Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
27


__ADS_3

*SUK*


#27


Meisya ada di rumah sakit Kent, aku menyesal tadi membiarkannya sendiri, aku ke rumah sakit dulu ya Kent," James mengambil tasnya terburu-buru dan melangkah lebar. Kent mengejarnya.


"Aku ikut James, boleh ya?" Kent terdengar memohon. James menggeleng dengan kuat.


"Tidak, jangan sekarang, besok saja," James melangkah meninggalkan Kent yang berdiri mematung.


***


Tiba di rumah sakit James segera memasuki ruang observasi, ia melihat Meisya yang sedang terpejam dan lengannya kirinya di balut perban dan bersedekap ke arah perutnya. James segera menemui dokter jaga, ia sempat bertanya kondisi Mei, tensi darah Mei turun, kecapean saja,  tapi siku kirinya agak bermasalah, tidak patah tapi mengalami sedikit retak dan memerlukan penanganan khusus mungkin efek jatuh saat Mei tiba-tiba pingsan, entah bagaimana posisinya, sehingga kondisi lengannya bisa berakibat seperti itu.


"Tidak ada hal lain lagi kan dok?" tanya James pada dokter.


"Tidak, tidak ada hal lain, hanya harus terapi ke dokter orthopedy untuk menyembuhkan lengannya, jika nanti dirasa sehat, pasien boleh dibawa pulang," ujar dokter memberi saran


James kembali ke sisi Mei yang masih memejamkan mata, ia pandangi wajah Mei yg terlihat lelah. James sentuh perlahan lengan kanan Mei dan Mei membuka mata.


"James," suara Mei terdengar pelan.


"Masih pusing, mau aku belikan makanan?" tanya James masih berdiri. Mei mengangguk.


"Iya, aku lapar James,  belikan roti aja deh sama air putih, maaf ngerepotin," Mei terlihat masih lemas.


Tak lama James datang dan menekan tombol di sisi kasur, agar Mei bisa dalam posisi duduk. James menyuapkan roti sedikit demi sedikit.


"Aku makan sendiri saja James, kayak anak kecil aja," ucap Mei sungkan. 


"Diam saja, kamu harus sehat agar hari ini bisa pulang, kamu jatuh gimana sih kok bisa sampe gini?" tanya James perlahan. 


"Nggak tahu, aku tiba-tiba pusing saja, padahal dah dekat apartemen loh," ucap Mei berusaha menjelaskan. 


"Maaf, kamu jangan marah, Mei, kamu tidak sedang hamil kan, aku ingat temanku dulu awal-awal hamil selalu pusing," tanya James pelan.


Mei terperangah, mulutnya terbuka lebar. 


"Hah hamil, hamil sama siapa terusan, ih kamu kok nuduhnya gitu, aku nggak akan semurah itu James menyerahkan kegadisanku," mata Mei terlihat berkaca-kaca.


"Maaf, aku kira kamu terbawa pergaulan di sini, dan Edwin sering ke kamu kan, kalian hanya berdua," ucap James pelan. Mei menggeleng perlahan. 


"Aku memang sangat mencintai kak Ed, James, selalu saja ada debaran dan perasaan asing tiap kali aku di dekatnya, tapi untuk yang satu itu, akan aku serahkan nanti, saat aku jadi istrinya," suara Mei semakin parau.


"Maaf, ternyata aku tidak cukup mengenalmu Mei," ucap James pelan.


"Nggak papa aku tidak menyalahkanmu, mungkin bagi orang lain hal seperti itu biasa,  tapi tidak untukku, kadang kak Ed juga hampir seperti itu, namun aku selalu mencegahnya, aku selalu mengingatkannya, aku mau minum James," James mendekatkan air mineral botol ke bibir Mei, James tahu, Mei berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Aku sudah nggak lemes-lemes amat kok James, bisa pulang nggak ya?" tanya Meisya melihat wajah James.

__ADS_1


"Ok aku tanya dokternya ya?" James bergegas menuju ruangan dokter. Tak lama James muncul sambil tersenyum.


"Ok, boleh pulang,  bentar aku telpon Kent ya biar bawa mobil dia," ujar James memilih nomor namun dicegah oleh Mei.


"Jangan, aku nggak mau berhutang budi sama bocah itu, kita naik taxi aja dah," Mei memberengut, sementara James tertawa perlahan.


