Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
39


__ADS_3

*SUK*


#39


Edwin melepaskan pelukannya pada Meisya dan melangkah menuju pintu. Muncul wajah yang menyebalkan bagi Edwin saat ia sudah membuka pintu.


"Apaan lo, gangguin aja,  baruuu aja gue mau mulai nih nggak jadi dah," Edwin tak menyilakan masuk tapi Zaki sudah masuk duluan ke kamarnya sambil tertawa dengan keras.


"Lo tau, gue langsung ke sini dari bandara, demi lo," ujar Zaki mengitari pandangannya ke suite room yang sangat luas, yang ditempati Edwin dan Meisya.


"Gak ngurus gue, cepet mana kado lo, trus pulang sana," suara Edwin terdengar jengkel tapi dia mengambilkan softdrink dan beberapa kudapan yang dibawa oleh mamanya tadi.


"Tunggulah gue napas dulu, weh nih kamar enak banget Ed, luas, berapa semalem nih, enak bener lo, bisa eksplor dimana-mana ya sama istri lo?" suara tawa Zaki semakin keras


"Emang lo, maniak, hiper, gue makhluk normal man, istri gue masi hijau urusan gituan kalo sejak awal gue aneh-aneh, kasian dia bisa trauma, nih minuman sama makanan mama yang bawa, makanlah," Edwin memberi kode dengan matanya.


Zaki meneguk minuman nya dan terlihat mengeluarkan sesuatu. Diambilnya tangan Edwin, dan diletakkan sebuah amplop sedang berwarna coklat.


"Maaf gue gak bisa ngasi apa-apa, cuman ini, itupun kalo lo mau, bulan madu ke Bali lima hari, cepet bilang ke gue kalo lo mau, gue langsung telpon pihak hotelnya, kapan lo ke sana," ujar Zaki dengan suara terdengar serius,  sesaat Edwin terperangah.


"Zak, lo serius kan?" ucap Edwin menatap wajah Zaki.


"Ed, lo dah kayak sodara bagi gue, gue ingat sejak dulu kalo gue susah lo yang bantuin, nggak ada yang bisa gue bales ke lo dan mama Minda juga, mau ya Ed biar utang gue ke lo gak banyak-banyak amat," Zaki menatap Edwin tanpa senyum dan menghabiskan sisa minumannya.


"Makasih Zak, gue mau, gue emang mau ngajak Mei bulan madu, rencananya keluar lah,  eh dia nggak mau, gue maunya ke Paris biar rada romantis eh si Mei bilang disini aja dah kayak bulan madu, tapi omong-omong ada duit lo buat bayarin gue Zak?" tanya Edwin menahan tawa.


"Lo pikir gue miskinamat sampe gak kuat bayarin lo, tapi gue mampunya ya Bali man, kalo ke Paris weh bukan kelas gue lah,lo emang banyak uang tapi setidaknya kado dari gue ini biar bikin kenangan ke lo sama istri, ntar kalo lo punya anak, paling tidak ingat gue bahwa proses bikinnya karena kado dari gue," tawa Zaki kembali memenuhi ruangan.


"Bangke lo," Edwin meninju lengan Zaki.


"Ya dah gue pulang, eh mana nih istri lo, lo sembunyiin aja," Zaki terlihat melihat ke arah dalam.


"Mei sayaaaang ini ada bangsa dedemit mau pamit pulang," Edwin memanggil Mei dan Mei keluar sambil tersenyum dan bersalaman pada Zaki.


"Selamat ya Mei, ati-ati sama nih orang jangan mau kalo disuru gaya aneh-aneh," Zaki didorong keluar oleh Edwin dan Mei terlihat menahan tawa.


Sesampainya diluar, Zaki masih saja tertawa. 


"Weh beruntung banget lo man dapet yang gres gitu, main berapa ronde looo ampe keliatan kalo istri lo capek wakakakak," Zaki menghindar dan melambaikan tangan saat Edwin hendak memukul lengannya.


Edwin masuk ke kamarnya dan geleng-geleng kepala.


"Sayaaang dimana kamu?" tanya Edwin mengambil amplop coklat dari Zaki dan mengeluarkan isinya, ada brosur tentang hotel yang akan mereka tuju.


"Disini, di kamar, capek,  mau ngelanjutin tidur aja," sahut Mei, dan melihat Edwin memperlihatkan brosur hotel. 


"Sayang kita dapat ini dari Zaki, kita bulan madunya ke Bali aja ya,  ato setelah ke Bali lalu ke Paris aku pengen banget kita kesana," ujar Edwin merebahkan badannya di sisi Mei. Mei diam saja, mengambil brosur dari Edwin dan melihat sekilas.


