Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
40


__ADS_3

*SUK*


#40


Edwin terperangah menatap wajah mamanya. Ia bingung harus berkata apa, Edwin hanya menggenggam tangan mamanya. 


"Lalu mama, mama bilang apa ke om Ben?" tanya Edwin.


"Mama hanya sempat bertanya, seberapa parah, ia hanya mengatakan, parah atau tidak aku hanya butuh kamu sekali saja menguatkan aku, mama benci pada diri mama Ed, mama harusnya mengacuhkannya, membiarkannya kesakitan, seperti saat mama kesakitan melangkah meninggal kan rumahnya seorang diri, tapi mama malah kawatir pada nyawanya, kawatir bagaimana dia menahan sakit seorang diri," bu Minda menangis dan Edwin memeluk mamanya,  menenang kannya di dada Edwin.


"Mama masih mencintai om Ben kan, jika mama tidak mencintainya,  mama tidak akan sakit seperti ini," ujar Edwin mendekap erat mamanya.


"Tidak Ed, tidak, tidak ada cinta yang tersisa, mama hanya kasian di saat usia tuanya, dia sakit seorang diri, tidak ada istri dan anak yang menemaninya," buMinda masih saja terisak pelan


Edwin tidak berkata apa-apa lagi ia hanya memeluk mamanya dan merasakan isak mamanya yang semakin menghilang.


***


Edwin melihat Mei yang menemani mamanya makan malam di kamar. Mengambilkan air minum dan membawa piring kotor ke dapur.


"Mama, tidak menghubungi om Ben lagi?" tanya Edwin dan bu Minda menggeleng.


"Edwin jadi ingin menghubungi om Ben ma, papa teman Edwin ada yang sembuh dari vonis kanker kelenjar getah bening, maksud Ed kalo memang baru gejala awal bisa secepatnya kita carikan obat untuk penyakit om Ben, kanker kelenjar getah bening ato limfosit gitu kalo orang medis bilangnya, ato entahlah Ed kurang tau juga, maksud Ed, akan Ed pertemukan papa teman Ed dan om Ben," ujar Edwin dan terlihat wajah mamanya yang berubah penuh harap. 


"Oh iya Ed mama juga sedikit ngerti penyakit itu, mama ingat orang tua teman mama ada yang mengidap penyakit itu, udah rutin kontrol, kemo juga eh ternyata ya akhirnya meninggal juga Ed, mungkin kamu bisa ngubungi Ben, mama jadi sakit semua rasanya jika ingat ia sakit sendiri di saat tua seperti ini," tanpa sadar mamanya mengucapkan kekawatirannya. Edwin melepas pelukannya dan sekali lagi menatap wajah mamanya.


"Kita kuatkan om Ben ma, meski mama hanya bagian dari masa lalu om Ben,kita bisa berbuat baik untuk kehidupan om Ben, entah mama masih mencintai atau tidak tapi keresahan dan kekawatiran mama hingga sakit seperti ini menandakan mama masih memperhatikan om Ben, jika mama memang ingin menemani om Ben berobat silakan saja,  tidak usah berpikir tentang perasaan mama atau menoleh kebelakang lagi saat mama dibuat menderita oleh om Ben, janganlah ma,  jika mama selalu menoleh kesana, mama hanya akan menyakiti diri sendiri, mama ingin berbuat baik untuk om Ben tapi di satu sisi seperti ada yg menarik mama untuk selalu kembali ke masa lalu,  ya jadinya gini efek ke mama, sakit, tensi jadi tinggi dan kerja jantung mama jadi berat, keliatan kan sebenarnya kalo mama mikir om Ben?" tanya Edwin setelah pendapat panjang lebarnya ia ungkapkan.


Bu Minda hanya terpaku, ia ingin membenarkan semua kata-kata Edwin,  tapi ia bungkam, ia tak punya keberanian untuk mengiyakan pendapat Edwin.


Edwin kembali menggenggam tangan mamanya, menatap mata mamanya


"Mama harus kuat melawan perasaan mama sendiri,  berdamai lah dengan hati mama, Ed tahu kalo mama nggak akan pernah lupa pada rasasakit itu meski berpuluh tahun telah lewat, tapi mama orang baik yg nggak mungkin meninggalkanseseorang yang butuh perhatian mama, bagaimanapun om Ben pernah menjadi bagian dari hidupmama," Edwin mencium kening mamanya dan berdiri,  menatap mamanya sekali lagi, lalu keluar, ia membiarkan mamanya berpikir tentang apa yang akan dilakukannya selanjutnya.


