
*SUK*
#23
Edwin menatap James yang masih saja mematung setelah pertanyaan yang belum ia jawab.
"Aku juga tidak tau apa maksud papa kamu menanyakan anak? Anak yang mana? Aku dua bersaudara, kak Edwina dan aku, kami berdua memang tidak mirip, aku lebih mirip mama, sedang kak Edwina kulitnya putih bersih dengan mata agak sipit dan rambut hitam legam, lurus, waktu kecil memang kak Edwina sering bertanya mengapa ia tidak mirip papa atau mama, tapi papa selalu bisa memberi jawaban bahwa kak Edwina kulitnya putih bersih mirip papa, dan wajah mirip nenek dari papa, begitu kata papa waktu kami kecil, papa sangat menyayangi kak Edwina, makanya aku bingung dengan pertanyaan papamu, apa mereka berdua pernah memiliki anak, tapi setahuku mama hanya menikah sekali dan saat papa meninggal, mama tidak pernah menikah lagi," panjang lebar Edwin menjelaskan pada James.
"Papaku juga menikah hanya dengan mama, setahuku papa tidak pernah punya hubungan dengan wanita manapun, sampai tadi kita dengar percakapan mereka," James menunduk menekuni lantai, menopangkan lengannya pada lutut.
"Mungkin akan lebihbaik kita tidak ikut campur James, biarlah itu menjadi urusan mereka," uajr Edwin pelan.
"Aku hanya ingin memastikan, siapa yang ditanyakan papaku, kakakmu, atau kamu atau malah dua-duanya, rasanya tidak lucu jika dua saudara memperebutkan satu wanita," ucap James pelan, Edwin kaget dan mendekati James.
"Kamu masih mencintai Meisya?" tanya Edwin dengan nada yg sangat datar tanpa rasa marah. James diam saja.
"Tidak usah kau jawab, aku tahu kamu tidak bermaksud mengatakan itu padaku, aku yakin kamu spontan tadi," ucap Edwin dan meninju lengan James pelan.
"Percayalah, aku tidak akan mengganggu wanitamu, kau kakakku atau bukan, aku tidak akan mencurinya darimu ia tidak mencintaiku," James berdiri menatap Edwin dan mereka sama-sama berusaha tersenyum. Edwin melihat ada luka di mata James.
"Lebih baik kita mandi saja, bentar lagi sudah pagi, ini jam 4 dini hari dan kita masih saja ngobrol tak jelas disini," Edwin melangkah ke kamar mandi.
"Aku mandi duluan James," teriak Edwin di mulut pintu kamar mandi.
"Yaaaa," James menyahut dengan pelan.
Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu jika papa punya cerita yang menyakitkan, siapa anak itu, ada dimana, mengapa papa jadi pengecut dan tidak bertanggung jawab. Dan baru menanyakannya setelah puluhan tahun berlalu, alangkah tersiksanya tante Minda. Pasti papa punya alasan karena yang aku tahu papa adalah orang yang penuh tanggung jawab.
James masih saja menerawang dikasurnya terlentang dan menatap langit-langit kamar.
Edwin keluar dari kamar mandi dan James segera menggantikan nya. Saat James di kamar mandi Edwin iseng-iseng melihat sebuah buku berwarna navy di meja James, alangkah kagetnya, di dalam buku itu, banyak foto-foto Meisya berbagai pose. Edwin hanya menghembuskan napas dengan berat dan menutup buku itu secepatnya. Ah Mei betapa aku akan selalu mencintaimu, begitu besar cinta James padamu, tidak pernah membuatmu berpaling dariku, terdengar cengeng memang, tapi aku bersyukur kamu selalu mencintaiku Meisya. Pikiran Edwin jadi kemana-kemana.
Edwin tersentak saat James ke luar dari kamar mandi dan mengeringkan rambut basahnya.
"Hari ini keluarga papa datang semua Ed, keluarga mama hanya sebagian kecil saja yang datang, karena mama memang tidak punya saudara, hanya sepupu mama yang ada di Melbourne nanti akan ke sini," ujar James.
"Yah cepatlah ganti baju, kamu lama sekali di kamar mandi," jawab Edwin terlihat menelpon.
