
Ibu kota pukul sepuluh malam...
Langit cerah berbintang. Keadaan ibu kota juga masih ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Ibu kota selalu tampak sibuk dan tidak pernah ada habisnya. Begitu juga dengan Zeon yang masih membaca beberapa dokumen di tangannya. Ia duduk di ruang kerja yang ada di apartemennya.
"Kakak mana?" tanya Yoga yang baru sampai di apartemen kepada Tania.
Tania sedang menonton TV sambil menikmati cemilannya. "Dia di ruang kerja. Ada apa?" Tania balik bertanya kepada Yoga.
Yoga tak menjawabnya. Ia lekas menuju ruang kerja sang kakak yang berada di paling sudut apartemen ini. Sesampainya di sana pun Yoga segera mengetuk pintunya. Ia tak memedulikan Tania yang sedang duduk sendiri di ruang TV.
"Kakak, ada yang ingin kubicarakan padamu," kata Yoga kepada kakaknya.
"Masuk!" Zeon pun mempersilakan adiknya masuk.
Pria berjaket putih itu masuk ke ruang kerja kakaknya yang berukuran 2x2 meter dengan satu set meja kerja, brankas dan juga lemari dokumen. Yoga pun segera duduk di hadapan kakaknya.
__ADS_1
"Kakak bertemu Naira tadi siang?" tanya Yoga segera.
Zeon meletakkan dokumen yang sedang dibacanya. "Dia bilang padamu?" tanya Zeon balik.
Yoga menggelengkan kepala. "Dia hanya bilang tidak bisa jalan bersamaku esok hari karena ada pekerjaan. Dia mendapat pesanan menata bunga di sebuah acara pesta. Apakah Kakak yang memintanya?" tanya Yoga lagi.
Zeon mengembuskan napasnya. "Aku tidak tahu jika toko bunga yang kukunjungi tadi siang adalah toko bunga pacarmu. Aku hanya datang untuk membeli bunga," terang Zeon kepada Yoga.
Yoga mengernyitkan dahinya. "Kakak tidak menyukai Naira, bukan?" tanya Yoga kembali.
"Apa?!" Zeon pun kaget mendengarnya.
Zeon mengeleng-gelengkan kepalanya. "Kau terlalu berprasangka buruk padaku, Yoga. Aku tidaklah demikian. Aku tidak tahu apa yang telah dia katakan padamu. Tapi yang jelas wanitaku cukup Tania saja. Aku tidak ingin bergonta-ganti pasangan karena risikonya besar." Zeon menjelaskan.
Saat mendengarnya, saat itu juga Yoga menjadi tenang. "Aku menyukainya. Dan berniat untuk serius dengannya. Dia seorang mahasiswi fakultas kedokteran tingkat awal. Tapi dia tidak boleh pacaran oleh pamannya." Yoga menerangkan.
__ADS_1
"Jadi karena hal itu kau ingin bekerja keras?" tanya Zeon lagi.
Yoga mengangguk. "Dia bilang padaku jika ingin serius bilang langsung pada pamannya. Sedang pamannya seorang tentara yang pulang hanya dua bulan sekali ke rumah. Jadi aku belum sempat bertemu dengannya," terang Yoga.
Zeon menyilangkan kedua tangan di dada sambil duduk menyandar di kursi kerjanya. "Kau akan menemui kesulitan jika pamannya adalah seorang tentara, Yoga." Zeon berkata kepada Yoga.
"Maksud Kakak?" tanya Yoga lagi.
"Kau tidak bisa melakukan apa yang kulakukan kepada Tania. Kau harus menjaga gadis itu." Zeon berkata lagi.
Yoga tersenyum miris kepada kakaknya. "Aku bukanlah Kakak yang suka naik ranjang bersama pasangan. Aku akan menjaganya." Yoga berkata dengan penuh keyakinan.
Zeon tersenyum. "Kau belum pernah merasakannya, maka masih bisa berkata seperti itu. Tapi nanti jika sudah sekali, kau akan terus ketagihan untuk melakukannya. Kau tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri." Zeon menceritakan pengalaman pribadinya.
"Hah ...," Yoga mengembuskan napas lelahnya. "Semoga aku tidak sepertimu." Ia beranjak bangun, beniat meninggalkan Zeon. Zeon pun tertawa melihat adiknya.
__ADS_1
"Yoga."
"Apa?" Yoga segera berbalik menghadap kakaknya.