***


Edwin merogoh ponsel dari saku celanya. Ia akan menelpon James,  James harus tahu,  bukan ia lancang memberitahu mendahului om Ben,  tapi kanker jenis apapun, stadium awal sekalipun tidak bisa dianggap main-main.


Berkali-kali ia telpon James namun tidak diangkat, pada paggilan ke lima barulah terdengar suara James.....


Halooo Ed, maaf aku baru dari kamar mandi, baru datang dari kampus, banyak kerjaan Ed, skripsi dan tesis mahasiswa yang masih aku koreksi, ada apa Ed?


Aku bingung juga mulai dari mana ngomongnya James ... gini duh, cerita dari awal sajalah ... mamaku tiba-tiba pingsan setelah dari bandara ... trus


Sbentar, sbentar Ed, apa karena papaku ya, kan gini Ed, aku melihat mamamu menurunkan kak Edwina sekeluarga tapi aku melihat anak kak Edwina yang kecil nangis, akhirnya aku liat mama kamu markir mobilnya, trus turun bareng, nah pas kakakmu boarding itu kan tante mau pulang kok papaku nekat berjalan mendekati dan megang lengan mamamu, aku hanya bisa terpana dari jauh, entah mereka ngomong apa yang jelas mamamu terlihat kaget dan setengah berlari ke parkiran dan wajah tante Minda terlihat sedih, maafkan papa ku Ed

__ADS_1


Aduh bukan masalah itu James, ini lebih penting lagi dan kamu harus segera tahu, sampaikan permohonan maafku pada om Ben jika dianggap lancang, papamu sedang sakit James,  beliau... beliau mengidap kanker kelenjar getah bening..


Kata siapa Ed? Tante Minda yang bilang? Masa karena itu mamamu terlihat kaget, lalu setengah berlari ke parkiran


Gini aku cerita kronologinya, jadi kata mama, papamu bilang kalo beliau ingin mama menemani, memberi kekuatan meski cuman sekali, dengan mendampingi papamu saat kemoterapi pertama, nah ini yang bikin mamaku dilema James...


Akuu... aku ngerti kok Ed


Maaf kalo kamu tersinggung James,  kadang aku merasa kalo orang tua kita ini sebenarnya masih sama-sama memendam rasa tapi ya itu, kisah masa lalu yang membelenggu mereka, maaf sekali lagi ya James, aku kawatir kamu masih ingat almarhum mamamu sehingga sakit hati dengan kata-kataku


Ah tidak, tidak Ed aku tahu kok, kalo papa sejak dulu hanya ada mamamu di hatinya


Aku bilang sama mama, silakan kalo mau menemani om Ben saat berobat,eh malah nangis nggak mau, masih sakit hati dengan kisah masa lalu, tapi mama malah sakit, tensinya sampe 220 kan artinya mamaku kepikiran sama papamu, aduh nih dia yang bikin bulan maduku tertunda


Hahahahah Eeeed, Ed orang tua sakit malah kamu mikir bulan madu, eh omong-omong penyakit papa, aku jadi ingat, akhir-akhir ini papa memang mudah capek, besok aku akan menelponnya,  kebetulan papa masih di Sydney, dia di apartemennya sendiri,  nggak mau tinggal sama aku..


Aku cuman gurau kok, James, bagiku dan Mei, mama lebih penting, bulan madu kan bisa ditunda, Eh James suaramu kok nggak kaget sih waktu aku bilang penyakit papamu?


Loh kaget sih pasti Ed,  masa aku harus teriak-teriak, tapi besok aku pasti menemuinya


Gini maksudku James tanyakan sejauh mana penyakitnya, separah apa gitu, karena ada orang tua temanku ada yg sembuh dari penyakit kanker kelenjar getah bening, aku akan tanya-tanya gimana caranya pengobatannya


Ok ok besok aku ke papa Ed


Edwin mematikan sambungan telponnya. Dan melangkah ke kamarnya, ia melihat Meisya yang sudah menggunakan baju tidur dan menatapnya saat menutup pintu.


"Belum tidur sayang?" tanya Edwin sambil melihat Mei yang merebahkan diri di kasurnya.


"Luas ya Mei kasurnya,  memang aku ganti sama yang lebih besar," terlihat Edwin mengganti kaosnya dengan kaos yang lebih tipis dan ikut merebahkan diri di samping Mei.


