit, aku mau ke kamar Kent, kita jadi kan pulang besok?" tanya Alice dan Kent mengangguk.


***


Mei bangun saat dirasakannya lengan Ed yang melingkar dipinggangnya. Diusapnya pelan jari-jari tangan Edwin, dan diciuminya perlahan.


"Mau lagi?" suara serak Edwin mengagetkan Meisya.


"Nggak," suara Mei pelan namun Edwin tetap menciumi punggung Mei dan Mei tahu Edwin tak bisa dihentikan....


"Maafkan kakak," Edwin mengusap keringat di pelipis dan pipi Mei.


 


"Masih sakit?" tanya Edwin lagi. Mei membuka matanya.


"Nggak gitu sakit, tapi jangan lagi ya kak, Mei capek," Mei menyusup kan kepalanya ke dada Edwin. Edwin tertawa perlahan dan mengusap rambut Meisya.


"Kakak mandi dulu ya Mei, ato kita bareng aja?" tanya Edwin sambil menggoda Mei.


"Nggak nggak, ih kakak," wajah Mei jadi merah menahan malu.


 


"Alah sekarang kalo dah kejadian malu, dulu pas awal di rumah, nulis apaan coba di buku harian, pengen gigit lah, pengen itu lah," Edwin tertawa melihat Mei menutup wajahnya dengan selimut.


Edwin melangkah ke kamar mandi. Dan Meisya memekik pelan, 


"Ih kak, pake apa kek, selimut, ato apa gitu, gak malu kayak gitu," ujar Mei sambil sesekali mengintip dari balik selimut. Edwin berbalik menghadap Mei dan Mei kembali memekik dan menutup wajahnya dengan selimut. Terdengar tawa Edwin yang menutup pintu kamar mandi.


Dengan cepat Mei bangun dan memakai baju tidurnya, duduk di meja rias dan menatap wajahnya yang terlihat lelah. Tak lama Edwin ke luar dengan rambut basah dan handuk yang melilit pinggangnya.


"Sana kalo mau mandi, trus kita makan, aku tunggu," ujar Edwin berlalu di hadapan Mei. Meisya menggantikan Edwin ke kamar mandi.


Tak lama Meisya keluar dari kamar mandi, melihat Edwin yg sudah berpakaian lengkap, duduk di sisi ranjang dan memunggunginya, terlihat sedang asik dengan ponselnya.

__ADS_1


Mei megambil baju dan melihat pada Edwin.


"Kak, kita mau makan di mana? Kok kakak bajunya kayak gitu?" tanya Meisya.


 


"Makan di buffet hotel ini sayang, kenapa, kalo kamu mau makan disini nggak papa, biar aku pesankan, masih sakit kalo di buat jalan?" tanya Edwin menatap Mei yang masih menggunakan baju tidur.


"Nggak papadah, masih agak sakit sih," jawab Mei mengambil baju yang berwarna senada dengan Edwin.


Edwin berjalan mendekati Mei dan memeluknya dari belakang,


"Kalo masih sakit nggak usah keluar nggak papa, disini aja," Mei membuka pelukan Edwin dan membalikkan badannya.


"Nggak papa, cuman makan kan, trus balik lagi?" tanya Mei. Edwin mengangguk. Meisya memakai celana jinsnya dan memakai kaos berlengan panjang. Lalu menyapu wajahnya dengan makeup tipis.


Mereka berjalan beriringan menuju buffet dan menemukan om Ben dan James disana. Akhirnya mereka bergabung.


"Gimana om sudah sehat?" tanya Meisya menatap om Ben yang terlihat capek. Om Ben tersenyum ramah.


"Lumayan, besok om pulang Meisya, Edwin, oh iya, ini kado dari om untuk kalian," om Ben menyerahkan kotak kecil berwarna putih ke sisi Meisya.


"Bukalah, itu kunci apartemen, om membelikan yang lebih nyaman dari yang ditempati Meisya, meski Meisya tidak akan selamanya di Sydney, tapi karena kalian sudah menikah om pikir perlu tempat yang bagus untuk kalian tempati sebagai pasangan baru, kalian bisa menjualnya jika Mei menyelesaikan studynya," ujar om Ben sambil menatap Edwin dan Mei bergantian.


"Makasih banyak om, kami nggak akan menjualnya, ini hadiah dari om," ujar Edwin.


"Tadi emang papa bingung Ed gimana caranya ngasi kadonya, karena papa nggak ingin ganggu kalian," ujar James yang melihat wajah Mei mulai merona Edwin tersenyum dan menggenggam jemari Meisya.


"Nggakpapa sebenarnya kamu telpon aku James, kami dari tadi cuman tiduran kok," jawab Edwin yang memahami perubahan wajah Meisya yg terlihat malu.


"Makasih kadonya ya om, nggak akan kami jual meski aku ntar pindah ke Indonesia setahun lagi," ujar Mei menatap om Ben yang sejak tadi tersenyum melihat wajahnya.


"iya, terus terang om bingung juga mau ngasi apa, om carikan yang nyamanlah dan persiapan nanti jika Mei memiliki anak selama di Sydney," om Ben kembali tersenyum pada Meisya.


Mereka berempat makan, sesekali tampak James menatap wajah Meisya yg terlihat lelah, ada rasasakit didadanya saat Edwin melayani Meisya makan dan perlakuan Edwin yang semakin mesra pada Meisya.


"Ok, om masuk dulu ke kamar ya, om salaman sekarang aja, takut besok pas akan ke bandara nggak ketemu kalian, pengantin baru nggak akan bangun pagikan?" om Ben terlihat menggoda Mei dan Edwin, terdengar tawa Edwin dan Meisya yg terlihat malu, Edwin dan Meisya bergantian memeluk om Ben.


Tampak Meisya yang memeluk om Ben agak lama. 


"Om harus sehat ya, om harus melihat James menikah dan memiliki cucu dari James," ujar Mei setelah melepas pelukannya, om Ben mengangguk dan kembali memeluk Mei sesaat, terlihat mata om Ben yang berkaca-kaca.


Om Ben pamit masuk ke kamarnya dan tinggallah mereka bertiga melanjutkan obrolan mereka, Edwin merengkuh bahu Mei dan sesekali memain kan rambut Meisya.


"Ed, kamu nih jangan bikin aku pusing, masa bermesraan di depanku," ujar James yg di balas tawa Edwin yang keras.


"Aku ini nyemangatin kamu biar segera nikah, masa nggak pengen?" tanya Edwin lagi dan masih menyisakan tawanya.


"Siapa yg nggak pengen nikah, masalahnya, mempelai wanitanya nggak ada," ujar James tertawa sumbang.


"Itu tuh mempelainya berjalan ke arah kita," Edwin memberi kode dengan menaikkan alisnya menuju ke arah belakang James.


James menoleh dan seketika wajahnya berubah....

__ADS_1


__ADS_2