Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
34


__ADS_3

*SUK*


#34


"Kalian kok bisa bareng sih?" tanya Kent pada Mei dan Alice.


"Eh nggak sengaja, aku ke ruanganmu mau mengembalikan bukumu, trus pas keluar ruanganmu karena kamunya nggak ada, kok aku ketemu Al, Al juga mau ke kamu Kent, ya sudah aku ajak kesini, pasti kamu ada disini,  dan bener ternyata, bukumu dah aku taruk di mejamu ya Kent," ujar Mei sambil sesekali melirik James yang entah mengapa wajahnya jadi aneh.


"Al ngapain kamu cari aku?" tanya Kent yang surprise melihat penampilan kakaknya yang terlihat bersih,  rambutnya yg biasanya dikuncir asal, jadi tergerai panjang hampir sepinggang, kemejanya yang biasanya lusuh, saat ini menggunakan kemeja berwarna biru yang lengannya dilipat sesiku dan kaos putih di dalamnya, celana jinsnya pun tampak bersih, tapi tetap dengan sepatu bootnya.


"Eeem ini aku bikin hiasan gantungan kecil yang bisa diletakkan di depan pintu rumah ato apartemen, ini kalo kalian bertiga mau," suara Alice terdengar grogi, ah tidak biasanya pikir Kent.


"Waaaah cantik banget Alice, aku mau," Meisya mengambil satu untuknya dan satu lagi ia pilihkan untuk James, ia letakkan di depan tumpukan pekerjaan James.


"NihJames punya kamu," Mei menatap James yang masih saja asik dengan pekerjaannya. James mendongak menatap Meisya.


"Ada apa wajahmu kok aneh dosen ganteng,  ikut aku saja yok ngirim barang ke Indonesia, dua minggu lagi aku pulang, prepare nikah,  eh iya ini undanganku James, datang ya sama om Ben, aku ngarep banget yah," Mei menatap James yang wajahnya menegang menerima undangan dari Meisya.


"Nih buat kamu Kent, Alice ajak ya kalo mau," Kent menerima undangan dari Mei dan menatap Alice.


"Kamu mau ke Indonesia, kan sejak dulu kamu pengen," ajak Kent pada Alice dan Alice hanya mengedik kan bahunya perlahan.


"Datang ya Alice, bareng Kent, James juga, enak kan rame-rame, teman- teman juga mau datang loh James," Mei menatap James yang sejak tadi diam. Meletakkan undangan dari Mei di lacinya dan berdiri.


"Ikut aku bentar yok Mei, maaf Kent, Alice, aku tinggalkan kalian,"James keluar dari ruangannya sambil menarik tangan Mei. Mei berteriak-teriak


"Heiiii heiiii, aku mau maketkan barang dulu, Jaaaames aduh narik narik sembarangan."


Alice menatap kepergian James dan Mei dengan tatapan sedih, tapi setidaknya Alice mendengar untuk pertama kali ia disapa dengan benar oleh James, meski tanpa melihatnya.


"Kamu benar-benar menyukainya Al, kamu terlihat cantik hari ini," ujar Kent menatap kakaknya tanpa berkedip.


"Apa aku berlebihan Kent, awalnya aku mau pakai rok tapi aku melihat di cermin seperti bukan aku, biarlah dia melihatku seperti apa adanya aku," ucap Alice dengan suara datar.


"Kamu tetap cantik sekalipun tampil kumal, tapi kamu yg sekarang terlihat lebih manusia daripada penampilanmu tiap hari," Kent memandang kakaknya dari atas ke bawah. Alice memukul lengan Kent, Kent mengaduh dan tertawa sangat keras.


Mereka berdua meninggalkan ruang kerja James berjalan beriringan.


***


"Ada apa James kamu mengajakku ke tempat ini?"Mei menatap James sambil tersenyum. Sementara James menatap Mei dengan perasaan tak menentu.


"Entahlah, aku ingin mengajakmu makan, setelah kamu menikah rasanya tidak enak kalo kita sering terlihat berdua," James menikmati berbagai minuman yang ia pesan.


