Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
36


__ADS_3

*SUK*


#36


Edwin menghembuskan napas dengan berat. Ditangkupnya pipi Mei, dalam jarak dekat ditatapnya mata Meisya.


"Wajah kalian memang mirip, tapi bukan karena wajah aku akhirnya bisa mencintaimu, justru karena wajah kalian mirip yang awalnya aku tidak menyukaimu, sikapmu yang spontan, lugu, ramah dan kejujuranmu yang membuatku akhirnya yakin bahwa yang aku cintai Meisya, bukan Freya, sifat kalian jauh berbeda, Freya tenang dan lembut, sedangkan kamu apa adanya, keluguan dankeramahan kamu yang membuat kakak nyaman berada di dekatmu, perlu kamu tahu, kakak tidak pernah sedekat ini dengan Freya," Edwin menunduk kan wajahnya dan menyentuh bibir Meisya dengan lembut, melepaskannya saat mendengar langkah di belakangnya.


"Halah halah pagi-pagi kok ya wis ciuman,  hmmmm ... ," Edwin terkekeh pelan, saat tawa bik Sum terdengar renyah ditelinganya.


"Ayo mau sarapan sekarang?" tanya bik Sum pada Edwin.


"Waduh kepagian bik, ntar aja," jawab Edwin.


"Halaaah wong biasanya dulu juga nyuri-nyuri makan sotonya non Mei lebih pagi dari ini, malah pernah malam nyurinya ya non, wong pagi-pagi sotonya dah tinggal separuh," tawa bik Sum semakin keras. Edwin menahan malu sambil menggaruk-garuk kepalanya. Meisya menahan tawa melihat wajah Edwin yg bingung.


"Ayo Meisya, Edwin, segera mandi, sarapan dan kita fitting baju, liat gedungnya kayak apa,  dan mama pertemukan kalian sama WO nya biar tahu gimana-gimana nya" bu Minda yg sudah terlihat segar dan habis mandi melangkah menuju ruang makan.


***


Hari yang sangat melelahkan bagi Meisya dan Edwin, seharian mereka melakukan cek akhir pada seluruh persiapan pernikahan nya. Lelah mereka terbayar, semua sempurna sesuai rencana Edwin dan bu Minda, Meisya hanya memberikan detail warna pada setiap pilihannya.


Hari sudah malam saat ketiganya melangkah masuk ke kamar masing-masing.


"Mei besok mama datangkan terapis ke sini, biar bik Sum yang nyiapkan tempatnya di kamar belakang, biar kamu agak rileks lah Mei, pijat sama luluran ya, lusa kalo mau ke spa sama mama dan Edwin,  trus sekalian perawatan wajah biar lengkap," Meisya hanya menganggukkan kepala nya sambil tersenyum.


Edwin menatap Meisya yang melangkah pelan. Ingin rasanya mengejar Meisya ke kamarnya dan tidur memeluk tubuhnya yang mungil, tapi ia ingat pesan mamanya agar jangam macam-macam sampai pernikahan nanti. Edwin menghembuskan napas dan naik ke kamarnya.


***


Pernikahan kurang tiga hari lagi, Edwina, suami dan anak-anaknya sudah datang, beberapa kerabat bu Minda dan kerabat almarhum papa Edwin juga sudah hadir. Semua menginap di hotel kecuali Edwina sekeluarga.


***


Satu hari menjelang pernikahan keluarga besar bu Minda berkumpul, entah mengapa Meisya jadi melankolis, sejak sore ia menangis, seandainya papa mama masih hidup, pikirnya.


Bu Minda memeluk dan menghibur Meisya.


"Kalo ingin memeluk ibu peluk saja, ibu sudah mengenalmu sejak kecil, jika kangen mamamu,  peluk ibu," bu Minda mengusap rambut panjang Mei, Mei hanya mengangguk semakin mengeratkan pelukannya.


Edwin menatap Meisya dengan rasa iba, ada rasa sesal dalamhatinya saat mengingat kembali teriakan kasarnya pada Mei saat melihat pertama kali di dalam kamarnya. Ia masih memiliki mama tempatnya melabuhkan kasih sayang,  sedang kan Mei, ia tidak punya papa dan mama,  bahkan keluarga orang tuanya pun dia tidak tahu, karena orang tua Mei adalah kaum urban yang mengadu nasib di kota besar ini, saat kecil pula ia telah ditinggal oleh kedua orang tuanya menghadap Tuhan.


Mei menghentikan tangisnya dan bu Minda mengajak Mei ke ruang tamu berkumpul bersama seluruh keluarga besar dari papa dan mama Edwin.


