
*SUK*
#32
Perlahan Kent menutup pintu ruangan James, dan tanpa sengaja ia menjatuhkan buku yang ia pegang, Kent mengambilnya dan melangkah menuju ruang kuliah.
James dan Mei kaget saat mendengar benda jatuh di balik pintu. James melepaskan pelukannya dan memandang Mei sesaat.
"Aku masuk dulu ya James bentar lagi waktunya Kent, ngeri aku kalo sampe terlambat," suara Mei terdengar seperti bisikan, entah mengapa Meisya merasa iba melihat mata sedih James.
James mengangguk dan masih memegang tangan Mei. Meisya menarik perlahan dan melangkah meninggal kan ruangan James. James menatap punggung Mei yang melangkah meninggal kan ruangannya dan menghilang di balik pintu. Mei segera masuk ke ruangan kuliahnya dan sepanjang pemberian materi Kent nampak lebih pendiam dari biasanya, suaranya yang biasanya selalu terdengar meledak- ledak, hari ini terdengar datar dan terlihat kurang bersemangat.
***
Saat James masih sibuk dengan tugasnya, ada yg mengetuk pintunya, James mengangkat wajahnya dari tumpukan tugas mahasiswanya dan mengalihkan pandangannya pada pintu. Muncul wajah Kent.
"Sibuk James?" tanya Kent.
"Seperti yang kau lihat," ujar James dan menyadarkan kepalanya pada sandaran kursi.
"Ada apa?" tanya James menatap Kent yg duduk di seberang mejanya.
"Tidak ada apa-apa, kebetulan aku lewat, mau bersamaku pulang James?" tanya Kent.
"Tidak, aku akan jalan kaki saja," jawab James sambil tersenyum.
"Maaf, tadi aku masuk tanpa mengetuk pintu dan ... melihatmu memeluk Meisya," ujar Kent pelan.
"Maaf lagi aku bertanya, Edwin itu kakakmu bagaimana sih, masih saudara atau bagaimana?" tanya Kent tampak bingung.
"Mengapa kau tiba-tiba bertanya dia?" tanya James.
"Yang kapan hari aku bertemu Mei dan dia memperkenalkan seseorang yg bernama Edwin, aku melihat dia sepertinya tidak ada kemiripan sama sekali denganmu," ujar Kent.
"Ah kau terlalu dangkal memahami maknakakak Kent, Edwin itu terpaksa aku sebut kakak, ada cerita panjang dibalik itu, yang rasanya lelah jika aku ceritakan," ujar James membenahi bawaannya dan terlihat bersiap pulang.
"Dan sepertinya kau sangat terluka tadi saat memeluk Meisya," ujar Kent lagi sambil menatap wajah James yang berusaha tertawa.
"Yah, aku tadi memeluk nya untuk terakhir kali, ia akan menikah dan benar-benar tak akan mampu dijangkau, ada lagi yang akan kau tanyakan dan kau nyatakan?" tanya James. Kent tertawa pelan.
__ADS_1
"Aku hanya tidak menyangka, kau sesakit itu ditinggal Meisya," ujar Kent.
"Tidak bisa digambarkan Kent, aku baru kali ini jatuh sampai ke tempat paling bawah," James menjawab sambil memejamkan matanya.
"Mungkin karena Mei tidak sempat kamu miliki, kamu jatuh cinta padanya dan ternyata dia sudah milik orang lain," ujar Kent.
"Mungkin begitu," James mengangguk.
"Aku baru menyukainya saja, sudah sesedih ini melihatmu memeluk Mei," ujar Kent dengan wajah polos dan terdengan tawa James.
"Kadang aku iri, kau bisa sedekat itu dengan Meisya," Kent juga ikut tertawa.
"Kau tau, aku bahkan telah menciumnya Kent, dan dia tidak merespon sama sekali, hatiku serasa diremas, dan Mei dengan polos mengata kan, bahwa ia tidak merasakan apapun," kembali James memejamkan matanya dan menghembuskan napas dengan berat.
Kent tampak kaget dan mulutnya terbuka lebar.
"Kau pasti menganggap ku *****, terserah kamu lah, saat itu aku benar- benar putus asa, aku berusaha agar dia mengalihkan pandangan nya padaku, tapi Edwin terlalu kuat ada dihati nya, dan sampai saat ini aku merasa bersalah pada Edwin, makanya saat Mei sakit dan Edwin menitipkan Mei padaku, aku benar-benar menjaga Mei, paling tidak, untuk menebus rasa bersalahku," James menjelaskan kebingungan Kent.
"Ayolah pulang Kent, malam baru saja turun, waktunya kita mengistirahatkan pikiran dan perasaan agar esok lebih segar lagi," James berdiri dan membawa tasnya.
Berdua mereka berjalan menyusuri koridor kampus saat melihat Mei duduk di salah satu gazebo ditaman kampus
"Ngapain di sini?" tanya James. Mei hanya menggeleng pelan tanpa bersuara. Saat menuju tempat parkir mereka berpisah, Mei dengan James dan Kent menuju mobilnya.
"Ngapain sendirian di sana tadi Mei?" tanya James lagi.