"Kalo Mei sih pengennya nggak ke mana-mana,  berdua aja di kamar, nggak ngapa-ngapain, Mei maleees perjalanan jauh, bagi Mei yg penting dekat sama kak Ed,  udah kayak bulan madu," Mei tiba-tiba berada di atas badan Ed dan mencium Edwin, Edwin kaget dan ia merasa Mei mulai berani memancingnya.


Ia balik badan Mei berada di bawahnya. Mei melihat wajahEdwin dengan agak takut. 


"Kau memancingku, Mei, menindihku hmmmm," Edwin mulai menciumi Meisya.. Meisya baru menyadari jika gurauannya akan mengakibatkan ia harus ke kamar mandi lagi...


***


"Ih kakak, kan Mei cuman pengen nyium aja, kenapa ujung-ujung gini lagi," ujar Mei menelungkupkan badannya dan Edwin terkekeh pelan,  memejamkan matanya dan kembali mencium punggung terbuka Mei sekilas.


"Mei ngeri deh kalo lima hari di Bali, ntar giniiii terus, bisa ancur nih badan, nggak usah ke Bali ya kak?" pinta Mei setengah memohon.


"Aku nggak enak ke Zaki sayang, nggak usah lima hari, tiga hari aja, gimana?" tawar Edwin.


"Ato nggak papa lima hari tapi ngajak ibu," Mei pun memberi penawaran dan Edwin tertawa dengan keras sambil menciumi kepala Meisya.


"Kalo ngajak mama namanya bukan bulan madu sayang, rekreasi, nggak dah, tiga hari aja ya, mau ya sayang?" Edwin memeluk Meisya yg masih menelungkup kan badannya. Mei mengangguk pelan.


"Iya daaah," Mei memunggungi Edwin dan menarik selimut sampai ke dadanya. Terdengar langkah Edwin menuju kamar mandi dan suara shower yang dihidupkan.


Saat Edwin masih di kamar mandi terdengar ponsel Edwin berbunyi. Mei bangun melilitkan selimut ke badannya dan melangkah ke meja,  meraih ponsel dan terlihat nama bu Minda disana.


Halo ibuuu


Noooon mana den Ed ya Allah gusti, nyonyah non nyonyah


Ada apa biiiik kenapa ibuuu ada apaaa


Ndak tauu pokoknya cepet pulang ini nyonyah tiba-tiba pingsan, untung tadi sempat saya pegangin..


Iyah iyaaa saya akan ke sana sama Edwin biii


Meisya meletakkan ponsel dan segera mengggedor pintu kamar mandi. 


"Kak, cepet mandinya," teriak Meisya. Edwin muncul dengan rambut basah dan keheranan.

__ADS_1


 


"Ada apaaa sayang mau pipis?" tanya Edwin.


"Ibu kaaak, ibu, tadi bik Sum nelpon, ibu pingsan, bik Sum bingung, nangis tadi, aku mandi dulu, tunggu aku kak," Mei melesat ke kamar mandi. Edwin terlihat bingung....


Ada apa dengan mamanya, setahu Edwin mamanya tidak mempunyai penyakit serius, ada sih hipertensi tapi karena mamanya selalu rutin kontrol ke dokter, hampir tidak pernah jadi masalah, apa tadi bertemu om Ben di bandara atau ada masalah lain yang tidak ia ketahui....


***


Edwin akhirnya memutuskan checkout dari hotel hari itu juga, selama perjalanan menuju rumahnya, ia melamun. Mobil kantor yang dikemudikan oleh sopirnya terasa lamban oleh Edwin meski berkali-kali ia menyuruh agar sopir menambah kecepatannya.


Sesekali Edwin terlihat menelpon Zaki agar segera ke rumahnya, untuk memastikan mamanya baik-baik saja.


***


Sesampainya di rumah,  Edwin dan Meisya bergegas ke kamar bu Minda. Terlihat Zaki yang duduk di samping bu Minda yang memejamkan mata. Zaki memberi kode agar Edwin dan Mei tidak bersuara. Dan Zaki melangkah keluar kamar. Meninggalkan Mei berdua dengan bu Minda yang masih memejamkan mata.


"Kenapa mama gue Zak?" tanya Edwin gelisah.