"Kamu mau apa sih James pesan minuman kok macem-macem?" tanya Mei heran tak biasanya seperti ini.


"Aku juga pesan makanan banyak, jadinya kan bener Mei, imbang sama minumannya," James berusaha bercanda.


"Kamu stres ya James?" tanya Mei menahan tawa. 


"Yah, karena kamu mau nikah, tahu, puas?" jawab James yang dibalas Mei dengan tawa tertahan.


"Kamu tertawa bahagia,  sementara aku sedih kayak gini," ujar James pelan.


"Jaaames jangan bikin aku sedih, kamu tetap dosen gantengku, kakakku, sahabatku, eh James, kayaknya, baru kayaknya niiiiih kakak si Kent suka kamu deh,  aku liat dari tatapannya sama kamu, groginya tadi, kayaknya baik deh dia James," ujar Meisya memegang lengan James. James hanya mendengus kesal.


"Aku belum siap untuk jatuh cinta lagi Mei,  biarlah aku sembuhkan dulu, aku mau berhubungan dengan seseorang saat hatiku benar-benar siap, aku tidak mau pikiranku mendua,  kamu terlalu mengusai hati, pikiran dan emosiku," James menghentikan luapan emosinya saat makanan yang ia pesan datang.


Mei terbelalak, apa maksud James kok pesan makanan banyak


"Makanlah, aku hanya ingin kenyang dan tidur,  berharap segera melupakanmu, dan hidup normal, mencintai wanita lain dan menikah" ucap James berusaha tersenyum meski Meisya melihat ada kilatan sedih dimatanya.


Meisya diam saja, ia merasakan kesedihan James, meski terlihat makan dengan lahap, sesekali ia melihat James memejamkan matanya dan bernapas dengan berat. Mei memegang tangan James, James menatap Mei yg ada dihadapan nya, menghentikan suapannya dan berusaha tersenyum lalu melanjutkan makannya.


Saat James sudah merasa perutnya penuh ia hentikan, sementara Meisya sudah sejak tadi menghentikan makannya,  Mei merasa kenyang bahkan sebelum mereka makan karena wajah sedih James membuat Meisya merasa bersalah.


"Aaah aku sangat kenyang Mei, pulang yuk," ajak James dan di saat bersamaan muncul Kent dan Alice.


Mei berteriak memanggil mereka. Kent tersenyum lebar sementara Alice terlihat melangkah ragu saat melihat James yang sempat meliriknya meski sekilas.


"Wah siapa ini yg ulang tahun mengapa masih banyak makanan yang tersisa?" tanya Kent sambil menatap James dan Meisya bergantian.


"Nggak usah banyak tanya duduklah dan pesan minuman sana," ujar James.


Akhirnya Alice duduk di sebelah Meisya, ia merasa grogi karena kawatir James membandingkan dirinya dengan wanita cantik di sampingnya.


"Al, nanti sepulang aku dari Indonesia, boleh ya aku ke galerimu, aku ingin ikut kelasmu," ujar Meisya.


"Boleh, siapapun boleh," sahut Alice mengangguk. James melirik sekilas pada Alice yang duduk bersebelahan dengan Mei di seberang meja.


Akhirnya Mei dan James memutuskan untuk pulang menunggu Kent dan Alice selesai makan.


"Kamu kemana dulu Kent kok baru nyampe kesini?" tanya Mei. Kent melirik Alice sekilas.


"Ke ruanganku cerita- cerita dulu sama dia, maklumlah kami sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, jarang bertemu, kami kan sudah mandiri, tinggal di apartemen sejak kuliah, jadi ya kebersamaan kayak gini betul-betul kami manfaatkan dengan baik," Kent melanjutkan makannya.


Ponsel di tas Meisya berbunyi, Mei melihat ponselnya dan nama Edwin tertera di sana.


Halo kakak sayang

__ADS_1


Lagi di mana?


Nih makan sama James, Kent, kakaknya Kent juga, ada apa kak?


