
Ini malam ketiga tanpa Meisya di rumah, kemana kamu Mei, apa kamu pindah, tapi ke mana, di butik tidak ada, sampai orang terakhir ke luarpun kamu tidak muncul, pikiran Edwin mencari dan mencari. Ia rebahkan badannya di kasur Mei, entah mengapa sejak Mei menghilang ia punya kebiasaan baru, merebahkan badannya di kasur Mei, saat mama dan bik Sum sudah tidur.
Dan kembali membaca, berulang kali bukuharian kecil di meja Mei. Kadang Edwin berkaca, segagah itukah aku dalam pikiran Meisya, setampan itukah wajah ku dalam gambaran Meisya, anak kecil yang bodoh meski mengagumi tetap menatapku dengan pandangan penuh kebencian saat sedang bertengkar, Edwin kembali melamun. Dilihatnya jam sudah menunjuk ke angka satu, ah sudah semakin larut. Ia langkahkan kakinya menuju kamarnya.
***
Sore sekitar jam lima mama menelpon Edwin.
Halo mama
Mama bisa minta tolong sayang
Ya ma, ada apa?
Jemput Meisya ya di The Java in Hotel, tau kan sayang, sopir kantor kepake semua
Ok ma
Bu Minda mengernyit kan keningnya, tumben nih anak langsung mau disuru jemput Meisya. Padahal agak jauh ke puncak.
***
Meisya kaget waktu ke luar dari lobi hotel, ia melihat tubuh tinggi menjulang Edwin sudah menunggu disana. Haduh perjalanan sejauh ini dia mau, pikir Meisya, berarti Meisya lebih baik mengalah saja, jangan cari gara- gara. Nanti sepanjang perjalanan bisa jadi perang mahabarata, Meisya segera membawa travel bagnya menuju mobil. Edwin menarik travel bag Meisya dari tangan Meisya dan memasukannya dalam bagasi mobil. Meisya diam saja tidak protes, ini perjalanan akan panjang dan Meisya memilih mengalah saja.
Meisya masuk dan duduk,memasang sabuk pengaman menunggu Edwin duduk untuk mengemudi.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja. Meisya memiringkan badannya ke kiri dan merapatkan tangannya ke dadanya. Edwin mengecilkan ac kawatir Mei kedinginan.
Tiba-tiba mobil berbelok dan berhenti di sebuah rumah makan.
"Aku lapar, turunlah," ucap Edwin pelan. Meisya menurut tanpa bicara ia turun, mengekor Edwin dan duduk di kursi dekat jendela.
"Mau makan apa?" tanya Edwin pada Meisya.
"Sembarang, apa saja mau," jawab Mei singkat.
Ah, suaranya pelan dan serak, jadi seksih gitu sih kak, ya ampyun, mau rasanya mengusap-usap bibir merahnya saat bicara tadi. Mei segera menarik-narik ujung rambut dikeningnya, agar pikiran warasnya kembali lagi.
Saat bebek kremes mereka datang, bersamaan dengan itu hujan turun sangat deras. Edwin makan dengan lahap, sedang Mei ngeri membayang kan perjalanan mereka nantinya.
"Makanlah," suara Edwin mengagetkan Meisya, dengan pelan ia makan, mulai mencuil bebeknya sedikit demi sedikit. Menunduk menghindari tatapan Edwin.
Ditatapnya wajah Meisya yang masih asik makan,sementara Edwin selesai sejak tadi. Baru kali ini Edwin menikmati wajah Meisya dari jarak dekat, semua yang ada di wajah Meisya sangat mungil, hanya matanya yang bulat bersinar, apalagi jika sedang marah.
Meisya selesai makan, mencuci tangannya dan mengelap mulutnya dengan tisu. Dicobanya mengangkat wajahnya menatap wajah yg ada didepannya. Ternyata benar, Edwin memandangnya dengan tajam. Meisya kembali menunduk. Pura-pura mengeringkan tangannya dengan tisu.
Kapan kita pulang?" tanya Meisya.
