
Meisyaa menunggu sampai James selesai makan, ia pandangi James yang menikmati masakannya. Hmmm orang aneh, cueknya minta ampun sama mahasiswa, tapi kalo sama aku kok amit-amit tingkahnya. Pikiran Mei berhenti berkelana saat James tiba-tiba mengangkat wajahnya dari piring yg ia hadapi.
"Mulai sadar kan, kalo aku lebih menarik dari kakakmu?" James tersenyum sambil meraih gelas minumnya.
"Bener, mulai sadar kalo kamu nggak waras," ujar Mei sewot. Terdengar tawa James yang melangkah ke dapur.
"Ayolah cepat James, carikan cara agar kita selesai bermain opera kayak gini, aku nggak mau nanti semakin banyak yang tersakiti," Mei menghentak- hentakkan kakinya ke lantai.
James hendak berbicara saat ponselnya berbunyi nyaring. Ah dari mama pikir James.
Halo mama
Mama ingin bicara pada Meisya, James, masih ada kan? (James memberikan ponselnya pada Meisya)
Yah tante, ini Meisya
Jumat malam ke Perth dengan James ya, tante tunggu, bai Meisya sayang
Dan mama menutup pembicaraan lewat telpon.
"Aaaaahhh gimana ini James haduh mangkel aku sama kamu, mangkel pokoknya, mana hari itu kak Edwin mau datang lagi, terserah kamu dah aku mau pulang, aku lebih milih nunggu kak Ed pokoknya," Mei meraih tasnya dan berjalan ke pintu. James melangkah lebar dan menahan lengan Meisya.
"Apa lagiii?" Mei membentak James.
"Belum cukup kamu nyiksa aku, nggak di kampus, nggak disini, kamu bahagia melihat aku tersiksa, aku mencintai kak Ed, aku akan memilih menunggunya, tapi aku bukan orang yg terbiasa membuat orang kecewa apalagi seusia mamamu dia pasti sangat berharap aku datang," Air mata Mei mengalir dengan deras, James menarik kepala Meisya ke dadanya dan membiarkan kemejanya basah.
Mei mendorong dada James perlahan dan membuka pintu, melangkah cepat dan menghilang di lorong apartemen James.
James masih tertegun di samping pintu. Kejadian begitu cepat, ia masih merasakan harum rambut Meisya di hidungnya. Kemejanya pun masih basah.James menyadari semua ini salahnya. Seandainya ia tidak membawa Meisya ke acara itu, seandainya ia biarkan dirinya dicemooh jomblo seumur hidup oleh kerabatnya, tapi ia tidak tega membiarkan mamanya, selalu menatap dengan sedih tiap dirinya menjadi bahan tertawaan. Kanker ovarium yang diderita mamanya, hanya menunggu waktu menjemputnya ke surga dan James ingin membuatnya bahagia di sisa hidupnya.
***
Dua hari ini James membiarkan Meisya menghindarinya. Tatapan sedihnya saat ia mengajar kemarin meyakinkan James bahwa Mei betul-betul tersakiti. Kembali James mengutuki dirinya yang melibatkan Meisya dalam kemelut masalah dirinya.
***
Matahari hampir menuju ke peraduannya, semburat warna jingga mengikuti langkah pelan James meninggalkan kampus. James memilih jalan memutar, ingin menikmati kesendiriannya di taman belakang kampus yang asri meski malam hampir datang. James berjalan menunduk menatap ujung sepatunya,membiarkan tasnya bergantung di pundaknya.
Sesaat langkahnya terhenti saat melihat sosok mungil Meisya, yg duduk sendiri di taman itu, menatap lurus ke depan,memunggunginya
Ada rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di dada James. Ia menyesal telah menyakiti Meisya, membuatnya melamun, bersedih dan dijam seperti ini masih mematung disini. Meisya adalah gadis ceria, jika sampai ia bersedih berarti ada yang tak biasa terjadi pada anak itu.
James melangkah pelan berusaha tidak membunyikan langkahnya. Dan duduk disisi Meisya. Mei terkejut dan menatap lurus kembali.
