Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
16


__ADS_3

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Edwin dengan wajah tak berekspresi. 


"Sampaikan surat ini pada Meisya, tolong besok sampaikan ke kantor jurusan," James menyerahkan amplop coklat pada Edwin. Edwin menerima dan ....


"Mungkin kita perlu bicara, saat ini," Edwin keluar dari apartemen Meisya dan melangkah mendahului James.


James berjalan dengan tenang di belakang Edwin, mengikuti kemana arah Edwin melangkah. Sampai di gazebo apartemen, Edwin duduk dan James pun duduk di hadapan Edwin.


"Ada yang perlu saya sampaikan pada anda, bahwa saya adalah kekasih yang dalam dua tahun lagi atau mungkin kurang, akan menjadi suami Meisya, saya melihat ketidak wajaran hubungan anda dengan kekasih saya, saya tidak menuduh anda tapi hati kecil saya mengatakan, jika anda menyukai Meisya," ujar Edwin dengan tenang, tatapan matanya tak lepas dari wajah James.


James terlihat menahan napas dan meneguk salivanya. Ia memajukan wajahnya, memandang wajah Edwin.


"Saya memang mencintai Meisya, tapi tidak ada niat dalam hati saya untuk merebutnya dari anda, sejak awal kami berteman, dia sudah mengatakan bahwa anda cinta pertamanya dan tidak ada seorangpun yg bisa mengambil posisi anda dari hatinya, meski seandainya saya bisa merebutnya dari anda, akan percuma juga bagi saya, saya hanya akan memiliki raganya, tidak hati dan jiwanya," James bangkit dan melangkah meninggalkan Edwin yang masih tertegun di gazebo.


Perlahan James melangkahkan kakinya. Pikirannya entah kemana, Mei aku berbohong pada Edwin, seandainya, seandainya bisa aku ingin merebutmu dari Edwin, membawamu lari dari sisinya lalu kita hidup bahagia berdua, hari ini aku ingin pamit Mei, dua minggu aku akan ke Korea menjadi dosen tamu di sana, baik-baik kamu ya Meisya, aku pasti merindukanmu. James terus melangkahkan kakinya. Ia akan berusaha selama dua minggu untuk menghilangkan bayangan Meisya dari matanya, mungkin dua minggu di Hankuk University dapat membantunya sedikit demi sedikit melupakan Meisya.


***


"Dari mana kak, tadi Mei cariin, beli apa ke depan, kan sudah lengkap semua?" tanya Mei sambil melangkah ke dapur.


"Ini dari James,serahkan ke kantor jurusan katanya," Edwin menyerahkan amplop coklat pada Meisya. Mei kaget, kapan James ke sini?


Meisya ingin bertanya banyak pada Edwin tapi hati kecilnya melarang. Mei menerima amplop coklat dan meletakkannya di meja dalam kamarnya.


Mei melangkah ke dapur sambil menggulung rambut panjangnya dan menjepitnya dengan ketat. Mei mulai menyiapkan bumbu untuk memasak soto, Edwin memandangnya dari tempat duduk tak jauh dari tempat Mei memasak. Berbagai macam perasaan berkecamuk dalam hati Edwin setelah pembicaraannya dengan James. Bagaimana James tahu jika ia adalah cinta pertama Mei, apakah James pernah mengutarakan perasaannya, dimana, pada saat apa. Apapun itu terima kasih Mei telah mengatakan langsung pada James. Apa saja yang dikatakan Meisya pada James, pada saat bagaimana mereka berdua. Sudahlah Ed sudahlah. Toh Meisya tetap lebih memilihmu.


Edwin tersentak kaget saat Meisya sudah di sisinya dan menepuk bahunya. 


"Heh kaaan kakak ngelamun, ngapain duduk di dapur trus ngelamun, bentar ya sabar itu ayamnya masih di bikin empuk, bumbunya juga sudah siap, paling sejaman lagi lah, nih soto dah siap," Meisya menepuk pipi Edwin yg masih terdiam dan memandanginya. Mei memajukan wajahnya, memandang Edwin yang duduk.


"Kau mencintaiku kan Meisya?" tanya Edwin tiba-tiba. Ada rasa perih dihati Mei yang entah mengapa muncul bersamaan saat pertanyaan dari Edwin muncul. Mata Meisya berkaca-kaca.


"Mengapa tiba-tiba muncul pertanyaan itu kak, apa karena James kesini, lalu buat apa aku memohon-mohon kakak kesini jika aku tidak punya perasaan apa-apa pada kakak?" tanya Mei masih memandangi Edwin dengan tatapan aneh.


