
Bener-bener nih hari yg melelahkan, mangkel deh sama si James, nggak bantu malah nyusahin pas presentasi
Meisya berjalan sambil berpikir tentang kekesalannya pada James yg terlihat cuek hari ini, tapi ia tidak berani macam-macam di kelas karena saat di kelas Mei tetap berlagak cuek juga pada James, sesuai permintaan James agar hubungan pertemanan mereka tidak diartikan macam- macam oleh mahasiswa yang lain di kelasnya.
Meisya melangkah cepat, ia ingin segera berendam di bathup apartemennya. Saat belokan di lorong agak sepi di kampusnya tiba-tiba terdengar sapaan khas James dengan suara baritonnya
"Kayaknya ada yang mangkel nih." Meisya tersentak dan menoleh pada James yang menjejeri langkahnya.
"Iya sebel aku sama kamu, pake nanya-nanya yg sulit lagi," sahut Mei mengerucutkan bibirnya
"Salah kamu kemarin sudah aku ingatkan lewat pesan singkat eh nggak dibales," ucap James dan terdengar tawanya. Langkah Mei terhenti.
"Oh ya? Kapan?" Mei cepat membuka ponsel nya dan mencari-cari pesan James, dan terbelalak saat menemukan pesan dari James. Keduanya terlihat duduk di kursi yg tersedia di sepanjang lorong kampus.
"Kamu terlalu asik dengan seseorang sampai lupa membaca materi untuk presentasi, sampai saat di cafe pun, semalam, enggan menyapaku yang tak jauh dari tempat kamu duduk," James berbicara dengan santai sementara Mei membelalakkan matanya.
"Kamuu ... kamu jadi penguntit yaa kok tahu aku ngapain aja, eh itu kak Edwin tahu," jawab Mei sambil tertawa.
"Oh kakak kamu, kok mesra gitu sama kamu?" tanya James dengan wajah tak percaya. Akhirnya Meisya bercerita lengkap semua perjalanan hidupnya pada James. James menghela napas.
"Dan kamu mulai mencintainya?" tanya James.
"Kayaknya iya deh James," jawab Mei.
"Baguslah, ayo kita pulang, malam sudah mulai turun," ajak James dan bersisian mereka berjalan pulang menuju apartemen.
Kerr.. Keeriiuuuk.. Dan James memegang perutnya.
Mei menoleh pada James dan tertawa sambil terbelalak.
"Segitu lapernya tuh perut sampe bunyinya kayak orang makan kerupuk."
"Aku jitak kamu Mei, selalu bikin aku malu, kalo ngomong seenaknya," James terlihat malu dan wajah putihnya jadi memerah.
"Di apartemenku banyak makanan, mau?" ajak Mei pada James. Dengan ragu James mengikuti langkah Mei masuk ke apartemennya
"Masuklah James, ayo aku hangatkan dulu makanannya," ajak Mei dan James masih melangkah pelan sambil pandangannya memutari apartemen Mei. Meletakkan tasnya dan melangkah ke ruang makan mini lalu duduk disana, mengamati Mei yang cekatan menghangatkan makanan dan menyajikannya di piring-piring mungil. Sisi lain dari Meisya yang baru ia ketahui, terampil di dapur.
"Haaah sudah siap, ayo makan, James, ayolah," Mei menyendokkan nasi dan menatap James yang masih menatap wajahnya.
"Mau nggak sama nasi, ato makan cap caynya saja?" tanya Mei.
"Nasinya dikiiiit aja, aku mau ayam hainan sama cap cay Mei," ucap James, terlihat benar-benar lapar, tapi terlihat mulai meremas perutnya. Mei menatapnya sekilas.
James mulai mencicipi ayam hainan dan terlihat mengangguk-angguk.
"Bener ini kamu yang masak, nggak beli?" tanya James. Mei menghela napas.
"Aku biasa masak James, hidup di panti asuhan harus serbabisa. Ih nggak percaya, besok kamu mau minta apa aku masakin, kesini, liat aku masak, udah ya, kamu makan, abisin semua, aku mau mandi," ujar Mei meninggalkan James sendiri.
__ADS_1
Usai mandi Mei segera menemui James yang ternyata malah mencuci piring kotor. Jasnya terlihat tergeletak dengan mesra di kursi, lengan kemejanya digulung sesiku.
