
Nggak keluar den Ed?" tanya bik Sum yang melihat Edwin hanya duduk di kursi panjang berselonjor menghadap kolam renang.
"Nggak bik, males, hujan kayak gini mending di rumah, makan soto hangat buatan Mei, seandainya dia ada," ujar Ed dengan mendekap kedua tangan didadanya dan masih memandang kolam renang, ingatannya kembali pada Mei yang berenang dan memainkan kakinya pada air.
Edwin menyandarkan kepalanya, memejamkan matanya dan bergumam pelan apa yang kamu lakukan sekarang Mei.
"Deeen cepet bilang ke nyonyah kalo den Ed mau menikahi non Mei, heh keburu diambil orang loh," ucap bik Sum lagi sambil menata makan malam untuk Edwin.
"Gimana cara bilangnya bik?" tanya Edwin melangkah pelan mendekati bik Sum di ruang makan.
"Halah halaaah, ya langsung bilang saja des des des gitu den," tawa bik Sum terdengar renyah.
"Des des des gimana?" tanya Edwin lagi.
"Haduh deeen, bilang langsung nggak usah bertele-tele, mah aku mau nikahi Mei setelah lulus kuliah ato bilang gini den, mah aku mau nikahi Mei bulan depan, nggak papa hubungan jarak jauh, yang penting tiap bulan berangkat ke mana itu ostrali ya den nah tiap bulan indehoi di sana," ucap bik Sum yang membuat Edwin mengerutkan keningnya.
"Indehoi, maksudnya bik?" tanya Ed lagi.
"Haduh gustiii anak jaman sekarang kok ndak tau indehoi, itu tuh den kalo sudah nikah kan bisa itu itu," bik Sum tersenyum menggoda sambil menaik turunkan alisnya dan Edwin tertawa lebar dan keras.
"Bik Suuuuum, bik Sum kok bisa sampe kesana pikirannya," Edwin masih tertawa dan memegang dadanya.
"Eleeeh paling den Ed sudah tahu tipis-tipis tooo sama non Mei, bohooong kalo sering ke kamar non Mei tapi nggak kenapa-napa," ucap bik Sum sambil memberikan piring pada Edwin. Edwin diam saja.
"Titip non Mei ya den, dia anak baik, lugu, dia tau cerita,kalo dia nggak pernah pacaran karena berusaha belajar rajin agar tidak mengecewakan nyonyah jangan diapa-apakan maksud saya non Mei nya ya den," ucap bik Sum sambil menatap Edwin yang masih menatap piring kosong.
"Ayo makan den, nanti malah sakit, besok nyonyah sudah pulang, den Ed bisa tanya-tanya gimana non Mei disana," ujar bik Sum melangkah ke dapur meninggalkan Ed sendiri.
"Biiik duduk sini, masak aku makan sendiri," teriak Ed sambil menyendokkan nasi. Bik Sum akhirnya balik lagi.
"Halah-halaaah.... manjanya, wong pantes nya sudah diladeni istri, ini malah masih sendiri," ujar bik Sum menarik kursi dan duduk di samping Ed.
***
"Mei besok ibu balik ke Indonesia, baik-baik di sini sayang ya," ujar bu Minda mengelus jari Mei Dan terbelalak kaget.
"Ih cantik baaanget cincinnya sayang, kapan belinya, aduh manis banget, ibu jadi pingin," ujar bu Minda mendekatkan jari Mei ke wajahnya, seketika wajah Mei memerah.
"Eeemmm kalo ibu pingin, ini buat ibu," ucap Mei dengan wajah takut.
"Loh loh loooh ya nggak sayang, beli dimana nih cincin kok cantik banget?" tanya bu Minda dengan antusias.
"Aduh itu ibu, ibu jangan marah ya, maaf ibu," Mei terbata-bata menarik- narik kaosnya perlahan.
"Mei apaan sih, kamu kayak ketakutan gitu ibu cuman nanyak, nggak dijawab juga nggak papa," bu Minda menahan senyum dan mulai mengerti.
"Maaf ibu, itu kak Ed yg belikan," ujar Mei menunduk dan menjawab dengan pelan
"Meeeei Meiii," bu Minda duduk semakin mendekat, diusapnya bahu Mei.