"Apa saja yg dikatakan James hingga muncul pertanyaan itu dari kakak?" tanya Meisya lagi. Edwin berdiri dan memeluk Meisya. Membawa kepalanya dalam dadanya.


"Aku sangat takut kehilanganmu Mei,butuh waktu lima tahun untuk menyembuhkan hatiku dari luka kehilangan, aku tidak berani menerima kenyataan jika harus kehilangan lagi, kamu tahu, dua hari yang lalu mama baru memberi tahuku, jika mama sengaja membawamu ke rumah agar kamu menyembuhkan lukaku, dan mama berhasil," Edwin mengurai pelukannya, menatap wajah Meisya, dicium nya kening Mei. Mei melepaskan pelukannya dan menuju dapur lagi. Menyelesiakan tahap akhir dari masakannya. Meisya semakin bingung, ada apa antara kak Edwin dan James pikirnya.


***


Pagi Mei sudah di kantor jurusan ia serahkan amplop coklat pada Mr. Edward.

__ADS_1


"Akhirnya dia jadi ke Korea untunglah semuanya sudah siap, jadi dia tinggal berangkat," Mr. Edward melangkah meninggalkan Meisya. Mei terkesiap, Korea? James tidak mengatakan apa-apa, mengapa begitu tiba-tiba.


Mei bergegas mengambil ponselnya, ia telpon James. Tidak diangkat, apakah sudah berangkat pikir Meisya. Ia telpon lagi, terdengar suara berat James...


Aku berangkat Meisya, jaga diri baik-baik


James Jaaaames..


Lalu hilang suara James... Meisya merasa kosong pikirannya mengapa tiba-tiba James ada apa? Aku tidak mencintaimu, tapi ada yang hilang saat kamu pergi, mengapa James...mengapa?


Meisya duduk tertegun di koridor kampusnya, seharusnya ia sudah pulang, sudah tidak ada perkuliahan lagi, tapi Meisya merasa berat meninggalkan kampus, berjuta tanya di kepala Meisya membuatnya mematung di tempat itu sampai dua jam berlalu.


***


Meisya memencet password apartemennya melangkah pelan dengan pikiran kosong, hingga tak sadar tatapan Edwin yang mengikutinya sejak ia masuk sampai menuju kamarnya.


"Kaaak kakaaak," teriakan Meisya menyadarkan Edwin.


"Ada apaaa, sejak kamu masuk, kakak sudah di sini, di ruang makan nih dekat dapur," sahut Edwin.


"Oh yaaaa, kok aku nggak liat?" Mei menggaruk-garuk kepalanya.


"Mana bisa liat kalo kamunya ngelamun, pasti ngelamunin James ya, sudah ketemu sama dosen gantengmu?" tanya Edwin dengan wajah tak enak dilihat. Mei diam untuk sesaat. Mengerjabkan matanya dan memandang Edwin.


"Oh yaaaa, makanya kamu ngelamun,sedih ya ditinggal dosen ganteng?" tanya Edwin tanpa senyum.


"Nggak gitu kak, aku sama James kan berteman sejak awal aku disini,sedikit banyak dia bantu-bantu aku pas awal-awal kuliah, coba aja kakak sendiri yang ngalami, kalo kakak punya teman baik trus tiba-tiba ngilang, gimana perasaan kakak coba?" tanya Meisya sambil mendekatkan wajahnya pada Edwin.


"Duduk sini kakak kasi tau, sudah pernah kakak bilang kan, tidak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan, pasti salah satunya akan jatuh cinta ato bahkan kedua-dua nya akhirnya saling tertarik, dan asal kamu tahu,James bilang sama kakak, kalo dia cinta sama kamu, dia bilang juga kalo dia gak ada niatan sedikitpun mau ngambil kamu dari kakak, tapi kakak nggak yakin pada ucapannya, kakak ingat dia sampe bela-belain ngasi cokelat pas valentin, apa nggak ada orang lain yang bisa dia kasi cokelat, trus surat ke jurusan kamu juga, lah ngapain sampe dititipin ke kamu, masak nggak punya teman sesama dosen, dia loh sudah doktor, pasti punya banyak rekanan di kampus," Edwin berbicara sedikit berapi-api, Mei agak takut melihat perubahan wajah Edwin.


