
*SUK*
#54
Edwin menarik lengan Mei yang membawa air botol besar, keduanya melangkah sambil menahan tawa. Lalu terdengar pintu kamar terbuka dan James yang berteriak memanggil Edwin.
"Eeed, Meeeiii.. ngapain kalian jalan sampek kayak mau lari aja," James benar-benar merasa tidak enak karena ia keluar dari kamar Al dan bajunya yang kancing bagian atasnya terbuka.
Mei dan Edwin kembali menghampiri Al dan James sambil tertawa.
"Nggak papa lanjutkan aja, mumpung disini, itu kamar penuh kenangan bagi kami," Edwin melihat telunjuk James yang berdarah.
"Ah kamu ini, nggak, ini loh telunjukku kena duri tadi, ituuu pohon yang dekat kamarku, aku nggak sengaja nyentuh, ternyata berduri, aku ke Al mau minta apalah untuk menyembuhkan ini, eh sama Al malah telunjukku langsung dimasukkan ke mulutnya, makanya aku larang," James menjelaskan dengan wajah memerah dan Al yang masih saja tertawa di samping Edwin.
"Aku cuman mau bantuin ngeluarin darahnya nanti ya aku ludahin, soalnya kalo dibiarkan bisa semakin sakit," ujar Al memberi alasan.
"Suara James mengerikan kedengaran nya ya sayang, Aaaal jangan.. nah kami pikir kalian ituuu..," Edwin kembali tertawa. Wajah James dan Al memerah sedang Mei tertawa melihat James yg hanya menggaruk kepalanya dan meninju lengan Edwin. Mei memberikan botol air agar diletakkan di kamar Al.
"Ayo James ke ruang makan saja, ada obat merah atau bersihkan dulu pakai antiseptik," Mei mengajak James dan mereka berempat menuju ruang makan.
***
Pagi-pagi terlihat persiapan untuk ke puncak. Mereka akan menuju ke vila milik Edwin, peninggalan turun temurun dari mamanya. Setelah semua terlihat siap mereka menuju mobil, tentunya bersama bu Minda juga, awalnya bu Minda enggan, namun Edwin mengajak serta mamamya, lama sekali bu Minda tidak mengunjungi vila milik keluarganya yang sudah ia serahkan kepemilikan nya pada Edwin.
Perjalanan yang melelahkan karena weekend seperti ini pasti jalanan macet. Hampir tiga jam akhirnya mereka sampai. Dengan dibantu supir mereka menurunkan travel bag dan barang bawaan lainnya.
Meski siang hari udara di puncak sangat dingin. Bu Minda segera menuju ke dapur untuk menyiapkan maka siang, dibantu oleh Meisya yang cekatan, untungnya Al dan James juga tidak sulit makan, Mei hanya mempersiapkan chines food saja untuk tamunya, untuk makan malam mereka sudah menyiapkan akan membakar ikan.
"Mei jika capek istirahatlah, biar ibu yang ngerjakan, toh ini ada bu Ningsih yang bantuin ibu, oh iya ikan-ikan untuk nanti malam sudah siap ya bu Ningsih?" tanya bu Minda pada orang yang selama ini ia percaya untuk menjaga vila milik keluarganya.
"Sudah bu, sudah siap, saya masukan ke dalam freezer, suami saya yang cari ke pasar, besar- besar bu ikannya, ada udang sama cumi juga sepertinya, saya sudah siapkan bumbunya untuk bakar-bakar ikan nanti malam," ujar bu Ningsih sambil memperlihatkan ikan-ikan yang sudah ia siapkan, lalu dimasuk kan kembali ke dalam freezer.
Setelah siap semua, Mei masuk ke kamarnya, ia melihat Edwin yang tertidur, Mei duduk di samping suaminya dan menciumi wajah Edwin. Edwin membuka mata, membalas ciuman Mei.
"Ih malah kakak yang makin jadi, ayuk makan siang dulu, kasihan tamunya, mereka belum aku susul ke kamarnya," Mei mengganti bajunya dengan baju rumah namun tetap berbaju tebal karena dingin yang menusuk.
***
James mengetuk kamar Al, dan membuka sedikit pintunya, melihat Al yg sudah ganti baju dan terlihat memakai jaket nya. James mendekati Al dan berdiri didekatnya
"Ayuk kita ke ruang makan, tadi Ed nelpon aku," ujar James mengamati Al yang mengikat rambut panjangnya hingga terlihat lehernya yang jenjang, menoleh pada James dan tersenyum.
Dingin banget ya ternyata di sini, meski Indonesia tropis ternyata ada tempat- tempat tertentu yang dinginnya kayak gini," ujar Al yang tiba-tiba memeluk James, James diam saja, sampai Al mendongak menatapnya.