Nggak cuman mau bilang aja, bilang ke James, om Ben diharap banget hadirnya pas kita nikah, beliau orang sibuk jadi biar ngosongkan jadwal sibuknya supaya hadir pas kita nikah


Udah, tadi aku dah bilang sama James, eh iya, tadi aku maketkan barang kak, bilang ke orang rumah kalodatang taruk aja di kamarku


Taruk di kamarku ajalah, toh ntar jadi kamarmu juga


(seketika wajah Mei jadi memerah) ih kakak mesti


Eh benerkan, ntar lagi kita benar-benar sekamar


Udah ah malu, nih ada banyak orang disini


Iya dah, nanti kakak telpon lagi ya,bai Mei,  love you


Love you, kakak


Mei menutup sambungannya dengan Edwin dan memasukkan ponselnya dalam tas.


"Mei, kamu mesra banget sama si Ed,  nggak ngerti kita yang patah hati kamu tinggal nikah," Kent berusaha tertawa dan menyudahi makannya. Meisya hanya tertawa mendengar gurauan Kent, ia melihat wajah James yang menatap piring kosong.


"Yuk kalo kita mau udahan, aku sama Alice sudah nih, kamu stres apa depresi sih James, pesan makanan segitu banyaknya," Kent terbahak melihat wajah James yang menatapnya dengan pandangan tak suka.


"Ah banyak bicara kamu, ayo dah kita pulang saja" James berdiri diikuti oleh yang lain,  akhirnya mereka memutuskan ikut mobil Kent.


***


Mei menatap barang bawaanya, besok pagi jam 9 ia akan kembali ke Indonesia, menikmati liburan dan pernikahannya yang sudah di depan mata.


Ada kelegaan semuanya sudah siap. Mei melirik jam, masih jam tujuh malam, Mei beranjak ke dapur membereskan semuanya, agar besok ia tinggal berangkat saja.


Bel berbunyi saat ia baru saja selesai dengan urusan dapur. Ah siapa ya, pasti nih kalo nggak James ya Kent tapi Kent nggak pernah kesini sih. Siapaaa ya.


Mei melangkah ke pintu, dan muncul wajah yang tak pernah ia duga dan berteriak kegirangan, melompat dan memeluknya dengan mesra.


"Kaaaak...


*****


Kakak kok nggak bilang- bilang kalo mau datang," Meisya melepas pelukannya dan Edwin segera menurunkan Meisya dari dekapannya.


"Aku menjemput pengantinku," Edwin tersenyum mesra pada Meisya.


Pemandangan mesra yang menyakitkan bagi James karena ia melihat itu semua dari jauh, James berniat menemui Meisya karena Mei akan berangkat besok ke Indonesia untuk persiapan pernikahan nya, James tidak mengira jika Edwin datang menjemput. James membalikkan badannya, memasukkan tangannya pada saku jaketnya, berjalan pelan dan menunduk. Semoga bahagia Meisya.


Edwin memeluk bahu Meisya dan masuk ke apartemen Mei. 


"Besok kita pulang bareng, aku sudah mengirim tiketnya kan?" Edwin berusaha memastikan.


"Oh yaaa, aku belum buka, aku pikir ibu yang ngirim," Mei tertawa dan ujung kepalanya diciumi oleh Edwin.


"Kamu pasti belum makan nih kakak belikan fried chicken di fastfood sama french friesnya, nggak papa ya, aku tahu kamu nggak gitu suka, tapi makan ya Mei," pinta Edwin. Mei mengangguk cepat.


"Sayaang kalo di rumah, pas nggak ada orang kayak gini pakailah baju yang benar, jangan tanktop kayak gini, kamu kebiasaan deh, mana hotpansnya aduuuu bikin laki-laki pusing tau nggak, ayo sana pake baju yang bener, kakak tadi sudah diceramahi mama puanjang lebar, agar nggak ngapa- ngapain kamu," Edwin memandang Mei dari atas ke bawah.