"Ayolah, tapi tunggu di pintu depan, aku ambil payung di mobil," jawab Edwin.
Meisya menunggu, sementara Edwin berlari ke mobil mengambil payung.
"Payungnya cuma satu, ayolah," ujar Edwin berjalan bersisian dengan Mei, keduanya bingung karena payung yang ada tidak terlalu besar. Saat akan menuju mobil tiba-tiba ada mobil yang hampir saja mengenai Meisya, lengan kanan Edwin menangkap badan Mei dan mendekap ke dadanya, Edwin dan Meisya kaget bukan main. Sedetik kemudian keduanya sadar dan saling melepaskan diri. Dan sama-sama mengatakan maaf, entah untuk apa.
Keduanya berada dalam mobil, hujan masih saja deras. Edwin baru menyadari separuh badan Meisya agak basah. Dibukanya jasnya dan diberikan pada Meisya.
"Pakailah agar tidak kedinginan, ac tetap akan aku hidupkan agar kaca tidak buram," ujar Edwin memberikan jasnya pada Mei, dan Mei menurut, dipakainya jas Edwin yg membuat badan Mei jadi tenggelam karena terlalu besar. Edwin mengemudi dengan hati-hati karena hujan yang tetap turun sepanjang perjalanan.
Diliriknya Mei yang ternyata sudah tertidur dengan lelap. Edwin berhenti di tempat aman, dibetulkannya kepala Meisya yg miring ke kanan. Ditatapnya sejenak wajah damai Mei saat tidur. Dan disibaknya rambut panjang Mei yang menutupi wajahnya dan disematkan dibelakang telinganya.
Edwin melanjutkan perjalanan sampai akhirnya memasuki pintu gerbang rumah mama Edwin.
Meisya masih tertidur lelap, Edwin bingung cara membangunkan Mei, disentuhnya perlahan tangan Mei. Mei kaget dan bangun. Ia terlihat malu. Lalu turun dan membuka jas Edwin yang ia pakai.
"Makasih," ucap Mei pelan.
"Travel bagmu," ujar Edwin membuka bagasi dan membawakannya sampai ke depan kamar Meisya.
Edwin berlalu meninggal kan Meisya yg menatap punggung Edwin dengan perasaan heran. Tumben nggak ngajak tengkar selama perjalanan, pikir Meisya.
__ADS_1
***
Meisya masuk ke kamarnya, meletakkan travel bag, membuka bajunya dan menuju kamar mandi. Segar rasanya habis mandi ia merebahkan badannya di kasur menggeliat sambil memejamkan mata dan tiba-tiba Meisya menghentikan gerakannya saat mencium parfum yang tidak biasa. Meisya mencium bantalnya, hmmm bukan harum parfumnya. Astaga ini kan harum parfum si Edwin, masak sih ah nggak mungkin dia tiduran di sini, trus ngapain kalo memang dia ke sini, pikiran Meisya ke mana-mana.
Akhirnya rasa lelah dan kantuk yang sangat membuat Meisya berpisah dengan angan-angan nakalnya.
***
Sementara Edwin di kamarnya, masih mencium jasnya yang masih tersisa harum parfum Meisya. Edwin semakin tidak memahami hatinya, ada apa ini, pikirnya. Akhirnya ia tertidur karena lelah dan masih memeluk jasnya yang digunakan oleh Meisya tadi.
***
"Hai sayang, ayo duduk, ibu ingin dengar ceritamu, gimana nambah ilmu baru sayang?" tanya bu Minda antusias. Meisya tersenyum dan menarik kursi lalu duduk di dekat bu Minda di ruang makan.
"Terima kasih ibu, sekali lagi terima kasih, saya yakin biayanya pasti mahal, saya belajar banyak hal, public speaking, table manner dan belajar tentang macam-macam kepribadian dan cara menghadapinya, lima hari disana rasanya cepat berlalu," ujar Meisya terlihat segar hari ini dengan dress warna salem.
Edwin datang dan ikut bergabung sarapan di pagi itu.
