
Antara sadar dan tiada, Meisya mendengar ketukan berulang dipintu kamarnya, dengan mata setengah terbuka ia buka pintu kamar, wajah bik Sum muncul di sana. Diliriknya jam di dinding, wah jam 4 pagi.
"Ada apa bi, pagi-pagi bangunin saya?" tanya Meisya menggaruk- garuk kepalanya.
"Bantuin bibik di dapur yuk, masak soto," ajak bik Sum sambil menggandeng tangan Meisya. Meisya mengekor dengan bingung.
"Aneh deh, bik Sum kan pinter masak, ngapain ngajak saya masak?" tanya Mei lagi.
"Haduuu jangan banyak tanya non, ini den Ed minta bikinin soto yang kayak non bikin, ayo jangan banyak tanya, cepet kerjakan non, soalnya jam 6 pagi, den Ed mau berangkat ke bandara nggak tau mau kemana," ucap bik Sum sambil mengeluarkan daging ayam kampung dari kulkas.
"Yeees yeeees..merdeka deh nggak ada tuh orang, kemon bik, aku mulai bikin," teriak Meisya sambil tangan nya mulai cekatan meracik bumbu yang akan dihaluskan. Bik Sum mengamati semua yang dikerjakan oleh Meisya dan tersenyum melihat Mei yang seolah sudah terbiasa di dapur.
"Kenapa bi, ada yang aneh dengan caramasak saya?" tanya Meisya melihat bik Sum yang senyam senyum.
"Nggak nggak non, saya cuma kagum aja, ada anak jaman sekarang yang bisa masak," jawab bik Sum.
"Saya kan biasa di panti asuhan bik, jadi yaaa nggak usah heranlah," ucap Meisya sambil tersenyum manis pada bik Sum.
Satu jam kemudian semuanya siap. Bik Sum mencicipi kuah soto ke tangannya dan memperlihatkan jempolnya pada Meisya.
"Hmmm enak bener non, makanya den Ed, pengen bener nih soto," ujar bik Sum.
"Iya dah bi, saya mandi dulu ya," ujar Meisya melangkah ke kamarnya dan menoleh lagi sambil setengah berteriak.
"Telornya diangkat itu bi, dah mateng paling, nanti seledrinya diiris tipis, kalo mau ya kubisnya juga, diiris tipis juga ya biii."
Meisya melangkahcepat karena kawatir dengan baju yang ia kenakan, karena tadi ia langsung diseret ke dapur tanpa sempat ganti baju yang pantas, rupanya dewa dewi keberuntungan tak berpihak padanya. Saat akan berbelok ke arah kamarnya ia melihat Edwin yg menuju dapur dan sesaat melihatnya dari atas ke bawah dengan tatapan kaget dan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain
Setengah berlari Meisya menuju kamarnya.
"Iiiih malu-maluin, kenapa juga aku nggak ganti baju dulu tadi, duh malunya, ntar dikira mau godain lagi," Mei berbicara sendiri sambil menghentakkan kakinya ke lantai dan menuju kamar mandi dengan wajah kesal.
Di dapur Edwin menemukan bik Sum yg mengupas kulit telur.
"Bik ngapain tuh anak kecil di dapur?" tanya Edwin. Bik Sum tertawa lirih.
"Ya bantuin bibik masaklah den, kan den Ed minta soto bikinan non Mei, ya bibik suruh dianya sendiri yang masak," jawab bik Sum.
"Waduh, bibik nggak bilang kan kalo aku yang pengen?" tanya Edwin lagi.
"Bibik nggak biasa bohong, ya bibik bilang kalo den Ed yg pengen," jawab bik Sum lagi, dan Edwin garuk-garuk kepala.
"Bik bilang sama tuh bocah, suru pake baju yg bener, baju daleman kok dipake keluyuran dalam rumah,"ujar Edwin dengan nada tidak suka.
