
"Halo?" Dengan suara serak Yoga mengangkatnya.
"Ga. Si Indri ulang tahun. Dia ngundang ke acaranya. Ikut, ya? Nggak enak datang sendirian." Eno pun berbicara dari seberang.
"Indri?" Yoga pun mengingat-ingat kembali.
"Iya Indri. Mantan bendahara SMA kita. Masa lupa sih? Yang putih itu, lho." Eno mengingatkan.
Yoga mencoba kembali mengingatnya. "Jam berapa? Tapi jemput ya?" pinta Yoga ke Eno.
"Tenang. Beres. Kau siap-siap saja. Jam tujuh kujemput. Oke?"
"Oke."
Tak lama telepon pun terputus. Yoga juga segera mengucek matanya untuk memastikan siapa yang meneleponnya Dan ternyata memang benar Eno lah yang meneleponnya.
"Jam tujuh?" Yoga melihat jam di dinding kamarnya. "Astaga! Ini saja sudah setengah enam!"
__ADS_1
Yoga pun bergegas bangun lalu segera bersiap-siap ke acara pesta. Ia mandi dan memilih pakaian untuk dikenakan ke sana. Yoga harus tampil rapi di acara pesta.
Pukul delapan malam...
Yoga datang ke acara pesta bersama Eno. Ia mengenakan semi jas berwarna biru. Terlihat acara pesta ulang tahun yang berlangsung meriah. Banyak tamu undangan yang hadir ke sana. Termasuk beberapa teman Eno dan Yoga dulu. Mereka pun bersapa dan berbagi cerita sejenak.
Tak lama sang pemilik acara datang memasuki ruangan yang sudah ditata sedemikian rupa. Sangat meriah dengan balon yang berwarna-warni di mana-mana. Yoga pun melihat keadaan sekitarnya. Ia memerhatikan siapa saja yang datang ke sana.
Acara pesta segera dimulai dengan doa dari pihak keluarga Indri sendiri. Hingga akhirnya Indri mempersilakan teman-temannya untuk mencicipi hidangan yang tersedia. Sedang acara inti tengah dipersiapkan panitia.
"Aku sampai lupa beberapa nama dari mereka." Eno mengambil minuman yang disediakan di meja hidangan.
"Apa mungkin kita terlalu sibuk? Aku rasa memang tidak semua nama teman bisa diingat setelah dua tahun tak berjumpa," kata Eno lagi.
"Kau benar, No." Yoga membenarkan.
"Selamat malam, Teman-teman sekalian."
__ADS_1
Indri pun berdiri di atas panggung kecil yang ada di sana. "Kita mulai acara inti ya. Kita akan mengadakan acara dansa. Dan dansa terbaik akan mendapatkan hadiah." Indri mengatakan.
Saat itu juga Eno dan Yoga saling melirik satu sama lain di antara kerumunan yang hadir.
"Yang pria silakan berdiri di sisi kanan. Yang wanita di sisi kiri. Kita bagi kelompok ya." Indri berbicara di depan mic yang ada di atas panggung.
Pada akhirnya tamu undangan dipisah. Yang pria dengan pria. Yang wanita dengan wanita. Mereka kemudian diminta untuk berbaris rapi bak anak pramuka. Eno dan Yoga pun tak habis pikir dengan permintaan Indri. Hingga akhirnya pihak pria diminta untuk memilih pasangan dansanya sendiri.
"Silakan yang mau ikut dansa bisa memilih pasangannya lalu mendaftar ke Lusi yang ada di meja sana ya." Indri menunjuk temannya yang menerima pendaftaran acara dansa.
"Dia ada-ada saja." Yoga pun menggelengkan kepalanya.
"Ga, Yoga!" Tiba-tiba Eno menarik ujung jas Yoga.
"Apa?" Yoga pun melihat ke Eno yang berdiri di sebelah kirinya.
"Itu gadis yang kau lihat di depan kampus, bukan? Yang minta kuikuti?"
__ADS_1
Eno menyadari ada seorang gadis yang ikut hadir di sana. Mirip seperti Naira yang dilihat Yoga di depan kampus malam itu.
"Mana?" Yoga pun bertanya.