"Ada apa antara kamu dan Edwin, sayaang?" tanya bu Minda pelan.
Mei menatap bu Minda dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan saya ibu kalau saya lancang," Mei mulai terisak.
"Ada apa sayang?" bu Minda jadi bingung.
"Saya nggak tau sejak kapan, yang jelas sejak kak Ed menjemput saya ke puncak, dia tidak pernah ngajak saya tengkar lagi, dia mulai berbicara lebih pelan, mulai sering ke kamar saya, tapi saya tidak merasakan apa-apa ibu, saya selalu menolak tiap kak Ed mulai menyentuh saya, tapiii tapi saat saya akan berangkat ke Aussie kak Ed kayak menjauh dari saya, saya sayaaaaa jadi sering mengingatnya ibu, dan sehari sebelum berangkat kak Ed bilang kalo dia mencintai saya, saya tidak menjanjikan apa-apa ibu, saya tidak ingin menjadi anak yang tidak tau diri, sudah di sekolahkan oleh ibu, masih serakah mau jadian sama kak Ed," air mata Mei mengalir deras dan bu Minda memeluknya dengan erat.
"Oh Mei Mei, kamu terlalu berhati-hati anakku, ibu tidak akan menghalangi jika itu memang takdir Tuhan," bu Minda mengelus punggung Mei perlahan. Melepas pelukannya dan mengusap air mata Mei.
"Kamu menyukai Edwin juga sayang?" tanya bu Minda. Mei diam saja.
"Saya nggak tahu ibu, saya tidak bisa memastikan, cuma waktu saya akan berangkat ke Aussie, saya jadi sedih ninggalin kak Ed, maaf ibu," Mei kembali menunduk.
"Mei Mei, kamu sudah tau belum cerita Ed dengan Freya?" tanya bu Minda. Mei menggangguk.
"Ed yang cerita?" tanya bu Minda lagi.
"Bik Sum, ibu,"jawab Mei
"Oh yaaaa, hhmmm... sejak peristiwa itu, selama lima tahun dia tidak tertarik pada perempuan manapun, makanya ibu merasa heran banget dia bisa suka sama kamu, ibu pikir karena wajah kalian mirip, tapi kalo dipikir- pikir lagi justru Ed merasa terganggu karena wajah kalian mirip, tapi kayaknya lama-kelamaan dia tertarik sama kamu ya karena apa adanya kamu Mei,ibu tidak akan ikut campur urusan hati kalian Mei, kamu sampai ketakutan seperti itu pada ibu," ujar bu Minda menatap wajah Mei yang masih menyisakan air mata.
__ADS_1
"Saya tidak ingin lancang menyukai putra ibu, saya hanya anak yatim piatu yang beruntung di sekolahkan ibu sampai seperti ini, makanya saat saya tiba- tiba merasakan ada hal tidak biasa dihati saya, saya merasa sangat bersalah pada ibu," ujar Mei menunduk dan mempermainkan jemarinya.
"Meiiii.. Meeei," bu Minda kembali memeluk Mei, bu Minda berpikir, Edwin beruntung bertemu dengan perempuan seperti Mei yang selalu berhati-hati melangkah.
"Tidurlah, besok ibu ke bandara jam tujuh pagi, baik-baik disini, semua sudah ibu sediakan di kulkas jika kamu ingin memasak sendiri," bu Minda menepuk pipi Mei dan berdiri menuju kamarnya.
***
Mei mulai memasuki masa-masa perkuliahan ternyata di kampusnya lumayan banyak mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan seperti dirinya, meski beda jurusan. Mei mulai dekat dengan mahasiswa Indonesia asal Surabaya yang bernama Mayang. Meski tidak satu jurusan mereka satu lokasi apartemen. Mereka sering terlihat bersama saat akan berangkat kuliah.
***
Hampir dua minggu Mei di Australia,Edwin sering menelpon, berkirim pesan singkat, kadang bervideo call dengan Mei. Seperti saat ini tiba- tiba panggilan video dari Edwin mengagetkan Mei
Apaan kak, aku baru selesai mandi
Iyah nggak usah bilang, kakak sudah tahu
Kok bisa?