"Den, tadi dia jam 4 bibik seret ke dapur dalam keadaan ngantuk, ya jelaslah dia nggak sempat pake baju yang bener," sahut bik Sum kembali tersenyum.
"Lagian kalo den Ed nggak suka ya jangan diliat, hmmm paling tertarik yaaa, non Mei itu meski kecil mungil tapi badannya cukup berisi loh bisa buat nyubit-nyubit," ujar bik Sum sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Nggak bik, aku nggak suka sama tuh bocah, nyusahin hatiku aja, capek aku tiap liat dia bi," ujar Edwin pelan.
Terdengar bik Sum menghela napas.
"Bilang gitu lagiii den Ed, hilangkan perasaan seperti itu ke non Mei, dia nggak pernahganggu den Ed, dia anak yang manis dan penurut, ah sudah lah ayo den Ed mau makan sekarang?" tanya bik Sum dan segera menata soto di meja makan.
"Iya dah bik, aku makan sekarang aja, bentar lagi aku ke bandara," jawab Edwin mulai duduk di meja makan dan mendekatkan piring ke tempat nasi.
"Mau kemana den?" tanya bik Sum.
"Ke Singapura bik, ada sedikit masalah dengan perusahaan yg di sana, tapi hari ini mama pulang kok bik," jawab Edwin sambil mulai makan soto kesukaannya. Bik Sum mendekatkan tempat krupuk ke depan Edwin.
"Ah benar-benar enak nih soto bik, nggak ada bosannya aku makan soto ini," ucap Edwin sambil memasukkan suapan terakhirnya.
"Tak bawakan ke Singapura piye?" tanya bik Sum sambil tertawa.
"Bibik ada-ada saja, aku tiga hari di sana bik, udah ya aku mau siap-siap dulu," ujar Edwin naik ke kamarnya.
***
Saat memakai bajunya sempat terlintas dalam pikirannya Edwin,Meisya yg hanya menggunakan tanktop dan hotpans tadi. Dihembuskannya napas dengan kasar.... maafkan aku Frey .... bisik hatinya lirih.
***
"Berangkat dah bik tuh orang?" tanya Meisya tolah toleh.
"Iya barusan, tiga hari katanya non dia mau ke Singapura," jawab bik Sum.
"Merdeka bener deh rasanya saya bik, nggak ada yang melototin dan ngata-ngatain tiap hari," ujar Meisya dengan riang.
"Hmmm merdeka, kayak jaman perang aja non ini," bik Sum tertawa nyaring.
"Beneran bik, kalo bukan karena bu Minda, aku sudah balik kosan sejak awal ada di rumah ini, masak aku dibentak karena masuk kamarnya bik, padahal bu Minda yg nyuru aku naruk baju tuh orang ke kamarnya, ih mangkeeel banget kalo ingat itu," ucap Mei sambil menikmati sarapannya. Mata bik Sum membulat.
"Oh yaaaa, hmmm memang gak bisa sembarangan masuk ke kamarnya den Ed non, sejak den Ed kehilangan non Freya, dia jadi saaangat tertutup, baru setahun ini aja dia mulai mau jalan-jalan, gabung sama temannya lagi, mulai tersenyum lebar dan banyak omong lagi, wong anaknya memang dasar periang dan suka guyon," ujar bik Sum menjelaskan. Meisya mengangguk mendengarkan cerita sambil memasukkan suapan terakhirnya.
"Bik saya berangkat dulu ya," Meisya pamit pada bik Sum.
"Iya hati-hati non, tuh sopir bu Minda dah nunggu di depan," ujar bik Sum.
***
Di pesawat Edwin menyandarkan kepala nya pada sandaran kursi, memejamkan matanya dan terlintas wajah mungil Meisya, ia menggeleng pelan, mengapa bukan Freya pikirnya. Edwin menoleh keluar jendela pesawat, kembali terlintas tawa riang Meisya, rambutnya yang lebih sering diikat dan tatapan takutnya jika dia membentak.
