
"Kau ada masalah?" tanya Yoga ke Tania.
Tania diam. Ia mengaduk minumannya dengan sedotan.
"Apakah terjadi sesuatu padamu dan kakak?" tanya Yoga lagi.
Tania berhenti mengaduk minumannya. Ia menghela napas lalu menatap Yoga. "Beberapa hari ini dia tidak pulang ke apartemen." Tania menceritakan.
Saat itu juga Yoga jadi tahu apa alasan Tania mengajaknya bertemu. "Lalu?"
"Aku ingin meminta bantuanmu. Bukankah kau sekarang bekerja di kantornya?" tanya Tania.
"Itu benar." Yoga pun mengangguk.
__ADS_1
"Bisakah kau ceritakan apa yang terjadi di kantor padaku? Mengapa dia tidak pulang ke apartemen beberapa hari ini?" tanya Tania lagi.
Yoga menelan ludahnya, berpikir sebelum bicara. Ia merasa tidak terjadi sesuatu apapun di kantor yang bisa menjadikan alasan Zeon tidak pulang ke apartemen. Hanya saja Tiara yang melamar menjadi model. Ia jadi berpikir apakah hal ini ada hubungannya dengan ketidakpulangan Zeon ke apartemen?
"Yoga?" Tania masih menantikan jawaban Yoga.
"Em." Yoga pun tersadar. "Sepertinya tidak terjadi sesuatu apapun di kantor. Hanya saja gerai baru akan dibuka di luar kota dalam satu atau dua minggu ini. Mungkin karena itu kakak mengambil penginapan di tempat terdekat." Yoga mencoba menenangkan hati Tania.
Yoga merasa perihatin dengan kabar yang didengarnya ini. Ia merasa kasihan kepada Tania yang menunggu Zeon pulang ke apartemennya. Tapi ternyata Zeon sudah tidak pulang beberapa hari ini. Ia pun ingin membantu Tania.
"Aku akan mencoba mencari tahu kenapa kakak tidak pulang ke apartemen. Tapi untuk saat ini kemungkinan besar karena kakak sedang sibuk dengan gerai yang akan dibuka. Jadi bersabarlah. Aku akan membantumu." Yoga menenangkan hati Tania. Tania pun tersenyum mendengarnya.
"Terima kasih, Yoga. Kau memang bisa diandalkan." Tania merasa senang.
__ADS_1
Yoga mengangguk. Pertemuan hari ini pun berakhir dengan senyuman Tania yang terlihat di mata Yoga. Yoga juga ikut senang kala melihat senyum itu terlukis di wajah Tania. Walaupun nyatanya masih ada rasa yang tersimpan di dalam sana. Namun, Yoga mencoba untuk menepiskannya. Ia menyadari jika Tania bukanlah miliknya. Tugasnya hanya sekedar menjaga saja.
Tania, tenanglah. Aku akan membantumu.
Semburat merah di langit sore mulai terlukis di angkasa raya. Yoga pun segera mengantarkan Tania kembali ke apartemennya. Setelahnya ia bergegas menuju salah satu universitas terkenal di ibu kota. Yoga akan menjemput Naira di sana. Ia akan memenuhi janjinya.
Pukul enam petang lewat lima belas menit, waktu ibu kota dan sekitarnya...
Malam sebentar lagi datang. Langit pun sudah mulai terlihat gelap. Tampak seorang gadis tengah duduk di halaman parkiran seorang diri. Ialah Naira yang masih menunggu kedatangan Yoga di sana. Ia pun merasa bingung karena Yoga belum juga menjemputnya. Satpam yang berjaga pun menanyakan Naira.
Naira pulang kuliah pada pukul enam petang. Dan kini lima belas menit sudah berlalu tapi Yoga belum juga datang. Ia jadi risau dan bertanya sendiri. Haruskah menunggu Yoga di sini? Karena sebentar lagi hari akan malam. Ia pun mengambil ponsel untuk menelepon Yoga. Tapi saat itu juga ia tidak jadi melakukannya. Naira tidak ingin membuat Yoga ilfeel kepadanya.
Mungkin aku tunggu lima belas menit lagi di sini. Jika dia tidak datang, aku pulang naik taksi saja.
__ADS_1