
*SUK*
#30
Mama, ada apa antara aku dan om Ben, apa ini akan menjawab pertanyaanku sejak kecil mengapa wajahku tidak seperti mama dan papa?Edwina memandang nanar pada laki-laki yang ada di seberang jalan, yang detik berikutnya sudah melangkah, sambil memasukkan tangannya dalam saku jaket, menunduk dan entah akan ke mana.
Bu Minda berdiri dan memeluk Edwina. Ia menangis sejadinya.
"Maafkan mama, maafkan mama yang tidak bisa menjadi mama terbaik untukmu dan Edwin," ujar bu Minda dalam isakannya. Edwina memeluk mamanya.
"Mama, aku sudah dewasa, mama jangan merasa bersalah, aku hanya ingin memastikan tidak akan menyalahkan mama, selama aku jadi anak mama tidak ada yg salah dengan mama, mama dengarkan aku dulu, hentikan tangisan mama, aku hanya ingin kejelasan saja," Edwina melepas pelukannya, melihat mata mamanya yang penuh luka, ia semakin merasa bingung.
"Kalau boleh saya sarankan, lebih baik mari kita duduk, mari kita bicara baik-baik, ini memang masalah masa lalu yg sangat menyakit kan jika dibuka,tapi akan lebih baik terbuka daripada akan selama nya menyimpan tanda tanya," ucap James perlahan.
Bu Minda dan Edwina akhinya duduk.Edwina menggenggam kedua tangan mamanya, memandang mamanya dengan tatapan iba, ia tidak mengira.mamanya menyimpan cerita masa lalu yang menyakitkan.
"Ceritakanlah mama, aku tidak akan memotong, tidak akan menyalahkan mama ato siapapun," Edwina memberi kekuatan pada mamanya, ia tetap menggenggam tangan mamanya.
Perlahan dan terbata- bata bu Minda menceritakan semuanya dari awal. Edwina terperangah mendengar cerita mamanya, betapa hebat cobaan dan penderitaan mamanya, sementara James hanya menunduk mendengar kan cerita bu Minda. Setelah selesai, James pun menceritakan kehidupan rumahtangga papa dan mamanya, Edwina kembali hanya menggelengkan kepala nya perlahan, ia berkali- kali menghembuskan napas berat. Edwina mengelus lengan James perlahan, dan memandang wajah James yg baru disadari Edwina bahwa dirinya lebih mirip James dari pada Edwin.
"Mama, mama tidak perlu merasa bersalah atau apapun, takdir mama yg rumit seperti ini, rasanya tidak adil jika aku juga ikut memberi luka pada mama, dan aku ingin bertemu om Ben lagi mama, sebelum aku dan anak-anak kembali ke Singapura," Edwina menatap mata mamanya. Bu Minda hanya mengangguk.
"Silakan jika itu keinginanmu, namun permintaan mama, jangan menyuruh mama untuk duduk satu meja dengan kalian, silakan kalian bertemu dimana," bu Minda menatap Edwina dengan tatapan sedih.
James menatap sendu pada bu Minda. "Tante belum memaafkan papa?" tanya James.
"Sayaaang, tante sudah lama memaafkan papamu, bahkan sebelum Edwin lahir, tapi bukan berarti tante lupa pada apa yang ia perbuat, selamanya akan tante ingat, karena memaafkan bukan berarti tante harus berwajah manis dan tertawa riang bersama, tante bisa menjalani hidup normal, tidak mencaci papamu, bisa bersikap wajar padamu itu tandanya tante sudah memaafkan papamu," bu Minda menjelaskan sambil memegang tangan James dan James mengangguk perlahan.
"Boleh saya telpon papa tante?" tanya James.
__ADS_1
"Silakan, duduklah disini Edwina, mama mau masuk," bu Minda menyentuh lengan James perlahan, tersenyum dan melangkah masuk sambil menyeka sisa air matanya.
***
Bu Minda membuka pintu apartemen Meisya dan mendapati Meisya sedang duduk berdua dengan Edwin di sofa, terlihat Edwin yang menciumi kepala Meisya dan kaget saat bu Minda melangkah mendekati mereka.
"Mama jalan-jalan sama James, tadi kak Edwina nyusul ma, pengen tahu foodtruck langganan kita," ujar Edwin sambil menatap mamanya yang terlihat sedih.
"Mama nggak papakan?" tanya Edwin menatap mamanya dan duduk di dekat Meisya. Bu Minda menghembuskan napas dengan berat, memeluk lengan Meisya dan menyandarkan kepala nya pada kepala Meisya.
Ibuuu, ibu nggak papa kan?" tanya Meisya pelan. Terdengar isakan bu Minda. Bu Minda mulai bercerita tentang percakapannya dengan James, Edwina yang tiba-tiba muncul dan semua percakapan mereka bertiga.