 


"Tensinya tinggi Ed,  untung mama kuat, nggak papa, cuman ya itu, efeknya pingsan, mungkin baru kali ini tensinya tinggi ampe 220/95, sempat sesak napas tadi tapi sudah nggak sekarang  setelah sadar nggak papa kok,  enak tadi ngomong sama gue, meski pelan dan sesaknya dah berkurang, ternyata mama lo dah lama nggak ngonsumsi obat hipertensinya karena dirasa aman-aman aja katanya, wah ya nggak bisa gitu, harus rutin tiap hari, sudah gue resepin,  masi nyuru satpam lo ke apotek," Zaki menjelas kan panjang lebar.


"Eh Ed, kayak ada yang dipikir sama mama lo, ada apa?" tanya Zaki. 


"Gue juga gak tau, tadi kan ke hotel, ke gue,  baik-baik saja kok, itu yang gue pengen tahu, ada apa?" tanya Edwin heran.


Tak lama obat yang dibeli sudah datang. 


"Nih Ed obat mama, kasi ya sesuai aturan," ujar Zaki memberikan obat bu Minda ke tangan Edwin.


"Makasih Zak, sorry ngerepotin lo, lo baru nyampe dah gue siksa lagi," ujar Edwin menatap Zaki dengan wajah serius.


 


"Tumben lo waras," ujar Zaki menahan tawa.


 


"Ah lo, eh tawaran lo yang ke Bali di cancel dulu ya Zak, tapi gue dan Mei mau," ujar Edwin lagi.


"Iya dah gampang itu,  gue pulang dulu ya Ed,  salam sama mama,  jangan lupa obatnya diminumkan," Zaki mengambil tasnya dan melangkah ke luar diantar oleh Edwin.


***


Tak lama bu Minda membuka matanya. Orang pertama yang ia lihat adalah Meisya lalu Edwin.


"Mei?" suara bu Minda terdengar lemah.


"Iya ibu, ibu ingin apa?" suara sengau Mei membuat bu Minda menatap wajah Mei agak lama. 


"Kamu menangis, ibu tidak apa-apa, bik Sum suru buat bubur ya," pinta bu Minda dan memejamkan matanya kembali. Mei melangkah ke dapur mencari bik Sum.


Edwin mendekati mamanya, memegang tangan mamanya. Dan terlihat air mata mengalir dari mata mamanya yg terpejam.


"Ada apa mama, ceritakan sama Ed,  jangan mama pendam, pasti ada yang mama pikir," ujar Edwin pelan. Bu Minda membuka matanya.


"Ben, Ben, Edwin," suara bu Minda terdengar lirih. Edwin kaget, mendekatkan wajahnya pada mamanya.


"Ada apa dengan om Ben, mama?"


*****


Edwin memandang wajah mamanya dengan cemas.


"Mama, maaf apa mama masih menyimpan rasa pada om Ben?" tanya Edwin pelan. Bu Minda menggeleng dengan kuat.


"Tidak, tidak lagi Ed,  selesai sudah semuanya saat ia membiarkan mama melangkah sendiri, keluar dari rumahnya dan dia hanya melihat mama dengan mata sedihnya, mama menyesal pernah mencintai laki-laki lemah, mama salah mengira dia akan kuat memperjuangkan mama, hanyaaa hanyaaa," bu Minda memejamkan mata dan air matanya mengalir lagi dengan deras.


"Nggak usah dipaksakan cerita mama, biar mama tenang dulu, bisa nanti ato besok mama cerita ke Ed ato Mei, mama istirahat dulu ya, Edwin mau ke dapur nyusul Mei,  kali buburnya dah siap," Edwin beranjak bangun meninggalkan mamanya.


Edwin ingin menelpon Edwina, tapi melihat jam ia kawatir Edwina belum sampai ke Singapura, ia ingin tahu apa yang terjadi di bandara.


Sampai di dapur ia melihat bik Sum yang baru saja menyelesaikan membuat bubur dan Mei yang menyendokkan bubur ke piring.


Mei melihat Edwin yang memandangnya dari ruang makan. 


"Apa sayang, mau bubur juga?" kata Mei mendekati Edwin sambil membawa piring berisi bubur. Edwin hanya tersenyum.


"Nggak, maaf ya sayang, bulan madu kita jadi tertunda, aku jadi kepikiran," ujar Edwin masih menatap Mei dengan mesra. Tiba-tiba bik Sum sudah di dekat mereka.


"Bulan madu disini dulu den Ed, tuh di kamar non Mei, kan kamar penuh kenangan," bik Sum berlalu meninggalkan mereka dengan menahan tawa. Meisya dan Edwin pun tertawa bersama.

__ADS_1


"Ih bik Sum bikin malu aja, aku ke kamar ibu dulu ya sayang," Meisya melangkah menuju kamar bu Minda dan Edwin duduk di ruang makan, mengeluarkan ponselnya.


