
Waktu trus berjalan dan waktu menuju operasi yang akan di lakukan kepada resa pun semakin dekat.
dan saat ini ke khawatiran di wajah semua orang yang berada di depan ruangan resa itu terlihat jelas.
jika bara saat ini selalu tertunduk dengan wajah frustasi nya, beda dengan dea yang selalu mondar mandir dengan trus mengecek ponsel nya, berharap ada sebuah pesan yan di kirimkan oleh dewo dan memberikan nya kabar baik.
" om dewo kok lama banget sih ngasih kabar nya, apa dia gagal yah aduuuuh bikin deg deg an ajah.." gerutu dea dengan suara pelan nya, merasa risau akan dewo yang masih belum memberi nya kabar.
" piiihhh.." panggil dea dan membuat bara langsung mendongakkan wajah nya menghadap dea.
" ada apa sayang.." jawab bara dengan posisi nya sama seperti sebelum nya yaitu duduk di kursi rumah sakit.
" ikut dea yukk piih, kita ke kantin dea haus.." dea mengajak bara untuk ikut dengan nya karna selain merasa haus dea ingin menetralisir perasaan risau nya kala dewo masih belum memberi nya kabar, padahal waktu untuk resa melakukan operasi sudah semakin dekat.
" ya udah ayo sayang, sekalian kita beliin makan buat mama dan papah.." bara menyetujui ajakan dari anak nya itu.
"pah.. mah.. bara ke kantin dulu, mamah dan papah mau makan apa..??" ucap bara menawarkan pada calon mertua nya.
" terserah kamu ajah bar, mamah dan papah ngikut ajah.." venya menjawab tawaran bara.
" baik mah.. kalau gitu bara permisi dulu.." pamit bara dan di angguki oleh venya.
********
ketika dea dan bara berjalan beriringan untuk menuju kantin, tiba tiba saja langkah kedua nya terhenti ketika kedatangan citra yang langsung menghadang jalan mereka.
" hai bar.. haii dea sayang.." sapa citra dengan nada manjanya, membuat dea yang mendengar nya merasa jijik.
__ADS_1
" untuk apa kamu kesini lagi cit.." ucap bara tanpa basa basi, membuat citra yang mendengar nya tersenyum.
" apa kamu sungguh tidak ingin memikirkan tawaran yang aku berikan pada mu bar.." ucap citra mulai membahas tentang tawaran nya.
dea yang mendengar ucapan licik citra pun mulai geram dan ketika dea akan menjawab ucapan dari citra, tiba tiba dari arah belakang citra seorang laki laki yang di nanti dea akhir nya datang, membuat sudut bibir milik dea teangkat hingga cita di buat kebingungan ketika dea malah tersenyum karna memang posisi antara dea dan citra saling berhadapan.
" dewo kamu suruh kesini de.." tanya bara pada anak nya.
citra yang mendengar ucapan dari bara pun langsung menokeh ke arah belakang nya.
" iya piiih, dan sebentar lagi dia akan menyerahkan darah nya tanpa persyaratan.." jawab dea dengan pandangan nya masih lurus ke depan, membuat bara merasa kebingungan dengan apa yang di ucapkan oleh dea.
" haii citraa.. " dewo yang menyapa citra terlebih dahulu dengan senyum devil yang dewo perlihatkan pada citra, membuat perasaan citra tiba tiba merasa tidak enak.
" haii juga.." balas citra dengan ekspresi wajah nya sedikit kikuk.
" huuuffftt.. belum wo, dan ini waktunya semakin mepet dan aku sudah menghubungi semua orang yang aku kenal tapi tidak ada dari mereka satupun yang mempunyai golongan darah seperti resa, dan hanya satu orang yang aku kenal dan entah kenapa harus dia yang mempunyai golongan darah seperti resa.." jelas bara dengan kata kata nya yang menyindir citra, namun yang di sindir malah tersenyum karna merasa senang jika bara kesulitan mendapat donor darah itu dan mungkin hanya citra lah yang bisa mempermudah kesulitan bara.
" apa dia tidak mau untuk mendonorkan darah nya untuk resa bar.." tanya dewo lagi yang memulai permaian nya.
" dia tidak mau mendonorkan darahnyaaaa.."
" aku bersedia untuk mendonorkan darah ku dengan syarat bara harus menikah dengan ku.." ucap citra memotong ucapan bara, dengan wajah gembira nya dan rasa bangga nya.
" ooouuuhh.. jika memang begitu apa kamu setelah ini masih bisa bicara seperti itu.." jawab dewo dengan nada sombong nya, lalu dewo memainkan ponsel nya.
" Tiiinggg.." suara ponsel berbunyi dan ternya itu milik citra.
__ADS_1
citra yang mendapat kan sebuah pesan dari ponsel nya pun langsung membuka pesan itu dan seketika citra di buat tercengang dengan apa yang di kirim kan nomer baru itu yang tak lain adalah dewo.
dewo yang melihat ekspresi citra yang langsung saja berubah setelah melihat pesan yang baru saja ia kirim kan pun langsung tersenyum.
jika dewo yang sangat senang dengan apa yang terjadi dengan citra saat ini, lain hal dengan bara yang bingung dengan apa yang terjadi pada citra dan senyum santai yang dewo pamerkan.
" seperti nya om dewo udah berhasil deh.." ucap dea yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri karna dea sudah bisa menebak dari ekspresi citra dan ekspresi dewo yang berlawanan.
langkah demi langkah hingga tubuh dewo tepat berada di samping citra dan tubuh itu semakin mendekat.
" apa kah kamu memilih ingin mendonor kan darah pada resa lalu di nikahi bara dan lalu masuk penjara atau kamu donorkan darah pada resa, dan jangan mengganggu hubungan bara dan resa lagi tapi rahasia mu aman bersamaku.." sebuah tawaran yang bisa menjadi solusi dan ancaman yang di bisikkan oleh dewo langsung di telinga citra yang membuat citra langsung bergidik ngeri.
setelah selesai memberi tawaran pada citra tanpa sependengar dea dan bara, dewo pun segera menjauhkan jarak nya pada citra.
citra yang tidak punya pilihan lain selain harus mendonorkan darah untuk resa pun mulai berfikir setuju untuk mendonorkan darah tanpa harus meminta persyaratan apa apa pada.
" sekretariis sialan.." umpat citra dan kemudian segera mengembalikan ekspresi nya seperti sebelum nya.
" baikk.. aku yang akan mendonorkan darah pada resa dan untuk kamu bar, aku tidak minta apa apa dari mu, dan sekarang ayo kita segera temui dokter.." ucap citra dengan menggenggam erat tangan nya karna citra yang berusaha menahan emosi, setelah itu citra pun langsung melenggang pergi menuju dokter yang menangani resa dan meninggalkan ketiga orang di tempat itu dengan ekspresi yang berbeda.
melihat citra yang sudah pasrah setelah ucapan nya membuat dewo tersenyum.
" ancaman apa yang kamu katakan pada nya, kenapa dia langsung menurut padamu.." tanya bara yang merasa heran ketika dewo semuda itu mengancam citra yang sangat sulit untuk di luluhkan dengan ancaman apapun.
" udah sekarang kita susul si citra ajah.." jawab dewo dan langsung melenggangakan kaki nya menyusul citra dengan di ikuti oleh dea.
HAPPY READIIINGG READERRS TERSAYANG AUTHOR..SEMOGA SELALU SUKA..😍😍
__ADS_1