Lah kamunya masih pakek tanktop gitu
Eh aduh, biar Mei pegang aja nih hp, nah gini aja, biar kelihatan mukak ku aja kak hihihi maaf
Meeei Mei untung video call sama kakak, kalo sama orang lain kan berabe, jadi keliatan semua
Eh nggak lah kak, aku nggak akan sembarang nerima panggilan video
Aku pengen segera ke Aussie Mei
....
Kok diem aja, boleh kan Mei
Trus ke ibu, kakak ntar bilangnya gimana
Ya mau bilang kalo kakak mau mengunjungi kamu
....
Ih kakak mulai deh mesumnya, nggak nggak, nanti Mei merinding lagi, nggak boleh kak, nanti nggak bisa berenti jadi ngeri
Hahahhah kamu lucu deh Mei, bilang nggak nggak tapi ya diem aja kalo kakak cium
Udah udah kak nggak usah dibahas Mei malu kak
Eh udahan ya Mei,mama manggil deh kayaknya
Iyah sana cepet
Bai Mei
Bai kak Ed
Mei meletakkan ponsel dan menggunakan kaosnya, lalu ke dapur untuk memasak, masakan seadanya karena yang makan hanya dia sendiri.
***
Edwin membuka pintu kamarnya, terlihat wajah mama tersenyum lembut.
"Boleh mama masuk?" tanya bu Minda. Terlihat tangan Edwin yang perlahan menutup sebuah frame foto dan menindihnya dengan buku.
"Masuk aja ma, pakek ijin segala mama," ucap Edwin yg duduk di kursi sementara bu Minda duduk disisi kasur.
"Eh itu apaan Ed kok ada travel bag kecil?" tanya bu Minda. Terlihat Edwin meneguk salivanya dengan gugup.
"Besok kan jumat ma, jam 1 siang setelah dari kantor,Ed akan langsung ke Aussie dan minggu sore Ed balik kesini lagi," terlihat Ed yang gugup dan meremas tangan nya sendiri. Bu Minda tersenyum lembut.
"Mau menemui Mei?" tanya bu Minda, Edwin mengangguk.
"Ada apa antara kamu dan Mei, sayang?" tanya bu Minda, meski ia tahu jawabannya,ia ingin memastikan sendiri jawabannya dari Edwin. Terlihat Edwin yang menghembuskan napasnya dengan berat.
"Ed mencintai Mei, mama," jawab Edwin dengan suara khasnya yang berat.
__ADS_1
"Sini, sini duduk dekat mama," tangan buMinda menggapai Edwin, Ed mendekat dan duduk di samping bu Minda di sisi kasur.
"Kamu benar-benar mencintainya sebagai Meisya?" tanya buMinda pelan dan memegang lengan Ed.
"Awalnya aku memang ragu pada perasaanku ma, tapi saat lima hari Mei ikut lokakarya di puncak, aku jadi benar-benar merasa kehilangan, perlahan dan pasti Mei mengisi tempat di hati Ed ma, seminggu sebelum Mei berangkat ke Aussie, aku berusaha menjauh, tapi yag ada malah rasa sakit di dada Ed, satu hari sebelum Mei berangkat, Ed bilang, kalo Ed mencintainya, tapi Mei kayak masih ragu ma," Ed bercerita sambil menopangkan lengannya pada paha dan meremas tangannya sendiri.
"Kau sudah sangat dewasa dalam hal usia dan sikap sayang,artinya semua yang akan kamu lakukan pasti dipikir dengan matang, yakinkan Mei dengan sikapmu, agar dia yakin bahwa kamu mencintai nya sebagai Meisya," bu Minda mengusap lengan kokoh Ed.
*****
Menjelang malam Edwin baru sampai di apartemen Mei, dicocokkannya nomor apartemen Mei, ah ya benar, pikir Ed. Ia pencet password kamar sesuai tanggal lahir Mei, ini nih info dari mama, dan terbuka otomatis pintu apart Meisya. Dilangkahkan kakinya pelan tanpa bunyi.Edwin membuka sepatu dan meletakkan travel bag di ruang tamu, ia buka jaketnya dan diletakkan di atas travel bagnya. Ed mencari Mei, kemana tuh anak, ealaaah tidur sama bukunya, dasar bocah, buku berserakan di mana-mana. Mana bajunya ya ampun, bikin Edwin seneng aja. Adu duuuuh tanktopnya sudah nggak bener, sampek perut keliatan semua, celana pendek yang pendek banget, namanya aja celana pendek heleh. Edwin hanya geleng-geleng kepala melihat model tidur Mei, ia tepuk pelan pipi Mei. Mei menggeliat-geliat.