"Hei siapa yang nyuru kamu nyuci piring, sana pulang," Mei menarik lengan James. James tertawa dan menyipratkan air ke wajah Mei. Mei menghindar dan memukuli James. James memegang kedua tangan liar Mei.
"Hei berhenti, mukul sembarangan, kena yang nggak-nggak ntar," James mengeraskan pegangannya pada kedua tangan Mei.
"Kamu usil,sana pulang, aku mau tidur," Mei mendorong badan besar James ke arah pintu.
"Tanpa kamu suru aku memang mau pulang," James memakai jasnya kembali dan mengambil tas lalu berjalan ke arah pintu.
"Pulang dulu ya," James melambaikan tangan dan menghilang di balik pintu.
Bersamaan dengan itu ponsel Mei berbunyi segera Mei terbang mengambil ponsel dan melihat nama kakak ganteng is calling....
Lama Mei berbicara dengan Ed, sekitar satu jam, lalu Mei mengakhiri pembicaraan mereka karena mengantuk.
***
Dua hari ini Mei tidak melihat James di kampus, terakhir ya saat ke apartemen Mei. Mei menelpon James dan terdengar suaranya yang serak
"Kamu sakit James?" tanya Mei dengan nada kawatir.
"Nggak, cuma pusing dikit, bisa minta tolong Mei, kamu ke kantor jurusan, temui Mr. Edward,ia akan memberi amplop besar, terima dan antarkan ke apartemenku ya, maaf Mei merepotkan kamu," suara James terdengar menyedihkan.
"Iya iyaaa aku ke kantor jurusan sekarang, makanya jangan telat-telat makan, huh biasa," Mei bergegas ke kantor jurusan.
***
Mei naik ke lantai dua melalui lift dan menelusuri apartemen tempat James tinggal mulai mencari nomor apartemen yang disebutkan oleh James tadi.
"Heh ni surat dari Mr. Edward, kamu kenapa James?" tanya Mei mendekat ke wajah James yang memerah.
"Jangan banyak tanya kamu, buatin aku bubur sana, maag ku kumat Mei dan aku semakin malas makan, makan sakit, nggak makan makin sakit," ucap James lemah.
"Ya ampuun kamu ya kok baru bilaaang, bentar aku buatin, heh dasar si muka pucat," Mei bergerak cepat ke dapur untuk membuat bubur.
***
"Heeei bangun, nih buburnya dah jadi," Mei menepuk bahu James. James bergerak pelan, memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya pada dinding.
"Suapin Mei," suara James terdengar lemah.
"Alah alaaah manjanya, kemarin seharian sakit siapa yang nyuapi?" Mei beringsut mendekati James dan mulai menyuapi sedikit demi sedikit.
"Aku makan sendiri tapi ya itu nggak kuat jalan waktu ambil roti, pegangan ke dinding, ke meja, kamu jangan banyak tanya lah Mei," James melihat Mei dengan memelas. Mei tertawa pelan, merasa geli melihat wajah James yang memelas. Kalo di kelas belagak serem eh di sini malah bergaya manjah parah.
"Malah ketawa sudah tau aku sakit," James memejamkan matanya sambil memegang perutnya.
"Heleh gayanya kalo di kelas sok serem, disini manjanyaaa heh pingin rasanya jitakin kalo pas marah-marah di kelas, sok dingin heeeeh, nikah James, nikaaaah biar nggak selalu uring- uringan dan pastinya ada yang ngerawat kalo sakit," Mei memberikan suapan terakhir pada James.
"Mau kamu nikah sama aku Mei?" ucap James sambil memejamkan matanya.
"Heeeh muka pucat, ngajak nikah apa ngigo, seenaknya kayak orang ngentut aja ngajakin nikah, aku mau nikah sama kak Edwin tahu, bukan sama kamu," jawab Mei melangkahkan kakinya ke arah dapur mencuci piring kotor.
__ADS_1
"Mulutmu Mei suka ngaco kalo ngomong," James akhirnya bisa tertawa meski sambil memegang perutnya.
"Lah aku ngimbangi kamu aja, ngajak nikah sembarangan heh, gelar sudah doktor, tingkah kayak anak sma, mending cepet sana cari istri," Mei mengeringkan tangannya dengan lap bersih.
