Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
22


__ADS_3

*SUK*


#22


Sayaaang ada apa kamu memanggil Jameees?" tanya Edwin dengan wajah tegang saat melihat wajah Meisya yang sangat panik.


"Kaaaak, tante Melda meninggal, tadi James menelponku, dan dia tidak menanggapi panggilanku waktu aku panggil dia berkali-kali," jawab Meisya sambil memberikan ponselnya pada Edwin dan terlihat panik.


Tak lama bu Minda menyusul ke kamar Meisya.


"Ada apa, mengapa wajah kalian tegang?" tanya bu Minda. 


"Mamanya James meninggal ma, tadi James menghubungi Meisya," jawab Edwin.


"Ya Tuhan kapan, nggak papa kita kesana sayang Edwin sayang kita jangan melihat ia menyukai Meisya tapi melihat dari segi kemanusiaan, ayo kalo kita mau kesana," ajak tante Minda.


"Iya mama, aku memang mau kesana, aku sudah pernah bertemu dengan tante Melda, beliau baik, tapi kesana sekitar berapa jam ya sayang?" tanya Edwin pada Meisya.


"Empat jam lebih kak, berarti kan kita nginep ini kak, paling baru besok dimakamkannya," jawab Meisya


"Kita lihat saja kayak apa kondisi disana Mei,  kalo memungkinkan ya kita nginep," ujar Edwin yang kemudian terlihat menelpon.


"Ok mama, Mei sayang,  jam tujuh malam, pesawat akan berangkat kita punya waktu kurang lebih enam jam untuk bersiap, bawa baju secukupnya saja," ujar Edwin.


Mei dan tante Minda bergegas masuk ke kamar dan menyiapkan baju yang akan mereka bawa. Mereka jadikan satu dalam travel bag sedang, baju tante Minda, Meisya dan Edwin.


***


Jam enam mereka berangkat menuju bandara. Edwin menatap Mei yg terlihat murung.


Saat di dalam pesawat, Edwin menyentuh tangan Mei perlahan. 


"Kamu terlihat murung,  apa yg kamu pikirkan?" tanya Edwin.


"Aku merasa bersalah pada tante Melda karena berbohong tentang hubungan pura-pura itu," ujar Mei dengan mata berkaca-kaca.


"Tante Melda pasti memaafkanmu, ia orang baik," sahut Edwin menenangkan.


Tante Minda melihat Edwin yang berusaha menenangkan Meisya hanya tersenyum perlahan. 


"Yah benar Meisya,  mama yakin, mamanya James pasti memaafkanmu, memaafkan James juga, yg sebenarnya bertujuan untuk membahagiakan mamanya, hanya caranya yg tidak benar," ujar tante Minda ikut menenangkan Meisya.


Jam 11.30 malam pesawat mendarat di Perth. Meisya menelpon James, lalu Edwin menggantikan memegang ponsel Mei untuk menelpon James


"Halo James, kami sudah di bandara, beri kami alamat rumahmu"


"Terima kasih sudah datang Ed."


Dan James memberikan alamat rumahnya.


***

__ADS_1


Edwin, Meisya dan bu Minda disambut langsung oleh James. Edwin mendekati James, keduanya saling memeluk dan sebentar kemudian Edwin menepuk bahu James pelan.


"Kami turut berduka cita, mama kamu orang baik,  aku pernah bertemu,  beliau bahkan mengundangku ke sini," Edwin terlihat berusaha menghibur James yang hanya sanggup mengangguk.


Saat Meisya mendekat dan menjabat tangannya, mata James semakin memerah, sekuat tenaga ia tahan untuk tidak memeluk Meisya, ia hanya butuh memeluk Mei untuk mendapatkan kekuatan berdiri disamping jenazah mamanya. Mei pun demikian pertahanannya luruh saat tangannya hanya mampu menjabat tangan James dengan sangat erat, ia ingin memeluk James dan menenangkannya itu saja, tapi keadaan tak memungkinkan untuk itu.


"Temui papa, ia menunggumu sejak tadi," suara James terdengar serak dan parau. Mei melihat papa James berdiri tak jauh dari jenazah mama James menerima ucapan bela sungkawa dari rekan-rekan bisnisnya. Saat tante Minda mengucapkan turut berduka cita pada James sambil menepuk lembut tangan James,  James hanya mampu mengangguk dengan wajah sedih. Edwin tetap berdiri di samping James dan melihat Mei yang dipeluk oleh papa James. Keduanya terlihat menangis. Ah sedekat itu hubungan Mei dengan keluarga James, pikir Edwin.


