
#50
James cepat melepaskan pelukan Alice di tengkuknya. Dan berdiri melihat papanya yang telah melangkah menjauhi pintu kamar yang memang tidak ia tutup. Ada rasa malu dan canggung saat James akan ke luar menemui papanya.
"Ya pa, ada apa?" tanya James sambil menggaruk kepalanya.
"Nanti jam berapa ke rumah sakit?" tanya om Ben duduk di ruang makan
"Sekitar jam 9 lah pa, aku antar Al dulu ke apartemennya," jawab James.
"James, jangan Alice kamu gunakan sebagai pelampiasan, kamu tak mencintainya, tapi menciumnya," om Ben tak melihat wajah James. Dan James terbelalak.
"Papa, yang mulai duluan Alice, bukan aku, " ujar James dengan suara lirih.
"Yah tapi kamu menikmatinya," ujar om Ben dan James hanya menggeleng-geleng kepalanya.
***
Tak terasa telah dua minggu om Ben menjalani hari-harinya yang ia rasa agak berat, padahal efek kemo pertama ternyata tidak terlalu parah hanya mual saja dan terkadang saja muntah, gejala tiap orang memang tidak sama, om Ben mulai merasakan efek dari kemo pertamanya yaitu rambutnya mulai rontok, meski tidak banyak, dan kukunya juga mulai menghitam.
Om Ben, tetap melaksanakan aktivitasnya seperti biasa, bahkan sempat kembali ke Perth untuk kembali aktif di perusahaannya meski kadang ia cepat lelah.
Dan memasuki minggu ke tiga, akan dijawal lagi untuk kemo kedua, om Ben telah menjalani pemeriksaan lengkap, karena semua hasil dari general checkup baik, sehingga kemoterapi kedua akan segera dijdwalkan.
***
Edwin dan Meisya sempat berbulan madu ke Bali, meski hanya lima hari, mereka benar-benar memanfaatkan bulan madu singkat itu karena jadwal kerja Edwin yang semakin sibuk, apalagi sejak om Ben meminta bantuan Edwin agar ikut mengelola perusahaan om Ben yang di Sydney, sementara yang di Perth masih diikelola langsung oleh om Ben.
Meisya merasakan Edwin yang mulai mengabaikannya. Bu Minda merasakan Meisya yang terlihat sering melamun di kursi yang menghadap ke kolam. Edwin semakin tengggelam dalam pekerjaan yang seolah tiada henti.
***
Malam saat Edwin baru datang, ia melihat Mei yang tengah melipat baju-bajunya dalam travel bag. Ia dekati istrinya, Mei diam saja.
"Ada apa kamu memasukkan baju-bajumu sayang?" tanya Edwin sambil membelai rambut Mei.
"Besok aku kembali ke Sydney," suara Mei hampir tak terdengar, namun sanggup membuat Edwin kaget.
Edwin berjongkok menatap wajah Mei, dipegangnya paha istrinya, dan Mei masih saja menunduk, melipat dalamannya.
__ADS_1
"Kok tiba-tiba sayang, bukankah masih seminggu lagi kuliahmu mulai?" tanya Edwin menatap Mei dengan bingung.
Mei hanya diam saja melepaskan tangan Edwin di pahanya, dan merebahkan dirinya, menarik selimut dan memunggungi Edwin yang masih berjongkok dengan jas lengkapnya.
Edwin diam saja, ia mengerti Mei marah, dua minggu ini ia sangat sibuk, kerja sama dengan perusahaan sahabatnya, menangani perusahaan om Ben, belum lagi perusahaannya sendiri.
Dalam dua minggu, mungkin hanya dua kali mereka sempat melakukan aktivitas yang mendebarkan itupun karena Mei saat itu memancing Edwin dengan kado pengantin dari Edwina, lingerie yang mengerikan menurut Meisya. Selebihnya, Edwin lebih sering pulang larut, langsung tidur dan pagi-pagi sudah bergegas ke kantor.
Edwin segera membuka jas dan kemejanya, lalu masuk ke kamar mandi. Edwin ke luar dari kamar mandi, memakai kaos serta celana pendeknya.
Kemudian ia mulai merebahkan badannya, memeluk tubuh Mei, dan menyibak rambut yang menutupi wajah istrinya, ia tahu Mei belum tidur.
Maafkan kakak, kakak sibuk dua minggu ini, banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan sayang, kakak juga capek, pingin cepat pulang nemuin kamu, tapi karena larut malam, kamunya sering sudah tidur," Edwin merasakan bahu Meisya yang naik turun perlahan.
"Mei cuman ngerasa kakak mulai jauh, lalu buat apa nikah kalo nggak ada komunikasi," suara Mei terdengar serak dan sengau.
"Makanya lebih baik Mei balik ke Sydney, di sana Mei dah biasa sendiri," ujarnya masih menyisakan isak.
