
*SUK*
#53
Edwin menatap wajah James dan Al bergantian
"Aku titip Mei selama aku tidak di sisinya," ujar Edwin sambil memegang bahu James, dan James mengangguk tanpa tersenyum.
"Tentu Ed, tanpa kamu minta, kami pasti akan selalu ada untuk Mei," jawab Al sambil menatap Mei yg terlihat menatap tak suka pada Edwin.
"Kak, aku nggak usah dititip-titipin, aku nggak sakit, aku ini hamil kaak, sejak kecil aku biasa hidup susah, jadi nggak masalah kalo ada apa- apa dah biasa ngurus sendiri," Mei menatap Edwin sambil cemberut.
"Sayang, ini beda kasus, meski selama awal hamil ini kamu nggak ada halangan tapi ya harus tetep hati-hati, iya kan ma?" tanya Edwin. Dan bu Minda mengangguk, ia menyadari pandangan om Ben padanya yang terlihat bersedih seolah- olah menyesal telah menelantarkan dan tidak mendampinginya saat hamil dulu.
"Jaga asupan gizi dan emosimu Mei, karena akan sangat berpengaruh pada perkembangan bayimu," hanya itu yang terucap dari mulut bu Minda, lalu menunduk menikmati makan malam.
"Makasih Meisya sudah ngasi kado terbaik untuk om, akan om temani kamu kalo merasa kesepian," om Ben tersenyum pada Meisya.
"Kamu sudah seperti anak bagi om, anakmu nanti ya cucu om," om Ben menatap Mei yang akhirnya bisa tersenyum manis padanya.
"Iya om makasih juga, eh udah deh nggak usah ngomongin itu terus, ini kan dalam rangka ngerayain ultah om Ben, gembira kek ato apalah," ujar Mei menatap pada semuanya.
"Ini om sudah bahagia dan gembira kok Mei, melihat James dan Al, kamu sama Edwin dan kehamilan kamu saat ini, membuat om ingin hidup lebih lama," om Ben menatap bu Minda yang masih saja menikmati makanannya tanpa menoleh pada Om Ben.
"Dan khusus untukmu Minda, aku akan meminta kado ulang tahun, kapan kau memenuhi janjimu, berjalan-jalan di kampus berdua denganku?" om Ben melihat bu Minda yg menoleh padanya dan meletakkan supitnya.
"Tahun depan, saat Mei sudah lahir, kita rame- rame jalan-jalan Ben, saat itu aku yakin kamu sudah sehat, anak Mei dan Ed masih lucu- lucunya, James dan Al yang baru menikah, eh iya Edwina, anak dan suaminya yang tambah bikin rame ah senang nya membayangkan itu," bu Minda memejamkan matanya sambil tersenyum.
Terlihat Mei yang sangat gembira.
"Iya iya bener ibu, asik banget deh kayaknya," Meisya tiba-tiba bertepuk tangan kegirangan. Sedangkan Edwin tiba-tiba saja memeluk dan menggigit bibir Mei seketika, bu Minda menepuk bahu Edwin.
"Ih mesti, itu bibir bukan krupuk, asal gigit aja."
Om Ben dan Al tertawa mendengar kata-kata bu Minda, sedangkan James terlihat tersenyum sambil menunduk menatap minumannya.
"Ih mama, aku tuh seneng banget ngebayangin aku sama Mei jalan-jalan sama anak kami yang lucu, makanya aku reflek nyium Mei mama, kalo aku nyium Al weeeh bisa kena bogem James ntar, iya nggak James?" Edwin memainkan alisnya naik turun.
Terlihat pipi Al yang memerah dan James yg bingung menanggapi gurauan Edwin.
***
Hari-hari selanjutnya memang benar-benar menjadi hari yang menyebalkan bagi Mei. James bisa bolak balik menelponnya lima sampai enam kali dalam sehari, alasannya ia dititipi Edwin untuk menjaganya. Ia merasa tidak ada masalah dengan kehamilannya, bahkan seperti tidak hamil saja karena tidak ada gangguan apapun, hanya entah mengapa jika ada bau bawang bombai, isi perutnya seolah akan keluar semua. Mei hanya merasa bahwa nafsu makannya yang mengerikan. Ia bisa makan dua atau tiga kali lipat dari biasanya. Herannya badannya nggak gendut-gendut juga, sampai Mei heran, ini beneran hamil apa gimana?
