Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
28


__ADS_3

*SUK*


#28


James berpikir berkali- kali untuk mengangkat atau tidak telpon dari Edwin. Dengan sekali tarikan napas ia ambil ponsel Mei dan....


Halooo...


James? Malam-malam begini ada di apartemen Mei?


Meisya mengalami kecelakaan sedikit


Apa? Kecelakaan? Gimana dia sekarang? Kenapa tidak segera kau telpon aku, ini di mana? Di rumah sakit ato..


Tunggu aku jelaskan Ed,  Mei sudah diapartemen,  tadi memang sempat ada di rumah sakit,kan...


Ah kamu terlalu lama jelaskannya James, kondisi Mei gimana?  Siapa yg menabraknya?


Dengarkan aku dulu Ed, dengarkan.. dia hanya jatuh, karena pingsan,  nah entah jatuhnya gimana, lengannya agak retak dikit, tadi hasil rontgen sudah diperlihatkan tapi akunya nggak ngerti juga retaknya gimana


Aduh trus kondisi Mei sekarang gimana? Rasanya aku ingin segera terbang James,  besok dan lusa aku terlanjur ada janji dengan perusahaan besar, tiga hari lagi aku menemui Mei, James, aaahhh aku kesal keadaan seperti ini


Mei baik-baik saja, ia berulang kali mengeluh lapar, saat pingsan tensinya turun Ed, dia kurang makan dan kelelahan setelah dari Perth, kata Mei gitu sih


James bisa aku minta tolong?


Ya,  apa?


Jagakan Mei untukku, bisa kan, sampai aku datang


Yah


Terima kasih, terima kasih James


Ya, sama-sama


Salamku untuk Meisya,  selamat malam


Akan aku sampaikan,  selamat malam juga


James menghembuskan napas dengan berat. Meletakkan ponsel Meisya. Dan menunduk menopangkan lengan nya pada pahanya. Akan aku jaga gadismu Ed, sampai kau datang, aku akan menahan rasasakit dan perih jika selalu ada di dekatnya, keinginan untuk memeluk dan menciumnya selalu ada,  namun aku tahan karena dia bukan milikku.


James melangkah pelan menuju kamar Meisya yang pintunya tidak tertutup, dipandanginya wajah damai Meisya saat tidur. Arm slingnya masih bergantung di lengan kirinya. Posisi tidurnya pun diatur Mei menjadi agak duduk,  mungkin ia menyusun bantalnya menjadi agak tinggi, ada sedikit penyesalan James tidak membantu Mei saat akan tidur, dia hanya merasa tidak enak jika masuk ke kamar Meisya


Tiba-tiba Meisya bergerak dan mengaduh perlahan, tanpa sadar James segera melangkah masuk dan menahan lengan kiri Meisya. Mei membuka matanya, tersenyum saat tahu James ada di dekatnya.


"Terima kasih sudah menjagaku, terasa sakit lengan kiriku James, rasanya berdenyut- denyut," Mei menutup matanya menahan sakit. James agak bingung juga dia harus bagaimana.


"Apa yang harus aku lakukan Mei, kamu ingin posisi bantal gimana,  biar kamu enak?" tanya James sambil duduk di sisi Mei.


"Ambilkan bantal di kamar sebelah, satu saja, untuk menopang siku kiriku, arm sling rasanya nggak cukup buat sandaran kalo aku dalam posisi tidur, maaf ya James aku jadi merepotkanmu," Mei terlihat memohon. James tersenyum dan melangkah ke kamar sebelah.Kembali dengan membawa bantal dan mengatur agar posisi lengan Mei menjadi lebih nyaman.


"Tidurlah, Edwin akan datang tiga hari lagi," ujar James menaikkan selimut Mei sampai ke perutnya dan Mei terbelalak.


"Hah kapan kak Ed nelpon, dia bilang apa, kamu yang nelpon apa dia?" tanya Mei terlihat bingung.


"Dia yg nelpon ke ponsel kamu, aku terima, awal nya ya nadanya nggak enak, tapi begitu aku kasi tau kamu gini, ya dia bingung, panik, dia nitip kamu ke aku, agar aku jagain kamu sampai dia datang," James kembali tersenyum. Mei bernapas lega.


"Tidurlah, istirahatlah,  aku juga ngantuk, besok kerjaan di kampus dah nunggu, banyak lagi," James melihat Mei sekilas dan melangkah keluar kamar.


***

__ADS_1


Saat Mei bangun pagi, ia sudah tidak menemukan James, hanya ada sebuah note di atas sebuah kotak makanan yang berisi tulisan tangan James.