Mei cuma nyengir dan masuk ke kamarnya, memakai kaos lengan pendek dan keluar menemui Edwin di kamar sebelah yang masih meletakkan tasnya.


"Kakak kok tiba-tiba datangnya sih, kok nggak ngasi tau ?" tanya Meisya di mulut pintu. Edwin menoleh dan melihat Mei sudah memakai kaosnya dengan benar.


"Naaah gitu dong sayang, pakai kaos yang benar, trus kenapa aku jemput kamu ya karena aku nggak ingin kamu kenapa-napa, masa calon pengantin pulang sendirian, sedih amat, aku ingin kamu menikmati setiap detik dalam hidup kamu penuh dengan kebahagiaan sampai akhirnya kita benar- benar bersama," Edwin berjalan mendekati Meisya yang terlihat agak takut karena mata Edwin terus menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, dipeluknya pinggang Meisya dengan lengan kanannya dan tangan kirinya memegang tengkuk Meisya.


Tak lama Meisya kembali merasakan gelombang menakutkan saat bibir Edwin kembali membawanya ke alam yang sulit dijangkau, lama, dan saat napas Meisya hampir habis ia dorong perlahan dada Edwin. Dan menyandar kan kepalanya pada dada Edwin yang berdebar keras.


"Katanya nggak akan gangguin Mei," suara Meisya terdengar lirih, memeluk pinggang Edwin dan mencubitnya pelan. Terdengar tawa pelan Edwin.


"Maunya gitu, tapi .... tapi kamunya seolah menarik aku terus Mei, makanya aku merasa bersalah pada James saat aku memintanya merawat kamu, saat kamu cedera kemarin, dia bilang jika aku menyiksanya, aku tahu dia mencintaimu tapi tidak dapat memilikimu, aku yakin, dekat denganmu akan menjadi siksaan bagi James, tapi dia harus realistis karena akulah yang berhasil memiliki hatimu iya kan Meisya," Edwin memeluk dan mengusap rambut Meisya. Meisya mengangguk pelan.


Meisya melepas pelukannya dan menuju ke sofa di ruang tamu. 


"Aku makan dulu ya kak, kakak mau ganti baju kan?" tanya Meisya menoleh. Dan Edwin mengangguk.


"Tunggu aku Mei, kita makan bareng," teriak Edwin mulai membuka jaket, kaos dan celananya, lalu berganti baju santai.


Mereka makan berdua saling menyuapi dan tertawa bersama, saat pintu ada yg mengetuk.


"Siapa ya kak?" tanya Meisya pada Edwin.


"Biar aku yang buka, hampir jam sembilan malam, pasti orang yang sangat mengenalmu, yang berani jam segini menemuimu," Edwin melangkah ke dapur untuk cuci tangan, lalu ke pintu dan benar dugaannya, wajah James ada disana.


Edwin tersenyum lebar, sementara James berusaha untuk bisa tersenyum, mereka berpelukan dan saling meninju bahu dengan pelan.


"Masuklah, kalo mau ayo makan bertiga," Edwin dan James berjalan beriringan dan Edwin tidak melihat Mei di sofa, tak lama Meisya keluar dari kamarnya dengan menggunakan celana jins. Meisya merasa tidak enak jika dia hanya menggunakan hotpants saat ada James, Edwin pasti marah-marah nanti.


"Ayo makan James, ini masih ada, kami hampir selesai, nggak papa ya, aku lanjutkan, aku lapeeeer banget," Edwin tertawa dan menawarkan Sofdrink pada James. James menggeleng dan memberikan goodybag pada Meisya.


"Ini Mei, kado untuk kalian, aku berikan di sini, karena nanti saat ke Indonesia aku nggak akan bawa barang banyak, paling baju ganti untuk dua tiga hari," Meisya menerima dan melihat kotak yang terbungkus apik berwarna gold.

__ADS_1


"Apaan nih James, berat banget?" tanya Meisya sambil meletakkan kado dari James di meja.


"Parfum, untukmu dan Edwin, sepasang, biar kalian jadi pasangan selamanya," ujar James sambil menelan salivanya yang mendadak sulit ia telan.