Kandungan Mei memasuki bulan keenam, memasuki bulan keenam ini ia mulai merasakan ada sesuatu di perutnya, kadang Mei mengelus nya sambil tersenyum sendiri, meski Mei masih bisa menggunakan celana jinsnya namun ia mulai kesulitan untuk menutupnya, terpaksa Mei membeli beberapa celana dengan ukuran yang lebih besar dari biasanya.
Mei ditemani Al berbelanja di mall, sementara James menemani om Ben untuk general checkup karena akan melakukan pengobatan lanjutan.
***
Malam hari setelah berbelanja Mei menerima telpon dari James yg seperti biasa hanya sekadar memantau Mei saja. Mei menyarankan James mendatangi Alice karena tadi saat jalan-jalan Al terlihat kurang sehat bahkan saat Mei makan, Al hanya menemani saja
James segera menuju apartemen Al dan menemukam wajah pucat Al saat ia membuka pintu.
"Kamu sakit?" tanya James sambil memegang dahi Al yang terasa panas.
"Aku hanya kecapean saja, persiapan pemeran tunggal kelimaku menyita pikiranku, masuklah," Al berjalan pelan dan menyandar kan kepalanya di sofa sambil memejamkan mata.
"Ini aku bawa makanan, makanlah," James memberikan bungkusan pada Al dan Al menatap James dengan mata berkaca-kaca.
James berjalan ke dapur dan mengambil piring serta supit dan terlihat menjerang air. Lalu ia membuatkan teh hangat untuk Al. Duduk kembali di sisi Al dan menyodor kan teh yang ia buat.
"Hmmm minumlah, atau ini, kamu makanlah bentonya."
Tiba-tiba Al memeluk James dan menangis. James diam saja, lalu dengan ragu ia memeluk Al.
__ADS_1
"Aku tidak memintamu mencintaiku secepatnya karena sejak awal aku sadar, pesona Mei akan lama berada di hati dan pikiranmu, terima kasih James kamu sudah memperhatikan aku," Al masih saja menangis.
James melepaskan pelukannya, menatap wajah Al dari dekat. Al mengusap bibir James dan melumatnya perlahan, Al dapat merasakan James yang membalas ciumannya. Dan saat tangan Al mengusap leher James, ia merasakan ciuman James menjadi lebih dalam.
"Al," suara James terdengar serak saat Alice mengigit bibirnya. Alice menjatuhkan kepalanya ke dada James.
"Maafkan aku James," suara Al, terdengar lirih, James hanya mengusap kepala Al dan merasa menyesal telah hanyut terbawa suasana.
"Minumlah tehnya Al, mumpung masih hangat," ujar James saat melepas pelukan Al. Al menurut dan minum teh buatan James. Lalu membuka bento yang dibawa James, makan dengan pelan dan sesekali melihat James yg memejamkan mata nya bersadar pada sofa.
"James, kamuuu....kamu menyesal ya sudah membalas ciumanku?" Al bertanya pelan, saat James tak juga berbicara apapun. James menoleh pada Al dan tersenyum.
"Sudahlah nggak usah dibahas," James masih menatap Al yang malam itu terlihat cantik meski wajahnya terlihat lelah. Al masih menatap James yang akhirnya James menunduk kalah dan tersenyum perlahan.
"Jangan balas memandangku, aku akan kalah jika kamu menatapku seperti itu," James mendengar Al yang tertawa dengan suara hampir tak terdengar.
Al tersenyum lalu menuju ke dapur mencuci gelas teh dan kembali ke sofa menemukan James yg sudah memejamkan mata.
Al pandangi wajah yang sejak awal ia lihat, mampu membuatnya percaya bahwa ia akan merasa nyaman berada di dekatnya, meski awal pertemuan ia merasakan penolakan James, namun hati kecilnya selalu berkata bahwa James akan bisa membuatnya bahagia.
***
Pagi-pagi udara sangat dingin, James bangun dan segera merapatkan jaketnya, ia melihat Al yang sudah mandi dan terlihat membawa dua mug besar yang ternyata berisi coklat hangat.
"Minumlah," ujar Al mendekatkan mug ke sisi James dan Al menyesap minumannya perlahan.
Rambut basah Al masih menyisakan air yang menetes, baru kali ini James menatap Al agak lama sambil tersenyum.
"Lama-lama kamu sadar kan James, kalo aku cantik," Al bergurau dan wajah James jadi memerah.