"Sayang, anterin Meisya ke butik yah, mama nggak enak badan, nggak ke butik pagi ini," ucap mama. Edwin menganggukkan kepalanya.
Saat akan turun, Mei menoleh pada Edwin dan berkata
"Terima kasih jasnya semalam." Edwin hanya mengangguk lalu melajukan mobilnya menuju kantornya.
***
Pulang kantor Edwin merasakan hal yang tak biasa. Badannya terasa panas namun ia merasakan dingin yang amat sangat.
Meisya merasakan perubahan wajah Edwin. Sekilas ditariknya lengan Edwin ragu-ragu
"Kamu nggak kenapa- napa?" tanya Mei
"Nggak," Edwin menjawab pelan dan berjalan dengan lemas.
Meisya melihat Edwin yang melangkah pelan ke lantai dua. Segera ia menelpon bu Minda jika Edwin terlihat sakit. Yang membuat Mei kaget ternyata bu Minda ada di bandara, karena akan ke Singapura, cucunya masuk rumah sakit.
Meisya menyuruh bik Sum ke kamar Edwin untuk melihat keadaannya namun bik Sum tidak mau, karena Edwin sangat tidak suka siapapun masuk ke kamarnya, kecuali Edwin yang memintanya.
Akhirnya Meisya memutuskan untuk ke kamar Edwin dengan resiko ia dibentak seperti hari pertama di rumah ini.
***
Pintu kamar Edwin ternyata agak terbuka sedikit, Mei mengintip ternyata Edwin masih menggunakan jas lengkap namun dasinya sudah kemana-mana dan terlentang di kamarnya, terdengar suara mendesis kedinginan, Mei buka sedikit lebih lebar pintu kamar Ed, tapi ia takut untuk melangkahkan kakinya ke dalam.
Diurungkannya niat untuk masuk karena timbul rasa takut, ingatannya kembali pada bentakan Ed di awal pertemuan mereka. Saat Mei membalikkan badan tiba-tiba terdengar suara pelan memanggilnya
"Mei..," terdengar parau suara Edwin.
Mei menoleh, membalikkan badannya melihat Edwin di kasur yang melihatnya dengan tatapan lelah.
Mei masuk perlahan dan takut-takut. Ia duduk di sisi kasur, memegang kening Ed, ah sangat panas, tapi Edwin menggigil kedinginan. Mei mematikan ac dan kembali duduk dekat Edwin.
"Kak, buka dulu jasnya ya, nanti pake selimut aja," ucap Meisya pelan, Edwin hanya mengangguk lemah. Mei membantu membukakan jas Edwin, berikut dasinya.
"Kemejaku juga Mei," ujar Edwin dengan napas yang tak teratur menahan dingin.
Aduh pikiran Meisya kemana-mana, antara takut dan ngeri, dibukanya kemeja Edwin dan tampak kaos dalaman Edwin yang membungkus ketat badannya.
"Kaosku di lemari Mei," ucap Edwin lagi, dengan cekatan Mei mencari kaos yg agak tebal dan segera memakaikannya pada Edwin, menyelimutinya dengan bedcover sampai ke leher Edwin.
Meisya membereskan jas dan kemeja Edwin lalu hendak keluar akan meletakkan di tumpukan baju kotor di mesin cuci.
"Jangan keluar Mei," ucap Edwin dengan suara lemah.
"Bentar kak, aku buatkan teh hangat ya?" ucap Mei yg dibalas dengan anggukan lemah Edwin.
Sampai di bawah bik Sum memegang tangan Meisya.
__ADS_1
"Gimana non, nggak ngamuk lagi?" tanya bik Sum kawatir.
"Mau ngamuk gimana bi, wong dia lemeees dan puanas badannya, tapi kok menggigil ya bik?" tanya Meisya.
"Waduh non berarti itu sangat panas sampe kayak gitu non, panggilin dokter Zaki aja, minta nomor telponnya ke den Ed," saran bik Sum pada Meisya.
Meisya mengangguk dan dengan cekatan membuatkan teh hangat untuk Edwin.