***


Sesampainya di apartemen, James agak bingung juga, ia tinggalkan Mei sendiri gimanaaa, tidak ia tinggalkan jadi nggak enak nginap di apartemen Mei.


Mei ada di dalam kamarnya saat James masih terlihat bingung. 


"Ada apa James mengapa kamu berjalan seperti orang bingung?" tanya Meisya setelah ia berada di depan James. 


"Nggg anu, apa, kamu gimana disini sendirian, kalo mau ngapa-ngapain gimana?" James balik bertanya. 


"Nggak papa, aku sendirian nggak papa,  aku cuman bingung mau ganti baju James,  lengan kiriku masih sakit sikunya, kata dokternya belum boleh gerak-gerak ekstrim, ini kok pas pakai kaos akunya, kalo pakai baju yang ada kancing depannya itu lebih mudah bukanya, nggak nyakitin sikunya, aku minta tolong guntingkan kaosku James, nggak ada jalan lain dah, tapi maaf aku membelakangi kamu ya James," Mei melangkah ke kamarnya mengambil gunting,  sementara James masih mematung ditempatnya.


Mei menyerahkan gunting dan dia membelakangi James. Tangan James gemetar memegang gunting dan mulai menggunting sisi kiri kaos Meisya, baru beberapa guntingan James berhenti. Karena saat gunting bergerak semakin ke atas James dapat melihat kulit halus Meisya.


"Kenapa James?" tanya Meisya.


"Kamu punya handuk, atau bathrobe lah, kalo ada bawa kesini," pinta James. Mei mengambil di kamarnya dan menyerahkan pada James.


James melanjutkan sampai selesai dan saat sisi kiri kaos terlepas, James memakaikan bathrobe ke punggung Meisya.


Tak lama Meisya keluar kamar dan melihat James yg memejamkan matanya di sofa. Mei kembali ke kamarnya dan merebahkan badannya kembali, Mei merasakan lapar lagi karena malam ia belum makan, tapi bagaimana caranya James sedang tidur, akhirnya ia mengambil ponselnya untuk menggunakan jasa delivery order, ia memesan pizza ukuran besar.


Tak lama pesanannya datang, James bangun melihat Meisya yang membawa pizza di tangan kanannya.


"Kamu lapar?" tanya James tersenyum melihat ukuran pizza yang dipesan Mei. Meisya mengangguk dan mulai memasukkan pizza ke mulutnya.


"Kok aku nggak dibangunkan?" tanya James lagi. 


"Kamu kecapean, ngorok dikit tadi," jawab Mei sambil sibuk makan pizza pesanannya.


"Ayolah James, bantuin aku ngabisin ini," ajak Mei dan James mulai mengambil sepotong pizza.


"Telponlah Edwin beritahu dia, aku kawatir aku jadi salah kalo kamu nggak ngasi tau dia,  karena saat Edwin kesini satu ato dua minggu lagi, lenganmu pasti belum sembuh benar," James menghabiskan potongan kedua pizza,  dan beranjak ke dapur untuk mengambil air.


"Besok sajalah, aku tidak mau dia kawatir," Mei memasukkan potongan terakhir pizza ke mulutnya.


"Aku pulang ya Mei, tapi aku kawatir kamu sendirian, kalo ada apa-apa kayak tadi, gini ajalah, aku tidur di kamar sebelah ya, besok pagi-pagi aku balik ke apartemenku, aku nggak mau nyesel kedua kalinya," James berdiri sambil menggaruk- garuk kepalanya. Mei hanya tertawa perlahan.


"Terserah kamu James,  orang kok bingung aja," Mei melempar bantal sofa ke arah James.


"Heh kamu nggak tau, aku takut banget tadi pas ada orang nelpon,  kamu ada di rumah sakit, takut kamu kenapa-napa, ternyata pinter masak tapi kurang gizi," James tertawa lebih lebar dari biasanya. Mei menatap James dengan perasaan senang, ia ingat saat mamaJames meninggal rasanya sulit untuk melihat senyum dan tawa itu lagi.


"Kenapa liat aku?" tanya James pada Mei.

__ADS_1


"Aku senang kamu bisa ketawa lagi," jawab Meisya masih menatap James. 


James mendesah pelan dan duduk kembali di sofa,menyisir rambutnya dengan jari-jarinya.