"Eh sapa sih, lagi enak-enak tidur," ujar Mei membuka perlahan matanya dan mengerjab pelan, ia gosok-gosok matanya dan...
"Kak Eeeed, senengnyaaaa kakak datang," Mei sontak bangun dan memeluk Edwin dengan erat. Edwin tersenyum sambil mencium ujung kepala Mei. Dan tak lama tubuh Ed menegang karena pelukan Mei yang erat membuat Ed merasakan langsung gesekan badan mereka, karena Mei yang hanya menggunakan tanktop tanpa apapun di dalamnya.
"Mau sampe kapan meluk kakak, dengan baju kayak gitu, ntar kakak pangku lagi, ngamuk lagi," ucap Edwin sambil mengusap bahu Mei. Mei kaget dan melihat penampilannya yang mengerikan.
"Eh iya hihi bentar ya kak, Mei pake baju yang benar, namanya aja sendiri ya bebas mau ngapain kak, kakak juga nggak bilang kalo mau kesini, kakak keluar dulu, Mei mau pake...anu..itu daleman yang bener... sana gih keluar dulu," Mei mendorong badan Ed keluar kamarnya.
Ed segera memasukkan travel bag ke kamar satunya, ia membuka celananya serta kaos lengan panjangnya, dan hanya menggunakan kaos rumah serta celana pendek.
Terdengar pintu kamar Mei yang dibuka. Dan Ed melihat Mei yang sudah menggunakan kaosnya dengan benar.
"Makan yok kak, ini aku baru masak, cuman ya seadanya aja," ujar Mei sambil menata makanan dan piring. Ed duduk di ruang makan sambil mengamati Mei yang cekatan menyiapkan makan malam, melihat wajah Mei rasanya sudah kenyang tanpa harus makan.
"Kak jangan liatin aku terus, akunya grogi, ntar pada jatoh nih benda yg aku pegang," rengek Mei yg mulai mengambilkan makanan untuk Ed. Edwin tertawa dan mulai makan dengan pelan, masih menatap Mei yang mengunyah dengan cepat.
"Ngapain kamu makan sampe kayak gitu?" tanya Ed masih tertawa, Mei mencibirkan bibirnya sambil tetap mengunyah.
"Biar cepat selesai, biar nggak diliatin terus sama kak Ed," Mei menyelesaikan makannya dan segera menghabiskan minumnya. Edwin geleng-geleng kepala dan menghabiskan makan malamnya.
Terdengar bel Berbunyi, Mei dan Ed saling berpandangan, siapa malam-malam mau bertamu. Mei berlari hendak membuka pintu, tapi Ed segera menyusul Mei, dan menahan Mei.
"Biar aku yg buka pintu," Ed membuka pintu dan tampak wajah Gavin. Gavin kaget saat tampak wajah asing yang menemuinya.
"Emmm Meinya ada?" tanya Gavin ragu. Ed mengerutkan keningnya.
"Ada apa ingin bertemu Mei malam-malam?" tanya Ed dengan wajah dingin.
"Ingin memberikan buku yang akan dipinjam oleh Mei," ujar Gavin memperlihatkan bukunya.
"Biar saya yang akan menyerahkan pada Mei," Ed mengambil buku dari Gavin dan menutup pintu. Gavin hanya tertegun di depan pintu yang tiba-tiba tertutup rapat.
"Siapa kak?" tanya Mei melihat Edwin yang memegang buku.
"Besok beli buku seperti ini, tidak usah pinjam- pinjam, siapa itu tadi?" tanya Ed dengan wajah tak senang.
"Oooh si Gavin,itu temen satu fakultas kak, ada mata kuliah sama ceritanya tapi aku nggak punya bukunya, lagian itu anak teman bu Minda kakaaak ih kakak, trus kalo bisa pinjem ngapain beli, kan bisa irit-irit," ujar Mei sambil mengerjabkan matanya.