__ADS_1
Tidak, tidak mungkin aku menyukainya, bocah kecil yang hanya jadi perusuh di rumahnya. Kembali Edwin memejamkan mata.
***
"Bik Suuuum, aku pulang biiik," teriakan bu Minda membuat bik Sum tergopoh-gopoh.
"Waduuh bawaan segini banyaknya, nyonyaaaa," ujar bik Sum kaget.
"Itu dari Edwina dan beberapa aku belisendiri bik, nggak taulah apa aja itu, tolong bereskan ya bik," pinta bu Minda.
"Eh bik gimana tuh dua anak saya disini aman-aman aja?" tanya bu Minda.
"Den Ed nya yang sering marah-marah nggak jelas sama non Mei, nyah," jawab bik Sum. Bu Minda menghembuskan napas pelan.
"Semoga Mei bisa jadi obat bagi Edwin bik," ucap bu Minda lirih.
****
Sore hari Meisya menginjakkan kakinya di rumah bu Minda, melewati ruang tengah dan melihat bu Minda yg bersantai di samping rumah dekat kolam.
"Ibu, kapan datang?" tanya Meisya sopan dan mencium tangan bu Minda dengan takzim.
"Tadi pagi, maunya Edwin yg jemput eh dia harus berangkat pagi, jadi ya sudah naik taksi saja, gimana kabar butik Mei?" tanya bu Minda.
"Semuanya berjalan dengan baik ibu," jawab Meisya.
"Syukurlah, silakan kalo mau ganti baju," ujar bu Minda pada Meisya.
Meisya segera masuk ke kamarnya dan segera membersihkan badan nya ke kamar mandi.
***
Selama di Singapura Edwin ada di rumah Edwina, kakak dari Edwin.
"Kak kayaknya memang ada yang tidak beres dengan laporan keuangan perusahaan, tadi aku sudah memeriksanya, dan aku panggil siapa saja yang terkait dengan masalah itu, jika sudah jelas masalahnya, tidak akan aku biarkan, akan aku beri pilihan, dipecat atau mengundurkan diri," ucap Edwin menjelaskan pada kakaknya.
Edwina hanya mengangguk-angguk saja.
"Kakak harus tegas sama anak buah kak, jangan diberi hati, bisa jalan ditempat atomalah mundur nih perusahaan papa," ujar Edwin lagi.
"Kayaknya aku nggak bakat deh Ed megang nih perusahaan," ujar Edwina akhirnya.
"Haduuuh kok nyerah, lanjut aja, ntar aku kontrol dari Indonesia," ucap Edwin lagi. Dan menyudahi percakapan saat malam semakin larut.
Edwin memasuki kamar yang disiapkan oleh kakaknya. Melepas jas dan kemejanya, menyisakan celana bahan dan membuka ponselnya. Melihat beberapa foto Meisya dalam berbagai pose.
Mengapa aku menyimpannya, mengapa ada keinginan selalu melihatnya. Apa karena wajahnya mirip Freya? Tidak mungkin aku menyukainya. Pikiran Edwin melayang entah kemana. Ditatapnya lagi wajah ceria Meisya saat tertawa di butik, saat duduk di depan kamarnya. Huuufff Edwin menghembuskan napas dengan berat. Merebahkan badannya dan meletakkan ponsel di dadanya. Tak terasa Edwin tertidur.
Edwina hendak menutup pintu kamar tamu saat dilihatnya ponsel Edwin ada di dadanya, kawatir ponsel adiknya jatuh, ia ambil dan saat dibalik dan akan dikembalikan ke menu awal ia melihat ada foto perempuan dengan wajah mirip Freya, dipandanginya foto itu lama, sekali lagi Edwina meyakinkan dirinya bahwa itu orang lain berwajah mirip Freya. Akhirnya ia meletakkan lagi ponsel adiknya di meja dalam kamar itu.
