
*SUK*
#25
Aku mengantarkan ponselmu, James yang menemukan di kamar," papa James terlihat menyerahkan ponsel bu Minda. Tanpa berkata apapun bu Minda menerima ponsel miliknya dan hendak menutup pintu yang di tahan oleh papa James.
"Aku baru sampai setelah menempuh penerbangan empat jam lebih, tidak inginkah kau menawariku untuk duduk?" tanya papa James.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, pergilah," usir bu Minda dengan halus.
Papa James mendorong pintu perlahan dan tanpa disuruh ia berjalan menuju sofa dan duduk disana. Bu Minda hanya memperhatikan saja, ia berpikir bahwa mereka bukan anak muda lagi yang harus saling dorong, dan saling usir.
Bu Minda duduk di sisi yg agak jauh, menunduk menatap ponselnya dan perlahan menatap papa James dengan pandangan datar.
"Pulanglah, aku pikir kita sudah selesai, sejak orangtuamu mengusirku dan kamu hanya menatap kepergianku tanpa berusaha mencegah, pergilah, cerita kita sudah selesai, aku berterima kasih padamu karena kisah pahit kita yang mempertemukan aku dengan lelaki bagai malaikat, mau menerimaku yang hamil dua bulan dan mencintai bayi orang lain melebihi anak kandungnya sendiri, mencintaiku tiada batas hingga sanggup membalut luka menganga yang seakan tidak akan pernah sembuh, namun dalam waktu singkat mampu membuatku melupakanmu hingga tak ada sisa dalam hati dan pikiranku untuk sekedar mengingat bayangmu," bu Minda berbicara sangat lancar dan datar, tanpa emosi. Papa James terlihat menghembuskan napasnya dengan berat.
"Maafkan aku," hanya itu ucapan yang ke luar dari papa James.
"Aku sudah memaafkanmu, puluhan tahun lalu, selesai sudah semuanya, tidak perlu kau ingat lagi, anggap cerita kita tak pernah ada, istrimu baru kemarin dimakamkan, pergilah, hargai dia yang pasti melihatmu dengan kecewa dari alam sana," kembali bu Minda mengusir papa James.
"Sejak awal dia tahu jika aku tak pernah mencintainya," ucap papa James.
"Aku tidak mau tahu itu, setidaknya hargai perasaan James, ia sangat mencintai mamanya," ujar buMinda melihat ke sisi lain.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Edwin serta Meisya kaget.
"Om Beeen, ah pasti mengantar ponsel mama kan, kemarin aku menelpon James," ujar Edwin dan papa James tersenyum sambil mengangguk.
"Ayolah sarapan om, ini kami beli agak banyak, kami sudah sarapan tadi," Meisya menata berbagai macam makanan dalam piring.
Menyilakan papa James makan bersama bu Minda yang ditemani Meisya dan Edwin.
"Berapa lama om di Sydney?" tanya Edwin sambil menikmati moccacino buatan Mei.
"Bentar lagi juga pulang, ada yang harus om urus sebentar, ada perusahaan om di Sydney, James sudah om sarankan untuk berhenti menjadi dosen, om butuh bantuannya untuk mengelola beberapa perusahaan om, tapi entahlah, dia merasa panggilan jiwanya tidak di bidang bisnis," papa James terlihat menyudahi sarapannya dan menghabiskan air putih yang ada didepannya.
"Jangan lupa untuk mengundang om dan James saat kalian menikah, kami pasti datang, om pulang dulu ya, makasih suguhannya aku pulang dulu Minda," papa James pamit pada Ed, Mei dan bu Minda
Edwin dan Meisya mengantar sampai pintu, sementara bu Minda tetap duduk di ruang makan, menghabiskan sarapannya yang tinggal sedikit. Edwin duduk di depan mamanya dan menatap mamanya yang menata piring kotor yang segera diambil oleh Meisya dan diletakkan di tempat cuci piring.
"Siapapun yang akan diundang oleh kami nanti pada saat akan menikah, kami akan minta persetujuan mama," ujar Edwin tiba-tiba. Bu Minda menatap Edwin, ia mengerti ke mana arah pembicaraan Edwin.
"Meisya duduklah sayang, ada yang ingin ibu sampaikan pada kalian," Bu Minda melihat Meisya yang melangkah pelan dan duduk di sampingnya.