"Maafkan aku, undangan mama tidak usah kamu hiraukan, aku akan mencari alasan," James berdiri, menarik lengan Meisya.
"Pulanglah, aku antar, sebentar lagi malam datang, berbahaya kamu sendirian disini," James menunggu Meisya berdiri. Keduanya melangkah pelan, berjalan menuju apartemen.
Saat akan masuk ke apartemennya, Meisya menoleh ke samping.
"Aku akan memenuhi undangan mamamu, aku tidak terbiasa mengecewakan orang tua, aku ingat kedua orang tuaku yang tak sempat aku bahagiakan, kita tak pernah tau, sampai kapan mereka akan ada di sisi kita," Mei membuka pintu dan melangkah masuk, saat membalikkan badannya ia melihat mata James yang berkaca-kaca.
"Terima kasih Mei," ucap James pelan. Dan Mei menutup pintu apartemennya.
***
Mei merasa telah mengambil keputusan yang tepat, ia akan datang memenuhi undangan mamaJames, di waktu yang sama pula ia akan jujur pada mama James,akan ia ceritakan semua sandiwara mereka berdua,Mei akan menyudahi semuanya. Ia lelah bersandiwara. Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring, dengan malas Mei berjalan menuju sofa tempat tasnya tadi ia lemparkan. Nomor siapa ini pikir Mei... Perlahan Mei angkat
Haloo siapa ini
Halo Meisya, ini tante Melda, jangan lupa ya besok malam tante tunggu, ada acara dikit di rumah ngundang sahabat sekaligus relasi bisnis papanya James, jangan lupa sayang yah bai sayang
Iya tante, Mei pasti datang
Pasti mama James meminta nomornya pada James, ya besok, besok akan ia akhiri semuanya. Maafkan saya tante, bisik hati Meisya.
Yang ada dalam pikiran Mei apa yang akan ia katakan pada Edwin jika datang ke apartemennya dan tidak menemukan nya. Mei membalik- balikkan badannya di kasur. Mengapa ia dapat hukuman seperti ini, apakah ia pernah menyakiti seseorang, membuat bingung seseorang sehingga ia menanggung akibatnya kini? Entahlah.
***
Saat akan tidur, ada notif masuk ke ponsel Mei. Dengan malas diraihnya ponsel yang ada di meja. Dari James
Besok jam 9 pagi aku jemput kamu ke apart mu, jam 10 pesawat takeoff, perjalanan ke Perth 4 jam lebih
Ya
Belum tidur
Mau akan
Tidurlah
Ya
Masih marah
Nggak
Kok pendek jawabnya
Ya
Hmmm ya sudah, tidurlah
__ADS_1
Ya
Mei meletakkan ponselnya di meja dan ia mulai memejamkan matanya.
***
Pagi saat Mei menata baju yang akan dibawa ke Perth. Ponselnya berbunyi kakak ganteng is calling..... Ya Tuhan apa yang harus aku katakan Meisya ingin menangis rasanya, ia akan berbohong lagi pada orang yg ia cintai. Tangan Mei bergetar saat mengambil ponsel. Berusaha menenangkan diri agar suaranya terdengar wajar.
Halo kakak
Mei Meisya sayaaang jangan marah ya please jangan marah, kakak belum bisa ke kamu, kakak janji minggu depan, kakak janji deh, Mei Meisya... aduh kok kamu nangis gitu, maafkan kakak ya Mei
Tangisan Meisya terdengar lirih, Edwin merasa bersalah, padahal tangisan Mei adalah tangisan kelegaan, ia tidak perlu berbohong pada Edwin
Meisyaaa maafkan kakak, ada pertemuan dengan klien yang cukup alot sayang, ini ada perusahaan pailit, kakak akan mengambil alih perusahaan itu, butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikan masalah administrasinya
Iya nggak papa kak, Mei kangen kakak, kangen meluk kakak
Meisyaaa kakak juga kangen, minggu depan sayang ya, kakak janji, kamu jangan nangis, kakak jadi merasa bersalah
Iya
Tuh suaranya masih gitu, ya dah jaga kesehatan ya sayang bai
Bai kakak
Meisya merebahkan badannya di kasur, ada rasa capek yang berlebihan, lelah fisik dan pikirannya.
