Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
35


__ADS_3

*SUK*


#35


Om Beeeen...," Meisya berteriak dan memeluk papa James, om Ben membalas pelukan Meisya dan melepaskannya sambil menepuk pipi Mei. Edwin bersalam dan mereka bertiga duduk menunggu boarding.


"Om mau ke mana?" tanya Edwin.


"Ke Indonesia, kayaknya kita satu pesawat," ujar om Ben.


"Wah mampir ke rumah ya om?" pinta Edwin. Om Ben tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak Ed, om tahu diri, mengingat kesalahan om yang berat pada mamamu, rasanya tidak pantas jika om kesana,  meskipun hanya sebagai teman, nanti saja pas kalian nikah," ujar om Ben dengan wajah teduhnya.


"kalian mau kado apa dari om, bilang saja, tapi mengingat Edwin bisa beli apa saja rasanya om juga bingung mau ngasi kado apa," om Ben tertawa sambil menepuk pundak Edwin.


Tak lama mereka menuju pesawat, ternyata memang benar, om Ben satu pesawat dengan mereka berdua. Tempat duduk om Ben pun tak jauh dari tempat duduk mereka.


***


Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Internasional Soekarno Hatta. Sekali lagi Edwin mengajak om Ben ke rumahnya namun om Ben menolak ia akan langsung menuju perusahaan rekanannya dan sepertinya om Ben sudah ada yang menjemput.


***


Perjalanan yang melelahkan, biasalah macet dan macet. Sampai juga akhirnya mereka ke rumah yang sangat dirindukan Mei. Sesaat Mei menatap rumah yang telah memberinya kenyamanan dan tempat bernaung yang teduh dan hangat.Sesaat mata Mei menghangat dan ia tersadar waktu Edwin memeluk bahunya.


"Ayo masuk sayang, loh kok mau nangis," Edwin mencium kening Mei dan melepaskan ciumannya saat mendengar teriakan yang khas di telinga Mei.


"Hoalah kok ya ciuman disana, mbok masuk, nooon bik Sum kangen," dan Meisya menghambur ke dalam pelukan bik Sum, menangis dan menciumi pipi bik Sum yg empuk.


"Sudah sudah ayo masuk," bik Sum menyeka air matanya dan menarik tangan Mei masuk.


Edwin hanya tersenyum melihat keduanya saling melepas rindu. Meisya mencari bu Minda di ruang keluarga dan ruang makan tapi tidak ada.


"Nyari nyonyah ya non,  bentar lagi datang kok, masih ngurus apanya non sama den Ed kayaknya," ujar bik Sum dari arah dapur. Dan mulai menyiapkan makan untuk Mei dan Edwin.


Meisya menuju kamarnya dan Edwin muncul meletakkan travel bag Meisya. 


"Nih aku letakkan disini ya sayang?" Mei mengangguk dan menatap Edwin dengan tatapan aneh.

__ADS_1


"Eh kamu kenapa sih sayang sejak awal nyampe kok maunya nangis terus?" Edwin merasakan Meisya yang tiba-tiba memeluknya dan menangis tergugu di dadanya. Setelah reda dan masih menyisakan isak,  Mei mengambil tisu membersihkan mata dan hidungnya baru ia bicara.


"Aku ingat saat awal masuk rumah ini, penuh ragu, apakah aku diterima ato tidak, sempat mau kabur saat penolakan kamu yang bikin aku benar-benar tak berharga, lalu ingat kasih sayang bu Minda yang membiayaiku sejak kecil yang membuatku bertahan, dan aku semakin berterima kasih pada Tuhan saat semua yang tak pernah aku bayangkan sekarang ada di depan mataku,  termasuk cinta kakak yang berawal dari soto," mata Meisya berkabut antara mau menangis dan akan tertawa.


Edwin memeluk Mei dengan erat. Mendekap nya dan menciumi ujung kepala Mei.


"Jangan kamu ingat lagi awal kamu ada di sini,  kakak jadi...jadi merasa bersalah, maafkan kakak," Edwin masih memeluk Meisya saat bu Minda tiba-tiba muncul di pintu kamar Mei.


"Heiii...heiiii ayo Edwin Mei sayaaang." 


Keduanya kaget dan melepaskan pelukannya. Bu Minda melihat mata keduanya sama-sama memerah, lebih-lebih Meisya, matanya masih menyisakan air mata,  dan hidungnya yg merah menyiratkan tangisan yang agak lama.


Ada apa sayaaang, kok segitunya nangis, Edwin gak ngapa-ngapain kamu kan?" tanya bu Minda. Meisya tersenyum dan menggeleng.


"Ih mama, si Mei itu nangis karena ingat mama Minda yang baik hati kayak ibu peri,  sampe ikhlas ngasi anaknya yang ganteng ke Mei," ujar Edwin yang dicubit perutnya oleh Mei.


Bu Minda memeluk Meisya dan Mei kembali menangis.


"Ibu yg harus berterima kasih sama Mei, sudah membawa keberkahan bagi keluarga ibu,  menyelamatkan anak ibu yang ganteng ini dari keterpurukan, tidak usah merasa selalu kecil dihadapan kami, kamu sudah seperti anak bagi ibu," bu Minda melepas kan pelukannya dan mencium kening Mei.


"Istirahatlah Mei, ayo Ed, kita tinggalkan Mei," bu Minda keluar dari kamar Mei dan Edwin mengedipkan sebelah matanya pada Meisya.