"Benjamin Chua adalah masa lalu mama, saat ini dia sudah tidak ada hubungan dengan mama, silakan jika kalian akan mengundang saat kalian menikah, tidak masalah bagi mama, bagi mama yang penting adalah kebahagiaan kalian, Edwina juga beserta anak dan suaminya, duluuuu mungkin dia segalanya bagi mama, semua mama serahkan karena mama pikir dia orang yang patut diperjuangkan, dia orang baik, sabar juga, hingga keluarga mama bisa menerimanya dengan tangan terbuka, tapi bagi keluarga Ben, mama adalah duri yang akan menimbulkan masalah, sampai suatu saat kekecewaan, rasa sakit, hinaan yg amat sangat mama terima wantu Ben mengajak mama memberitahu bahwa kami akan segera punya anak, orang tua Ben menuduh mama menjebak anaknya, mengincar harta keluarga mereka, mereka lupa jika harta keluarga mama juga tidak kalah dari mereka, yang membuat mama semakin terpuruk saat mama melangkah meninggalkan rumah keluarga besar Ben, ia hanya menatap mama dengan pandangan sedih, tanpa sedikitpun ada usaha untuk mengejar mama, makanya mama tidak menyesal meninggalkannya, sampai akhirnya mama menangis pada sahabat mama, Seno yg dengan tulus mau menikahi mama, menyayangi Edwina lebih dari Edwin, menyayangi mama lebih dari dirinya sendiri yang akhirnya mampu membuat mama benar-benar jatuh cinta padanya, jadi kehadiran Ben lagi saat ini bagi mama tidak ada artinya, mama tidak menaruh dendam, sakit hati dan semacamnya, sudah selesai, tak bersisa, hal wajar jika di awal mama agak kaget melihatnya lagi, tidak usah kamu ceritakan hal ini pada Edwina ya Edwin, Meisya," ujar bu Minda mengakhiri ceritanya.
Ya ma, Ed benar-benar nggak nyangka, kisah hidup mama sesedih ini, maafkan Edwin jika menambah beban mama," ujar Edwin menatap mamanya dengan sedih. Meisya hanya diam tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
"Oh ya mana gambar- gambar persiapan pernikahan kalian yang mama berikan tadi malam?" tanya Bu Minda pada Mei. Meisya menyerahkan pada bu Minda setumpuk gambar dan terlihat mereka berdiskusi dengan serius.
***
Kelelahan terasa juga akhirnya bagi Meisya, Edwin dan bu Minda karena cukup ribet menentukan hal yang cocok bagi pernikahan mereka. Kadang Edwinnya ok eh Meinya yang ogah. Kadang Mei merasa ok, eh Edwinnya yang merasa tidak cocok, warna terlalu cewek lah.
"Kalian ini gimana sih, katanya tadi malam sudah ok kok masih berantem aja sekarang?" tanya Bu Minda heran.
"Iya ya, perasaan semalam pilihan kita ok, kok sekarang jadi gini?" Edwin menggaruk kepalanya yg tidak gatal.
"Iya dah ibu, Mei ikut kak Ed aja dah biar gakribet," akhirnya Mei mengalah.
"Jalan-jalan yok bertiga, kemanaaa gitu," ajak Edwin.
"Ke Darling Harbour aja yuk kak," ajak Mei semangat.
"Ngapain juga ke situ, cuman liat-liat ombak, orang jalan-jalan, duduk-duduk di cafe," sahut Edwin terlihat tak suka.
"Eh nggak tau nih kakak ya kita duduk-duduk di cafe yang ada di situ, pemandangannya mendamaikan hati deh kak, bener," ujar Mei cepat.
"Hayooo sama siapa ke sana?" tanya Edwin penasaran.
"Iiih pasti nuduh aku bareng James, aku bareng Gavin tau," Mei terlihat memberengut.
"Aaah sudah-sudah, ayo cepat ganti baju, kita jalan aja, ntar kemana kaki melangkah," ujar bu Minda melerai mereka.
Akhirnya mereka jalan-jalan di sekitar apartemen Meisya, ada pusat pertokoan yang tak jauh di sekitar apart Meisya. Edwin mengantar kedua wanita yang dicintainya berbelanja khas wanita, kosmetik, baju, sepatu dan semacamnya. Edwin merasakan kesenangan yang baru, saat memilihkan baju untuk Meisya yang berbadan mungil.
"Ih gila kamu ya, ogah aku pakek gituan," Mei menyembunyikan wajahnya di bahu Edwin. Dan Edwin tertawa terbahak-bahak. Bu Minda yang melihat keduanya hanya geleng-geleng kepala.
"Nggak papa kalo mau Mei, nanti dipakai malam pertama," bu Minda terlihat senyum-senyum dan Mei semakin salah tingkah.
"Nggak ibu, Mei nggak mau pakek yang gituan," ucap Mei menggeleng pelan. Dan Edwin mendekap kepala Meisya ke dadanya sambil tertawa.