Aku ke kampus dulu ya Mei, aku tidak tega membangunkanmu yg tidur sangat nyenyak, ini ada makanan, aku beli tadi dekat apartmu, makanlah, jangan lapar lagi, aku janji akan menemuimu lagi,setelah semua pekerjaan selesai kita ke dokter orthopedy ya Mei, tunggu aku


Jm


Mei menghembuskan napas, membuka kotak makanan dan tersenyum melihat bento yang dibelikan oleh James.


Dia orang baik, lembut,  semoga kamu segera menemukan orang yang benar-benar kamu cintai James.


Meisya masuk ke kamar nya, membuka arm sling nya, kancing bajunya, melepas seluruh pakaiannya dan menuju ke kamar mandi. Setelah dari kamar mandi ia membuka lemari mencari baju rumah.


Mei mulai makan saat ponsel yang ada didekatnya berbunyi, ternyata Edwin


Halo kak


Gimana sayang? Sudah enakan?


Iya, nggak papa kok kak, semalam cuman terasa agak linu siku kiri, berdenyut-denyut rasanya, tapi nggakpapa, ntar lagi akan diantar James ke dokter


Mana James?


Ke kampus paling, aku bangun dia sudah nggak ada


Kok bisa sih sayang kamu sampe pingsan kayak gitu, kepala kamu nggak papa kan, nggak sakit kan, sudah ctscan


Haduh kaaaak nggak papa aku, cuman jatuh aja, kecapean, kelaparan hihihi


Kok bisa sih kamu kelaparan, aku jadi merasa bersalah


Kecapean pas ke Perth itu, aku kan jadi males makan, meski makan kan dikiiiit banget, males bener-bener males,tanya aja ke ibu, ibu juga gitu sama kayak aku


Iya mama emang bilang kamu makannya dikit banget, mama semalam kaget juga pas aku kasi tau, kayaknya kalo jadi aku bakalan bareng mama lagi ke kamu


Lalu kamu maunya dirawat James gitu


Loh kok kakak bilang gitu, aku nggak mau nyusahin kakak, lagian aku yakin kakak banyak kerjaan, iya kan?


Namanya kerjaan nggak bakalan brenti emang Mei, tapi kamu lebih penting dari semua kerjaan aku, jadi nggak ada gunanya juga semua yang aku capai kalo kamu nggak ada di sisi aku, makanya aku akan raih semuanya,  saat kamu sudah jadi istri aku maka akan semakin sempurna


.....


Hei kok diam sayaaang,  Mei


Makasih kak


Eh kok suaranya gitu,  kamu nangis ya


Kakak sih bikin aku terharu, jadi semakin nggak enak akunya


Iya dah ntar aku sambung lagi ya, makan yang teratur ya sayang,  love you Mei


Love you kak


Mei menutup ponselnya dan menyusut air matanya perlahan. Mei jadi sangat kangen pada Edwin. Meski ia kasihan jika Edwin harus bolak balik ke tempatnya tapi ia tidak munafik bahwa kedatangan Edwin sangat ia harapkan.


***


Sore setelah pekerjaan di kampusnya selesai James melangkah terburu-buru menuju apart Mei. Saat membuka pintu apart ia segera memanggil nama Mei dan Mei menyahut dari arah kamarnya. James segera menuju kamar Mei dan kaget saat Mei mengancingkan bajunya dan terlihat perut rata Meisya.


"Maaf," James segera melangkah ke sofa dan duduk menunggu Meisya siap.

__ADS_1


"Ayo James antar aku ke dokter," ajak Mei setelah siap untuk berangkat.


"Ok, besok kamu jangan masuk dulu, biar aku yang memintakan ijin ke dosenmu," ujar James sambil berdiri di dekat Mei dan Mei mengangguk pelan. Beriringan mereka keluar dari apart Mei.


***


Malam mulai menjelang saat James dan Mei pulang dari memeriksa kan kondisi Mei ke dokter. Mereka membeli makan lalu melangkah memasuki apart Mei.


"Makanlah Mei, aku ingin rebahan di sofa dulu ya, capek rasanya," James berselonjor dan merebahkan badannya di sofa.


"Aku ganti baju dulu James," sahut Mei. James sudah memejamkan matanya dan tak lama kemudian dia sudah tertidur lelap.


Saat Mei kembali ke sofa, ia sudah melihat James yg tidur nyenyak,  Mei hanya menggeleng perlahan dan tersenyum melihat wajah lelah James. Mei mulai membuka makanan yang dibeli James tadi, entah mengapa Mei ingin makan, tapi jenisnya terlalu banyak bagi Mei, ada spageti,  lasagna, makaroni panggang dan pizza ukuran sedang.


