Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
18


__ADS_3

"Meisyaa...," tante Melda memeluk Mei yg sudah melepaskan pelukannya pada lengan Edwin.


"Kenalkan tante ini kak Edwin," ujar Meisya dengan tatapan dan sinar mata yang tampak bingung, Edwin dan tante Melda bersalaman namun Edwin segera mundur dan membiarkan dua wanita dihadapannya berbicara.


"Maaf,tante datang lebih pagi, papa James tiba- tiba memajukan jadwal keberangkatan karena banyak yang akan diselesaikan disini, mau kemana pagi-pagi Meisya?" tanya tante Melda menatap Meisya yang terlihat bingung.


"Sarapan tante,  kebetulan di depan sana ada foodtruck, nggak papa ya tante, kita sarapan disana," Meisya mengajak tante Melda melangkah dan menoleh memandang Edwin yang mengangguk mengikuti langkah Meisya.


***


"Kita duduk disini saja,  sayang," suara Edwin yg lembut mengagetkan Meisya dan tante Melda


 


"Iii..iiyaa,"ujar Mei gugup.


Mereka memesan sarapan dan duduk bertiga di area dekat foodtruck. Ada beragam masakan dan makanan yg bisa dipilih, masakan Indonesiapun ada dalam menu pilihan.


"Hmmm maaf jika saya boleh tahu kalian kakak adik atau sepupu?"tanya tante Melda bersamaan dengan makanan yang mereka pesan datang.


Edwin mengambil makanan miliknya dan berdiri,tersenyum ramah pada tante Melda.


"Maaf tante saya akan pindah meja, silakan jika tante akan melanjutkan percakapan dengan Meisya, aku pindah ke sana sayang ya," Edwin melangkahkan kakinya dan duduk agak menjauh, membiarkan Mei menyelesaikan masalahnya. Tante Melda kembali menatap Mei dengan tatapan penuh tanya.


"Boleh tante tahu sayang, kamu dan Edwin memang kakak adik? Eemmm kandung maksud tante?" tanya tante Melda mengulang pertanyaannya, mulai menikmati salad dan hot lemon tea. Meisya memegang jari tante Melda dengan perasaan campur aduk.


"Tante, tante janji mendengarkan cerita Mei sampai selesai ya tante, Mei akan menyelesaikan sarapan Mei dulu, maaf ya tante, bentar aja, cuma coklat hangat sama chesee cake aja kok tante, nggak akan lama," Mei menyelesaikan sarapannya dengan segera, menghabiskan coklat hangatnya dan memesan air mineral sebotol. Tante Melda memperhatikan Mei dengan tenang, ia hanya berharap tidak ada kejutan dari cerita Meisya nanti.


Terlihat Edwin melangkah, menuju taman yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


Meisya terlihat meneguk air mineral dan menatap tante Melda dengan tatapan agak takut.


"Tante, tante janji ya akan mendengarkan Mei, tante janji apapun nanti yang akan Mei ceritakan, tante nggak benci sama Mei," Mei terlihat semakin kawatir, tante Melda tersenyum memegang jemari Mei.


Dengan terbata-bata Mei menceritakan semuanya tanpa dikurangi dengan mata yang semakin mengabur dan isakan tangis yang semakin lama semakin menjadi.


"Maafkan saya tante,  saya tidak bisa menolak keinginan James, dia terlalu baik untuk saya,  maafkan saya jika saya menyakiti tante, tante harus sehat, harus, agar James bisa menemukan tempat pulang ternyaman, dia selalu mengatakan bahwa tante adalah segalanya baginya, tante harus sembuh," suara tangisan Mei membuat tante Melda menahan tangis,  ia berdiri dan memeluk kepala Meisya. Meisya akhirnya berdiri juga dan menangis di bahu tante Melda.


"James mencintaimu Mei, tante bisa melihat dari caranya menatap mu, tapi ia datang terlambat, tante yakin ia berangkat ke Korea karena cintanya yang besar kepadamu,  dan memilih mematikan perasaannya, tante tetap akan menganggapmu sebagai anak tante, tante juga terlanjur mencintaimu dan tak akan mengubah perasaan itu dihati tante, jangan karena masalah ini kita jadi jauh Mei," tante Melda mengurai pelukannya, menghapus air mata Mei.


"Tante dan om memang sangat berharap kamu menikah dengan James tapi James datang terlambat dalam kehidupan kamu, tapi yakinlah perasaan tante tidak berubah padamu," tante Melda kembali memeluk Mei dengan erat.