Terima kasih sudah hadir di keluarga kami Meisya, meski kau tak berjodoh dengan James setidaknya istriku sangat bahagia telah mengenalmu, jangan dulu pulang,  menginaplah disini, ada yang ingin om berikan titipan dari tantemu, dua hari sebelum meninggal ia serahkan pada om," papa James terlihat memanggil James dan memberitahu agar Mei dan Edwin menginap di rumah mereka.


"Ada mama Edwin juga papa," ucap James menunjuk mama Edwin dan wajahnya masih terhalang Edwin.


"Oh ya, ah mereka keluarga yg baik, meski belum begitu kenal,  mereka menempuh jarak yang jauh, untuk ke sini, mengucapkan bela sungkawa pada kita James, antarkan aku pada mama Edwin," bertiga mereka melangkah mendekati Edwin dan mamanya.


Saat papa James sudah dekat, Meisya memanggil pelan bu Minda. 


"Ibu, ini papanyaJames."


Bu Minda berbalik dan dalam jarak yang cukup dekat mereka saling memandang dengan tatapan kaget. Dan saling menyapa dengan suara tercekat.


"Ben... 


"Minda...kkaaauuu...


Mereka akhirnya bersalaman dengan tangan sama-sama bergetar. Dan papa James segera mengembalikan kesadarannya, berusaha berbicara dengan normal meski tiba-tiba saja keringat sudah membasahi kening papa James.


"Menginaplah disini, aku sudah mengatakan pada James agar menunjukkan kamar kalian, terima kasih Minda sudah hadir di sini," papa James terlihat beberapa kali menghindar dari tatapan mata bu Minda.


Edwin, Meisya dan James melihat keduanya dengan tatapan aneh, tak menyangka mereka saling kenal, dan yang aneh adalah sikap mereka, ada apa?


James mengantarkan Edwin, Meisya dan bu Minda ke lantai dua, menunjukkan kamar mereka dan memberitahu beberapa maid untuk melayani mereka. Bu Minda sekamar dengan Meisya sedang Edwin disebelah.


"Silakan beristirahat,  sudah sangat larut, besok pagi jam 8 mama dimakamkan," James berlalu dari hadapan mereka.


Edwin terlihat mengejar James dan menjejeri langkah James turun. 


"Ada apa?" tanya James tetap melangkahkan kakinya.


"Tidak, aku hanya ingin menemanimu, menemui tamu-tamu," Edwin dan James berjalan dan terlihat berdiri berdua di sisi tak jauh dari jenazah mama James.


***


Di dalam kamar setelah Mei menutup pintu tiba-tiba bu Minda memeluknya dan menangis sejadinya. Meisya kebingungan dan dengan ragu memeluk bu Minda.


Lama setelah reda, bu Minda melepaskan pelukannya. Mei membiarkan bu Minda membelakanginya,  menyusut air matanya dan melangkah kekamar mandi. Mei tidak akan bertanya apapun sampai bu Minda bercerita.


Mei mengganti bajunya dengan baju tidur. Merebahkan badannya dan terdengar pintu kamar mandi yang terbuka. Mata bu Minda terlihat sembab. Mei bangun dan mengganti bu Minda masuk ke kamar mandi.


***


Mei keluar kamar mandi saat melihat bu Minda yg sudah berganti baju tidur, membelakanginya merebahkan diri di kasur. Ada apa ibu,  mengapa ibu terlihat sangat terluka?

__ADS_1


Mei merebahkan diri di kasur, memeluk guling dan melihat bu Minda yang sepertinya kembali menangis, bahunya turun naik dengan cepat dan sesekali terlihat gerakan menyusut air mata.


Biarlah ibu menenangkan diri dulu, siapa tahu dengan menangis ibu menjadi lega. Meisya mulai memejamkan matanya. Sementara bu Minda bangun dan duduk menghadap cermin. Ben, mengapa kau muncul lagi setelah puluhan tahun. Aku menyuruhmu untuk pergi menjauh,  menjauh dari kehidupanku. Kini setelah luka berdarah mengering, seakan kau membukanya kembali dan mengiris di tempat yang sama.


Terdengar ketukan pintu. Bu Minda kaget, cepat ia menghapus air matanya, berusaha wajar dan membuka pintu. Terlihat dua lelaki tampan di depannya, bu Minda berusaha tersenyum namun tak urung keduanya melihat dengan tatapan aneh, James membawa makanan dan Edwin membawa minuman.