"Pulang ntar setelah aku makan malam ya Mei, aku pengen sembuh, nggak enak kalo terlalu lama ijin, sudah dua hari aku nggak masuk, keenakan ntar mahasiswa kalo aku nggak masuk," Edwin meraih obat di meja dan membuka pembungkusnya satu persatu, Mei segera mengambil air putih.
"Makanya jangan jahat- jahat sama mahasiswa, ntar didoain sakit terus kamu," Mei memberikan air pada James dan James memandangnya dengan gemas.
"Awas ya kamu, kalo aku sembuh," ucap James mulai memasukkan obat ke mulutnya.
"Ok aku tunggu kamu sembuh, jangan dikira badan imut kayak gini takut sama si muka pucat nan kekar," Mei menatap wajah James dengan pandangan menantang. Terdengar lagi tawa pelan James.
"Mei, kalo kamu mau makan, cari aja sendiri ya, lengkap kok di kulkas bahan-bahannya, aku suka masak Mei, maka nya bahan makanan di kulkas selalu penuh," James melangkah pelan masuk kamar.
"Heeeh itu sih bukan nyuru cari makan, nyuru masak iya, haduuh, bikin yang gampang aja dah, mi kuah sayur aja, biar anget nih badan," Mei melangkah ke dapur, mulai mengaduk-aduk isi kulkas.
***
Malam mulai turun, Mei sejak tadi ada di ruang tamu asik mengerjakan tugas dengan laptopnya. Tiba-tiba Mei tersentak, ah waktunya James makan malam.
Mei menyendok bubur dan melangkah masuk ke kamar James. Untuk pertama kali Mei masuk ke kamar tidur James, nuasa hitam dan putih saja, ada foto James yang besar terpampang di dinding, ih sok cakep nih orang, pikir Mei.
"James bangun," suara Mei terdengar pelan di telinga James.
"Aku kok lemes ya Mei?" tanya James menatap wajah Mei.
"Ya ayo kamu pengen makan apa, aku masakin, kalo cuma makan bubur ya lemes, sembarang ya aku masak apa aja, yang penting kamu makan teratur, mau?" Mei melihat iba pada wajah James yang memelas.
"Mei aku mau duduk," ucap James lemah.
"Ya elaaa manjanya, lagian gimana caranyaa, badan kamu tinggi besar gitu, akunya imut," Mei mulai mengangkat badan James dari samping, menyusun bantal dan merebahkan pada bantal sehingga posisinya nyaman untuk makan.
"Sip dah, mari mulai makan, berani bayar berapaaa maid cantik kayak gini, sudah buatin bubur, masih nyuapin," Mei mulai menyendokkan bubur ke mulut James. James tertawa pelan mendengar gurauan Mei, menatap Mei dari jarak dekat dan baru sadar jika Mei sangat menarik.
"Kamu cantik," kata James tiba-tiba.
"Emang, baru sadar, heh telat sir," Mei terkekeh.
"Kamu kayak ariana grande Mei," ujar James lagi. Terdengar tawa Mei yang renyah
"Haaah ariana grande dilihat dari ujung bangunan opera house, Jaaames James, sakit maagmu membuat kamu rabun ayam," Mei tertawa lagi dengan riuh sambil meletakkan piring kotor ke dapur.
Mei kembali ke kamar James membawa obat dan meminumkannya.
"Ok, aku pulang ya, sir," Mei pamit dan saat melangkah keluar terdengar panggilan James lagi.
"Kau belum menidurkanku lagi."
"Haduuuuh nyiksa banget sih, ayo pegang pundakku, aku mau ambil bantal yang ada di punggungmu, hadduh beratnya, eh tuh kaaaan," Mei terjatuh di dada James dan tak sengaja bibir mereka hampir bersentuhan. Mei mengusap dengan kasar bibirnya.
"Ih ih iiiih, hampir kenak deh, badan besar gini maidnya imut ya nggak kuat, untung nggak kena tadi, nih bibir cuman untuk kak Ed, aku pulang James, cepet sembuh ya, baaai, telpon aku ya kalo butuh apa-apa," Mei melangkah keluar, mengambil tasnya dan meninggalkan apartemen James.
***
__ADS_1
Setelah Mei berlalu dari kamarnya. James mendesah pelan, ada apa dengan dadaku, kenapa debaran ini tak kunjung berhenti?