Mencintai Daddy Sahabatku

Mencintai Daddy Sahabatku
Bab 49


__ADS_3

" aku bisa membantu permasalah mu dalam mencari pendonor darah untuk wanita kecil mu itu bar.." ucap citra tiba tiba kala bara yang baru saja keluar dari kamar mandi.


yah memang citra mengikuti langkah bara ketika ke kamar mandi dan dia akan memulai rencana nya dari sini.


" apa maksud mu cit.." bara yang menjawab ucapan citra dengan terheran sekaligus terkejut dengan kehadiran citra di situ.


" yang aku maksud itu, aku bisa menolong resa dengan mendonorkan darah ku pada nya karna golongan darah AB- milik resa sama dengan golongan darah ku.." ucap citra menjelaskan maksud nya kepada bara.


bara yang mendengar penjelasan dari citra dan juga penawaran citra untuk mendonorkan darah nya pada resa pun sedikit curiga.


" aku sedikit tidak yakin jika kamu akan mendonorkan darah untuk resa begitu saja tanpa ada syarat yang akan kamu berikan padaku untuk menjadi imbalan karna kamu mendonorkan darah pada resa." ucap bara yang memang mulai mengerti sifat asli dari citra, karna dea anak nya yang pernah menceritakan padanya tentang citra yang ingin mendapatkan dirinya dengan cara apapun di tambah dengan ucapan citra yang merasa tidak suka akan pertunangan nya dengan resa saat acara pertungan ia dan resa di selenggarakan.


citra yang mendengar ucapan dari bara itu pun langsung tersenyum.


" kamu memang dari dulu sangat pintar bar, yah aku akan mendonorkan darah untuk resa jika kamu mau menikahi kuuu.." jawab citra dengan seringai licik nya.


" apa kamu kira aku akan menuruti kemauanmu cit.. tidak akan.." tanggap bara dengan terkekeh mengejek pada citra.


mendengar apa yang bara lontarkan pada nya, citra mengepalkan tangan nya dan mulai mencoba menenangkan diri nya dan tersenyum kembali di hadapan bara.


" oohh ayolah bara jangan egois.." ucap citra dengan semakin mendekat ke arah bara.


" apa kah kamu tidak ingat apa kata dokter dalam 24 jam ini kamu harus mencari pendonor darah untuk calon istri kecil mu itu agar operasi lancar apa kamu ingat itu bara.." sambung citra dengan mengelus rahang tegas bara.


mendengar penuturan citra bara hanya bisa terdiam dengan memikirkan apa yang citra ucapkan, dan tanpa sepatah kata pun bara langsung pergi dari tempat itu dan meninggalkan citra sendiri.


" aku tidak yakin jika kamu bisa menolak semua ini bar.." ucap citra dengan seringai licik nya.

__ADS_1


********


dea yang tengah mondar mandir di depan ruangan resa di rawat merasa sangat khawatir kala tadi dokter memberitahukan untuk segera mencarikan pendonor darah untuk resa.


" dea sebaiknya kamu duduk dan tenang kan diri kamu kita berdoa semoga segera ada pendonor untuk resa.." ucap venya kala melihat dea yang tidak bisa tenang setelah mendengar ucapan dokter tadi.


" gimana dea bisa tenang tante.." jawab dea dengan air mata nya yang sudah siap untuk jatuh mengalir di pipi mulus nya itu.


di tengah ke khawatiran dea dan kedua orang tua resa, bara datang menghampiri ketiga orang yang tengah berada di depan ruangan resa.


" piiiiihh.." panggil dea pada bara dengan suara lesu nya.


" iya sayang.. kenapa kamu kok lesu gitu.." jawab bara dengan membawa anak nya itu ke dalam pelukannya, karna bara pun tau jika dea sangat mengkhawatir keadaan resa.


dan di saat seperti itu venya dan tio hanya memperhatikan interaksi antara anak dan papih itu dengan senyuman yang mengembang di sudut bibir kedua nya.


" boleh emang mau bicara dimana.." jawab bara dengan menundukkan wajah nya karna saat ini posisi dea masih memeluk dirinya.


" ayo ikut dea.." ucap dea dengan melepaskan pelukan nya pada bara.


