
*SUK*
#47
Loh kok pada bengong semua nih para cowok, ayo bantuin, ini si Ben berat banget, dari tadi muntah-muntah, lemes jadi tante bantuin mapah keluar," dan James segera berlari menggantikan posisi bu Minda, mendudukkan papanya di ruang makan. Dan om Ben kembali merasa mual.
Mei segera ke dapur membuatkan teh hangat, untung di kulkas James ada lemon, ia peraskan sedikit untuk menghilangkan rasa mual pada om Ben.
"Minum om biar hangat badan om, ini kok dingin ya ibu badan om Ben?" tanya Mei kawatir.
"Lah, dia dari tadi muntah-muntah lama di kamar mandi, makanya jangan di kamar mandi di washtafel aja yah, biar gak kedinginan. James, papamu bawa jaket, ambilkan sayang," James mengambil jaket papanya dan memakaikannya.
Selanjutnya Al membantu Meisya menata makanan yang mereka beli tadi, Al melihat Mei yang sangat gesit, ia merasa jika Mei sangat sempurna sebagai seorang wanita. Mei melihat Al menatap nya, namun ia pura-pura tetap menata makanan dan mengambil piring, sendok dan garpu untuk mereka berenam.
Lalu menawari makanan untuk om Ben.
"Carikan yang berkuah ya Mei," pinta om Ben.
"Ini tadi saya belikan om Ben, cream soup, mau ya mumpung masih hangat?" ujar Mei lalu menyuapkan pada om Ben.
"Seandainya seperti ini terus ya James, banyak yang nemenin papa, pasti papa cepet sembuh," ujar om Ben pelan sambil tersenyum pada Mei.
"Besok ibu pulang ke Indonesia, Mei sama kak Ed masih disini, dua hari lagi kami balik, pasti kami temani om, setelah kami balik, ada Al dan James yang akan menemani om, melewati hari-hari berat, ya kan Al?" Meisya menatap Al yang mengangguk dan tersenyum pada om Ben
Setelah habis cream soupnya om Ben ingin tidur dan dipapah kembali oleh James ke kamarnya.
Bu Minda mengikuti dari belakang.
"James, ini balurkan ke dada papamu biar hangat dan biar nggak mual lagi, harumnya segar, dan kaki serta tangannya juga James, baluri ya," pinta buMinda
***
Mereka makan malam berlima, sesekali terlihat James menawari Al lauk, minuman dan lainnya, James benci jika Mei mengingatkan nya agar Al dilayani oleh James, jadi sebelum Mei berkomentar, James sudah melakukan itu, Edwin dan Mei saling pandang saat melihat wajah suka cita Al dilayani oleh James dan Mei menahan tawa saat James meliriknya dengan kesal.
"James kok diam saja, ini sayang nambah lagi," ujar bu Minda melihat James yg lebih banyak diam dan berwajahdatar
"Iya tante, lagi nggak selera aja," James mengakhiri makannya dan memilih masuk ke kamar papanya, manyelimuti papanya lalu duduk di sofa menatap serius pada ponselnya.
__ADS_1
Ia melihat ada notifikasi masuk, sebuah pesan singkat dari Kent.
Terima kasih James, telah membuat bahagia saudaraku, dia tersenyum lebih sering sekarang dan hal lain yang dulu jarang ia lakukan, mandi juga lebih sering hahahahaha
James mendengus kesal, ia tidak ingin membalas pesan singkat Kent, dan lebih memilih menghapus pesan itu.
Edwin mendekat ke arahnya saat semuanya telah selesai makan malam, Al dan Mei membawa piring dan gelas kotor ke dapur, sementara bu Minda masih duduk di ruang makan, membersihkan, merapikan meja makan dan menuju ke kamar om Ben, berdiri di pintu dan melihat om Ben yg tidur dengan nyenyak.
"Papamu sudah tidur James, tante juga mau masuk kamar ya," bu Minda menuju kamar sebelah dan mulai merebahkan badannya.
***
"Mei, kamu pinter masak ya?" tanya Alice sambil menata piring bersih pada tempatnya.
"Ya harus, karena aku hidup di panti asuhan, siapa yang mau ngasi makan kami, ya kami bergantian masak setelah kami jadi yang paling tua disana, ada sebenarnya juru masak tapi kami juga harus bisa," jawab Mei dan mata Alice meredup.
Maafkan aku Mei," sahut Alice pelan dan Mei tertawa menepuk pundaknya.
"Nggak papa, dulu aku sempat merasa hidup paling tidak beruntung, tapi sekarang justru karena hidup disanalah, aku jadi terbiasa merasakan kesulitan sebagai teman yang membuat aku berhasil, karena kesulitanlah yang membuat aku jadi berpikir keras untuk hidup lebih baik," Mereka berdua duduk di ruang makan, mengamati Edwin dan James yang entah berbicara apa, keduanya nampak tertawa bersama.
"Aku dibiayai oleh mama nya Edwin sejak kecil Al, saat aku sudah lulus kuliah, aku mulai bekerja sebagai sekretaris mamanya Ed, tak lama, aku dibawa ke rumah bu Minda, huh disanalah aku untuk pertama kali merasa ditolak, sakit banget rasanya," Meisya bercerita sambil menatap Edwin sambil tersenyum.