"Terima kasih doa dan kadonya James, aku selalu mendoakan, agar kamu juga menyusul kami menikah," ujar Edwin menatap James yang kembali berusaha tersenyum.


"Ih kakak, doainnya jangan ngeloncat, mau nikah sama sapa kalo belum ada pasangan, semoga cepet dapat pasangan, baru nyusul kita nikah, kayaknya sudah ada deh, cuman Jamesnya belum nyambung hihihi," Meisya menggoda James, sementara James melotot ke arah Meisya. Edwin menatap James penuh tanda tanya.


"Bener James, ah semoga segera jadian deh kalo gitu," ujar Edwin sambil tertawa.


"Ah itu karangan Mei aja," sahut James melihat Mei sekilas dengan tatapan tak suka dengan gurauan Mei tadi


"Eh beneran kak, kayaknya si Al itu suka sama kamu James, waktu di ruangan kamu itu ih dia cantik loh, pertama ketemu aduh kotooor semua bajunya, tapi pas ketemu lagi ih cantik dia ternyata, mutiara yang belum di asah gitu, bener deh James dia cantik, meski aku melihat matanya jadi sedih kalo liat kamu, paling karena kamu cuekin," ujar Mei kembali melihat mata James melotot padanya. Mei jadi tertawa dan Edwin geleng-geleng kepala melihat keduanya.


"Nggak usah sok melotot-melotot, mata kamu sulit melotot hahahaha ayolah Alice cantik loh," Meisya semakin menjadi menggoda James.


"Lama-lama dia menjengkelkan Ed, aku pulang saja, ngeladenin Mei bisa mangkel bener aku," James melihat Edwin yg juga tertawa.


"Siapa Al, teman kamu sayang?" tanya Edwin pada Mei. Mei menggeleng.


"Kakak si Kent, perupa dia, punya galery seni kak, keren banget, galerynya terkenal loh, aku pengeeen ntar ikutan kelasnya," Meisya menjelaskan pada Edwin.


"Oh yaaaa, ya asiklah, anak seni kayak gitu biasanya romantis loh James," ujar Edwin.


"Aduh, kalian kok kompakan sih ngerjain aku, aku pamit aja," James berdiri dan tawa Mei semakin jadi.


"Mau kemana sih James enak-enak cerita gini," kata Edwin mencoba menahan James.


"Udah malem, aku pamit ntar aku bareng papa ke pernikahan kalian," ujar James, Edwin dan James terlihat bersalaman, saat melihat Mei, James jadi agak bingung, ia ingin memeluk Mei tapi tidak mungkin karena ada Edwin, akhirnya James bersalaman dengan Mei dan mengacak rambut Meisya.


Bertiga mereka beriringan menuju pintu dan sekali lagi James menoleh. 


"Selamat yah, semoga kalian benar-benar jadi pasangan selamanya," James tersenyum dan melangkah meninggal kan mereka berdua.


Edwin menutup pintu dan Meisya berjalan mendahului Edwin, masuk ke kamarnya lagi dan membuka celana jinsnya. Saat keluar menuju sofa, ia melihat Edwin yang membersihkan bekas mereka makan tadi.


"Sudah malem kak, kita tidur aja, persiapan besok balik ke Indonesia," ajak Mei.


"Yah sana tidurlah, nanti aku nyusul," ujar Edwin yang membuat mata Mei membulat.


"Eh nyusul-nyusul gimana, kakak tidur di kamar sebelah," ujar Mei berkacak pinggang, Edwin tertawa dan menuju dapur untuk mencuci tangannya.


Meisya masuk ke kamarnya, membuka kaos lengan pendeknya dan mengantinya dengan kaos tanpa lengan, merebahkan badannya, berselimut tebal sampai ke lehernya. Mei berusaha memejamkan matanya dan tak lama ia pun tertidur.


Edwin masuk ke kamar Meisya dan mendapati Meisya yang sudah nyenyak tidur, Edwin geleng-geleng kepala.