" om tio dan tante venya, dea pamit untuk keluar dulu yah sama papih.." ucap dea berpamitan pada tio dan venya.


" ohh yah sayang silahkan.." jawab venya dengan tersenyum.


setelah mendapat izin dea pun segera menggandeng tangan papih nya agar mengikuti langkah nya untuk menuju taman rumah sakit.


" kamu mau bicara apa ke papih.." tanya bara kala mereka berdua sudah sampai di taman rumah sakit yang cukup asri itu.

__ADS_1


" tadi pas papih ke kamar mandi, dokter yang menangani resa bilang ke dea om tio dan tante venya kalau kita harus secepatnya menemukan pendonor untuk resa piiih, karna mungkin operasi resa tidak akan berjalan lancar kalau tidak ada tranfusi darah yang mengalir di tubuh resa, yang memang sejak pendarahan itu resa kehilangan banyak darah.." jelas dea yang memang ingin memecahkan masalah ini berdua dengan papih nya karna dea tidak mau jika venya dan tio khawatir kalau bara kesulitan mencari pendonor darah untuk resa.


" huuuuuuffft.." hembusan nafas berat bara, dengan mengusap kasar wajah tampan dan berahang keras itu.


" de.. sebenar nya papih ada orang yang menawarkan untuk mendonorkan darah nya pada resa.." ucap bara namun sebelum bara melanjutkan ucapan nya dea langsung saja menanggapi ucapan bara dengan mata berbinar.


" benarkah piiih, kalau memang ada pebdonor darah nya kenapa gak suruh langsung kesini saja piih, apa dia menginginkan bayaran untuk sebagai pengganti dia mendonorkan darah nya kalau memang iya papih bayar saja..." cerocos dea yang merasa sangat antusias kala ada orang yang bisa mendonorkan darah nya untuk resa.


" tidak semudah itu sayang, kalau dia mau meminta bayaran sebagai pengganti donor darah nya sudah sejak awal pasti papih lakukan, tapi ini masalah nya berbeda dia tidak mau untuk di bayar atau pun mendonorkan darah nya secara ikhlas. " jawab bara pada dea, dan membuat dea yang mendengar jawaban papih nya itu sedikit heran.


" sebenar nya siapa orang yang papih maksud, kenapa dia bersedia mendonorkan darah nya untuk resa tapi ada syarat yang tidak bisa papih penuhi.." ucap dea yang mulai bertanya tanya.


"Citraa sayang..." jawab bara dengan wajah nya tertunduk.


" golongan darah nya sama dengan resa, dan dia akan bersedia mendonorkan darah nya untuk resa, jika papih juga bersedia menerima syarat dari nya untuk menikah dengan nya.." ucap bara melanjutkan ucapan nya yang sebelum nya.


dea yang mendengar jawaban dari bara pun mulai terbawa emosi terbukti dari tarikan nafas nya yang mulai memburu dan tangannya yang mulai mengepal dengan erat.


dan ketika di tengah emosi nya yang mulai naik entah keajaiban dari mana fikiran nya tiba tiba tertuju pada kasus tabrakan bara yang masih belum menemukan titik terang , dan setelah beberapa saat emosi nya pun kembali stabil dan di gantikan dengan senyuman licik nya.


" piih om dewo sekarang di kantor kan..??" tanya dea pada bara yang pertanyaan nya itu tiba tiba saja keluar dari jalur pembicaraan yang awal nya mereka bicarakan.


" iyah sayang.. om dewo papih suruh handle kantor karna resa masuk rumah sakit.." jawab bara menjawab pertanyaan dari putri nya itu.


" ya udah kalau gitu papih kembali ke dalam rumah sakit, dea mau ke kantor papih dulu buat nemuin om dewo yah.." jawab dea dengan senyuman yang mengembang di bibir cantik itu.


" tapi kamu kema...naa.." ucapan bara yang terhenti kala sebelum ia menuntaskan ucapan nya dea langsung pergi begitu saja meninggalkan bara sendirian di taman rumah sakit itu.

__ADS_1


HAPPY READIING.. selamat menikmati dan semoga selalu suka dengan setiap episode nya jangan lupa dukungannya love you all...😍😍


__ADS_2