"Makasih bingkisannya, tadi aku sempat membuka dan kaget waktu lihat isinya, pasti mahal kalung itu ya James?" tanya Mei pelan.
"Kamu menungguku hanya untuk mengata kan itu?" tanya James. Mei mengangguk.
"Jika kamu tidak akan memakainya, simpan lah, aku ingin kau mengingatku, meski aku tidak ada di salah satu sisi hatimu, paling tidak aku tersimpan dalam memorimu," ujar James pelan. Mata Meisya tiba-tiba menghangat.
"Kau membuatku sedih James, kau adalah sahabat terbaik yang selalu ada saat aku mengalami kesulitan, tentu aku akan selalu mengingatmu," suara Meisya terdengar lirih. James berhenti dan memegang tangan Mei.
"Aku membuatmu menangis?" tanya James. Mei menarik tangannya dan melanjutkan berjalan.
"Aku hanya terbawa suasana James, kau sudah seperti kakak bagiku, saat kau merasa sedih, dengan sendirinya hatikupun ikut sedih, aku tidak ingin membuat mu berlarut dalam kesedihan, aku yakin kamu akan menemukan orang yang tepat, kamu baik pada siapapun dan siapapun yang akan menjadi pasanganmu aku yakin akan sangat bahagia ada di sisimu," Mei menoleh pada James dan berusaha tersenyum.
"Datang ya James pada pernikahanku nanti, aku sangat ingin kamu dan om Ben hadir sebagai keluarga bagi kami," pinta Meisya dan James hanya mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam.
"Sudah sampai aku James, udah dulu ya, aku mau masuk," ujar Mei setelah sampai di apartemennya.
__ADS_1
"Tidak menawariku singgah?" tanya James. Mei menggeleng pelan.
"Maaf, aku mau istirahat nggak papa ya James?" ujar Mei merasa bersalah.
"Nggak papa, aku hanya bergurau kok?" James mengacak rambut Mei dan tersenyum melihat Mei merasa bersalah. Mereka saling melambaikan tangan dan James meneruskan perjalanannya.
***
Keesokan harinya saat James sedang sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba ada yang nyelonong masuk ke dalam ruamg kerjanya.
Keduanya sama-sama tertegun, seorang wanita dengan tampilan aneh, bercelana jins belel dan kemeja kegedean yang lengannya digulung sampai ke siku.
"Maaf aku salah masuk," seenaknya dia nyelonong lagi keluar. James menggelengkan kepalanya menahan marah. Tak lama kemudian dia mendengar ketukan, James mengalihkan pandangannya ke pintu, muncul wajah menjengkelkan Kent.
"Pengganggu kedua, ada apa, aku sedang sibuk menulis untuk jurnal bulanan lembaga kita, keluar atau secepatnya katakan," ujar James terlihat gusar. Terdengar Kent tertawa.
"Maaf jika aku mengganggumu, tadi kakakku salah masuk ke sini ya James, dia bilang melihat malaikat tanpa sayap," Kent masih saja tertawa dan terdengar James yang mendengus pelan.
"Aku pikir ada wanita jadi-jadian masuk, dia mandi apa nggak, celana sama bajunya terlihat sebulan belum dicuci," ujar James masih terlihat serius menatap laptopnya. Tawa Kent semakin menjadi.
"Biasalah seniman James, dia perupa, pematung Kent, kamu pasti tau galerinya, terkenal kok di Sydney ini, kecintaannya pada seni membuat dia lupa pada sekelilingnya, makanya aku kaget dengar dia bilang terpana melihat wajah malaikatmu hahahahah," Kent tertawa sangat keras.
"Keluarlah Kent, aku ingin konsentrasi dan tidak tertarik mendengar ocehanmu tentang kakakmu yang aneh, wanita jadi-jadian lebih tepatnya sih, maaf jangan tersinggung," ujar James lagi tanpa melihat Kent yang kembali tertawa.
"Tidak, aku tidak marah, dia memang wanita yang aneh, ok lah aku ke ruanganku dulu James," suara tawa Kent masih terdengar di balik pintu.
Sama-sama tidak warasnya dengan kakaknya, dan James kembali konsentrasi dengan pekerjaannya.
***
James sedang melangkah dengan cepat menuju kantor jurusan saat tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Maaf ganggu, boleh tanya-tanya nggak?" ujarnya dengan santai. James menoleh dan mendapati wanita jadi-jadian itu lagi.
"Saya tidak mengenal anda," James terus melangkahkan kakinya dengan cepat.
"Haduh sombong amat, boleh nggak aku minta kamu jadi modelku, buat bikin patung wajah?" tanyanya lagi sambil menjejeri langkah lebar James. James mengacuhkan nya dan melanjutkan langkahnya.
"Heh kamu dengar nggak?" tiba-tiba wanita itu menarik tangan James dan James menepis tangannya dengan marah.
"Tahu sopan santun nggak sih,anda ini orang apa bukan, tidak tahu aturan wajar masalah etika, pergi dari sini dan jangan pernah ganggu saya," suara James terdengar menakutkan. Dan wanita itu mundur satu langkah.
__ADS_1
"Buset,aku pikir malaikat tak bersayap,eh ternyata dia badak bercula satu," wanita itu mencebikkan bibirnya.