"Jadi berhentilah dekat dengan James Meisya sayang,kakak jadi ngerti, mengapa dia mencoba menjauh dari keadaan yg tak enak ini, dia sadar kamu sudah ada yang memiliki, tapi dia tetap tidak bisa menghilang kan kamu dari hatinya, James berpikir, dengan jauh dari kamu, dia akan mampu menghapus bayang-bayang kamu," Edwin menggenggam jari Meisya yang masih menatapnya dengan bingung.


"Wajah kamu yg cantik, tingkah kamu yg manja dan manis, membuat siapapun akan cepat jatuh cinta sama kamu," Edwin mencubit pipi Meisya dengan lembut.


"Kalo boleh tahu, kakak bicara di mana sama James?" tanya Mei penasaran.


"Kamu nggak perlu tahu, yang jelas kami sudah bicara, dan dia tahu apa isi pikiranku," jawab Edwin pelan.


"Tidurlah kalo kamu capek, kita nggak usah ke Darling Harbour, kita jalan-jalan aja sekitar apartemen sini, ada cafe-cafe cantik, ato kita cukup duduk-duduk aja ngambil kursi lalu duduk di balkon, sambil saling peluk hmmmm?" Edwin masih memandangi wajah Meisya.


"Aku mau makan aja kak," Mei berlalu meninggalkan Edwin ke dapur. 

__ADS_1


"Ya ampun kaaaak ke mana nih soto,kok cuma tinggal pancinya, trus aku mau makan apaaa?" Mei terlihat kesal.


"Lah kan tadi malam setelah kamu masak, kakak makan, trus tadi sarapan, trus baruuuu aja kamu nggak dateng- dateng dari kampus ya tak makan sekalian, lagian kan ada ayam ungkep Meiii, tinggal goreng aja kok repot," Edwin menggaruk-garuk kepalanya yg tak gatal.


"Huh keterlaluan, soto sepanci dihabisin," Mei mengeluarkan penggoreng dan mulai menuangkan minyak goreng untuk menggoreng ayam.


"Halah soto sepanci kecil aja kok," Edwin masih membela diri.


Meisya masih saja mangkel pada Edwin yang tidak menyisakan untuknya soto meski sedikit.


Akhirnya masak sudah ayam goreng plus sambel bajak versi Meisya.


Meisya asik makan sampai berkeringat karena pedas, Edwin ingin sekali tapi apadaya perutnya tidak tahan pada sambel yg pedas, akhirnya Edwin hanya makan ayam goreng yang dicocol dengan kecap tanpa cabe.


"Hmmmm sudah tua, tapi selera pedas kok kayak anak tk," ledek Meisya.


"Biarin, yang penting urusan makan jalan terus," balas Edwin sambil mengunyah dengan semangat.


"Kaaak jangan diabisin, heran deh malah kakak yang semangat makan ayam gorengnya," Meisya tampak terlihat kesal. Tiba-tiba pintu diketuk dan Meisya membuka pintu dengan tangan kiri, karena tangan kanannya berlepotan sambal.


Wajah Gavin muncul sambil cengar cengir. 


"Pinjam tas ransel,punya nggak, yang rada besar, diajak temen-temen kelas camping."


"Bentar, aku ambil dulu, siapa tau cocok, nggak gitu besar, tapi lebih besar dari tas ransel ke kampus, tunggu disini, ada kakakku, ntar kamu di semprot lagi," Meisya semakin mengecilkan suaranya. Dan melangkah masuk ke kamarnya.


"Siapa Mei?"tanya Edwin yang mencuci tangan setelah makan ayam goreng.


"Gavin kak, mau pinjam ransel, buat camping sama temennya," Meisya menjawab dari dalam kamar dan keluar lagi menemui Gavin.


"Nih, ini cuman aku punyaknya, gimana?" tanya Meisya.


"Hmmm iya dah, aku pinjam Mei ya, hmmm tiga hari ajalah, pakek uang sewa?" tanya Gavin meledek.


"Ya iyalah, bayar pake foodtruck depan kampus," kata Meisya sambil menggoyang- goyangkan kepalanya.


"Heh dasar rentenir, iya dah gampil," Gavin membawa tas Meisya menuju apartemennya.


Mei masuk dan meneruskan makannya. Setelah selesai ia mencuci semua piring kotor dan mengeringkan tangannya mengguna kan serbet bersih yang ada di dapur. Lalu masuk ke kamarnya dan mendapati wajah Edwin yang tak biasa, memegang ponselnya.


"Ada apa kak?" tanya Mei takut. Edwin memberikan ponsel ke tangan Meisya.

__ADS_1


"Ada seorang wanita menelpon, dia mengaku mamanya James."


Dan wajah Meisya, menjadi pucat seketika. 


__ADS_2