***
Pintu apart Mei ada yang mengetuk, pasti James, ia buka pintu dan James melihat Mei dari atas ke bawah.
"Make baju apa kamu Mei, kok dressnya di atas lutut?" tanya James.
"Nggak papa kan bootsku hampir nyampe lutut," jawab Mei cuek
"Lah kamu ngapain sampe bawa apaan itu di pasang semua ketelinga, buka dulu, ntar di pesawat pasang lagi, ada-ada aja," Meisya terlihat masih marah.
"Iya iya aku buka, haduuh ngambek kok berhari-hari," Mei menutup pintu apartnya dan sempat melihat kepala Gavin nongol dan sembunyi lagi. Ya Tuhan cobaan apa lagi ini, kok ya paaaas the nyinyirs man next the door ngeliat aku mau keluar sama James, apaaa yang akan aku katakan pada monyet sialan itu. Mei jadi semakin pusing.
"Aku bawakan travel bagmu," James mendorong travel bag mungil Mei.
*****
Mei mulai memejamkan matanya sesaat setelah pesawat takeoff. Mei terlihat tidur nyenyak dan tanpa sengaja kepalanya menyentuh bahu James. James membetulkan posisi kepala Meisya agar nyaman di bahunya.
James pun memejam kan matanya yang mulai terasa ngantuk. Satu jam kemudian Mei bangun, membuka matanya perlahan, dan kaget mengetahui kepalanya ada di bahu James, dengan cepat mengangkat kepalanya, dan duduk menyandar kan punggung dan kepalanya pada kursi pesawat.
"Nggak, sudah nggak ngantuk, maaf tadi nggak sengaja," sahut Mei pelan.
"Sengaja pun nggak papa," sahut James tetap memandang Mei.
"Aku nggak mau gurau males," Mei menekuk wajahnya.
"Aku kan sudah minta maaf Mei, aku harus gimana lagi biar kamu nggak marah?" tanya James memelas.
"Ya sudah diam saja," jawab Mei ketus.
"Ya aku nggak mau kalo kamu diam aja, masa di depan mama ntar kita kaku kan aneh Mei," James memelankan suaranya dan mendekati telinga Mei. Mei menoleh dengan wajah ketus...
"Itu masalahmu." James menghela napas berat. Perjalanan terasa menjemukan bagi James karena Meisya hanya mengeluarkan satu dua kata saja tiap dia tanya. Mei sebenarnya tidak tega melihat wajah memelas James, tapi biarlah James tahu bahwa Meisya tidak suka situasi seperti ini.
Perjalanan membosankan berakhir juga setelah menempuh penerbangan empat jam lebih. Mereka mendarat di bandara internasional yang terletak di sebelah barat Guildford, Australia Barat, yang merupakan bandara komersial utama yang melayani ibu kota Australia Barat, Perth.
Meski cuaca cerah menyambut mereka berdua, tidak menjadikan wajah Meisya ikut cerah. James memegang tangan Meisya, yang sejak tadi berusaha lepas dari genggaman James.
"Apa-apan sih," Mei berusaha melepaskan namun justru James semakin menggenggam jemari Mei.
"Kamu tidak lihat apa, mama dan papa menyambut kita, tuh lihat, sedemikian sukanya mereka padamu, sampe bela- belain jemput kamu, padahal aku yang jadi anaknya 28 tahun tak pernah di jemput ke bandara," James berusaha menjelaskan pada Mei dan Mei melemaskan tangannya bahkan berubah memeluk lengan James dan mendekatkan badannya pada badan tegap James.
"Meisya sayang, terima kasih telah memenuhi undangan kami," mama James mencium pipi Meisya dan memeluk nya sangat lama.
"Ayo kita segera ke mobil, biar mereka beristirahat dulu," papa James mengingatkan mama.
Mareka berjalan beriringan menuju mobil, James menarik tangan Meisya kembali dan Meisya hanya memandang James dengan tatapan tak suka.