Mei merebahkan badannya di kasur yang lama ia tinggalkan, tetap bersih dan harum pasti bik Sum telah merawat kamarnya selama ia tinggalkan. Mei mulai memejamkan matanya saat pintu kamarnya ada yang mengetuk.


"Iyaaa siapaaa?" tanya Meisya.


"Saya nooon, makan yuk, sudah bibi siapin," terdengar suara lembut bik Sum.Mei sebenarnya malas tapi rasanya tidak tega menolak ajakan orang yang ia cintai.


Mei menyeret langkahnya ke pintu dan membukanya, terlihat wajah bik Sum dan Edwin di belakangnya.


"Eh ngapain kakak ikutan?" tanya Meisya. Edwin hanya cengar- cengir saja. Bik Sum meninggalkan mereka. Dan bergegas ke dapur. 


"Aku yang nyuru bik Sum manggil kamu, kalo aku yang manggil pasti kamu nolak, tadi kamu sarapan dikit dan sepanjang perjalanan kamu melamuuun aja, aku takut kamu sakit, ayo makan yuk sayang, tuh udah siap," Edwin menarik tangan Mei, dan Mei menurut meski ia capek dan ngantuk.


Di ruang makan ternyata sudah ada bu Minda. 


"Ayo Mei makan dulu,  kamu kelihatan capek dan stres, hari ini kamu istirahatlah yang cukup,  besok fitting baju pengantin sama lihat gedungnya kayak apa ya, kalo pengen ke spa nggak papa besok sekalian biar kamu agak rileks, mikir apa sih Mei?" tanya bu Minda,  mengambilkan nasi dan lauk ke pirimg Mei. Meisya hanyatersenyum dan mulai menikmati makan siangnya menjelang sore.


"Mikir malam pertama paling itu ma, nggak nggak santai aja, nggak nakutin," goda Edwin dan Meisya melotot padanya. Edwin terkekeh

__ADS_1


"Ishy ini, nggak mikir apa-apa kan Mei?" sekali lagi bu Minda bertanya.


"Nggak kok ibu, Mei cuman kecapean saja, bentar lagi mau tidur,  biar besok ok lagi," jawab Meisya dengan tenang.


***


Malam baru menjelang, saat Edwin masuk ke kamar Mei dan mendapati Mei yang masih tidur. Ia duduk di samping Mei yg nyenyak


Dipandanginya wajah mungil yang beberapa hari lagi akan menjadi istrinya. Diusapnya lengan lembut Mei. Kepala Edwin merunduk dan mencium bahu Mei. Mei membuka matanya perlahan, ia menemukan wajah Edwin yang memandangnya dengan mesra.


"Aduh aku lama banget tidurnya ya kak?" tanya Mei, ia menggeliat sepuasnya dan menjerit tertahan saat sadar pakaiannya seperti apa,  cepat Mei menarik selimut sampai ke lehernya.


"Kak sana keluar aku mau pake baju yang bener," ujar Meisya. Edwin menarik selimut Mei dan mencium bibir Meisya, Meisya meronta dan mendorong badan Edwin.


"Iiih bener-bener deh gak sabaran, beberapa hari lagiiiii dah terserah mau diapaiiin," Mei menarik lagi selimutnya dan segera duduk meringkuk di kasurnya. Edwin tersenyum lebar. Berdiri dan hendak melangkah keluar.


"Bener, aku pegang omongan kamu," ujar Edwin menatap tepat ke mata Meisya.


"Iyaaaaa, sana keluar," Edwin tertawa dan melangkah keluar dari kamar Meisya.


Cepat-cepat Mei menuju kamar mandi, memakai dalaman dengan benar dan kaos lengan pendek


Keluar dari kamar mandi dan dengan cepat ia kunci pintu kamarnya,  kawatir ada penyusup mengerikan seperti tadi.


***


Pagi-pagi sekali,  bahkan saat adzan subuh belum terdengar Mei menuju dapur dan membuat soto kesukaan Edwin, ia akan memberi kejutan karena selama di Sydney ia bolak balik mendengar rengekan Edwin yang kangen pada soto buatannya.


Sekitar satu jam semuanya sudah siap,  karena sejak sore ia sudah berpesan pada bik Sum agar semua bahan disiapkan sebelum adzan subuh datang.


Saat akan berbalik ke kamarnya, ia sudah melihat Edwin yang berdiri di belakangnya dengan tangan bersedekap di dadanya. Ia tersenyum menatap Mei. Mei mendekat dan menarik hidung Edwin yang mancung. Berjinjit lalu mencium bibir Edwin sekilas.


"Aku bikin soto untuk kakak," suara Mei terdengar serak, tersenyum namun entah mengapa matanya kembali berkaca-kaca.


Edwin memeluk Meisya dan mata Edwinpun berembun. Mendekap erat Mei ke dadanya.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidup kakak terima kasih bertahan di sini meski sejak awal aku menolak bahkan kasar padamu, terima kasih mau mencintaiku, I love you Meisya," Edwin mendekatkan bibirnya ke telinga Meisya. Meisya terisak dan dengan lirih dia bertanya


"Benar kakak mencintaiku sebagai Meisya, bukan karena wajahku mirip seseorang?" pertanyaan lirih yg membuat Edwin menegang dan tertegun sejenak....

__ADS_1


__ADS_2