Mei dan Edwin menggunakan baju dengan warna senada,  mereka mendengarkan nasihat dari para pini sepuh setelah sebelumnya ada acara pengajian.


Saat malam makin larut semuanya masih saja bercengkrama. Secara halus bu Minda menyarankan kembali ke hotel. 


"Hayo hayoooo pada balik ke hotel, besok jam 10 tepat ijab kabul dimulai loh, dan jam 12 kita langsung nerima tamu untuk resepsi pernikahannya, kasian nih calon pengantin harus jaga stamina biar nggak loyo," semuanya tertawa dan satupersatu beranjak meninggalkan rumah bu Minda.


"Hayo Edwiiin nggak usah lirak lirik Mei,  langsung masuk kamar,  Meisya kunci pintu kamar ya, kalo ada yang ngetuk tanya dulu, kalo Edwin yg ngetuk nggak usah dibukain pintu," bu Minda tersenyum melihat Edwin yang akhirnya memilih melangkahkan kakinya ke lantai dua.


Meisya melangkah menuju kamarnya, menutup pintu dan membuka jendelanya, ia melihat Edwin disana, keduanya saling memandang, akhirnya Mei melambaikan tangan sambil tersenyum dan menutup kembali jendelanya. Berganti baju dan melangkah ke kamar mandi, setelah membersihkan dirinya,  ia rebahkan badannya dan berusaha tidur.


***


Sejak pagi Meisya sudah dirias, ada air mata menggantung dimata nya, Mei merasa wajah mamanya selalu ada di pelupuk matanya.


"Jangan nangis ya sayaaang, riasannya ntar nggak bagus," bu Minda berbisik di telinganya dan Mei mengangguk pelan.


Jam delapan lewat iring-iringan mobil pengantin dan rombongan bergerak menuju sebuah hotel mewah, tempat dilaksanakannya akad nikah dan resepsi pernikahan.


Jam sembilan rombongan sudah memasuki area hotel dan segera memasuki tempat acara akan dilaksanakan. Semua keluarga sudah berkumpul serta tamu- tamu penting sudah diarahkan untuk menempati tempat yang telah ditentukan.


Meisya ditemani oleh Edwina di ruangan tertentu, sedang Edwin bersiap akan melakukan ijab kabul.

__ADS_1


Jam sepuluh tepat acara ijab kabul dimulai, Edwin, para saksi dan pihak dari KUA sudah duduk di bagian tengah ruangan. Ijab dimulai dan Edwin melakukan nya dengan lancar, terlihat bu Minda yang tak dapat menghentikan tangisannya meski ia sempat mengingatkan Mei agar tidak menangis


Selesai Edwinmengucap taklik nikah, Meisya dituntun oleh Edwina untuk duduk di samping Edwin. Keduanya menandatangani surat nikah, lalu menyemat kan cincin pernikahan.


Sesaat keduanya sempat saling menatap. Edwin tertegun menatap wajah Meisya yang terlihat cantik dengan kebaya warna putihnya. Sedang Meisya segera menunduk setelah sempat menatap Edwin sekilas, ah tampannya kak Edwin, bisik hati Meisya.


Keduanya lalu diarahkan ke tempat untuk sesi foto serta untuk mendapatkan ucapan selamat dari para kerabat.


Saat duduk berdua Edwin menggenggam jemari Meisya dengan erat, dan berbisik pelan. 


"Jangan kemana-mana,  setelah ini kamu selamanya akan jadi milikku."


Meisya sempat menoleh dan tersenyum. Edwin menatapnya dengan lembut.


"Jangan memancingku, bisa-bisa aku menciumi mu disini," bisik Edwin dengan lirih dan keduanya saling menahan tawa.


Selesai sesi foto, keluarga besar Edwin terlihat bersalaman dengan Edwin dan Meisya yang didampingi oleh bu Minda dan Edwina.


Diantara para keluarga yg bersalaman tampak wajah om Ben dan James, keduanya bergantian bersalaman dan memeluk Edwin dengan erat dan mengucapkan selamat pada keduanya. Om Ben tampak memelukMeisya yang hampir menangis,  Mei tidak begitu mengingat wajah papanya sehingga pada om Benlah Mei menumpahkan segala kerinduan pada sosok papanya. Entah keberanian apa yang membuat James berani memeluk Meisya di depan Edwin dan Edwin melihatnya sebagai salam perpisahan dari James pada Mei.


"Ed, kamu jangan cemburu lagi, aku tidak akan mencuri pengantin mu," ujar James yang disambut tawa keras dari Edwin.


