Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
45


__ADS_3

*SUK*


#45


James melepaskan pegangan tangannya pada bahu Alice dan Alice kembali akan jatuh


"Tuh kan, apa aku bilang, sudah pakai snikersmu sana," ujar James terlihat kesal.


"Nggak lucu James, dressku gini, masa pakai snikers?" sahut Al pelan dan terlihat bingung.


"Lebih nggak lucu lagi,  kalo sepanjang perjalanan kamu minta aku pegangin, udah ah kita ditunggu Mei dan Edwin," James menatap Al dengan pandangan kesal.


Akhirnya Al menurut, ia memakai snikersnya. Dan beriringan menuju lift turun ke lantai dua.


Saat akan memasuki lift, Al terlihat ragu sementara James sudah masuk, hingga James menarik tangan Al, dan pintu lift tertutup, keduanya hampir bertubrukan di dalam, untung hanya ada mereka berdua.


James melepaskan genggaman tangannya pada Alice. Keduanya diam sampai turun di lantai dua dan keluar bersamaan.


James berjalan agak cepat meninggalkan Al dibelakangnya. 


"James tunggu," Al memanggil James. James berhenti dan menoleh.


"Ayolah cepat, ini sudah jam 8 lewat, aku nggak biasa ngaret." 


"Harusnya kamuterbiasa berjalan cepat, kan gayamu kayak cowok," ujar James melangkah di sisi Alice. 


"Dress ini yang bikin langkahku nggak bebas," sahut Alice mempercepat langkahnya.


James menggelengkan kepalanya, meraih tangan Alice dan menariknya agar berjalan agak cepat,  sambil berlari kecil Alice mengimbangi langkah lebar James.


Alice tersenyum samar melihat tangannya ada dalam genggaman James. Aku ingin ini bisa lebih lama lagi, pikiran Alice jadi mengembara melihat tangannya ada dalam genggaman James.


Dari jauh, di depan pintu apartemen, Edwin dan Meisya terbelalak melihat James menyeret-nyeret Alice, namun Edwin menahan tawa melihat wajah jengkel James dan Alice yang senyum-senyum sendiri. Meisya pun menutup mulutnya menahan tawa. Benar- benar pasangan aneh.


"Aliiice kamu cantik banget deh," terlihat wajah Mei memandang wajah Alice dengan takjub. 


"Cantik ya James?" tanya Meisya sambil melihat James yang merapatkan bibirnya dan memandang Mei dengan tatapan jengkel.


"Ayolah, kita makan di mana, nih?" tanya Edwin dan mereka berjalan beriringan. 


"In cafe restouran," jawab James.


"Jam segini sudahnggak ada tempat di sana James," ujar Alice. 


"Aku sudah reservasi ," James menjawab dan melangkah menjejeri langkah Edwin.

__ADS_1


***


Setelah James memarkirkan mobilnya,  berempat mereka masuk. Secepatnya Edwin duduk berhadapan dengan Mei, mau tidak mau,  James duduk di depan Alice.


"Mau pesan apa ini James?" tanya Edwin. 


"Sudah aku pesankan, ini kado khusus dariku untuk pengantin baru," jawab James tersenyum pada Edwin dan Mei.


Tangan Edwin dan Mei saling menggenggam,  dan menatap dengan mesra. 


"Semoga kebahagiaan yang kami alami, akan menular pada kalian," ujar Edwin lirih sambil memandamg Meisya.


James dan Alice saling memandang dengan wajah bingung, Alice menunduk dan mempermainkan tali tas yg menyilang di dadanya


"Alice, tasmu taruk aja di meja, biar gak ganggu nanti pas makan," ujar Mei, Alice meletakkan tasnya di meja dan tersenyum pada Mei.


Tak lama makanan pembuka datang. 


"Ih lucu banget James, apaan nih?" tanya Mei tetarik.


"Makanlah, itu ikan salmon yg ada diantara roti Mei," jawab James.


Edwin mengambil satu dan menyuapkan ke mulut Mei. Edwin memandang wajah Mei dan membersihkan bibir Mei dari remahan roti dengan jarinya.


James dan Alice jadi berpandangan melihat tingkah keduanya. Al menoleh melihat sisi lain dari rumah makan itu.


"Makanlah," James menyodorkan makanan pembuka pada Alice, Alice mengambil satu dan memakannya pelan, mereka kembali saling pandang dan segera mengalihkan pandangan nya ke sisi lain. James menghembuskan napas nya yang terasa sesak.


Tak lama berselang datang menu utama, berupa bebek saus pepperoni. Mei makan dengan lahap sampai saus berlepotan. Edwin tertawa dan membersihkan bibir Mei.


"Dia mesti gitu Ed, kalo makan suka kalap, dan belepotan," ujar James dan menoleh pada Alice yang ternyata tak beda jauh dengan Meisya.


"Kamu juga Al, tuh belepotan, nih tisunya," James memberikan tisu dan Al membersihkan bibirnya.