***


Mei membuka kamar bu Minda pelan, duduk di sisi kasur dan bu Minda membuka matanya.


"Makan dulu ya ibu, biar Mei suapi," Mei melihat bu Minda yang berusaha bangun, cepat ia letak kan piring bubur dan membantu bu Minda menata bantal agar agak tinggi dan bisa untuk sandaran.


"Ibu makan sendiri aja Mei, pusing ibu sudah berkurang, tungguin ibu aja disini," ujar bu Minda mengambil bantal dan diletakkan dipangkuan nya, lalu meraih selembar tisu disamping nya dan meletakkan piring bubur di atas tisu. Pelan bu Minda menyuapkan bubur ke mulutnya.


Mei menatap bu Minda yang terlihat lelah. 


"Ibuuu ibu harus sehat ya, selama libur Mei nggak akan kemana- mana, mau nungguin ibu aja sampe sehat," ujar Mei pelan, bu Minda tersenyum.


"Maafkan ibu ya Mei, ibu mengganggumu dan Edwin juga, ibu nggak papa kok, jika kalian berniat bulan madu,  berangkatlah, ibu ada bik Sum disini," buMinda kembali menyuapkan bubur ke mulutnya sedikit dan berusaha meraih air di dekatnya, Mei mengambilkan air dan memberikan pada bu Minda.


Mei kembali meletakkan gelas setelah bu Minda selesai minum, dan bu Minda memberikan piring bubur pada Mei.


"Sudah Mei, nanti ibu makan lagi, yg penting ada bubur hangat masuk ke perut ibu," ujar bu Minda. Dan kembali membenahi bantal.


"Nggak ibu, Mei sama kak Ed nggak akan kemana-mana sebelum ibu benar-benar sehat," ujar Mei membantu bu Minda untuk membaring kan badannya lagi.


"Jangan sayang, kasian Edwin, dia sangat ingin berbulan madu, waktu kamu masih diAustralia,  dia bolak balik bilang sama ibu pengen ngajak kamu ke Paris, pengen nya seminggu disana," ujar bu Minda sambil memandang Mei yang terlihat enggan.


"Mei nggak suka perjalanan jauh ibu, biar aja di rumah,deket sama kak Ed sudah kayak bulan madu, kan Mei sudah lebih sering jauh sama kak Ed, jadi berdua disini sudah cukup, tapi tadi mas Zaki teman kak Ed ngasi kado berlibur ke Bali lima hari, kayaknya itu aja ibu, saya akhirnya nggak tega buat nolak," kata Mei memandang bu Minda sambil tersenyum


Nahbener Mei berangkat aja, kasihan Ed," bu Minda menggapai Mei dan Mei mendekat.


"Cepet kasi ibu cucu yah," ujar bu Minda mengelus lengan Mei pelan. Dan wajah Mei memerah. 


"Iya ibu, tapi Mei kadang capek, kak Ed emmm itu terus-terusan sih," Mei menundukkan wajahnya dengan wajah memerah dan bersamaan dengan Edwin masuk ke kamar mamanya dan tertawa memenuhi kamar.


"Sayaaaang bikin malu aja, kan nggak papa ya ma, biar mama cepet dapat cucu ntar ya ma?" Edwin mendekati Mei dan mengacak rambut Mei.


"Iyaaa tapi Mei kan capek," ujar Mei pelan dan bu Minda menahan senyum, Edwin menutup bibir Mei dengan tangannya.


"Ayo kita keluar saja sayang, biar mama istirahat, nanti Edwin balik lagi ya ma, kalo mama dah lumayan istirahatnya," ujar Edwin menatap mamanya sekilas dan menarik Meisya keluar dari kamar mamanya, sambil membawa piring bubur ke dapur.


***


Edwin memeluk Mei berjalan menuju kamarnya.


"Loh kak mau ke mana?" tanya Mei bingung.


"Ya ke kamar kita sayang, semua barangmu dah pindah ke kamarku," Edwin mencium ujung kepala Meisya berkali-kali. Mei terlihat bingung.


"Oh yaaa, aduh ke kamarku dulu yuk kak,  liat-liat bentar," Mei menarik Edwin ke arah kamarnya disisi kolam renang. Mereka berdua menyusuri pinggiran kolam renang berjalan pelan dan Mei memeluk Edwin dari samping. Mei menarik Edwin duduk di pinggiran kolam renang.


"Ngapain duduk disini, masuk aja lah ke kamar kamu," ajak Edwin berdiri dan menarik Mei masuk ke kamarnya dan ternyata benar, barang-barang Meisya telah pindah tempat, Mei melihat isi lemarinya pun sudah kosong.