Edwin melihat dari jauh dengan lega,ia yakin Mei pasti sudah menyelesai kan masalahnya. Edwin berjalan pelan mendekati keduanya. Begitu melihat Edwin, Mei melepaskan pelukan tante Melda pelan. Tante Melda menoleh pada Edwin dan berusaha tersenyum


"Maaf jika kami telah mengganggu hubungan kalian, Meisya telah membuat kami jatuh cinta, meski ia tidak berjodoh dengan James, perasaan tante pada Mei tidak akan berubah, maafkan James, maafkan kami," ujar tante Melda menatap Edwin yang tersenyum sambil menggangguk.


"Sama-sama tante, saya juga minta maaf jika akhirnya ada suasana tidak nyaman," ucap Edwin pelan. Akhirnya tante Melda pamit pada Meisya dan Edwin. Saat akan melangkah tiba- tiba tante Melda sedikit berjalan terhuyung, Edwin cepat meraih bahu tante Melda.


"Tante, tante baik-baik saja kan?" tanya Edwin terlihat kawatir.


"Tidak apa-apa, tante paling kecapean, dari Perth langsung kesini tadi," jawab tante Melda tersenyum dan berlalu meninggalkan Edwin serta Meisya yg masih menatapnya cemas.


***


"Aku jadi merasa bersalah sama tante Melda tadi sayang," ujar Meisya setelah mereka kembali ke apartemen Mei.


"Tapi setidaknya kamu sudah tidak main kucing-kucingan lagi sama ortunya James, semakin lama berbohong, mereka akan semakin sakit, Mei," Edwin menenangkan Meisya.


"Tadi pas mau jatuh,  wajah tante Melda pucat loh kak," ucap Mei sedih.


"Iyah,  tadi kakak juga liatnya gitu, kakak agak cemas juga sebenarnya Mei, semoga nggak papa," Edwin melangkah ke kamar dan berganti baju dengan baju rumah, kaos dan celana pendek.


"Jadinya kita nggak ke mana-mana ini ya kak?" tanya Mei melangkah ke kamarnya hendak berganti baju pula.


"Nggak lah Mei, kita di sini saja, omong-omong, duduk-duduk di sofa ato di kasur aja," jawab Edwin setengah berteriak.


"Nggaaaak jangan di kasur kak, Mei takut kita ngapa-ngapaiiin,  kebablasan ntar," Mei juga berteriak dari dalam kamarnya. Edwin tertawa terbahak-bahak.


Mei keluar kamar dan melihat Edwin nonton tv,  entah acara apa.


"Nonton apaan kak?" tanya Mei.


"Nggak tau, daripada nggak ada kerjaan," Edwin memindah- mindah channel.


"Kakak berarti besok pagi ya mau balik?"tanya Mei menatap Edwin dari dekat, mereka duduk di sofa berdua.


"He eh mau ikut?" tanya Edwin, pandangannya masih ke tv.


"Mauuu, tapi kan nggak mungkin," Mei merengek pelan. Edwin memandang Mei dengan lembut. 

__ADS_1


"Dua minggu lagi kakak pasti kesini, mama pingin ikut katanya," Edwin melihat mata Mei yang terbelalak dan memeluk Edwin dengan erat.


"Bener ya kak, ah senangnya ibu Minda ikut, kita jalan-jalan bertiga ntar ya kak?" mata Mei bersinar cerah Edwin mengangguk sambil tersenyum.


***


Malam hari saat Mei akan tidur Edwin masuk ke kamarnya. 


"Sudah ngantuk?" tanya Edwin. Mei menggangguk pelan. Edwin mengusap kepala Mei pelan dan ikut berbaring di samping Mei.


"Tidurlah, kakak hanya akan memelukmu," Edwin memeluk Mei yang mulai terlelap. Diciuminya kepala Mei berkali-kali. 


"Ah semoga tidak ada lagi yang mengganggu kita Mei, kakak tidak mau kehilangan kamu," ucap Edwin lirih, Mei sudah terlelap. Dan Edwin semakin mengeratkan pelukannya.


***


Pagi-pagi terlihat Edwin sudah siap menuju bandara. 


"Aku balik dulu ya sayang, jaga diri baik- baik, aku mau bilang mama, lebih baik kita nikah saja, meski kamu belum lulus, aku ngeri meninggalkan kamu tanpa ikatan yang pasti," ujar Edwin pelan, namun sanggup membuat Mei terbelalak.


"Katanya mau nunggu Mei lulus?" rengek Mei. Edwin menggeleng pelan.