"Bukan disitu Al,  sebelahnya, bukaaan ah yg sebelah kiri bibirmu nih," ujar James lagi dan Al jadi bingung. Akhirnya James membersihkan bibir Al dengan jarinya lalu James membersihkan jarinya dengan tisu.


Edwin dan Mei menahan tawa melihat tingkah dua orang yang aneh ini, James yang melakukan semuanya dengan tenang dan tanpa perasaan, sementara wajah Al memerah setelah James membersihkan saus pepperoni di bibirnya.


Saat meneguk minuman James sempat memandang wajah Al,  saat itu baru ia sadar jika tindakannya tadi membuat wajah Al merona. James menghela napas melihat Edwin dan Mei yang menahan tawa, James jadi agak jengkel karena keduanya seolah menertawakannya. Kembali James dan Alice saling pandang dengan wajah bingung.


Makanan penutup datang dan paling tidak membantu James dari siksaan tawa Edwin dan Meisya.


"Duh kenyang dahJames tapi aku tetep mau," ujar Mei menatap makanan yang menerbitkan selera makannya lagi.


"Makanlah, kecil kok ukurannya, apple pai itu Mei," James mengambil satu dan memberikan nya pada Al.

__ADS_1


"Jangan belepotan lagi,  nanti kamu malu lagi,  tumben deh kamu diam saja," ujar James menatap Al. Al hanya diam dan tersenyum menatap wajah James yang sedari tadi selalu terlihat jengkel.


Setelah makan mereka tidak langsung pulang tapi menyusuri taman berlampu redup yang ada di sekitar rumah makan itu.


Ada beberapa pasang kursi, dan Mei duduk dengan Edwin yang merengkuh bahunya, Mei menyandarkan kepalanya pada bahu Edwin. James dan Al terpaksa duduk, dan keduanya terlihat canggung. James mengeluarkan ponsel dan asik menekuni ponselnya. Al hanya duduk, merapatkan kakinya dan bersedekap, lalu mengusap-usap bahunya sendiri.


James menoleh, melihat rambut Al yang meski diikat tetap tertiup angin


"Kamu kedinginan?" James membuka jaket nya dan memberikan jaketnya pada Al. Al menerima dan memakai nya. James bersedekap dan ia merasakan hawa dingin yang menusuk,  James heran Edwin dan Mei tidak kedinginan,  apa karena mereka berpelukan? Entahlah.


"Kemejamu tipis, nanti kamu kedinginan juga,  pulang saja yok James," tanpa sadar Al memegang lengan James, James menoleh dan melihat Al yang memegang lengannya. Al cepat melepaskan dan menatap wajah James dengan takut.


"Yah, aku memang mulai merasa dingin," ujar James. Al akan mem buka jaketnya namun ditahan oleh James. 


"Pakailah, kita akan pulang," ujar James lagi. Alice tersenyum dan James tidak menyukai itu.


"Edwiiin, Meeei, pulang yuk, Alice kedinginan nih, eh aku juga sih," ajak James pada mereka berdua. Keduanya menoleh dan mengangguk menahan tawa.


Mereka berjalan menuju mobil James. "Al, gampang caranya biar nggak dingin," ujar Mei. Alice menatap Mei. 


"Minta peluk sama James, pasti hangat," suara tawa Mei dan Edwin berderai, wajah Al memerah, James membuka pintu mobil sambil melotot pada Mei.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang,Edwin dan Mei semakin jadi mengolok keduanya, James diam saja tak menanggapi, sedang Alice hanya tersenyum.


***


Edwin dan Mei melambaikan tangan pada James dan Al, lalu masuk ke apartemen mereka.


Sedang James mengantar Al sampai di depan pintu apartemen nya. Al mengembalikan jaket James dan tersenyum. 


"Makasih James,  jaketnya, makan malamnya," James hanya mengangguk. Dan saat jaket akan diambil dari tangan Al, Al memegang tangan James, menatapnya sekali lagi dan James menarik tangan serta jaketnya perlahan.


"Terima kasih juga,  kamu berusaha jadi normal," James memandang Al dan melangkah meninggalkan Al yang selalu saja menatap punggung James sampai menghilang dari pandangannya.


***


Al menyandarkan kepalanya pada pintu, memejamkan matanya dan memegang tangannya, seolah tangan James masih ia rasakan.


***


Sedang James berusaha memejamkan matanya,  sesampainya ia di apartemennya.


Perempuan aneh, pikir James. Tak lama ia mendengar notifikasi masuk ke ponselnya. Ia buka ponselnya,  dan mendapati pesan singkat dari Al


James, mungkin bagimu apa yang kita alami tadi hanyalah hal biasa,  lewat begitu saja, tapi bagiku adalah awal untuk mengenalmu lebih jauh.. aku akan memenuhi janjiku untuk tidak mengganggumu, tidak akan datang lagi padamu, aku hanya akan menunggumu... Selamat tidur....

__ADS_1


Dan James benar-benar tidak bisa tidur...


__ADS_2