
"Terima kasih, Tuan." Naira sedikit membungkukkan badannya ke Zeon.
"Jangan sungkan." Zeon pun tersenyum kepada Naira.
"Kalau begitu saya permisi. Saya masih harus menata bunga kembali." Naira pun berpamitan.
"Tunggu!" Tapi saat itu juga Zeon menahannya. "Kau belum menjawab tawaranku, Nona? Apakah kau berminat?" tanya Zeon kepada Naira.
Sontak dahi Naira berkeringat. Ia tampak ragu untuk menjawabnya. "Em, aku ... aku belum bisa menjawabnya. Aku masih kuliah dan ingin menyelesaikan studiku dulu," jawab Naira kepada Zeon.
Zeon mengangguk-angguk. Ia mengerti penolakan halus yang Naira berikan. Tak lama kemudian seseorang dari jauh pun datang menghampiri keduanya. Ialah Yoga yang tergesa-gesa menemui Naira dan kakaknya.
"Naira!" Yoga menghampiri Naira.
"Yoga?!" Naira pun kaget Yoga sudah berada di hadapannya.
Yoga melirik tajam ke Zeon. "Jadi karena pria ini kau tidak menghiraukan kehadiranku, Naira?" tanya Yoga ke Naira.
__ADS_1
"Em, Yoga. Dia--"
"Ada hubungan apa kau dengannya?" Yoga beralih ke Naira.
Naira merasa kesalahpahaman sedang terjadi. "Di-dia, dia yang membeli semua bunga dari toko bibiku." Naira menjelaskan. Ia merasa telah membuat kesalahan.
Yoga beralih ke kakaknya kembali. "Kakak, kau keterlaluan. Diam-diam bermain di belakangku." Yoga pun tampak kecewa kepada kakaknya.
Kakak?!
Saat itu juga Naira jadi tahu siapa Zeon yang sebenarnya. Ia pun terkejut seketika.
Yoga menggelengkan kepalanya. "Aku kecewa padamu, Kak. Seharusnya kau bilang dulu padaku." Yoga berkata seraya menahan kesal di dadanya.
Zeon terdiam. Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana seraya menunduk. Sedang Yoga sendiri merasa sakit atas apa yang ia lihat hari ini. Naira pergi bersama kakaknya tanpa bilang lebih dulu. Yoga merasa Naira dan Zeon bermain di belakangnya.
"Naira, maaf. Mungkin aku terlalu berharap padamu."
__ADS_1
Pada akhirnya Yoga pun pergi meninggalkan keduanya. Dengan perasaan kesal dan sesal di dada. Ia tak lagi menghiraukan Naira ataupun Zeon yang ada di sana. Naira pun merasa bersalah seketika. Ia segera mengejar Yoga.
"Yoga!"
"Nona!"
Tapi sebelum sempat mengejar, Zeon menahan tangan Naira kembali. Ia tidak memperkenankan Naira untuk pergi dari hadapannya.
"Tuan?" Naira pun menoleh ke arah Zeon.
Zeon terus menahan tangan Naira. "Biarkan dia pergi. Dia masih kekanakan sehingga sulit untuk mengontrol emosi. Lebih baik kau selesaikan pekerjaanmu dahulu. Malam sebentar lagi akan datang." Zeon pun meminta Naira untuk bekerja kembali. Mengingatkan Naira akan pesta yang segera tiba.
Entah mengapa ada perasaan sesal di hati Naira. Entah mengapa ada perasaan bersalah kepada Yoga. Naira merasa telah berbuat kesalahan kepada Yoga. Ia pun ingin meminta maaf segera. Tapi Zeon malah menahannya.
Yoga, maafkan aku. Kita harus bertemu setelah ini. Aku akan menceritakannya.
Yoga dan Naira memang masih berstatus teman. Tapi entah mengapa perasaan bersalah itu begitu besar di hati Naira. Ia seolah-olah kepergok selingkuh dari Yoga. Yoga pun terlihat marah besar kepadanya. Yang mana membuat Naira semakin bersalah.
__ADS_1
Lantas siang ini menjadi saksi perseteruan yang terjadi di antara mereka. Yoga kecewa dengan kakaknya dan juga kecewa pada Naira. Yoga segera pergi dari tempat itu dengan membawa luka di hatinya. Ia kecewa. Merasa sang kakak dan Naira telah berkhianat padanya.