"Secepat ini kamu tidur sayang, pasti ni anak kecapean, bersih-bersih sama nyiapin yang mau dibawa besok," Edwin merebahkan dirinya di sisi Meisya, menurunkan selimut Mei dan terlihat lengan Mei yang halus. Diciumnya sekilas dan Edwin berusaha memejamkan matanya.


Tidurlah Ed, jangan diapan-apakan dia, tahanlah, hampir kok hampir. Pikiran waras Edwin mengingatkannya


***


Meisya bangun dan mendapatkan Edwin yang tidur di sisinya, dilihatnya jam masih pukul empat, Mei melangkah ke kamar mandi dan kembali ke kasur merebahkan dirinya, tidur menyamping membelakangi Edwin.


Mei terpekik perlahan saat lengan besar Edwin memeluk pinggangnya dan menciumi kepalanya dari belakang.


"Kaaak jangan macem- macem, aku merinding loh, ingat janji kakak sama bu Minda," Mei berusaha menghentikan aktivitas Edwin.


Edwin tak mempedulikan Mei, malah mengusap perut rata Mei dan menyibak rambut panjang Mei dan menciumi leher Mei, Meisya merasakan badannya bergetar hebat, ia membalikkan badannya dan memukul lengan Edwin.


"Dibilangin kok, bikin pening aja kepala Mei, Mei nggak mau kakak nyium-nyium leher, bikin lupa segalanya, ayo sana mandi," Meisya menatap Edwin yang tertawa pelan, memejamkan matanya, terlihat jika Edwin berusaha menormalkan deru napasnya.


"Jam segini mandi, ntar aja pas mau berangkat, sekarang nih enaknya pelukan dulu," ujar Edwin masih memejamkan matanya dan tidur terlentang. Mei melotot melihat wajah Edwin yg terpejam tapi bibirnya tetap tersenyum.


"Kita berangkat awal kak, sarapan di bandara sekalian ya, berangkat jam tujuh tuh kak," Mei memberikan saran. Edwin hanya mengangguk dan menoleh melihat jam.


"Ah masih setengah lima Mei, jam enam saja kita mandinya, sekarang kakak...."


Kembali Edwin memegang tengkuk Mei dan menciumnya dengan kasar, Meisya sempat kaget dan berusaha mendorong dada Edwin, dengan cepat Edwin memegang tangan Mei dan melepas ciumannya, Mei terengah dan memukul dada Edwin. Dan segera duduk lalu memegang bibir bawahnya yang terasa kebas.


"Ih kalo lapar dan pengen ngemil tuh masih ada sisa cemilan Mei di meja makan, heran deh bibir dimakan- makan kayak gini,"suara Mei terdengar meninggi, dan Edwin tertawa dengan keras.


"Sayaaang ntar kalo sudah jadi istri aku, nggak boleh protes- protes dengan suara keras gitu, malu sama mama, aku ngapain aja sama kamu, dieeeem aja yaaa, aduh Meeei Mei," Edwin masih saja tertawa.


"Makanya pelan-pelan, main nyosor aja, pake kekerasan lagi," Meisya masih saja marah dan Edwin yang masih tertawa dengan suara keras.


"Aku mandi duluan kak," ujar Mei menuju kamar mandi, Edwin hanya mengangguk. Tak lama Mei keluar dan Edwin menggantikan. Mereka bersiap-siap menuju bandara.


***


Jam tujuh tepat keduanya terlihat meninggalkan apartemen dengan membawa dua travel bag ukuran sedang.


***


Sesampainya di bandara mereka sempat sarapan. Edwin menelpon mamanya dan memberi tahu jika mereka sudah di bandara.


Setelah sarapan terlihat Meisya masih ke toilet dan kembali duduk di sisi Edwin. Keduanya terlihat asik dengan ponsel masing-masing.


Edwin dan Meisya kaget, saat bahu keduanya ada yang menepuk dengan halus. Reflek mereka menoleh dan mendapatkan wajah ramah nan teduh di belakang mereka.

__ADS_1


__ADS_2