"Tidak, aku merasa itu jalan terbaik, tidak apa-apa kamu nunda kehamilan, tapi dengan kita menikah, aku menjadi tenang Mei," Edwin mencium bibir Mei pelan. Meisya mengantar Edwin sampai diluar apartemen. Edwin menoleh sekali lagi dan melambaikan tangannya. Mei terlihat resah. Mengapa Edwin tiba-tiba berubah pikiran? 


*****


Malam hari, saat akan masuk ke kamarnya, Edwin mendengar sapa mamanya.


"Kok sampek nambah hari di Aussie Ed, mama sih nggak papa, cuma ya kalian berdua disana,  benar-benar berdua,  mama kawatir kalian jadi lupa batasan yang pantas ato tidak," ujar bu Minda perlahan. Edwin menoleh dan tersenyum. Berbalik lalu melangkah mendekati mamanya.


"Mama, kita ke ruang makan aja ya, ada yang mau Ed bicarakan," Edwin dan bu Minda melangkah menuruni tangga menuju ruang makan. Bu Minda duduk dan melihat Edwin yang masih mengambil air minum di kulkas dan duduk di hadapannya. Membuka jas dan meletakkannya di sandaran kursi.


"Tadi siang aku sudah di sini kok ma,dari bandara langsung ke kantor, aku nambah hari disana karena Mei ada masalah, masalah yang aku pikir penting ma untuk kelanjutan hubunganku dengan Mei," ujar Edwin memandang mamanya dengan tatapan serius.


"Oh ya, memangnya ada apa, rasanya nggak mungkin Mei akan menduakanmu, mama kenal betul anak itu sejak kecil, dia anak yg manis, jujur, meski ya kadang terlalu polos dan lugu," Bu Minda sedikit terkejut mendengar cerita dari Edwin.


"Nah ya itu lah ma yang bikin masalah, Mei memang tidak menduakanku, tapi kebaikan, kejujuran dan kepolosannya itulah yang jadi penyakit bagi hubunganku dan Mei," Edwin melipat kemejanya sampai ke siku menarik dasinya perlahan. Ia menghela napas lalu bercerita dari awal tentang James, lalu berlanjut sampai insiden Perth dan pertemuan Mei, Edwin dan mama James.


Bu Minda menghela napas berat,menggeleng perlahan dan tersenyum.


"Anak itu memang menyenangkan Ed, dia bisa membawa diri di tempat manapun, wajahnya cantik,  mungil, siapapun akan mudah tertarik bahkan jatuh cinta padanya."


"Makanya ma, maksud Edwin, gini, kan empat bulan lagi Mei libur semester, gimana kalo Ed nikah aja sama Meisya ma, kan jadinya aman kalo Ed berlama- lama di Aussie,  kalo Mei mau nunda punya anak gak masalah, yg penting Ed nikah dulu sama Mei,  Ed takut ma, ya ma,  boleh?" tanya Edwin menatap cemas wajah mamanya. Bu Minda terlihat mengangguk dengan cepat dan tersenyum semakin lebar.


"Ah Edwin mama sebenarnya memang ingin kalian segera menikah, mama sangat setuju, iya sayang iya, tapi apa kamu sudah membicarakan ini dengan Meisya?" tanya bu Minda serius.


"Sudah tadi pas aku mau ke bandara,  tapi nggak membahas sampe serius ma, dan kayaknya Mei kurang suka,  maunya dia setelah lulus saja, aduh kelamaan deh ma, mama mau kan bujuk Mei, ntar dua minggu lagi mama kan mau ikut ke Aussie,  sekalian bujuk Mei ya ma," pinta Edwin dengan wajah serius. Bu Minda menahan tawa melihat wajah Edwin.


"Pasti, pasti mama akan membujuk Mei, Edwiiiin Edwin, sekarang ajaaa maksa maksa mama buat bujukin Mei mau nikah sama kamu, hmmm coba dulu awal awal Mei disini,  marahlah, ngusirlah,  halaaah halah," mama tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Edwin hanya menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah memerah. Tiba-tiba bik Sum sudah ada di belakang mama.


"Ada apa to Nyah kok malam-malam masih saja bercerita dan sepertinya den Ed bawa kabar bagus, sampe bikin mamanya tertawa," tanya bik Sum.


"Ini loh bik, Edwin nyuru saya buat bujuk Mei mau nikah sama Ed,  kok nggak ingat duluu waktu Mei diajak tengkar, ngusir juga," mama kembali tertawa dan bik Sum akhirnya juga ikut tertawa.