"Hanya kalo sama kamu, aku bisa ketawa Mei,  bisa ngomong agak banyak," James balik menatap Meisya. Mei tersenyum dan memegang lengan James dengan tangan kanannya.


"Mulailah mencari orang yang bisa kamu cintai, kamu akan merasakan hidup tidak membosan kan," ujar Meisya. 


"Aku tidak tahu Mei,  apakah aku bisa belajar menyukai dan mencintai lagi, kamu masih ada di dekatku terus, sulit untuk mencari yg mirip kamu," ucap James mengalihkan padangan dari wajah Mei.


"Carilah yang tidak sama denganku, pasti ada yang akan meluluhkan hatimu, kalo kamu cari yang mirip aku jadinya malah sulit ngelupain aku, lagian kamu kok bisa suka sama aku sih James, kata Gavin cuma orang-orang aneh yang mau sama aku hahahah, beneran deh Gavin bilang gitu," Mei tertawa sambil memegangi siku kirinya yang masih terasa nyeri.


"Dia yang nggak waras berarti Mei, seenaknya aja ngatain aku orang aneh, semua orang suka sama kamu, sangat malah, papa mamaku meski cinta mereka seperti pada anak kalo ke kamu, Edwin tercintamu, malah dosen cerewet bocah yang kamu sebelin itu,  ikutan suka sama kamu, dia malah bilang mau ngejar kamu seandainya aku nggak bilang kamu mau nikah," James berbicara tanpa melihat Mei, sementara mulut Mei terbuka lebar.


"Suka apaan, dia nyiksa aku, dosen aneh, ngata- ngatain seenaknya, dikira aku **** apa, mangkel deh, masa tiap ngajar marah mulu,  bawaan pms kali kata temen-temen sekelas," Mei terlihat emosi. James tertawa mendengar Mei ngamuk


"Itu hanya cara dia agar kamu selalu perhatiian dia Mei, kamu nggak peka banget, cara orang kan macam-macam nunjukin rasa sukanya," ujar James masih tersisa tawanya.


"Iya, dan dia nunjukin dengan cara yang nggak wajar, huh dasar," Mei menekuk mukanya dengan sebal.


"Sudah malam Mei,  tidurlah, aku akan disini,  menjagamu, besok pagi-pagi aku akan ke apartemenku," ujar James yang diiyakan oleh Mei.


Mei melangkah ke dapur mengambil air minum dan terdengar mengaduh. Secepatnya James mendatangi Mei.


"Kenapa lagi?" tanya James kawatir. Mei hanya menyeringai. 


"Sikuku kena kulkas,  sakit banget." James mengelus bahu Mei perlahan.


 


"Kok bisa sampe jatoh pingsan emang kenapa kamu?" tanya James berdiri di depan Mei. 


"Aku kecapean, sejak ke Perth, aku sulit makan,  mikir kamu, sampe di Perth lihat wajah kamu yang sedih pengeeen banget meluk kamu,  tapi kan nggak mungkin, ada kak Ed, trus balik ke sini, masih males makan, jadi ya intinya aku kurang makan kali ya?" tanya Mei menengadah menatap James yang tiba-tiba memandangnya dengan sedih. Sedetik kemudian James mendekap kepala Mei ke dadanya.


"Aku juga ingin memelukmu Mei saat kamu tiba di Perth, pelukan seorang sahabat, tak lebih, aku hanya ingin dapat kekuatan dari kamu, itu saja, aku tahu kamu sangat tidak mungkin aku jangkau lagi," James mengelus bahu kanan Mei dan melepas dekapannya.


"Sudah baikan?" tanya Mei sambil tersenyum. James mengangguk pelan.


"Tidur ya, sudah malam,  istirahat yang cukup dan makan yang banyak,  biar nggak pingsan lagi," James mengusap kepala Mei.


Mei melangkah masuk kamarnya, dan membiarkan terbuka,  tanpa menutup pintu, James merebahkan badannya di sofa. Mulai memejamkan matanya perlahan.


***


James mendengar ponsel Mei berbunyi,  dilihatnya jam menunjuk ke angka 11.30 malam. Ah ternyata ponsel Mei ada di meja dekat James tidur di sofa, ia dekati ponsel Mei.Kakak ganteng is calling... 


James bimbang, akan ia angkat atau tidak.....ini pasti Edwin pikirnya...


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2