***
"Ini kamarmu Meisya, beristirahatlah disini sayang, James kamu bisa menempati kamarmu, di sebelah kamar Meisya, selamat beristirahat ya," mama keluar kamar yang ditempati Meisya.
"Kamu nggak mau ke luar?" tanya Meisya pada James yang malah merebahkan badannya di kamar Meisya.
"James, keluar aku mau ganti baju," Mei merengek menarik-narik tangan James agar bangun.
Sekali sentakan tangan James, Meisya langsung jatuh menimpa tubuh James. Meisya ingin berteriak tapi ia kawatir mama James mendengar.
__ADS_1
"Apa-apan kamu, aku semakin benci sama kamu, cuma kak Edwin yang boleh giniin aku," Mei berusaha memberontak melepaskan pelukan James.
James membalik badan Mei sehingga, James menindih badan Mei yg mungil, menatapnya dari jarak dekat dan berkata
"Berkali-kali aku minta maaf, aku tidak mengira jika keadaan akan seperti ini, aku tidak ingin menyiksamu, aku tidak ingin membuatmu luka, tapi apa dayaku jika keadaan malah berbalik menyerangku seperti ini, jika kau merasa sakit karena masalah ini, aku lebih terluka lagi saat melihatmu menangis, mengerti..," di saat yang bersamaan mama James hendak memberi sebuah anting cantik agar dikenakan Meisya nanti malam, namun berbalik saat melihat pemandangan di depannya... mama James menghentikan langkahnya dan langsung berbalik sambil tersenyum.
James berdiri dan menatap Mei sekali lagi sebelum keluar.
"Aku menyukaimu sejak pertama aku melihatmu Mei," James meninggalkan Meisya yang masih tertegun.
***
Meisya memberikan sentuhan akhir pada riasan wajahnya saat mama James memberikannya sebuah anting cantik.
"Pakailah, tante khusus membeli ini untukmu," ujar tante Melda memakaikan anting itu ke telinga Meisya.
"Tapi tante....," Mei ragu menatap wajah mama James.
"Tidak ada tapi-tapian, pakailah," mama James tersenyum.
"Kamu semakin cantik dengan anting itu Meisya," mama James memandang Mei dengan kagum.
"Tante saya ada perlu dengan tante nanti, ada yang akan saya sampaikan," ujar Mei dengan wajah ragu.
"Yah, nanti setelah acara ini selesai kita akan bicara di ruangan tante, sudah dulu ya Mei, tante akan menerima tamu, panggil James jika ia sudah selesai dan bergabunglah dengan kami di samping rumah ini ada hall luas di sana," mama James meninggalkan Mei yang masih mematung bingung.
James masuk ke kamar Mei menatap tak berkedip.
"Bajumu terlalu terbuka, tidak ada baju lain?" tanya James terlihat kurang suka. Mei menggeleng. James menghembuskan napas memberikan lengannya pada Mei dan Meisya menggandeng lengan James menuju tempat jamuan makan malam, yang diadakan papa untuk relasi bisnis dan sahabatnya.
***
Mama menatap dengan tatapan bahagia saat James melangkah masuk ke ruangan bersama Meisya, segera mama memperkenalkan Meisya sebagai calon menantunya pada tamu-tamu yang hadir.
Meisya berusaha tersenyum dengan ramah meski dalam hati ia mengutuki kebodohan dirinya yang terjebak dalam ke tidak nyamanan ini.
"Mau makan, akan aku ambilkan," ujar James pada Meisya. Mei menggeleng. James menatap kawatir
"Kamu belum makan apapun, aku ambilkan ya?" Tiba-tiba ada perempuan cantik tinggi semampai dengan dress yang ketat membungkus badannya mencium pipi James sambil memegang pundak James.
"Lama tak bertemu James, tidak lupa kan padaku, teman kecilmu yang takkan pernah berhenti mencintaimu," ujarnya dengan suara manja. James kaget dan memeluk pinggang Meisya mendekatinya.
"Hai Scarlett, kenalkan ini calon istriku, Meisya," James tersenyum pada perempuan itu dan memandang Meisya dengan tatapan mesra.