"Pokoknya nggak boleh pinjem, beli semua buku yang dibutuhkan, lagian kenapa tu anak malam baru kesini, untung ada kakak, kalo nggak ada kan pasti dia sudah masuk kesini, besok kembalikan sama tuh anak, ngembalikannya sama kakak, biar tahu kalo kakak pacar kamu, ngerti," ucap Edwin dengan wajah dingin.
"Iya iya, gitu aja marah, biar besok Mei kembalikan ke Gavin kakak nggak usah ikut," ujar Mei pelan. Edwin mendekat dan mengusap bahu Mei pelan.
"Kita baru mulai Mei, itupun kamu belum pasti dengan perasaanmu, aku tidak mau ada yang mengganggu proses hubungan kita, aku tidak melarang kamu berteman dengan siapapun, tapi kalo malam seperti ini masih mau bertamu, trus apa namanya, bukan karena dia anak teman mama trus jadi seenaknya sama kamu, aku mencintaimu Mei," ujar Edwin pelan.
"Iyah, Mei ngerti kak, besok antar Mei beli buku," ujar Mei dengan wajah memelas.
"Jangan seperti itu Mei, aku tidak mau mengekangmu, tapi aku takut kamu malah lebih tertarik pada orang lain yang selalu ada di dekatmu, aku jauh Mei tidak selalu bisa mendampingimu," Edwin mendekap Mei dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Iya kak, aku sebenernya nggak akrab kok sama Gavin, cuman karena apartemennya sama, kadang bareng pulangnya, cuman kata Gavin aku lucu kalo ngomong padahal aku nggak pernah ngelawak kak, dan katanya lagi aku kayak anak kecil kalo mataku mengerjab- ngerjab," ujar Mei lirih, Ed melepaskan pelukan nya dan menatap Mei.
"Tuh kan bener, makanya kamu jangan terlalu lugu, jangan ngomong sama orang yang nggak kamu kenal, pake kacamata hitam aja, biar si Gavin ngak liat mata kamu," ujar Edwin memandangi wajah Mei.
"Ih kakak, aku ngomong sama Gavin ya karena aku kenal kaaak, trus pake kacamata hitam? kudaaa kali, sekarang bukan musim panas kak, aneh jadinya pake kacamata hitam, ada-ada aja," ujar Mei dengan wajah ditekuk. Edwin mengangkat dagu Mei, Mei menatap mata Edwin dengan takut dan merasa bersalah. Bibir Mei yang sedikit terbuka dicium pelan oleh Edwin, lamaa dan dalam, tangan Edwin memegang tengkuk Mei untuk mengeratkan ciumannya, sampai akhirnya Mei mendorong perlahan dada Edwin untuk mengatur napasnya.
"Kaak ini, ini apaan, kok ada yang keras di perut Mei," suara Mei terdengar terbata-bata. Edwin memeluk Mei dan tertawa keras sampai keluar air mata. Bahunya sampai terguncang, Mei semakin heran.
"Meeeei sayaaang ya Tuhan, aku tadi nyium kamu segitunya, pasti akan ngaruh ke yang lain Meeei sayangku, adduh jadi hilang moment romantisnya deh, nggak usah bilang kalo punya kakak keraaas ya Tuhan, aku jadi malu gini Mei, aduh aduuuh," Edwin kembali tertawa sedang Mei jadi tersenyum malu
"Iya deh ntar kalo ada yang keras lagi Mei nggak akan....," belum selesai Mei berbicara tangan besar Edwin sudah menutup mulutnya. Edwin tertawa lagi dan kembali mendekap kepala Mei kedadanya.
"Tidur sana gih, sudah malem, besok kita jalan- jalan ya Mei sambil cari buku kamu," Edwin melepas pelukannya dan mencium kening Mei. Edwin melangkah ke kamar sambil geleng- geleng kepala dan tersenyum tanpa henti. Sedang Mei melangkah ke kamarnya sambil sesekali menoleh melihat Edwin yg masih senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Edwin segera masuk ke kamar mandi dan menghidupkan shower untuk melemaskan badannya,ah Mei betapa lugunya anak itu. Edwin menormalkan pikirannya saat air dingin mulai menjelajah tubuhnya
_bersambung_