"Terlalu besar ini kak, muat tiga orang," ujar Mei memeluk guling dan membelakangi Edwin. Edwin memeluknya dari belakang dan menciumi telinga Mei.


"Kaaaak aku mau tidur,  udah kan di kamarku, masa lagi," suara Mei terdengar merengek.


"Kan disini belum, belum merasakan kasur baru," Edwin mulai mengelus perut rata Mei. Tapi Edwin memahami jika Mei masih lelah, ia peluk Mei dengan erat.


"Tidurlah, kakak tidak akan mengganggu," ujarnya pelan dan memejamkan matanya.


***


Pagi Edwin bangun sudah tidak melihat Mei di sisinya. Kemana Meisya, pagi amat bangunnya.


Edwin melangkah turun dan melihat istrinya asik di dapur dengan bik Sum


"Sayaaang kok aku ditinggal sih?" tanya Edwin berdiri di sisi Mei.

__ADS_1


"Aduuuh den Ed manjanya, bentar aja ditinggal malah nyusul,  jadi sesak nih dapur, sana dulu mandi, nanti tak siapkan sarapannya," ujar bik Sum tertawa memenuhi dapur.


"Bentar lagi sudah selesai kok, sana mandi dulu, sayangku cintaku," ujar Meisya sambil mencium bibir Ed sekilas.Edwin tersenyum dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.


***


Saat Edwin baru keluar dari kamar mandi,  Meisya masuk dan mengambil bathrobe hendak ke kamar mandi.


"Loh bukannya udah mandi sayang?" tanya Edwin.


"Iya, tapi mau mandi lagi, nggak enak keringetan lagi setelah dari dapur," Mei masuk ke kamar mandi dan Edwin menyusul masuk, Meisya berteriak dan bibirnya langsung di tutup oleh Edwin.


"Kaaak ngapain ikut masuk, kakak kan sudah mandi," ujar Mei setelah menarik tangan Edwin yg menutup mulutnya. Mei semakin takut saat Edwin mendekat dan menjatuhkan handuk yg melilit dipinggangnya.


Mei terpekik pelan dan Mei tak tau harus berbuat apa lagi saat Edwin mencium bibirnya dengar kasar dan tangan Edwin yang menjelajah ke mana- mana. Meisya akhirnya menikmati elusan dan ciuman Edwin yg selalu membuatnya hangat...


***


"Kemanaaaa tuh dua orang, katanya mau sarapan, dah disiapkan kok nggak turun-turun, mandi apa sambil nguras bak mandi ya, eh nggak ada baknya sih apaan dah tuh namanya betap bettap apah," bik Sum terdengar berbicara sendiri sambil menata hidangan di meja. Bu Minda yang tiba-tiba berdiri di sisi bik Sum hanya bisa tersenyum.


"Eh nyonyah, aduh Alhamdulillah sudah sehat, makan bersama disini ya nyah saya siapkan piring satu lagi," bik Sum bergegas ke dapur.


Edwin muncul dengan jas lengkap dan Mei mengiringi langkah Edwin di belakangnya.


"Halaaaah yoooo lamaa mandinya, ternyata main hujan-hujan berdua nyah," bik Sum tertawa sambil menutup mulut,  sedang bu Minda hanya menahan senyum menatap Mei yang wajahnya merona merah


"Ya gini ini bik, kalo bulan madu gak kesampaian akhirnya bulan madu terus di rumah," tawa Edwin pun memenuhi ruang makan Edwin duduk dan Meisya menuangkan air minum untuk Edwin dan bu Minda. Serta menyiap kan moccacino hangat untuk Edwin dan teh madu hangat untuk bu Minda.


"Kamu sudah mau masuk Ed?" tanya bu Minda.


 


"Iya ma, soalnya ntar mau cuti lagi kalo mama dah sehat, bulan madu maaaa," ujar Edwin menaik turunkan alisnya


Tiba-tiba ponsel Edwin berbunyi, dilihatnya nama om Ben di sana...


Halo om Ben


Selamat pagi Ed, maaf mengganggu, om boleh bicara dengan mamamu?


Oh iya iya om, ini mama (Edwin memberikan ponselnya pada mamanya)


Minda, aku mohon, datanglah ke Sydney meski hanya sekali, aku butuh kamu di sisiku sekali saja, jika akhirnya aku meninggal karena penyakit ini, aku akan tenang meninggalkan dunia ini


Bu Minda menatap mata Edwin dengan tangan bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca

__ADS_1


__ADS_2