"Aku kedinginan, kamu nggak peka, masak kamu nggak pengen meluk aku?" tanya Al. James hanya tersenyum dan memeluk Al.
"Kan kamu sudah pakai jaket," ucap James pelan menatap wajah Al dari dekat.
"Jaaames cium aku," Al terdengar merengek. James mencium kening Al dan Al memukul dada James pelan.
__ADS_1
"Aaaah bukan disitu," rengek Al lagi.
"Kita makan dulu, sudah ditunggu sama mereka yuk, nanti kalo mau aku cium, jangan sekarang," James berbisik pelan bersamaan dengan Mei yang membuka pintu kamar Al dan terlihat kaget dan mundur beberapa langkah.
"Eh maaf, aku tidak tahu kalo ada James, aku masuk karena pintu kamar Al agak terbuka sedikit," Mei menahan tawa saat kedunya terlihat kaget melepas pelukannya. James dan Al terlihat malu, mereka berjalan di belakang Mei menuju ruang makan tanpa berbicara.
Saat makan Al dan James terlihat diam saja
"Eh ayolah nambah ini Al, James, kok kalian kayak malu-malu gitu," ujar Edwin yang makan dengan lahap.
Bu Minda mendekatkan lauk ke arah Al dan James. Dan menawari untuk menambah lauk.
"Iya nih kalian, ayolah makan, santai aja, nggak papa disini kalian latihan pelukan dan ciuman, nggak ada yang liat kok, tadi aku nggak sengaja," ujar Mei sambil tertawa, Edwin melihat Al dan James lalu ikut tertawa menatap istrinya yang menutup mulut karena makanannya hampir berhamburan.
"Ah kalian selalu begitu," James menggelengkan kepalanya, melanjutkan makannya.
Setelah makan Mei dan Al membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Mereka menyusul Edwin dan James yang terlihat sudah duduk menghadap ke areal persawahan warga yang ada di bawah, pemandangan indah, karena mereka melihat semuanya dari balkon lantai dua.
"Duduk sini sayang , bentar lagi meski sore ntar kabut perlahan turun, James kamu di sana tuh sama Al, aku mau duduk sama istriku yang perutnya makin gendut ini," dan Mei menyandarkan badannya pada Ed yang disambut pelukan serta ciuman.
James pindah tempat duduk sambil tersenyum yang diikuti oleh Al yang duduk merapat di sampingnya. James terlihat kikuk merasakan Al yang merapat dan menyandarkan kepalanya kebahunya.
"James kamu kok nggak peka benget sih, ini udara dingin, tuh Al sampek merapatkan jaketnya dan merapat ke kamu, peluk bahunya apa gimana, duh ni anak perlu training dulu apa?" Edwin berlagak seolah mengancam James namun menahan tawa, dengan ragu James memeluk bahu Al dan merapatkan ke dadanya.
"Nah gitu dong, kamu ntar merasa hangat kok James," Mei menimpali ucapan Edwin.
Perlahan kabut turun, semakin tebal, membatasi pandangan dan dingin semakin menusuk, namun tidak bagi Edwin dan Mei karena keduanya benar-benar berpelukan, sementara Al semakin erat memeluk James dan James yang merasa tak nyaman dengan duduknya.
Al menarik lengan James dan menggenggam tangannya, James merasakan tangan Al yg dingin dan perlahan ia eratkan genggamannya, sambil berjalan menunduk dan Al semakin gemas menatap James dari samping sambil melangkahkan kakinya.
***
Kembali James mengetuk kamar Al saat akan makan malam. Tidak ada sahutan, terpaksa James buka dan masih melihat Al yang meringkuk di tempat tidur.
"Ayo kita makan, dari tadi harum ikan yang dibakar dah nyampe ke kamarku," ajak James. Al masih saja tiduran sambil menatap James.
"Kamu nggak pengen nyium aku?" tanya Al dengan wajah berharap. James menunduk dan mencium kening Al. Al memukul lengan James pelan.
"Ih mesti, bukan disana, di bibir," ujar Al jengkel.
"Jangan, aku laki-laki normal,meski aku belum sepenuhnya ngerti perasaanku padamu, tapi kalo dipancing- pancing aku takut melampaui batas, aku nggak mau nyakiti kamu lagi, kalo suatu saat aku benar-benar cinta sama kamu, kita nikah, aku akan melakukan apapun yang kamu minta," James memandang Al yang terlihat kaget lalu terlihat mata Al berkaca- kaca dan seketika memeluk James.
"Aku akan menunggu kamu mencintai aku, aku akan menunggu, sejak awal aku lihat kamu, aku yakin kamu bisa bikin aku nyaman dan tenang," terdengar isakan Al. James mengelus rambut Al. Dan melepas pelukan nya, menatap wajah Al dari dekat dan menghapus air mata Al.
