Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
26


__ADS_3

*SUK*


#26


Sejenak Meisya membiarkan James memeluknya, lalu mendorong badan James perlahan. Namun James semakin mengeratkan pelukannya.


"Sebentar Mei, sebentar, biarkan aku melepas lelah dan kesedihanku, aku menahan ini sejak kau tiba di Perth," suara James terdengar parau dan sengau, menangiskah James?


Saat James sedang memeluk Mei, Mei melihat Gavin yang lewat dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar, lalu melangkah perlahan tanpa berisik sambil menjulingkan matanya dan menghilang, ****** akuuuu, pikir Mei.


"James, sudah ya, nggak enak dilihat orang, kita ada di mulut pintu," ujar Mei dan James melepaskan pelukannya. Menatap wajah Meisya sejenak dan mengalihkan pandangannya sambil mengatupkan gerahamnya dan memejamkan matanya.


Mei dan James berjalan beriringan, duduk di sofa dan terlihat jelas kelelahan serta kesedihan James,  matanya yang memerah semakin menegaskan bahwa ia baru saja menangis meski tak bersuara.


"Maaf mengganggumu," ujarnya pelan. Mei hanya tersenyum.


"Ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Meisya. James menggeleng.


"Aku hanya lelah Mei,  setelah pertemuan papa dengan mama Edwin, aku baru tahu sekarang,  mengapa papa tak pernah terlihat mesra pada mama, mengapa mama sering menangis sendiri di tengah malam. Mereka memang tidak pernah terdengar bertengkar, karena mereka sangat jarang berkomunikasi. Aku bahkan lebih sering melihat papa tidur terpisah dengan mama, kasihan mama," James terlihat semakin sedih, meremas rambutnya perlahan dan menyisir kembali dengan jarinya.


"Yah bu Minda juga bercerita banyak, tentang Kekecewaannya pada papamu, yang seolah membiarkannya menanggung sendiri beban hidup setelah ia hamil dua bulan,  papamu tidak berbuat apa-apa saat keluarga besar papamu mengusir bu Minda, hingga akhirnya ia menikah dengan sahabatnya yang mau menerima segala derita bahkan sanggup menghapus semua kelelahan bu Minda,  Bu Minda terlihat tidak ingin mengingat semua kisah masa lalunya James," ujar Mei perlahan dan hati-hati.


"Aku mengerti Mei, aku bisa merasakan pedihnya penderitaan mama Edwin," sahut James masih tetap melihat ke arah lantai.


"Mau minum James?" tanya Mei. James menggeleng. 


"Kamu mau kekampus?" tanya James sambil menatap Mei. Mei mengangguk.


"Kita bareng aja," James bangkit dan Meisya mengekor di belakangnya.


***


"Kamu mau apa ke kampus?" tanya James pada Meisya saat mulai memasuki area kampus. Mei memperlihatkan tugasnya pada James.


"Nih mau nyerahkan ini pada penggantimu yang menjengkelkan,  ini revisi ketiga tau, huh nyinyir banget diaaa,  bikin kesel, capek pikiran, teman-teman sekelas pada gak betah,  pengen kamu segera datang," Mei terlihat sangat kesal sedang James terbelalak.


"Kkaamu, seoramg Meisya, sampai revisi tiga kali?" James terlihat sungguh heran, dia menggeleng perlahan dan tersenyum.


"Iyyaaaa, sudah aku lawan, tapi dia pandai berkilah,  yah daripada gak dapat nilai,  aku pasrah, bukan cuma aku yang kayak gini James teman-teman juga,  cuman aku saja yang sampe revisi tiga kali, apa nggak bikin sebel," suara Meisya terdengar marah.


"Tuh dia James muncul yang kita bicarain,  panjang umur tuh bocah," ujar Mei menahan marah.


 


"Bocah?" tanya James.


 

__ADS_1


"Lah usianya gak beda jauh sama aku, bedanya cuman dia menempuh S 3 sekarang," Meisya masih terdengar marah.


James dan Meisya berjalan semakin dekat dengan orang yang dimaksud mereka berdua.


"James kapan datang,  turut berbela sungkawa ya James, maaf aku nggak bisa datang," ujarnya pada James.


"Nggak papa Kent, aku datang sebelum mama meninggal," jawab James. 


"Maaf Mr. Kent saya mau menyerahkan tugas saya," ujar Mei mengalihkan pembicaraan mereka. Terlihat Kent yang langsung kehilangan senyum di wajahnya dan menatap Mei dengan serius.


"Akan saya koreksi lagi," sahut Kent menerima tugas Meisya. Meisya mengangguk dan ia menyentuh lengan James, sebelum ia memberi kode bahwa ia akan melanjutkan masuk ke gedung jurusannya. James mengangguk.


"Nanti aku hubungi kamu Mei," teriak James agak keras. Mei menoleh dan mengangguk.


"Wanitamu?" tanya Kent sambil tersenyum kecut.


"Kalau iya kenapa, kalau bukan kenapa?" James balik bertanya.


"Waduh kok balik tanya senior?" Kent menggaruk-garuk kepalanya.


"Kalau iya, adu maaf, aku sempat naksir hehehe, kalau bukan,  boleh aku kejar dia?" wajah Kent berubah menjadi lucu karena menahan tawa dan agak takut juga, mengingat James adalah seniornya sejak kuliah sampai sama-sama menjadi dosen.


