
*SUK*
#33
James memasuki ruang meeting dengan wajah gusar, ia berjalan dengan wajah tanpa senyum dan duduk di dekat Kent. Tak lama ketua jurusan datang yang artinya rapat akan segera di mulai.
"Wajahmu seperti habis melihat hantu," Kent berbisik sambil menahan tawa, James terlihat gusar.
"Betul, dan hantunya adalah kakakmu," suara James terdengar geram. Kent terbelalak.
"Hah ... Al menemuimu lagi?" suara Kent yang berbisik hampir tak terdengar. James tak melihat Kent, wajahnya menahan marah.
"Aliiice, Alice, nekat dia," Kent benar-benar menahan tawa.
"Sesuai benar dengan namanya, dikira ini wonderland paling, hidup sesuai aturan dia," James membuka blocknotenya tak lama setelah itu rapat dimulai.
***
Seminggu kemudian, dari terakhir Mei dan James ke dokter orthopedy, kondisi Mei sudah benar-benar membaik, armsling sudah tidak dipakai hanya Mei tetap harus hati-hati, cedera siku tidak serta merta sembuh, butuh perawatan ekstra agar tidak semakin parah.
***
Siang ini Mei menyusuri kampusnya seorang diri setelah mengikuti perkuliahan dari Kent, ia bergegas pulang karena akan mengerjakan tugas dari Kent.
"Mei, Meisyaaa," Mei menoleh saat suara Kent sangat keras memanggilnya. Meisya menunggu Kent yang berlari menghampirinya.
"Ya Kent ada apa?" tanyanya heran.
"Ini, jika kamu butuh buku untuk tugasku," Kent memberikan beberapa buku pada Mei. Mei tersenyum senang.
"Makasih banget, akan segera aku kembalikan setelah selesai mengerjakan tugasmu," ujar Mei memasukkan buku Kent ke dalam tasnya.
"Keeeent," terdengar teriakan sangat nyaring, Kent dan Meisya menoleh, Kent tertawa lebar dan dan Mei mengerutkan keningnya. Terlihat seorang wanita dengan overall yg pudar warnanya, bersepatu boot, dan tali overall yg lepas di salah satunya, kaos lengan panjangnya pun terlihat agak kotor. Setelah mendekat dia memberikan kotak ukuran sedang pada Kent.
"Nih berikan pada badak bercula satu," katanya pada Kent. Dan Kent terlihat mengerutkan keningnya.
"Oh ya Meisya,kenalkan, ini kakakku, Alice dan ini Al, mahasiswiku, Meisya," Kent mengenalkan keduanya dan mereka terlihat bersalaman, Mei agak meringis kesakitan karena genggaman Alice agak keras ditangannya.
"Aku duluan ya Kent, makasih ya, saya pulang dulu Alice," ucap Meisya lembut dan berlalu dari hadapan mereka.
"Ini apa?" tanya Kent pada Alice.
"Patung wajah si badak, kasikan ke dia, dari aku gitu," ujar Alice dengan santai. Kent terbelalak.
"Kamu gila, bisa ngamuk dia Al," ujar Kent.
__ADS_1
"Ayolah berikan Kent, kan kamu juga yang ngasi foto dia ke aku via ponsel kan, ayolah bantu aku," ujar Alice dan dia menoleh menatap tajam ke satu sisi.
"Mereka memang sangat akrab Al, James sangat tergila-gila pada wanita itu, sayang dia akan segera menikah, dan aku juga salah satu laki-laki yang sakit mendengar kabar dia akan menikah," Kent dan Alice menatap keakraban James dan Meisya dari jauh, terlihat James dan Mei yang tertawa bersama dan James yg menarik tangan Mei agar mempercepat langkah lalu masuk ke cafetaria di sudut kampus.
"Oh jadi si badak suka sama wanita cantik tadi, dia benar-benar wanita, Kent," ujar Alice pelan dan terlihat melamun.
"Ya iyalah, dia benar- benar wanita, sedang kamu wanita jadi-jadian kata si James," Kent tertawa sangat keras dan Alice meninju lengan Kent. Lalu dia menepuk pundak Kent dan berlalu dari hadapan Kent.
"Berikan pada si Badak ya Kent, aku nggak mau tau, pokoknya berikan saja," Alice berteriak sambil berlalu menjauh dari Kent.
***
James masuk ke ruangannya lagi setelah makan siang dengan Mei dan mengantarkan Mei sampai pintu gerbang kampus.
Ia mengernyitkan keningnya saat melihat kotak ukuran sedang di meja kerjanya. Ia buka perlahan dan melihat patung dirinya, seketika wajah James berubah, ia bungkus kembali dan membawa kotak itu ke luar dari ruangannya dan melemparnya ke tempat sampah disisi ruangannya. James meredakan gemuruh dadanya, pasti Kent yg meletakkan di mejanya. Ia berusaha menghilang kan kemarahannya, kembali berkutat dengan pekerjaannya.
***
Mei masuk ke dalam apartemennya dan segera berganti baju dan mulai mengerjakan tugas dari Kent. Mei hentikan pekerjaannya saat ponselnya berbunyi. Ah bu Minda, ada apa ya? Pikir Mei.
Halo ibuuuu
Mei, kamu pastinya kapang pulang ke Indonesia
Dua minggu sebelum pernikahan ibu
Iya ibu terima kasih
Gimana sikunya sudah enakan?
Iya ibu, sudah nggak pake armsling lagi
Ok, jaga kesehatan ya sayang, ingat pesan ibu, gemukin dikit yah biar bagus ntar pake baju pengantinnya, kalo kurus banget jadi nggak bagus, udah dulu ya sayang
Iya ibu makasih
Mei menutup ponselnya dan kembali menatap laptopnya serta membuka-buka buku dari Kent.