"Kakak nggak maksa sayang, ya nggak usah kalo nggak mau, ntar juga nggak pake baju pas malam pertama, nggak usah ribet," ujar Edwin dengan santai namun mendapat pukulan pelan di bahunya dari bu Minda.
"Ih kamu loh Ed, kalo ngomong suka nggak ada remnya," bu Minda terlihat memberengutkan wajahnya. Edwin hanya tertawa dan mereka melangkah melanjutkan ke gerai yang lain.
***
Bertiga mereka memasuki apartemen Mei dengan bawaan bejibun.
"Bener-bener ya kalo wanita belanja suka kalap, mama tetep ajaaa belanjaan segini banyak" ujar Edwin meletakkan semuanya di ruang tamu dan dia melangkah masuk ke kamarnya. Terdengar tawa bu Minda dan Mei yang berderai.
"Ganti baju aja dulu Mei, ntar kita pilah-pilah mana yang punya ibu, mana yang kamu," bu Minda dan Mei akhirnya masuk kamar dan berganti dengan baju rumah.
Mei terlihat segera menuju dapur menyiapkan makan malam. Ia mengeluar kan daging has dalam untuk dijadikan steak, juga wortel, buncis dan kentang sebagai pelengkap. Mengerjakan semuanya dengan sigap, sendiri tanpa bantuan siapapun.
__ADS_1
"Loh kok masak Mei, katanya mau milah ini barang-barang kita," kata bu Minda setelah keluar dari kamar.
"Nggak papa ibu yang milah duluan, Mei mau masak dulu ibu, bentar kok ini," Mei masih asik di dapur.
***
Edwin dan bu Minda makan malam dengan lahap.
"Sausnya enak banget Mei, ibu pengen belajar bikin," ujar bu Minda. Yang dijawab oleh tawa Edwin.
"Kok kamu ketawa Ed?" tanya bu Minda pelan, terlihat tak senang.
"Alah mamaaa paling cuman numpuk resep aja bejibun tapi nggak pernah di praktekin," ujar Ed yang disambut oleh tawa Mei dan bu Minda.
Setelah makan Mei segera melihat-lihat apa yang dibelikan oleh bu Minda karena seingatnya ia hanya membeli 1 dress dan 1 lipstik, bu Minda membelikannya bermacam-macam barang khas wanita.
"Ibuuu makasih banyak, ini kok banyak banget?" tanya Mei sungkan.
"Nggak papa, kan belikan mantu," jawab bu Minda yang disambut dengan senyuman Mei dengan wajah memerah.
"Aku ngantuk Mei, besok pagi ibu sudah balik ke Indonesia," bu Minda berjalan ke arah kamar Mei dan mulai merebahkan badannya.
"Kak, aku tidur ya, capek bener," Mei hendak berdiri saat Edwin tiba- tiba menariknya lagi ke sofa dan mencium bibir Mei dengan sekali sentakan. Mei yang tidak siap sempat gelagapan namun akhirnya Mei memeluk Edwin, lalu mendorong nya pelan saat tangan Edwin sudah menjelajah ke mana-mana.
"Kak,ah sudah dibilangin kok, nunggu empatbulan lagi, ih ini," Mei menepuk pipi Edwin perlahan, Edwin memandangi Meisya dari jarak dekat, menenangkan gemuruh dadanya dan sekali lagi sekilas ia mencium bibir Meisya.
"Besok kakak balik dulu, jaga diri baik-baik yah, love you Mei," suara Edwin terdengar parau, ia memeluk Meisya sekali lagi, mendekap kepala Meisya ke dada nya dan menikmatinya sesaat sambil memejamkan mata.
Mei melepas pelukan Edwin dan mencium pipi Ed sekilas.
"Selamat tidur, love you more kak," Mei tersenyum dan melangkah pelan ke kamarnya.
***
Pagi-pagi bu Minda dan Edwin sudah bersiap berangkat ke bandara. Bu Minda dan Ed bergantian memeluk Meisya, saat Edwin tak juga melepas pelukannya, bahunya di tepuk oleh mamanya.
"Ayooo sayang, ntar ditinggal pesawat," ajak bu Minda. Edwin melepas pelukannya, mencium kening Mei pelan dan melangkah meninggalkan apartemen Meisya dan menoleh sekali lagi.
"Love you Mei," teriak Edwin.
"Love you, too, kakak," Meisya melambaikan tangannya pada Edwin, bu Minda hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
***
Meisya bergegas bersiap untuk ke kampus, mengambil tas dan mencari sepatunya, saat bel pintu berbunyi.
"Ngapain si Gavin pagi-pagi ngerepotin aja," Mei melangkah dengan kesal, membuka pintu.
__ADS_1
"James?" Mei semakin kaget saat James tiba-tiba memeluknya di mulut pintu.
_bersambung_