"Mama kenapa nangis ma, kami nggak akan menyalahkan mama, ini takdir dari Tuhan yang terkadang kita sendiri nggak mampu untuk mikir mengapa ini terjadi kami anak-anak mama, mencintai mama, apapun yg terjadi, mama dulu dan mama sekarang," Edwin memandang mamanya yg masih saja menangis.
"Mama hanya berpikir, mengapa setelah keadaan baik-baik saja, dia datang lagi, mama sudah memaafkannya berpuluh tahun lalu, tapi untuk bersikap baik lagi, wajar lagi rasanya tidak mungkin Ed," mama masih mengisakkan tangisnya.
"Mamaaaa, akan lebih baik begini, mama tidak akan punya beban lagi karena masalah sudah selesai dan kak Edwina sudah tahu, kami dibesarkan mama dengan kasih sayang dan kerendahan hati papa mengajarkan untuk selalu bisa memaafkan orang betapapun sakitnya efek dari perbuatan orang lain, karena kebesaran hati kita ditentukan bagaimana cara kita menghadapi orang yang menyakiti kita," Edwin sampai berlutut di depan mamanya untuk menghentikan tangis mamanya. Bu Minda akhirnya memeluk kepala Edwin kedadanya
***
Om Ben menatap Edwina dengan tatapan yg sulit diartikan, mata nya terlihat berkaca- kaca. Edwina berdiri dan berjalan mendekat.
Om Ben mengulurkan tangannya hendak bersalaman namun Edwina memeluk om Ben dan merasakan dadanya yang tiba-tiba sakit dan berdegup kencang. Om Ben menangis tanpa bersuara, air matanya mengalir deras, ia usap rambut Edwina, darah dagingnya yang selama berpuluh tahun sangat ingin ditemuinya.
Mata James berkaca- kaca melihat papanya yang mengeluarkan air mata dengan deras. Ia melihat pelukan erat papanya pada Edwina.
"Terima kasih telah memelukku, maafkan papamu jika kau mau menyebutku papa," suara om Ben terdengar terbata-bata.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan pa, sudah jalan hidup kita seperti ini, aku tidak akan menyalahkan siapapun, aku bersyukur tumbuh dan besar dalam keluarga penuh kasih, sehingga saat mengalami goncangan seperti ini tidak mudah menyalahkan siapapun," Edwina mengurai pelukannya dan sesaat melihat wajah lelah di depannya.
__ADS_1
"Boleh sewaktu-waktu aku menemuimu di Singapura?" tanya om Ben pada Edwina.
"Boleh, boleh jika papa ingin, asal papa menelpon dulu, kawatir aku sibuk dengan urusan perusahaan," Edwina duduk di samping James, James melihat Edwina dan menatapnya dengan penuh kelegaan.
"Terima kasih," ujar James.
"Yah, sama-sama, kita ditakdirkan bersaudara James, kita tidak tau takdir telah membawa kita sampai sejauh ini, sejak kecil aku selalu bertanyatanya mengapa wajahku berbeda dengan papa, mama dan Edwin, setelah berpuluh tahun,inilah jawabannya" ujar Edwina menatap wajah James. James menghela napas dan tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Kita balik ke apartemen ya pa?" tanya James. Namun pembicaraan mereka terhenti saat terlihat Edwin dan Meisya yang mengejar anak-anak Edwina.
"Mamaaa, mama kok ninggalin Tiffany, malah disini sama grandpa," Tiffany terlihat menekuk wajahnya.
"Hei sini anak-anak cantik, mau ikut grandpa jalan-jalan cari makanan tuh disana, ada burger enak, mau?" om Ben terlihat cerah seketika wajahnya.
"Mau maaauuu, ikut grandpa ya mama," anak-anak Edwina terlihat menarik-narik tangan Edwina.
"Ayolah sekalian saja yok bareng semua," ajak Edwina pada Edwin, Meisya dan James.
Anak-anak Edwina terlihat berlari-lari dengan riang.Sementara Edwin merangkul pundak Meisya dengan mesra dan sadar saat Edwina menepuk bahunya.
"Haduuuh brenti dululah kalian, ntar aja setelah nikah di puas-puasin mesra-mesraannya," goda Edwina. James hanya tersenyum melihat Edwin yang tertawa dan Meisya yg tersenyum menahan malu.
"Oh iya Ed, nanti waktu nya ke dokter orthopedy, kontrol rutin Mei,"James mengingatkan Edwin. Edwin mengangguk sambil memperlihatkan jempolnya.
***
Bu Minda duduk di sofa, memeluk bantal ke dadanya. Menghela napas dan ia merasa bersyukur semuanya berjalan diluar dugaannya. Ia melangkah ke dapur dan mulai menyedu teh panas, mengiris lemon dan memerasnya pada teh yg akan dia minum, saat akan membuang lemon yang telah ia peras ke tempat sampah, bu Minda melihat ada semacam benda mencurigakan, agak tersembunyi diantara sampah- sampah kertas, ia ambil, ternyata testpack, dadanya semakin berdegup kencang saat melihat dua garis pada test pack tersebut ....
__ADS_1
_bersambung_