Mei mulai makan karena ia sudah tidak kuat menahan lapar. Ia cicipi semuanya hanya sedikit saja,  hanya spageti yang ia habiskan.


Tak lama James bangun dan mulai duduk,  mengerjabkan matanya dan melihat Mei yang masih duduk didekatnya dan menghabiskan sisa-sisa toping spageti. James tersenyum sambil menunjuk ke bibir Mei.


"Apa?" Mei mengusap bibirnya perlahan.


"Makan belepotan, nih tisu," James mulai mengambil sepotong pizza lalu memasukkan ke mulutnya dan memberikan selembar tisu ke arah Mei.


***


Selama dua hari penuh James merawat dan menjaga Meisya, selama dua hari itu juga James kerap manahan diri saat melihat hal-hal yang sangat privat pada diri Meisya.Sering ia melihat Meisya yang tanpa sungkan ganti baju,  sementara pintu kamar nya tidak tertutup,  James laki-laki normal yang pada saat tertentu kadang ia ingin sekali memeluk Meisya,  hanya menahan diri untuk tidak melukai persahabatan nya dengan Mei.


Jika ia sudah tidak bisa menahan diri, biasanya James segera masuk ke kamar yang ada di sebelah kamar Mei dan segera menelungkupkan badannya disana, meredakan gemuruh napasnya, meluruskan pikirannya.


***


"James, ada yang mengetuk pintu tuh, siapa ya, kalo kak Edwin pasti dia dah masuk," Mei menepuk pipi James yang masih tidur di sofa, ia bangun perlahan dan mengucek matanya.


"Pasti teman kamu yang bawel itu," sahut James melangkah pelan.


"Untung aku sekarang nggak ada jam ngajar Mei, bisa agak siang ke kampus," James kaget saat ia membuka pintu.


"Papa?" ucap James kaget dan om Ben tak kalah kaget.


"Kamu menginap disini?" tanya om Ben mengernyitkan kening nya saat melihat baju James yang tak karuan.


"Mei mengalami sedikit cedera, aku di sini untuk merawat, masuk pa,  papa ngapain kesini,  pagi-pagi lagi?" tanya James melangkah beriringan dengan papanya.


"Aku ada sedikit urusan bisnis James, ingat Mei aku beli makanan dan mengantarnya kesini," om Ben meletakkan makanan yang ia bawa di meja bersamaan dengan Mei yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Om Beeen," Mei memeluk papa James dan om Ben menepuk- nepuk punggung Mei dengan lembut.


"Ini ada sedikit makanan Mei, kenapaaa ini lengan kamu," Mei melepas pelukannya dan hanya tertawa.


"Makasih banyak om,  mengenai lengan yah biasa om, uji ketahanan tulang eh ternyata nggak kuat," Mei kembali tertawa. Om Ben terlihat bahagia menatap Mei yang tertawa ceria.


"Ayo om sekalian makan, ini om bawa banyak makanan, kok bilangnya sedikit, trus siapa yg mau ngabisin, ayo James, kita sarapan bertiga yok," ajak Meisya dan James duduk di dekat Mei membetulkan arm slingnya yang tidak pada posisi benar.


"Kenapa James?" tanya Mei.


"Berdirilah, aku betulkan arm slingmu, ingat kemarin pesan dokter,  posisi ini yang menentukan retak siku kamu akan segera pulih," James berdiri di belakang Mei membetulkan talinya.


Papa James melihat pemandangan didepan nya dengan dada sakit, ia merasa bahwa apa yg menimpa pada anaknya adalah efek dari perbuatannya di masa lalu, dulu ia menyia- nyiakan cinta sejati mama Edwin, dan saat ini anaknya yang merasakan sakit karena cinta. Ia melihat mata James yang selalu menatap Mei dengan penuh cinta, sementara pandangan Mei yang ceria hanyalah tatapan seorang adik pada kakaknya.


Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul wajah Edwin, bu Minda dan kak Edwina serta dua anaknya.


"Kak Eeed," Mei berteriak dengan girang dan dengan cepat menutup mulutnya.

__ADS_1


Sementara papa James berdiri mematung saat menatap wajah bu Minda dan kak Edwina bergantian. James tak kalah kaget saat melihat wajah perempuan yang berdiri di belakang mama Edwin, wajah yg bagai pinang dibelah dua dengan papanya....


_bersambung_


__ADS_2