"Aaah calon, berarti masih ada kesempatan bagiku, bai James, undangan yang menjemukan bagiku, aku lebih memilih ke club saja," perempuan itu berlalu dari hadapan James. James menghela napas lega.
Tiba-tiba wajah Meisya berubah ceria,ia menarik James menjauh dari keriuhan acara. Ke sudut yang aman.
"Ada apa kamu menarikku ke sini?"tanya James bingung.
"Aku ada ide James, ini akan sama-sama menguntungkan, ini kan mama ngira kita pacaran, nah kita nanti ya putus ceritanya, trus kamu jadian tuh sama si cewek uler tadi, dia kayaknya napsu banget sama kamu, pasti mau," ujar Mei dengan wajah polos.
James membelalak dan marah.
"Aku yang tidak mau, ngerti!" ucap James jengkel. Mei mengehentakkan kakinya ke lantai.
"Ya ayo dong cari cara agar kita bisa gak terjebak terus,aku sudah bilang ke mamamu, kalo setelah acara ini selesai aku ada perlu, akan aku katakan semuanya, akan aku akhiri James," Mata Mei mulai memerah, Mei kaget saat mama sudah ada di antara mereka.
"Kenapa Mei, kamu marah pada James karena Scarlett tadi menciumnya, dia menyukai James sejak dulu, tapi percayalah, James tidak pernah mencintainya," mama James mengusap lembut bahu Mei, Mei dan James sama-sama diam.
"James tidak akan meninggalkanmu hanya karena Scarlett, Mei, percayalah," mama James tersenyum lembut dan meninggal kan mereka berdua.
"Tuh kaaan tambah kaco deh James, ah gimana ini," Mei menarik tangan James keluar dari ruangan dan duduk di taman.
"Ngapain kesini, kamu belum makan, aku ambilkan ya, tunggu bentar," James menghilang dan tak lama kembali lagi.
"Nih makanlah," James menyuapi Mei dan Mei menurut.
"Aku capek James,bener, aku takut menghadapi kedepannya kayak apa, kalopun aku pura-pura cuek nggak negur kamu itu aku berusaha menenangkan diriku sendiri," Mei mengunyah makananya dengan malas.
"Sifatmu berubah-ubah dengan cepat, aku bingung Mei," ujar James memasukan makanan ke mulutnya, menatap Mei dengan lekat.
"Lebih bingung aku James, aku nggak mau kayak gini, tau nggak, yg ada di pikiranku, segera menyelesaikan kuliah, pulang ke Indonesia, nikah dengan kak Edwin bikin anak yang banyak," Mei menerawang.James memandang wajah Mei dengan tatapan sendu.
"Kamu nggak mikir perasaanku pas ngomong kayak gitu Mei," James menghela napas, menyuapkan lagi makanan ke mulut Mei.
"Lah aku kan jujur James, aku menganggapmu seperti kakakku, nggak ada perasaan apapun, tiap kali aku memandangmu yang aku rasakan kekaguman layaknya perempuan kalo liat laki-laki ganteng, setelah itu ya sudah selesai, tapi kalo dengan kak Edwin aku merasakan debaran dan gairah sebagai perempuan normal pada laki-laki," Mei menatap James dengan pandangan memelas.
"Terima kasih kamu sudah jujur, meski aku merasa sakit," James tetap berusaha tersenyum.
Tiba-tiba ponsel James berbunyi, mama menelpon bahwa para tamu sebentar lagi akan pulang, mereka harus kembali ke tempat jamuan makan berlangsung.
***
Mei dan James berdiri di sisi papa dan mama James menyalami tamu yang akan pulang. Saat semuanya selesai, mama James menggamit lengan Meisya.
"Ikut tante, katamu akan mengatakan sesuatu pada tante."Dada James bergemuruh dengan keras, ia tidak membayangkan hancurnya hati mamanya jika ia tahu bahwa Meisya dan dirinya hanya berpura-pura menjadi sepasang kekasih.
Pelan James mengikuti langkah keduanya. Mama mengajak ke ruang kerja papa. Disana mereka duduk berdua. James berada di luar pintu, berdiri dengan perasaan tak menentu.
_bersambung_
__ADS_1