MENCINTAI KEKASIH KAKAKKU

MENCINTAI KEKASIH KAKAKKU
Menerima Risiko


__ADS_3

"Aku siap, Tuan. Lagipula setiap pekerjaan pasti mempunyai risiko tersendiri. Saat ini tidak ada yang bisa kulakukan selain menjadi seorang model." Tiara jujur kepada Yoga.


Yoga pun tampak tidak bisa berkata banyak kepada Tiara. Ia harus tetap menjaga nama baik kakaknya. Yoga juga tidak menceritakan bagaimana Zeon yang sebenarnya. Ia hanya meminta Tiara untuk tetap berhati-hati dalam setiap melakukan sesi pemotretan. Yoga khawatir Tiara tidak mendapat pengawasan.


"Baiklah. Kalau begitu jaga dirimu. Tetaplah berhati-hati dalam setiap sesi foto. Ajak satu atau dua orang temanmu untuk menemani ke lokasi. Jangan sendirian." Yoga berpesan.


Tiara mengangguk. "Terima kasih, Tuan. Anda sudah sangat perhatian." Tiara pun berucap terima kasih kepada Yoga. Pertemuan siang ini berakhir segera.


Di lain tempat...


"Jadi Zeon akan membuka cabang baru di luar kota?" tanya seorang pria yang sedang menghisap cerutu di dalam ruang kerjanya.


"Benar, Tuan. Mereka akan launching cabang baru di luar kota." Seseorang berjas hitam pun melaporkan.

__ADS_1


Pria itu tampak menghisap asap cerutunya. Ia embuskan ke atas sambil duduk santai di atas kursi kebesarannya. "Johnson tidak boleh memiliki gerai lebih banyak lagi. Cukup hanya di ibu kota saja. Karena jika dia sampai membuka cabang baru di luar kota, bisnis kita bisa gulung tikar. Tidak mungkin mempunyai produk yang sama di pasaran walaupun berbeda bumbu masakan." Pria bercerutu itu menuturkan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya seseorang berjas hitam.


Pria itu mengembuskan asap cerutunya lagi. "Hancurkan Zeon dari dalam. Karena hanya itu satu-satunya cara untuk membuat Johnson kalah. Zeon adalah benteng Johnson. Kita harus tetap memenangkan persaingan bisnis ini." Pria itu berkata lagi.


"Saya mengerti, Tuan." Seseorang berjas hitam itu pun segera undur diri.


Ada persaingan sengit dalam dunia bisnis. Ada tikam-menikam antar pengusaha kaya raya. Bergerak dalam kegelapan untuk menjatuhkan. Pelan-pelan namun mematikan. Dan hanya yang tangguh lah yang bisa bertahan dari badai. Lantas apakah Zeon mampu melawan strategi perang?


Semilir angin yang masuk lewat ventilasi udara sebuah toko bunga itu menjadi saksi Naira yang duduk terdiam dalam sepi. Sesekali ia melihat ponselnya untuk mengecek pesan masuk. Tapi nyatanya tidak ada pesan masuk untuknya. Ia pun jadi berkecil hati.


"Aku harus menemuinya. Tapi di mana?"

__ADS_1


Ada keinginan dari dalam hati Naira untuk bertemu dengan seorang pria yang membuatnya kepikiran beberapa hari ini. Ialah Yoga yang kini hilang begitu saja dari pandangan matanya. Dan kini hanya tinggal kenangan yang terlintas di alam pikirannya.


"Hah ...."


Naira pun mengembuskan napasnya. Ia tidak tahu harus bagaimana agar bisa bertemu Yoga kembali. Naira tidak tahu di mana Yoga tinggal dan bekerja. Ia belum sempat menanyakannya. Naira terlalu sibuk dengan aktivitasnya.


"Telepon?"


Tak lama kemudian sebuah dering telepon pun menyadarkannya. Dan ternyata telepon itu berasal dari Zeon. Zeon menelepon Naira.


"Angkat tidak, ya?"


Naira pun bingung harus mengangkat telepon itu atau tidak. Tapi ia tiba-tiba teringat dengan perkataan Yoga saat memergokinya diantar oleh Zeon. Yang mana Yoga menyebut Zeon sebagai kakak.

__ADS_1


"Mungkin aku bisa meminta bantuannya untuk bertemu Yoga."


Lantas Naira pun mengangkat telepon dari Zeon. "Halo?" Tak lama suara seseorang pun terdengar dari sana.


__ADS_2