Udah bangun sayang, yaaa cepatlah ganti baju, mama juga suru turun, bentar lagi keluarga besar papa James datang, ok baai
Tanpa ditanyapun James tahu jika Edwin menelpon Meisya. James memakai kemeja celana lalu dasi dan terakhir jasnya ia pakai.
__ADS_1
"Ayo Ed, kita turun, sepertinya di bawah sudah rame," James melangkah ke luar diikuti Edwin.
***
Saudara-saudara dari papa James berkumpul di tempat mama James di semayamkan, mereka terlihat memberi ucapan bela sungkawa pada papa James. Tak lama James bergabung dan memperkenalkan Edwin sebagai temannya.
Saat semua saudara papa James berbicara dengan James, terlihat tante Minda dan Meisya yg baru turun dari lantai dua, mereka berjalan pelan, ada keengganan dari tante Minda yang sempat ditangkap oleh Meisya. Semua menoleh saat kakak papa James menyapa tante Minda.
"Mindaaa kkkaaaau .... kapan tiba di Perth, bagaimana bisa tahu jika istri Ben...," semua saudara papa James kaget, terlihat berusaha tersenyum dengan wajar
"Aku sedang menemui Meisya, calon menantuku di Sydney yg kebetulan mahasiswi James, saat mama James meninggal, James menelpon Mei karena ternyata almarhum mama James sangat menyukai Mei, sehingga aku dan anakku mengantar ke sini, aku juga baru tahu jika James anak Ben... tidak usah kawatir, aku dan Ben selesai sejak puluhan tahun lalu," bu Minda terlihat berekspresi datar, tanpa kemarahan dan kekesalan.
Beberapa saudara papa James mendekati tante Minda dan memeluknya bergantian. Kakak papa James memeluk tante Minda paling lama.
"Maafkan kami, kami tidak pernah berniat memisahkan kalian, tapi memang tidak mungkin kalian bersatu saat itu, kepercayaan yang berbeda membuat kalian terpisah, papa mama tidak diijinkan oleh kakak nenek kami menikahkan kalian," kakak papa James terlihat berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa Natalia, aku sudah memaafkan semuanya, aku sudah berdamai dengan hatiku," bu Minda terlihat tegar, tidak ada air mata.
"Apa kabar dia Minda?" tanya kakak papa James lagi.
"Dia baik-baik saja, sudah menikah dan punya anak-anak yang lucu, sekarang ada di Singapura, memegang perusahaan papanya almarhum, sudahlah mari kita duduk," tante Minda melangkah mendekati kursi yang telah tertata rapi, Mei duduk di dekat ibu Minda dan dia mulai bisa memahami jalan cerita kehidupan ibu Minda, meski belum benar-benar jelas.
James mendekati Edwin Kedua saling bertatapan
"Lalu setelah kau tahu kita tidak bersaudara, kau mau merebut Meisya dariku?" wajah Edwin terlihat serius.
"Tidak ada rencana seperti itu dalam pikiranku, aku sudah bilang kan, aku hanya ingin tahu wajah kakakmu," James terlihat mendekatkan wajahnya pada Edwin dan Edwin mundur agak menjauh.
***
Proses pemakaman mama James berjalan lancar, mata James terlihat berkaca-kaca. Beberapa tante James terlihat mengelus lengan James perlahan. Meisya menatap James dengan tatapan sedih. James sempat melihat Mei sejenak lalu kembali menunduk.
Saat kembali ke rumah orang tua James terlihat Edwin, tante Minda dan Mei pamit pada seluruh keluarga besar James. Namun saat berhadapan dengan papa James, Mei diajak ke ruang kerjanya sebentar. Mei mengikuti langkah papa James.
"Masuklah Meisya, ini om berikan titipan Melda padamu, perhiasan yang paling ia senangi ada dalam kotak itu, ambillah," papa James menunjuk kotak beludru berwarna merah. Mei membuka dan ia kaget melihat kemewahan perhiasan itu.
"Aduh om, kayaknya jangan deh, ini ini terlalu mewah untuk saya," Mei terlihat tegang.