"Ah kamu, aku pulang dulu ya Al, kasian papa, aku cuma kirim pesan singkat semalam, aku mandi di rumah aja," James menghabiskan coklat hangatnya sekali teguk.
Mereka berjalan beriringan menuju pintu, saat mencapai pintu, Al menarik leher James dan mengecup bibirnya dan bersamaan dengan pintu terbuka muncul wajah Kent yg terbelalak
"Wah waaah kemajuan banget, sepagi ini menemukan kalian berciuman dengan rambut Al yang basah, aku kok ketinggalan berita kalian, udah berapa ronde kakak ipar?" dan James langsung nimpuk kepala Kent dengan kunci mobilnya.
"Eh dia nginep disini Al, kemajuan banget, kamu apain aja tuh badak mau nginep di apartemen wanita jadi-jadian?" Kent terlihat sangat bahagia waktu kakaknya tersenyum menahan malu.
Mereka menuju sofa dan duduk berhadapan.
"Aku pinjam mobilmu ya Al, nggak tau kenapa mobilku, masih di bengkel sejak kemarin, eh Al jawab dong, kok dia nginep, kamu apain aja dia?" tanya Kent lagi. Al masih belum menjawab, ia hanya meraih kunci mobil dan menyerahkannya pada Kent.
"Aku nggak enak badan, dia kesini, nungguin aku, kami nggak ngapa- ngapain, cuman ciuman aja, tapi paling nggak, tadi malam dia nggak nyebut nama Mei lagi saat kami berciuman," ujar Al pelan dan tawa Kent tiba-tiba membahana.
"Oh ya, dia sempat gitu, wah tapi aku salut sama kegigihanmu Al, akhirnya dia takluk juga sama kamu," Kent masih saja tertawa dan memperlihatkan dua jempolnya.
"Belum Kent, belum, tapi aku bersyukur, papa James, Mei, Edwin dan mamanya Edwin selalu berusaha mendekatkan kami, itu yang membuat aku tak berhenti berharap," Al menghembuskan napas dan menatap adiknya yg masih saja tersenyum memandangnya.
"Ya dah, aku bawa mobilmu ya, ntar aku telpon James, biar dia antar kamu ke galeri," Kent menuju pintu dan berlalu dari hadapan Al.
***
Memasuki tujuh bulan kehamilannya Mei habiskan di Indonesia. Liburan semester kali ini lumayan agak lama sehingga ia bisa dimanjakan oleh bu Minda dan Edwin.
Hanya Mei mulai pusing dengan tesis yang harus mulai ia kerjakan, jika mengingat kehamilan nya dan kemungkinan besar ia melahirkan di Sydney, maka bisa jadi agak molor menyelesai kan kuliahnya kali ini, paling tidak dari satu setengah tahun targetnya, menjadi hampir dua tahun.
Mei ingin segera menyelesaikan kuliah nya dan bekerja di salah satu perusahaan milik Edwin.
***
"Meeei, Mei, jangan lari-lari kalo turun dari tangga, kamu ini hamil Mei," bu Minda kembali mengingatkan saat Mei turun dengan cepat dari kamarnya menuju ruang makan. Mei hanya tertawa dan bergabung dengan bu Minda, menyiapkan piring untuk Edwin.
"Mana Edwin, Mei kok nggak turun-turun, masih mandi ibu," ujar Mei mulai menyendok kan nasi ke piring Edwin dan piringnya. Tak lama Edwin turun dan duduk di samping Meisya. Bu Minda menatap keduanya yang sama- sama tampil dengan rambut basah lalu menggelengkan kepalanya. Edwin menyadari tatapan mamanya sambil menahan tawa.
"Kalian ini makin jadi, hampir tiap hari, kamu tuh Ed ya ngertilah dikit, Mei itu hamil, takut capek," bu Minda menatap Edwin yang kembali tertawa dan Mei yang terlihat malu.
__ADS_1
"Dia nih ibuuuu, mesti," ujar Mei setengah merengek.Edwin tertawa semakin keras. Bu Minda menepuk lengan Edwin.
"Lah Meinya juga mau, dan yang jelas, sejak hamil Mei malah lebih seksi ma, bener," Edwin masih saja tersenyum menikmati sarapannya, dan sesekali terlihat menahan tawa.
"Ya ndak papa nyah, semakin sering ditengokin ya semakin lancar nanti melahirkan," tiba-tiba bik Sum ikut nimbrung dari arah dapur. Dan Edwin mengacungkan dua jempolnya untuk bikSum
"Tuuuh kan bener maaa, aku ini malah membantu proses melahirkan," dan Edwin kembali tertawa.