"Hoalah nyaaah bener banget, anak baik kok ya diajak tengkaaar terus, dikata-katain, dikasari,  ealah ndilalah kok ya akhirnya mau diajak nikah, deeen den, lucu banget cerita dua anak ini nyah, ayo cepet nikah mumpung bik Sum masih sehat, nanti anaknya den Ed biar bibik yang asuh," bik Sum kembali tertawa.


Akhirnya Edwin mengalah,  meninggal kan keduanya yang tertawa tanpa henti, melangkah menuju kamarnya.


***


Edwin membuka pakaiannya dan segera ke kamar mandi. Setelah selesai ia terburu-buru keluar dari kamar mandi saat terdengar ponsel nya berdering panggilan video dari Meisya...


Apa sayang, kok tiba- tiba nelpon, kangen ya..


Ih kakak kok gak pake baju, baru mandi ya kok rambutnya basah- basah, malem-malem baru mandi


Iya, ini baruuu aja aku selesai mandi, dari tadi omong-omong sama mama


Wah ibu Minda belum tidur juga jam segini?


Belom, ya ngomongin itu yang aku bilang ke kamu


Apa?


Kita nikah


Emmmm kok tiba-tiba sih kak, kakak kan bilang mau nunggu Mei lulus


Nggak sayang, aku takut, takut kamu ada yang ngambil

__ADS_1


Ih, siapa yang mau ngambil lagian


Ya siapa aja, buktinya kan hampiiir aja


Yeeee nggak juga kali


Hmmm seandainya dibiarin, diambil beneran kamu sama James, aku kejar bener kalo sampe kamu dicuri


Trus gimana kata ibu kak


Ya mama maulah, seneng malah, makanya ntar pas ke Aussie mama mau bilang langsung ke kamu


Hmmm masak kakak nggak kuat nunggu sampe aku lulus


Haduh, ini lagi, bukan masalah nggak kuat,  aku nggak mau kamu ada yg ngambil, dengan kita nikah, siapapun yang deketin kamu akan mundur sayaaang,  mau yaaaa kita nikah


.....


Loh kok diam, kamu kenapa nggakmau nikah sama kakak, malu?


Aku mau kok nikah sama kakak, tapi nggak sekarang-sekarang


Trus kapan?Mau nunggu ada yg gangguin kamu lagi, ntar ada insiden Perth lagi


Ya deh kak


Kok gitu suaranya, kakak sambil pake baju ini Mei


Iya dah, aku nggak liat kok


Kok gitu suaranya, kayak nggak suka nikah sama kakak


Suka kaaak suka, mauuu tapi


Tapi lagi


Ya dah....kaaaak, kapan kesini lagi


Hahaahah kamu itu lucu, diajak nikah ogah tapi selalu nanyain kapan kakak ke kamu


Mei males sendiri, jadinya kangen kakak terus


Makanya, nikah ya, biar kakak semangat nemuin kamu tiap minggu


Hehehe iya deh


Lagian kalo kita nikah kan dah halal mau ngapa-ngapain, kayak yang kamu tulis di buku harian kamu tuh


Aaaah kakak, nggak usah ngomong itu, bikin aku malu aja


Hahahahah lah kan bener, kamu bilang pengen gimanain kakak


Aaaahh bodo bodo ah, nggak mau dengerin Mei


Iya iyaaaa, udah malem sayang, tidur ya,  bukannya kakak nggak kangen, tapi biar kamu nya nggak capek, besok kakak telpon kamu ya


Iya dah, muah kakak, love you


Love you too Meisya


Edwin menutup sambungan videonya dan tersenyum perlahan, ada rasa kangen yang mendadak menyeruak di dadanya. Mei rasanya terlalu lama menunggu empat bulan. Edwin meletakkan ponselnya. Merebahkan badannya dan memejamkan matanya berusaha menghilangkan bayangan Meisya.


***


Pagi-pagi Meisya dikejut kan panggilan dari ponselnya. Ah mama James? Ada apa pikir Mei,  bukankah seharus nya dia ada di Perth,  ada apa ya pagi-pagi nelpon. Dengan bingung Meisya mendekatkan ponsel ke telinganya.


Yaa halooo


Meisya?


Oh om ada apa ya om?


Bisa datang ke rumah sakit tempat mama James di rawat?  Sejak tadi dia menanyakanmu


Rumah sakit mana ya om


Papa James menyebut kan nama dan alamat rumah sakit tempat mama James di rawat


Meisya menutup sambungan telponnya, ia bimbang, harus ke sana atau tidak? 

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2