"Duh pokoknya awal- awal di rumah bu Minda aku sering sedih dan senang juga, aku mengagumi kak Edwin sejak awal melihatnya, tapi bukan cinta loh Al ya, aku yakin cinta padanya setelah kami menjalani masapacaran, awalnya yaaa normallah, karena Edwin tampan jadinya aku sering bayanging yang nggak-nggak," Mei dan Al tertawa bersama.
"Kayak kamu sekarang sama Jameslah, awal- awal sering merasa aneh, lama-lama dia yg nolak aku eh malah ngejar-ngejar aku," Mei kembali tertawa. Al tiba-tiba menghentikan tawanya dan mendesah perlahan.
"Kalo kisahku tragis Mei, aku malu mau cerita, kisah kelam, nggak enak diceritain," ujar Al, Mei menggenggam tangan Al.
"Kalo kamu mau cerita nggak papa ceritalah, tapi kalo kamu merasa nggak siap sekarang ya janganlah Al, kapan- kapan kita keluar bareng kita bisa cerita sepuasnya," ujar Mei perlahan sambil mengusap punggung tangan Al.
"Kamu memang menyenangkan Mei, makanya semua orang menyukaimu, mencintaimu, James masih sulit melupakan mu, Kent juga sangat menyukaimu, bahkan papanya James kalo sama kamu kayak sama anaknya aja ya Mei?" Al menatap Mei yang tertawa pelan.
"Aku berusaha cepat menyesuaikan diri dimanapun aku berada Al, mungkin karena terbiasa di panti, jadi ya biasa gitu deh Al, eh udah malem nih, pulang yok Al, aku sebenarnya pusing Al, tapi diem ya jangan bilang siapa- siapa," Mei tersenyum dan berdiri menuju Edwin dan James.
"Pulang yok sayang, aku dan ngantuk," ajak Mei dan diiyakan oleh Edwin.
***
__ADS_1
Mei dan Edwin melambaikan tangan pada Al dan James saat akan masuk ke apartemennya.
James mengantarkan Al sampai ke depan pintu apartemennya. Sebelum masuk Al menoleh dan mendekati James.
"James jika nanti Mei dan Edwin pulang, nggak papa aku akan ikut merawat papamu, hubungi aku, kawatir aku ada di galeriku." James mengangguk dan Al berjinjit, lalu mencium pipi James sekilas dan masuk ke apartemennya
James kaget, mengusap pipinya perlahan, menggelengkan kepalanya dan melangkah sambil memasukkan tangannya dalam saku jaketnya.
Aaaal Aal, aku masih belum bisa menyukaimu masih belum merasakan apapun....
***
James memasuki apartemennya, melihat bu Minda yang duduk di sofa.
"Tante kok nggak tidur?" tanya James dengan wajah kaget. Bu Minda tersenyum.
"Papamu baru saja tidur, tadi mual lagi."
James duduk di dekat Bu Minda, menatapnya dan meraih tangan bu Minda.
"Tante, tante sudah seperti mama bagi saya, apakah, apakah tante tidak bisa menerima papa kembali, saya akan sangat bahagia jika diakhir hidupnya ada orang yang menemani papa, dan saya yakin papa akan memilih tante yang menemaninya."
Bu Minda menghela napas, membiarkan tangannya ada dalam genggaman James.
"Tante akan selalu mendampingi papamu, sampai kapanpun, ini janji tante, tapi tetap sebagai temannya sayangku, jangan kawatir James, jika terjadi apa-apa pada papamu, tante akan segera menemuinya, tapi jika kamu berharap lebih, tante tidak bisa James, tidak bisa, entah mengapa rasanya perjalanan cinta kami bagi tante sudah selesai, yg ada hanya perasaan sebagai teman."
James mengangguk dan melepaskan tangan bu Minda, menatap bu Minda lagi.
"Kesalahan papa memang sangat besar bagi tante, masih untung tante bisa bersikap wajar lagi pada papa, makanya tante jadi sulit menerima papa lagi," ujar James pelan, dan bu Minda tersenyum lebih lebar.
"Nggak sayang, nggaaak, tante sudah nggak marah, nggak dendam sama papamu, tante sudah melupakan semuanya, hanya untuk kembali menjadi sepasang kekasih rasanya sudah tidak mungkin, cinta tante pada papamu sudah hilang sayang, kalo ditanya cinta tante untuk siapa, ya untuk almarhum suami tante, mas Seno, yang telah berkorban banyak untuk tante, cinta tante pada nya tak tergantikan," bu Minda memejamkan matanya saat menyebut nama almarhum suaminya, dan James merasakan sakitnya perasaan papanya.
Tanpa mereka sadari, dari dalam kamarJames, om Ben mendengar semua pembicaraan itu, om Ben hanya bisa memejamkan matanya, dan memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, ia harus bisa menerima kenyataan bahwa orang yg dicintai sepanjang hidupnya, tidak akan pernah kembali padanya.
Tiba-tiba suara om Ben yg mual terdengar oleh James dan bu Minda. Mereka bergegas masuk dan mendapati om Ben yang sulit bernapas.
Bu Minda cepat meninggikan bantal, membalur dada om Ben dengan minyak gosok hangat yang ia bawa. Dan seketika om Ben memeluk bu Minda dan menangis di bahu bu Minda.
__ADS_1
Bu Minda kaget, James hanya bisa terpana melihat papanya bercucuran air mata.