"Heessyy sudah lanjut kan sarapanmu dan berangkat, dulu awal nikah ninggal-ninggal istri terus, eh sekarang sejak Mei pulang haduh malah maunya nggak masuk kantor," bu Minda membawa piring kotornya ke dapur dan terdengar kembali tawa Edwin.
"Memanfaatkan waktu terisa ma, ntar kan Ed harus ngalah sama anak," sahut Edwin menyudahi sarapannya.
"Iiih kakak, memanfaat kan tiap malem,haduuh," Mei bergidik ngeri dan Edwin mengacak rambut basah Mei, lalu mencium pipi istrinya dan berangkat ke kantor.
***
Mei mendengar ponselnya berbunyi saat senja menjelang malam, ia melangkah pelan, terasa lucu karena perutnya yang mulai membuncit, ia lihat ponselnya, ah kak Edwin, tumben mau pulang dari kantor pakek acara nelpon segala, kemarin dia janji mau pulang awal....
Halo kak
Kok lemes sayang
Hmmm apa
Semangat dong ini aku bawa kejutan, sudah mau nyampe rumah nih, tunggu di ruang tamu ya, kejutannya gede banget ...
Edwin menutup ponsel dan Mei berdecak sebal, pasti Edwin cuman mau ngerjain, pikir Mei, namun Mei tetap turun dan bertemu bu Minda di ruang makan.
"Mau kemana sayang?" tanya bu Minda.
"Ini ibu mau nunggu kak Ed di ruang tamu, suru nungguin, ada kejutan katanya, ih paling Mei dikerjain lagi," Mei melangkahkan kakinya dan terdengar suara tawa bu Minda.
"Sejak kenal kamu dia jadi agak usil Mei, padahal dia nggak pernah gitu loh," kata bu Minda ikut menemani Mei di ruang tamu.
Tak lama terdengar suara mobil Edwin memasuki rumah megah itu, pintu terbuka dan Mei berteriak dan berlari, lupa bahwa ia hamil, bu Minda kembali mengelengkan kepalanya.
"Aaaal ah kalian kok nggak ngasi kabar sih kalo mau berlibur kesini," Mei memeluk dan mencium Al serta meninju lengan James yg baru saja meletakkan travel bagnya. James hanya tersenyum dan mengacak rambut Mei.
Bu Minda mencium keduanya dan menyilakan masuk ke ruang makan.
"Ayo di ruang makan saja, sekalian makan malam dan cerita-cerita eh tapi kalo mau ke kamar mandi dulu nggak papa," ujar mama menyilakan James dan Al.
"Aku bilang emang sama James dan Al, jangan nginep di hotel, disini banyak kamar, iya kan ma?" ujar Edwin saat mereka duduk dan bik Sum mulai menyajikan makan malam.
"Iya bener, Al bisa nempati kamar Mei yang dulu, James kamar di sebelahnya, cuman ya agak tersembunyi dikit James, terhalang taman nggak papa ya James?" ujar bu Minda sambil membantu bik Sum menata makanan.
"Terus terang kami ingin di hotel biar, biar nggak ngerepoti, kami ingin reksreasi yg dekat-dekat sini saja, kalo ke Bali kami sudah pernah," ujar James sambil menatap Al yang tiba-tiba menggeleng
"Eh aku belum pernah ke Bali James," ujar Al dan semuanya tertawa.
"Terserahlah kalian rencanakan kemana, besok kan sabtu, kita ke puncak aja dulu sampe minggu, setelah itu kita bikin rencana lagi," ujar Edwin membuka jas dan dasinya serta melipat lengan kemejanya sesiku dan mulai menikmati makan malamnya.
Selesai makan malam, Meisya mengantar Al dan James ke kamarnya untuk beristirahat.
***
Edwin baru saja mandi saat Mei hendak keluar dari kamarnya.
"Mau ke mana sayang?" tanya Ed.
"Mau ngingatkan bik Sum agar jangan lupa ngantar air minum ke kamar Al dan James.
"Kita aja yang antar sayang yok," Edwin akhirnya memeluk pinggang Mei yang mulai berisi dan turun menuju ruang makan.
Saat akan mengetuk kamar Al samar terdengar suara James yang tertahan..
__ADS_1
"Aaal jangan...
Edwin dan Meisya berpandangan dengan menahan tawa ...