"Aku akan belajar mencintaimu Al, hanya aku tidak tau kapan benar-benar mencintai kamu," James mendekatkan bibirnya pada bibir Al dan perlahan ia usap bibir bawah Al lalu melumatnya dengan penuh perasaan, James merasakan bibir Al yang bergetar dan air mata Al yang mengalir.
Al melepaskan ciuman James dan memeluknya dengan erat,ia menangis sejadinya. James bingung dan merasa bersalah.
"Maafkan aku Al," bisik James kawatir. Al menggeleng pelan.
__ADS_1
"Makasih James, makasih, kamu nggak papa kan meski aku sudah pernah.. penah dengan yg lain, bahkan sampai keguguran?" James menutup bibir Al dengan jarinya.
"Sudahlah, itu masa lalu, kita akan hadapi masa depan bersama, asal kamu sabar menunggu ku, menunggu aku benar-benar yakin mencintaimu," James menghembuskan napasnya dengan berat.
James melepaskan pelukannya dan mengajak Al segera ke ruang makan.
***
Mei memandang Al dengan kening berkerut saat menyadari mata Al yang sembab, Mei memberi kode pada Ed dengan pandangannya yang mengarah ke Al. Edwin sejenak terpana dan mengedikkan bahunya.
Bu Minda pun terlihat kaget waktu melihat Al yang lebih banyak menunduk seolah menyembunyikan matanya yang sembab.
"Ayo ayooo dinikmati, ini ada udang, cumi, kerapu bakar, sama ikan apa ini yaaaa... hmmm enak loh bumbunya, ini sambelnya, ada yang pedas, ada yang nggak pedas, ayo Al sayaaang," bu Minda menawarkan macam-macam makanan pada Al yang terlihat enggan, Al berusaha tersenyum dan James akhirnya mengambilkan nasi dan lauk untuk Al.
Edwin dan Mei saling melirik menahan senyum, tumben banget melihat James yang tanggap tanpa di suruh. Sesekali menatap Al yang juga menatap James saat makan.
Saat membereskan meja makan berdua dengan Al sementara James dan Ed sedang menyiapkan jagung untuk dibakar, Mei mencoba bertanya.
"Maaf Al, kamuu, kamu bertengkar sama James?" tanya Mei sambil duduk dan menarik Al duduk di sampingnya. Mata Al kembali berkaca-kaca.
"James mengatakan padaku akan belajar mencintaiku Mei, aku bahagiaaa banget, dan dia tadi untuk pertama kali menciumku dengan penuh perasaan, biasanya aku yang selalu memulai."
Mei terlihat bahagia dan menggenggam tangan Al.
"Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, dia orang yang baik dan lembut Al, aku yakin kamu akan bahagia dengan James, berusahalah, bertahanlah," Mei melihat Al yang mengangguk lalu memeluk Mei.
Tiba-tiba James dan Edwin berdiri di depan mereka berdua.
"Ayo ibu-ibu, kita mulai membakar jagung, sudah siap olesan untuk rasa apa saja," Edwin mempersilakan sambil membungkukkan badan.
"Aku belum ibu-ibu Ed," ujar Al perlahan.
"Bentar lagi, bentar lagi Aaaal, aku bilang gini ini, menantang James agar segera menjadikanmu ibu dari anak-anaknya," dan tawa Edwin membahana memenuhi ruangan, bu Minda dan bu Ningsih hanya geleng-geleng kepala melihat dari dapur.
Dan malam itu dihabis kan dengan acara membakar jagung. Edwin dan Mei melihat James perlahan-lahan mulai memperlakukan Al lebih dari biasanya. Karena terkadang baik Ed maupun Mei merasa mangkel dan gemas dengan sikap cuek James pada Al, sementara Al lebih sering terlihat menahan sedih dan kecewa karena perlakuan James
***
Pagi-pagi mereka dikejutkan oleh Edwin yang tergopoh-gopoh menggedor kamar mamanya, bu Minda membuka pintu kamar dengan tatapan bingung
"Ada apa Ed?"
"Mei maaaa, Mei mengerang memegang perutnya," Edwin menyeret mamanya ke kamar Edwin.
Bu Minda tergesa-gesa melangkah dan masuk mendekati Mei yang keningnya penuh dengan keringat.
"Sayaaang apa yg kamu rasakan, ini masih bulan ketujuh kan?" tanya bu Minda. Meisya tidak mampu menjawab ia hanya mengatupkan bibirnya, menggeleng pelan sambil mendesis menahan sakit.
"Eeed cepat, ayo kita ke rumah sakit terdekat..
__ADS_1
***