Ada rasa tak enak saat bu Minda bersalaman dengan om Ben, bu Minda menerima uluran tangan dari om Ben dan menganggguk dengan wajah datar saat omBen mengucapkan terima kasih telah mengundang nya. Sementara Edwina malah asik berfoto-foto dengan om Ben setelah menarik om Ben sesaat setelah bersalaman dengan mamanya, Edwina juga mengajak suami dan anaknya untuk berfoto bersama. 


Selesai rangkaian acara akad nikah, selanjutnya mereka bersiap untuk acara berikutnya yaitu resepsi pernikahan, semua bergegas untuk berganti baju.


***


Resepsi pernikahan dihadiri undangan yang cukup banyak, relasi bisnis Edwin dari beberapa perusahaanya, relasi bisnis bu Minda, teman-teman Meisya dari Sydney juga ada beberapa yang hadir dan yang membuat Meisya kaget Kent hadir dengan kakaknya Alice.


Alice nampak cantik dengan sapuan makeup minimalis, mengguna kan gaun simpel namun sepertinya Alice sedikit merasa tak nyaman. Meisya memeluknya saat ia mengucapkan selamat.


Edwin sempat berbisik pada Kent, 


"Pasti, aku jauh-jauh datang dari Sydney punya misi khusus," ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak.


Para tamu mulai menikmati hidangan,  sedang Edwin dan Meisya sesekali tampak masih melayani tamu yang bersalaman dan berfoto.


Saat semakin sore undangan mulai berkurang, Meisya dan Edwin dapat bernapas dengan lega. Dan Mei agak kaget waktu Edwin tiba-tiba merengkuh bahunya dan berbisik,


"Lihatlah di sisi pojok kanan arah jam dua, James duduk dengan saudara Kent, wajah mereka terlihat aneh." 


Meisya menatap keduanya sambil menahan tawa melihat ekspresi James yang terlihat datar, sementara sesekali Alice mencuri- curi menatap wajah James.


Om Ben baru muncul saat tamu mulai sepi. Menyalami kedua mempelai lagi meski pada saat akad nikah sudah dilakukan oleh om Ben.


"Om kemana saja kok baru muncul?" tanya Edwin.


"Om istirahat, setelah acara akad nikah tadi om tiduran bentar, om kan nginep di hotel ini, om kayaknya kecapean,  kurang istirahat paling,  makanya James sendirian," om Ben tetap tersenyum meski wajahnya terlihat lelah.


"Nggak sendirian lagi kok om, sudah ada yang nemenin," ujar Mei sambil menunjuk James yg duduk berdua dengan Alice. Om Ben menoleh dan menahan tawa saat melihat ekspresi James.


"Ada apa dengan wajah anak itu, apa dia sakit ya?" terdengar tawa pelan om Ben, sedang Edwin dan Meisya tertawa dengan riuh.


"Om mungkin akan balik besok ke Perth, tapi kalo capek ya ke Sydney dulu lah, istirahat di apartemen James," ujar om Ben sekali lagi memeluk Edwin dan Meisya bergantian, lalu berjalan ke arah James dan Alice duduk.


Menjelang sore acara telah usai, bu Minda mendatangi Meisya dan Edwin. 


"Kami akan segera pulang ke rumah,  Edwina besok akan menemui kalian disini karena besok dia, anak dan suaminya balik ke Singapura, kalian bisa tiga empat hari lagi di hotel ini, akan mama antar ke kamar kalian, ayo Edwin, tutun Meisyanya sayang," bu Minda tampak berjalan mendahului Edwin dan Meisya.


Sesampainya di kamar yg di maksud, bu Minda memberikan idcard kamar hotel. 


"Ini pegang kamu Ed, baju kamu dan Meisya untuk tiga empat hari sudah mama siapkan, segala sesuatunya juga sudah mama siapkan di dalam, mama balik lagi ke ruangan tadi ya," bu Minda memeluk Meisya dan berbisik,


"Selamat datang di keluarga kami, panggil mama ya, jangan panggil ibu lagi," bu Minda mencium kening Meisya dan menoleh pada Edwin, 

__ADS_1


"Jangan kasar-kasar,  ngerti." Dan Edwin tertawa lebar.


"Siaaap laksanakan."


Bu Minda berlalu dan Edwin membuka pintu kamar hotel dengan idcard dari mamanya. Berdua mereka masuk beriringan. Meisya memandang takjub kamar yang akan mereka tempati.


"Luas banget kak ya," Meisya menuju meja rias, dan duduk disana, melepaskan semua perhiasan yang melekat di badannya.


"Ya enak luas kayak gini sayang, kita bisa ngapa- ngapain disini," Edwin tertawa sambil mencium pipi Meisya dari belakang dan membantu membuka kan gaun Meisya. Meisya memutar badannya menghadap Edwin dengan wajah bersemu merah.