***
"Kak kalo urusan perusahaan selesai hari ini aku langsung kembali ke Indonesia," ujar Edwin
Edwina kaget.
"Lah katanya sampe besok, jalan-jalanlah dulu disini, ato ada yang kamu rindukan di Indonesia?" tanya Edwina menahan senyum.
"Ah nggak ada kak," jawab Edwin pelan.
***
Sore hari Edwin memutuskan kembali ke Indonesia karena semua permasalahan sudah menemukan titik terang.
***
Saat sedang sibuk di butik sore hari ponsel bu Minda berbunyi, setelah dilihat ternyata dari Edwina.
Ya sayang
Edwin pulang dah ma
Oh yaa? Katanya sampe besok tuh anak
Eh ma, Edwin punya cewek ya?
Nggak, emang kenapa?
Loh di ponselnya ada foto cewek miriip banget wajah Freya, aku pikir itu cewek Ed yang baru, aku pikir dia sudah moveon
Kok kamu tahu di ponsel Ed ada foto Mei?
Mei? Mei siapa ma?
Meisya sekretaris mama yang baru, aku ajak ke rumah Wina, dia anak yatim piatu, Ed selalu memusuhinya, mengajaknya bertengkar tanpa sebab, eh mama nanya lagi kamu kok tahu di ponsel Ed ada foto Mei?
Tadimalam dia ketiduran hpnya ada di dadanya, aku ambil ma takut jatuh eh pas aku liat kok ada foto itu, jangan-jangan Ed suka sama tuh anak, cuma gaya aja dia sok gengsi aja
Nggak taulah, kalo kamu liat wajah Ed pas mandang Meisya, ih kayak musuhan bener Wina
Yaudah ma ntar lagi ya, nih anak-anak baru pulang sekolah
__ADS_1
***
Jam 6 petang bu Minda dan Meisya baru memasuki rumah dan segera menuju kamar masing-masing.
Saat melewati kamar bik Sum, Meisya melongokkan wajahnya dan berkata pelan.
"Bik, orang itu besok dah datang ya, ih males deh."
Bik Sum tertawa renyah.
***
Meisya merebahkan badannya di kasur, tiba-tiba ada keinginan berenang, ah nggak papa masih jam tujuh ini, tidak terlalu malam, pikir Meisya.
***
"Ma aku pulang," panggil Edwin lirih ke telinga mamanya yang sedang tiduran di kasur.
"Eh dah nyampe,sayang, istirahat dulu gih mandi sana," ujar bu Minda pada Edwin.
Segera Edwin naik ke kamarnya dan menutup pintu, di bukanya kemeja dan celana jeansnya, hanya menyisakan boxer dan menuju jendela karena ia mendengar kecipak air di kolam renang. Di bukanya jendela dan disingkap nya tirai lebar-lebar.
Ia melihat Meisya yang berenang dengan lincah, berhenti dipinggir kolam dan naik, menyudahi berenangnya lalu duduk dan kakinya memainkan air di kolam renang.
Anak yg aneh, mengapa tidak segera masuk, nanti sakit lagi pikir Edwin.
Meisya merasakan ada yang melihatnya, masak makhluk aneh itu sudah datang, bukankah masih besok pikirnya, ia ngeri membayangkan dirinya yg berbaju renang dilihat oleh makhluk manis nan mengerikan itu, pelan tapi pasti ia dongakkan kepalanya ke atas, ke arah jendela kamar Edwin dan menemukan sosok Edwin yang bertelanjang dada.
Seketika Meisya bangun dari duduknya dan segera masuk ke kamarnya. Ia sandarkan kepalanya pada pintu, memegang dadanya dan menggeleng pelan.
"Iiiih kenapa juga keburu pulang, kenapa nggak seminggu ato sebulan sih dewa cintaku nan manis namun menjengkelkan, heh sejuta topan badai deh buat dirimu," terdengar Meisya ngomel-ngomel sendiri.