Edwin semakin mengeratkan pelukannya. Ia tidak tahu harus berkata apalagi, memang dia yang salah, harusnya Edwin bisa mendelegasikan pada wakil direkturnya atau para manajer yang lain. Tapi proyek kerjasama kali ini membutuhkan pengawasan darinya langsung karena bekerja sama dengan perusahaan dari luar negeri.
"Maafkan kakak, maafkan kakak Mei,jangan balik besok ke Sydney, besok kakak sudah terlanjur ada jadwal meeting yang sangat penting, kakak nggak bisa ngantar kamu," Edwin mengangkat dagu Mei melihat wajahnya yang masih penuh air mata.
"Mei bisa berangkat sendiri," Mei berbalik memunggungi Edwin, menepis tangan Edwin yang berusaha memeluknya. Lalu meringkuk memeluk guling sambil menangis.
"Dulu waktu kita belum nikah kakak selalu ada waktu buat Mei, bahkan saat di Sydney, kakak bisa bolak balik nemui Mei, tapi justru setelah kita nikah, kakak malah jadi jauh, kayak asing dan aneh bagi Mei," suara Meisya masih menyimpan tangis.
Sekali lagi Edwin peluk Mei dengan erat. Matanya berkaca-kaca, Edwin ingat pada janjianya yang akan membahagiakan Mei, tapi karena kesibukannya malah jadi begini.
***
Pagi, Edwin terburu-buru ia ada beberapa meeting hari ini dengan beberapa divisi yang berbeda, ia hanya sempat mencium kening istrinya tanpa sempat sarapan.
Mei hanya menatap sedih badan jangkung Edwin yang menghilang. Bu Minda menyentuh tangan Mei dan Mei tersenyum pada bu Minda.
***
"Mei pamit ibu, mau balik ke Sydney," ujar Mei mengagetkan bu Minda yang ada di ruang makan.
"Loh bukannya masih seminggu lagi sayang?" bu Minda terlihat bingung.
__ADS_1
"Iyah tapi ada beberapa mata kuliah yang harus saya tanya ke James ibu, karena berhubungan dengan tesis saya nanti," ujar Mei mencoba mencari alasan.
"Edwin tahu kamu berangkat hari ini?" tanya bu Minda.
"Sudah ibu, saya sudah bilang semalam," ujar Mei sekuat tenaga menahan tangis.
"Baiklah, naik mobil ibu saja, mumpung sopir ibu sudah siap di depan sayang, baik-baik ya di sana, nanti kasi kabar ibu kalo sudah sampai ya," bu Minda memeluk dan mencium Mei. Lalu Mei menghampiri bik Sum yang sejak tadi memandang wajahnya dengan sedih, memeluk serta mencium pipi bik Sum.
Mei melangkahkan kakinya dengan pelan, mendorong travel bag mungilnya menuju mobil.
***
Sepanjang perjalanan menuju bandara air matanya menetes deras, ia hanya sedih karena Edwin benar-benar jauh. Mei baru menyadari bahwa pernikahan tidak semudah yang ia pikirkan.
***
"Nyah, perasaan saya kok ndak enak ya, anak itu kok sedih baget wajahnya, awas ndak pamit ke den Ed, den Ed juga, lah wong masi manten anyar kok siubuk terus, biar dah ditinggal gal," kata bik Sum menatap sedih ke arah bu Minda.
"Saya juga kepikiran lihat wajahnya, biar minggu depan saya susul saja bik," ujar bu Minda sambil mencoba menelpon Edwin, namun terdengar nada tunggu berulang.
***
Hampir jam dua belas malam mobil Edwin memasuki parkir rumahnya. Ia berjalan gontai dan melihat mamanya di ruang makan, tumben mamanya belum tidur. Ia mencium mamanya sekilas, lalu melangkah naik ke lantai dua. Bu Minda masih menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Mamaaa Mei mana?" pertanyaan Edwin yang sudah diduga oleh bu Minda.
"Kamu kan suaminya, harusnya mama yang tanya sama kamu kalo ada apa-apa pada Mei," bu Minda terlihat serius menatap wajah Edwin yang setengah berlari turun ke ruang makan.
Ia terlihat bingung dan sedih.
"Aku menelponmu lebih dari lima kali," ujar bu Minda menahan marah.
"Aku mamamu, menelpon bolak balik berarti itu penting, mamamu kau abaikan, apalagi istrimu."
"Jadi, Mei ke Sydney ma, sendirian dia?" tanya Edwin dengan mata memerah.
"Oh, jadi kamu tahu, berarti kamu memang nggak niat ngantar Mei," bu Minda bangkit dari duduknya, masuk ke kamarnya, sambil membanting pintu kamarnya.
Edwin mencoba menelpon Mei, namun lebih lima kali tidak ada jawaban, terhubung sebenarnya , namun tak diangkat.
__ADS_1
***
Sementara Mei di Sydney, hanya menatap ponselnya yang terlihat nama Edwin sedang melakukan paggilan berulang... ia biarkan... ia pejamkan matanya meski ia yakin tak akan dapat tidur malam ini...