***
"Kak bangun bentar, minum teh hangatnya ya," pelan suara Mei membangunkan Edwin. Edwin berusaha bangun sambil mendesis menahan dingin. Saat membantu Edwin minun Mei sempat menatap Edwin dari jarak yang sangat dekat.
Ah wajah setampan ini kok ya sakit jiwa, pikir Mei ngawur. Edwin merebahkan diri lagi. Dan Mei membetulkan selimut Edwin.
"Kakak makan dulu ya, aku suapin ya," Mei mencoba menawarkan, Edwin menggeleng.
"Telponkan Zaki, ponsel ku tolong Mei," Edwin berbicara sambil memejamkan matanya.
Mei mencari nama yang dimaksud dan menunggu dijawab, saat tersambung Mei tampak berbicara.
Tak lama dokter Zaki datang dan tampak tersenyum sambil menempelkan stetoskop ke dada Edwin.
"Penyakit lama dipelihara, pasti lo lupa makan,kondisi ngedrop, kelelahan, ato memang sengaja pingin dirawat sama...," dokter Zaki terbahak saat Edwin melotot padanya.
"Mulut lo Zak, gue panas dan tidak dibuat-buat," jawab Edwin lemah.
"Panas lo tinggi sekali Ed, gue kasi penurun panas sama vitamin ya, lalu siapa yang beli nih obat?" tanya dokter Zaki.
"Biar saya yang beli, ada apotek dekat sini," jawab Mei cepat dan berlalu.
"Eeeed Ed, makanlah yang teratur tidak usah terlalu ngoyo kalo kerja, sakit gini lo yang susah, ato memang sengaja biar dirawat tuh cewek?" tanya dokter Zaki sambil tertawa lebar.
"Gue nggak akan ngeladeni lo, gue sakit, gue nggak tertarik sama anak itu, terlalu muda untuk gue," jawab Edwin sambil memejamkan matanya.
"Alaaaah terlalu muda gimana, muda usianya, dia sudah matang sebagai perempuan, lihat apa yang ada ditubuhnya Eeed," tawa dokter Zaki semakin membahana.
"Mulut lo makin rusak Zak," jawab Edwin menahan senyum diantara desisannya yang masih menggigil.
Saat Mei datang dengan obat,dokter Zaki tampak berbicara pada Mei dan terlihat Mei mengangguk-angguk.
Ah apa yg diberitahukan Zaki pada Mei, semoga bukan hal aneh-aneh, pikir Edwin.
Dokter Zaki pulang dan Mei bergegas mengambil makanan di dapur dan membawa ke kamar Edwin.
"Kak ayo makan ya, tadi dokter bilang kakak harus makan dan minum obat, lalu tidur," suara Mei terdengar membujuk.
Edwin bangun perlahan Mei membetulkan bantal dipunggung Edwin agar bisa duduk dengan nyaman.
"Aku suapi kak ya?" tanya Mei dan Edwin mengangguk. Mei menyuapi Edwin dengan pelan, saat suapan ketiga Edwin mengangkat tangannya.
"Cukup Mei, rasanya nggak bisa masuk," ucap Edwin. Mei menurut dan mendekatkan air minum ke bibir Edwin.
"Besok, buatkan soto ya Mei?" pinta Edwin dan Mei mengangguk.
"Minum obat dulu ya kak, trus tidur," Mei beranjak dari kasur dan mengambil tiga jenis obat, antibiontik, turun panas dan vitamin.
"Tidur kak ya, aku betulkan dulu bantalnya" ucap Mei. Edwin merebahkan badannya dan memejamkan matanya.
Mei pandangi wajah Edwin saat membetulkan selimut, ah orang tampan ini bisa sakit juga, pikir Mei.
Saat akan melangkah ke luar, tangan Ed menahan tangan Mei, Mei menoleh kaget.
"Besok nggak usah masuk Mei, rawat aku," ucap Edwin, meski pelan, namun bikin Mei terlonjak kaget, ada apa dengan dirimu makhluk aneh tanya Mei dalam hati
_bersambung_
__ADS_1