"Ambillah, itu pesan dari Melda, om jadi sangat berdosa jika tidak menuruti keinginan terakhirnya, ia terlalu banyak berkorban untuk om, ia istri yang sabar, ia tahu jika om tidak pernah mencintainya, tapi dia tetap mengabdi pada om, ambillah Mei," papa James meletakkan kotak perhiasan itu di tangan Mei.
__ADS_1
"Terima kasih om, maaf jika saya bertanya, ada hubungan apa om dengan bu Minda, saya jadi kasian pada ibu, setelah pertemuan pertama dengan om, bu Minda menangis semalaman om, maaf jika saya lancang, tapi saya lihat jika mata ibu sangat terluka, saya kasihan pada ibu," Mei terlihat sedih. Papa James menunduk mengepalkan tangannya
"Dia adik kelas om, saat kami sama-sama berkuliah di Singapura, kami saling mencintai, tapi kami beda etnis, beda agama, orang tuaku sangat menentang, bahkan saat kami nekat memberitahu jika ia telah mengandung anakku, ia diusir oleh keluarga besar om, om terlalu pengecut, tidak berani mengejarnya, sejak itu om tidak mendengar kabarnya, om dijodohkan, tapi cinta om tetap pada Minda tak ada yang berubah sampai sekarang, om hanya kasian pada Melda yang setia menemani om, meski om tak pernah mencintainya, ia istri yang baik," suara papa James terdengar serak.
"Dan om ingin tahu kabar kakak Edwin, siapa namanya, ia dimana sekarang, bagaimana keadaannya?" tanya papa James.
"Kak Edwina ada di Singapura om, sudah menikah, sudah punya anak dan memimpin perusahaan milik papa Edwin," jawab Meisya.
"Om ingin sekali menemuinya, tapi tidak punya keberanian," wajah papa James terlihat sedih.
Keduanya tak sadar jika Edwin mendengarkan dari luar kamar kerja papa James yang agak terbuka sedikit. Edwin mengetuk pintu.
"Yaaa masuklah," terdengar suara papa James.
"Kami mohon pamit om, karena harus segera ke bandara," ujar Edwin sambil menganggukan kepalannya pada Meisya agar segera mendekat. Meisya berjalan ke arah Edwin dan pamit.
"Terima kasih om, saya mohon pamit," ujar Meisya sambil tersenyum.
"Om akan turun juga, mari," beriringan mereka berjalan ke arah ruang tamu.
***
Meisya menyalami James, terlihat mata James yang sedih. Meski tak berkata-kata Meisya tahu jika banyak yang ingin disampaikan James padanya tentang kesedihan. Saat tante Minda menyalami papa James, ia hanya menunduk tanpa melihat langsung.
"Terima kasih sudah hadir di sini Minda, aku ingin menjumpainya," ujar papa James pelan. Tante Minda tidak menanggapi dan segera berlalu.
James dan Edwin melihat kejadian itu, keduanya saling berpandangan tanpa ekspresi.
***
James mengantar sampai bandara dan melambaikan tangan saat Mei, Edwin dan bu Minda menuju pesawat.
Dalam pesawat terlihat bu Minda yang berusaha memejamkan mata, Edwin melihat kawatir pada mamanya. Ia usap perlahan jari mamanya. Edwin merasa sesak melihat wajah sedih mamanya. Mama yang sangat dicintainya ternyata menyimpan kisah masa lalu yang menyedihkan.
***
Edwin dan Mei yang hampir tertidur dikejutkan oleh tepukan Bu Minda pada bahu Edwin.
"Eeed, aduh ponsel mama nggak ada, di mana tadi ya Mei, perasaan sudah ibu masukkan semua kan ya Mei?" tanya tante Minda kawatir.
"Tadi pas membereskan baju di lantai dua awalnya sudah ibu masukkan semua, namun saya melihat ibu mengeluarkan ponsel plagi, menelpon apa terima telpon gitu," ujar Mei. Terlihat bu Minda menepuk dahinya.
__ADS_1
"Iya bener Mei, aduuuh gimana ya Mei, Ed?" bu Minda terlihat kawatir.
_bersambung_