Satu jam kemudian Mei mulai merasa lelah dan menutup laptopnya. Dia kembali ke kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur, baru akan menutup mata ponsel nya berbunyi kembali. Ternyata telpon dari Edwin, seketika Mei duduk di kasurnya
Halo kakak ganteng
Lagi ngapain kok suaranya terdengar capek.
Lagi di kasur, capek habis ngerjain tugas
__ADS_1
Sudah beres semua sayang persiapan kita nikah
He'eh tadi ibu juga nelpon aku ngasi tau itu
Oh ya, eemmmm kakak kangen Mei, yang kapan hari ke kamu gangguan nya banyak banget, minggu depan aku ke kamu ya
Iyah iyah kak, Mei tunggu ya
Iya pasti, udah dulu ya sayang, love you Mei
Love you kakak
Mei menutup ponselnya dan merebahkan badannya lagi, lalu memejamkan matanya.
***
Sudah sebulan ini James selalu menerima kiriman patung wajah, yang diletakkan di mejanya. James memutuskan untuk tidak bertanya pada Kent, ia hanya rutin membuang patung itu di tempat sampah. Ia biarkan Kent penasaran karena ia tidak menegur Kent tentang patung itu.
Sebulan kemudian berubah kiriman, mulai dari mug lucu yang ada lukisan wajah James sampai pernak pernik bermodel abstrak untuk hiasan di meja. Kembali James biarkan dan seperti biasa berakhir di tempat sampah.
***
"Boleh aku masuk James?" tanya Kent muncul di ruangan James, James mengangkat wajahnya dari tumpukan tugas.
"Tumben kamu ijin, biasanya juga sering masuk tanpa ijin," suara James dibuat sewajar mungkin. Kent duduk di kursi, di depan meja James.
"Maafkan aku, aku tahu, kamu sudah mengetahui jika aku yg meletakkan semua benda-benda dari Alice dan aku juga tahu jika semua benda itu berakhir di tempat sampah," suara Kent terdengar serius. Tumben, pikir James yang wajahnya tetap serius pada tugasnya.
"Ada yang ingin aku ceritakan padamu, jangan potong dan jangan tinggalkan aku saat aku berbicara, biarkan aku bercerita sampai selesai," ujar Kent lagi. James masih tak menanggapi.
"Jika kamu melihat Alice yang tomboi, cuek dan terlihat kuat, itu hanya kamuflase saja, ia pribadi yg rapuh James, tiga tahun lalu ia mengalami peristiwa yang membuat kami hampir kehilangan nyawanya, sejak kecil ia dikenal sangat tomboi memang, suatu saat ia mulai berhubungan dengan seorang laki-laki sepertinya mereka saling mencintai, hampir dua tahun mereka berhubungan sampai akhirnya Al diketahui hamil, pernikahan sudah direncanakan dengan matang meski mama papa kecewa pada Al, dan saat kami semua menunggu sekian lama, pengantin laki-laki tak kunjung datang, yang jelas kami malu pada para tamu, Al stres James yang berakibat dia keguguran, saat sadar jika dia keguguran dia semakin depresi, sejak awal Al memang ingin mempertahankan bayinya, kami semua menjaga Al agar jangan sampai melakukan hal yang berakibat fatal, tapi seketat apapun kami menjaga Al, dia bisa mengecoh kami, ia hampir saja kehilangan nyawanya, saat ia kami temukan di kamar mandi, tergeletak dengan pergelangan tangan terluka, kami semua merawatnya dengan kasih sayang, membawanya rutin pada psikiater untuk menyembuhkan mimpi buruknya, kami bersyukur ia mulai hidup normal dan serius dalam bidang yang sempat terputus karena peristiwa itu, makanya aku kaget benar saat ia seperti menyukaimu, mulai berani membuka perasaannya lagi pada orang lain dan terbuka padaku tentang apa yang dia rasakan," Kent mengahiri ceritanya dengan menghembus kan napas berat.
"Makanya aku kaget saat dia terlihat menyukaimu, ketika dia berani menyukai lawan jenis berarti dia sudah benar-benar menyembuhkan hatinya karena bagiku, saat kita mencintai seseorang berarti harus siap dengan rasa sakit, tapi aku jadi kawatir James, saat aku melihat penolakanmu sejak awal," Kent memandang James yang masih asik dengan pekerjaannya. James mengangkat wajahnya dari tumpukan pekerjaannya.
"Kamu memaksaku untuk menyukainya, disaat aku juga belum menyembuhkan lukaku karena Mei ?" tanya James dengan wajah serius tanpa senyum.
James menatap Kent lebih dalam lagi.
"Sampaikan padanya, akupun mengalami perasaan terluka karena Meisya, jadi jangan paksa aku untuk bersikap manis padanya, mengerti kan maksudku?" tanya James lagi.
"Aku mengerti James, aku tidak memaksamu untuk menyukai Alice, aku hanya bercerita isi hatiku padamu, kami sangat dekat satu sama lain sejak kecil, mungkin karena dia tomboi kami sering cocok dalam permainan laki-laki, jadi dia tidak hanya sebagai kakak bagiku, tapi juga seperti teman bahkan sahabat," baru kali ini James melihat Kent benar-benar serius.
Keduanya lama terdiam, menikmati lamunan masing-masing dan tersentak saat pintu di ketuk halus dan pintu terbuka lebar.
"Meisyaaa.," ujar James. Dan Kent menoleh lalu ia tersentak karena kaget.
__ADS_1
"Aa...al..?"...