Mei mengitari pandangannya ke seluruh kamar dan duduk di kasur yg masih bersih terawat, ia elus perlahan kasur itu dan merebahkan badannya.


"Ngapain sayang, kalo mau tidur ayo ke kamarku aja yuk?" ajak Ed lagi.


"Bentarlah kak, aku jadi ingat pertama aku masuk ke rumah ini, dibentak kakak lalu malemnya liat kakak renang ih nakutin," kata Meisya sambil tersenyum malu. Edwin mendekati Meisya dan tidur di sisinya, memeluk Mei lalu mendekatkan hidungnya pada pipi Mei


"Iyaaa lalu kamu nulis di buku harian kamu, pengen meluk aku, pengen gigiti badanku dan apa lagi semua kamu nulis yang gitu itu," Edwin menciumi Mei dan Mei menutup mulut Edwin dengan kedua tangannya.


"Nggak usah ngomongin ituuuu, itu kan cuman khayalan anak labil ih kakak, Mei kan seumur- umur baru liat cowok cuman pake daleman doang ya pas itu, pasti kagetlah," Meisya menahan malu dengan tangan tetap di mulut Edwin.


Edwin melepaskan tangan Mei, mendekatkan bibirnya pada bibir Mei dan mengecupnya perlahan, tanpa Edwin duga Meisya memeluk leher Edwin dan memperdalam ciuman nya, Mei semakin hilang kesadaran saat tangan Edwin menjelajah semampunya dan bibir Edwin mencari tempat yang bisa ia jangkau....


***


Edwin menyelimuti badan Meisya dengan selimut yang ada di kasur Mei, dan Mei tertidur sangat nyenyak, untunglah bik Sum masih menyisakan selimut di kamar ini, pikir Edwin, akhirnya Edwin hanya memakai celananya dan bertelanjang dada menuju kamarnya, saat melewati dapur ia berpapasan dengan bik Sum.


"Hmmm bener kan kejadian dah den Ed, bulan madunya di kamar non Mei," bik Sum tertawa sambil menutup mulutnya. Edwin tertawa dan melangkah menuju kulkas mengambil minum dan meneguknya sebanyak mungkin.


"BikSum nggak nyisakan apa-apa disana, ini Ed terpaksa ambil handuk untuk Mei dan Ed mandi, untung masi ada selimut untuk nyelimutin Mei," Edwin melangkah menuju kamarnya,


"Den mana non Mei nya?" tanya bik Sum.


"Tidur bik, kecapean kayaknya," teriak Edwin sambil menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ya Allah Gusti, den Ed yaaaa, non Mei sampe dibuat capek," bik Sum kembali tertawa memenuhi dapur, terdengar tawa Edwin yang tak kalah keras.


***


Sore Edwin menelpon Edwina, dia bertanya apa yg terjadi di bandara dan memberi tahu keadaan mamanya saat ini. Edwina hanya bercerita bahwa saat ia boarding memang sempat melihat om Ben yang memegang lengan mamanya sambil memandang dengan tatapan memelas, dan melihat om Ben berbicara lalu wajah mamanya yang terlihat kaget sambil menutup mulutnya, setelah itu Edwina tidak tahu kejadian selanjutnya. Edwina kaget saat mendengar dari Edwin kondisi mamanya yang sempat pingsan. Namun sampai saat ini apa yg membuat mamanya limbung, belum ada yang tahu.


Edwin menghela napas, Edwin yakin meski mamanya mengatakan berkali-kali sudah hilang rasa cinta pada om Ben, tidak akan semudah membalikkan tangan menghilangkan rasa cinta pada orang yang telah memberikan kenangan manis, menjalin hubungan yang lama bahkan mereka telah memiliki anak, hubungan mereka terlampau jauh dan dalam, sesakit apapun akhir kisah mereka, pasti akan menyisakan sedikit rasa yang sulit diungkapkan...


Edwin melangkah pelan,  membuka kamar mamanya, dan kembali melihat mamanya berbaring,  memejamkan mata dan lelehan air mata membasahi pipinya...

__ADS_1


"Mama, mama cerita ke Ed ya," bu Minda kaget saat tiba-tiba Edwin ada di sampingnya. Bu Minda menghela napas.


"Ben, Edwin, dia bilang ke mama, ia ingin mama menemani meski hanya sekali saja, saat kemoterapi pertama.....  Ben ..... baru tahu jika ia kena kanker kelenjar getah bening dan James belum tahu tentang hal ini... "


__ADS_2