***
"Bik Sum, Meisya nggak makan malam ya?" tanya bu Minda.
"Kayaknya non Mei masih berenang," jawab bik Sum.
"Suru segera brenti bik, takut masuk angin," ujar bu Minda lagi.
Tak lama Edwin duduk di meja makan dan mulai menikmati makan malamnya.
Dengan pelan dan menunduk, Meisya menarik kursi dan duduk
"Makanlah Mei, aduh kamu awas masukangin ya, berenang malam- malam," ujar bu Minda. Mei hanya tersenyum dan mulai makan. Mei menyibak rambut panjangnya yang basah.
Gerakan Mei membuat mata Edwin mau tidak mau memandangnya agak lama.
"Nambah lagi Ed?" tanya mama dan membuat Edwin tersentak.
"Ah nggak ma, cukup, aku mau istirahat, kayaknya capek banget," sahut Edwin mengakhiri makannya dan menghabiskan air minumnya.
Edwin melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Sementara Meisya membersihkan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur.
***
Sesampainya di kamar, Edwin mulai merebahkan badannya dan memejamkan matanya, bayangan Meisya dengan rambut basahnya membuat Edwin mengerang perlahan dan menggeleng pelan.
Jangan sampai aku menyukainya, jangan, aku hanya terbawa suasana, karena wajahnya yg mirip Freya, pikir Edwin perlahan.
***
Pagi saat sarapan, Edwin tidak menemukan siapapun, ia sarapan sendiri. Mama masih asyik dengan segala macam dokumen di kamarnya. Edwin masuk dan mencium kening mama.
Dalam perjalanan menuju kantor pikiran Edwin mengembara entah kemana.
***
Menjelang malam Edwin baru sampai di rumah lalu masuk ke kamarnya dan segera membuka tirai jendela, melihat ke kamar Meisya, tetap terkunci rapat, kemana kamu Mei, pikir Edwin, ah mengapa aku mencarinya, bukankah lebih baik begini, tapi mengapa ada yang kosong di hatiku, kembali pikiran Edwin melayang entah kemana
Ingin ia bertanya pada mama, tapi Edwin merasa tidak enak.
Akhirnya ia turun, menuju ke dapur dan menemukan bik Sum yang masih menata sayur-sayur segar di dalam kulkas.
"Sudah malam bik, kok belum tidur?" tanya Edwin.
"Lah den Edwin juga ngapain ke dapur?" bik Sum bertanya balik.
"Pingin cari makanan aja bik," jawab Edwin.
"Bik kemana tuh bocah?" tanya Edwin.
"Hah bocah, non Mei?" tanya bik Sum, Edwin mengangguk.
"Mana bibi tau, taunya pagi dia berangkat, trus nggak balik sampe sekarang, tanya ke mama saja den Ed, pasti tahu," ujar bik Sum sambil senyam senyum.
"Ah nggak bik, ntar dikira ada apa nyari-nyari," ujar Edwin menggeleng pelan.
"Lah kan ya memang nyari non Mei, den Ed kan?" tanya bik Sum tertawa. Dan Edwin tersenyum sambil meninggalkan bi Sum di dapur.
Edwin melangkah menuju kamarnya, saat hendak akan berbelok entah mengapa kakinya melangkah lurus ke kamar Meisya. Di dorongnya pelan pintu kamar Mei, dan terbuka sedikit demi sedikit. Diedarkannya pandangan mengelilingi kamar Mei, ini kali kedua ia masuk kamar ini.
__ADS_1
Ada buku kecil berwarna pink di meja. Ia buka perlahan. Edwin tersenyum saat membaca catatanharian Mei, ada namanya di situ. Anak nakal pikir Edwin. Dengan cepat ia tutup dan keluar dari kamar Mei dengan langkah ringan.
_bersambung_