"Boleh aku pukul dadamu, atau lenganmu?" tanya James sambil memajukan wajahnya dan Kent tertawa berderai.


"Maaf maaf James, aku minta maaf jika telah mengganggu wanitamu, sungguh aku pikir dia belum punya cowok karena selama dua minggu aku ada di kelasnya dia hampir tidak pernah bersama laki-laki," Kent masih saja tertawa.


"James, benar apa yang kamu katakan, tapiiii tapiii aku yakin ada perseteruan atau paling tidak rebutan antara kau dan kakakmu, karena tadi aku lihat kamu seperti berat mengatakannya," Kent masih saja menjejeri langkah James, seketika James berhenti dan menatap wajah Kent.


"Benar kata Meisya,  kamu cerewet," James melanjutkan langkahnya dan terdengar tawa Kent yang sangat keras.


"Dia mengatakan seperti itu, ah Mei Mei, aku sangat menyukai kulit eksotisnya James, matanya yang lebar dan.." seketika Kent berhenti saat James memegang lengannya dan berkata.


"Bisakah kau berhenti bicara tentang Meisya, bocah?" tanya James dan berlalu masuk ke ruangannya, Kent masih saja mengekor dan duduk di depan James.


"Pasti dia lagi yg panggil aku bocah, benar kan James?" tanya Kent penasaran. James mengangguk dan mulai konsentrasi pada laptop yang mulai ia buka.


"Bisakah kamu keluar Kent, aku ada pekerjaan," James melihat dengan ekor matanya Kent yang berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangannya.


Saat Kent berbelok ia hampir bertubrukan dengan Meisya yang tiba-tiba saja muncul.


"Maaf," kata Mei pelan. Kent hanya mengangguk. Mei terus melangkah dan masuk ke ruangan James.


James melihat ke pintu saat Meisya masuk dan duduk di depan James.


"Banyak kerjaanJames?" tanya Meisya. James mengangguk, dan Meisya berdiri. 


"Hei,  mau kemana?" tanya James menahan Mei.

__ADS_1


"Kamu kan banyak kerjaan, lagian kan kamu bilang setelah dari Korea kamu akan menjaga jarak denganku, jadi maaf kalo akunya masuk ruangan kamu," Mei melangkah ke arah pintu.


"Mei, tunggu," James berteriak dan Mei menoleh, mengangkat alisnya.


 


"Tanpa menjaga jarakpun, kita sudah ada jarak kok Mei, kamu akan segera menjadi milik Edwin, aku hanya akan jadi temanmu,  bolehkan?" tanya James, Mei tersenyum dan mengangguk.


"Masih mau pergi?" tanya James. Mei mengangguk lagi. 


"Aku laper," Mei menghilang di balik pintu dan James berteriak.


 


"Meeeii tungguuuu..."


***


Meisya dan James sedang asik makansiang di cafetaria kampus,  saat Kent datang dan bergabung. Mei lebih banyak diam dan menikmati makanannya.


"Tugasmu sudah benar Meisya, tak perlu revisi lagi," ucap Ken tiba-tiba. 


"Terima kasih Mr. Kent," Mei mengangguk pelan dan melanjutkan makannya. James menahan senyumnya saat melihat wajah Kent yang tanpa berkedip melihat Mei dari jarak dekat. 


"Panggillah aku Kent saja, toh tidak sedang di kelas," ujar Kent berusaha akrab. Mei hanya menggangguk sekali lagi.


"Aku duluan ya James, mau langsung pulang, nggak enak badan kayaknya, kecapean sejak yang dari Perth itu," Mei memegang bahu James saat akan berdiri dan oleng seketika, James cepat memegang lengan Mei.


"Kamu nggak papa Mei?" tanya James ikut berdiri. Kent pun memandang Mei dengan kawatir. 


"Nggak papa,  pusing aja dikit, ntar aku tidur paling dah sembuh, bai James, saya duluan Mr. Kent," Mei.melangkah meninggalkan keduanya


James dan Kent memandang Mei sampai menghilang dari pandangan keduanya. James melihat wajah Kent yang masih saja melihat ke arah Mei menghilang. James sekali lagi menahan senyumnya.


"Heeeii Meisya sudah lama ngilang Kent, kamu liat apa?" tanya James melanjutkan makannya. Kent geleng-geleng kepala.


"Entahlah mengapa aku jadi seperti tersihir jika liat wajahnya James, aku terlambat mengenalnya," Kent melanjutkan makan siangnya.


James tertawa pelan dan menyandarkan badannya ke kursi. 


"Aku yang sejak awal mengenalnya waktu dia mahasiswa baru di sini saja sudah telat, apalagi kamu yang baru mengenalnya dua minggu." Kent tertawa dan mengangguk pelan.


"Kadang hidup tidak adil ya James, kita yang ganteng-ganteng gini,  kok ya belum juga punya pasangan," tawa Kent terdengar membahana, James berdiri diikuti oleh Kent. Ponsel James berbunyi dan ia mengangkat, Meisya,  ada apa, pikirnya.


Halooo ada apa Mei, oh ini siapa?  Apa? Di rumah sakit mana? Iya iya, saya kesana...


"James ada apa, Meisya kenapa?" tanya Kent.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2