"Ini untuk tante dan Mei, makanlah tante,  menurut Edwin, tante dan Mei belum makan," James menatap wajah bu Minda yang berkali-kali mengusap hidungnya.


"Yah terima kasih James kamu sudah makan Ed?" tanya bu Minda sambil memandang wajah Edwin yang nampak lelah, suara bu Minda terdengar sengau dan serak.


"Sudah tadi, sama James, mama aja makan dulu, bangunin Mei ma," ujar Edwin melihat Mei yang tidur meringkuk, ingin rasanya mencium kening Mei, tapi ada mamanya dan James.


"Jangan, kasian Mei nanti saja jika ia sudah bangun, dan nggak usahlah sampai kalian yang antar makanan ke sini, mama lihat disini ada beberapa maid,  suru saja mereka," ujar bu Minda.


"Nggak papa tante,  kebetulan para maid sibuk untuk persiapan besok, kawatir ada tamu banyak," jawab James.


James dan Edwin meletakkan makanan dan minuman di meja dalam kamar. Sekilas James melirik Mei yang tidur meringkuk, Mei ingin rasanya aku memelukmu, sekali saja agar aku terbebas dari beban yang berat ini. Lalu James berjalan sambil menunduk, berusaha menghilangkan pikirannya yang kalut.


***


Bu Minda menyendok kan makanan ke mulutnya, namun ia tak berselera, ia hentikan makannya dan menyisihkan jauh dari sisinya.Tak lama Meisya bangun dan bu Minda menyarankan agar Meisya segera makan kawatir sakit, karena sejak sore belum makan sama dengan bu Minda,  Meisya hanya makan sedikit dan tidak berselera. Segera Meisya merebahkan badannya meski tidak mengantuk.


Bu Minda membawa piring kotor menuju dapur bersih yang ada di lantai dua. Meletakkan di tempat cuci piring,  ada seorang maid di sana dan menyuruh bu Minda untuk meletakkannya saja.


Bu Minda segera melangkahkan kakinya ke kamar, saat tiba-tiba papa James berdiri di hadapannya. Mereka sama-sama gugup,  namun bu Minda berusaha menguasai diri. Dan terlihat berwajah tanpa ekspresi


"Apa kabar anakku Minda?" tanya papa James.


"Ia bukan anakmu, ia tidak pernah mengenalmu, karena sejak awal ia ada, kamu tidak peduli, tidak ada sisa kemarahan lagi padamu saat ini Ben,  tidak usah menanyakannya, ia sudah bahagia, Seno adalah papa terbaik untuk anak-anakku,  sekali lagi jangan menanyakan yang bukan hakmu," bu Minda berlalu melewati papa James.


Sementara itu James dan Edwin saling pandang karena mereka mendengar pembicaraan papa James dan mama Edwin, saat keduanya menaiki tangga, meski tidak keras tapi suara keduanya terdengar jelas oleh Edwin dan James.


Keduanya melanjutkan langkahnya. Berpapasan dengan papa James yang terkejut melihat keduanya tiba-tiba muncul.


"Tidur di kamarku saja Ed, ada yang ingin aku bicarakan," ujar James, dan Edwin mengangguk.


"Sebentar aku ambil bajuku di kamar mama," jawab Ed melangkah ke kamar mamanya dan mengetuk perlahan.


"Masuklah," terdengar suara mama.


 


"Mau ambil baju ma,  untuk rebahan saja, dan jas untuk besok sekalian tak ambil," Edwin membuka travel bag dan mengambil beberapa baju. Melangkah keluar kamar dan menutup pintunya lagi.


Edwin melangkah menuju kamar James. Dan menemukan James yg duduk di kursi sudah berganti kaos dan duduk merenung. Edwin meletakkan baju- bajunya di sisi kasur, berganti kaos dan duduk di kasur.


"Ada apa, katanya kamu mau bicara," tanya Edwin. James duduk dengan pikiran menerawang.


"Kamu pasti mendengar pembicaraan tadi kan antara papaku dan mamamu, tanpa perlu kita tanya pada mereka, mereka punya masa lalu yang sulit, tapi yang mengusikku pertanyaan papaku pada mamamu,  tentang pertanyaan apa kabar anakku? Nah itu siapa?"


*****

__ADS_1


__ADS_2