"Kakak menghadap sana dulu, Mei mau ganti baju mau bersihin wajah,  mau ke kamar mandi," ujar Meisya dengan suara memohon.


"Buka aja, kakak nggak akan ngapa-ngapain sekarang, kakak juga capek,"ujar Edwin sambil membuka jas darkgrey nya, celananya dan semua yang melekat di badannya dan dengan santai hanya mengguna kan boxernya berlalu dari hadapan Meisya yg menutup wajahnya.


Edwin mengambil baju yang telah di sediakan oleh mamanya dan melangkah ke kamar mandi. Dengan gerakan cepat Meisya membuka gaunnya dan segera mencari baju untuk ia gunakan.


Meisya sempat bingung karena baju tidur yang disediakan bu Minda kok modelnya nakutin semua, tipis dan membuat Meisya tak nyaman, ada sih baju yang agak tebal tapi kayaknya buat ntar pulang ke rumah ato untuk jalan-jalan, haduh Meisya bingung. Akhirnya ia mengambil satu dan terpaksa Mei gunakan.


Mei kembali ke meja rias dan mulai membersih kan wajahnya. Terdengar pintu kamar mandi dibuka dan Meisya semakin merasa tidak nyaman.


"Sana kalo mau kekamar mandi sayang," ujar Edwin yg duduk di kasur tak jauh dari Meisya duduk. Meisya melangkah ke kamar mandi dengan bingung. Edwin menahan tawa dan geleng-geleng kepala.


"Kamu kenapa?" Edwin mendekati Meisya yang terlihat bingung.


"Ibu kok nyediakan bajunya kayak gini semua," ujar Mei pelan.


"Nggak papa, biar enak kalo aku nariknya," Edwin semakin gemas melihat Meisya yang ketakutan. Ia gendong Meisya ke kamar mandi dan menurunkannya di sana. 


"Mandilah, aku nggak akan ganggu kamu."


Agak lama Meisya baru keluar dari kamar mandi, terlihat Edwin yang tertidur, mungkin karena kecapean.


Perlahan Mei merebahkan badannya di samping Edwin,  menghadap ke wajah Edwin yang nyenyak. Mei menatap dalam diam, wajah tampan di hadapannya, wajah yang sejak awal ia lihat sudah membuatnya tertarik meski sempat sebal juga, Mei tersenyum jika mengingat itu. Ada keinginan untuk menyentuhkan tangan nya pada wajah lelap Edwin tapi ia tahan.


Edwin membuka matanya dan mendapati mata Meisya yang menatapnya dan kaget saat Edwin tiba-tiba menarik pinggangnya lebih dekat. Menciumnya dengan lembut dan lama.


"Kebiasaan, beraninya mandangin kakak diam-diam," ucap Edwin saat melepaskan ciumannya. Edwin mencium Meisya lagi,  menahan tengkuk Meisya untuk memperdalam ciuman nya. Mei mendorong perlahan. 


"Apa lagi?" tanya Edwin dengan suara parau. Mei menggeleng dan menyusupkan kepalanya ke dada Edwin.


"Takut," ujar Mei pelan. Edwin mengusap lengan dan punggung Meisya.


"Kakak tidak akan membuatmu takut,  kakak akan membuat Mei nyaman dan damai," Edwin menyibak rambut basah Mei dan mencium leher Meisya perlahan. Membuka baju tidur Meisya dan...


***


Edwin memeluk tubuh Meisya, ia masih merasakan debaran jantung Meisya yang masih bergemuruh dan keringat yg membasahi tubuh Mei. 


"Masih sakit?" tanyanya perlahan, dan Meisya mengangguk menahan tangis.


Edwin tersenyum dan mencium ujung kepala Meisya. 


"Nanti akan hilang sakitnya, kamu akan terbiasa, mau lagi?" tanya Edwin setengah berbisik, tertawa perlahan dan Meisya memukul dada Edwin.


"Nggak sekarang, ini digerakin aja sakit," Meisya merengek perlahan.


"Iyah dah, ntar malem aja ya?" Edwin kembali tersenyum saat Mei menggeleng dengan cepat.


"Kakak paksa aja klo nggak mau," Edwin tertawa saat Mei mencubit perutnya. 


"Jangan nyentuh- nyentuh kakak, ntar kakak terkam lagi kamu" Edwin makin keras tawanya saat melihat Mei ketakutan dan malah memeluk Edwin.


Edwin mengeratkan pelukannya merasakan kulit mereka yang bersentuhan.


Dan Edwin terlihat tak suka saat ponselnya berbunyi...

__ADS_1


__ADS_2