
Kenapa aku merasa ini hanya akal-akalan kakak saja untuk meniduri gadis itu ya? Astaga, kenapa aku sampai berprasangka buruk padanya?
Yoga berprasangka jika semua kata-kata Zeon hanya akal-akalan untuk meniduri Tiara. Ia juga tak mengerti mengapa bisa berprasangka demikian. Hingga akhirnya ia mendengar sendiri bagaimana tanggapan Tiara atas penegasan yang Zeon katakan.
"Baik, Pak. Saya siap."
Pada akhirnya Tiara pun bersedia mengikuti semua aturan yang akan mengikatnya menjadi seorang model perusahaan. Yoga pun segera pergi dari tempat itu agar tidak ketahuan jika menguping pembicaraan. Ia akan menemui Tiara secepatnya. Yoga khawatir prasangkanya terhadap Zeon adalah benar adanya.
Belasan menit kemudian...
"Tiara, tunggu!"
Selepas berbicara dengan Zeon di dalam ruangan, Tiara pun berniat segera kembali ke rumahnya. Tapi saat berjalan ke parkiran, Yoga mengejarnya. Adik dari Zeon itu berjalan cepat untuk menemui Tiara.
"Dia?!" Tiara pun mengingat-ingat siapa pria yang memanggilnya.
Yoga tiba di hadapan Tiara. "Tiara, kau masih ingat padaku?" tanya Yoga segera.
Tiara pun tampak mengingat-ingat Yoga. Pakaian hari ini berbeda sekali dengan pertemuan pertamanya dengan Yoga. Sehingga Tiara lupa-lupa ingat terhadap Yoga.
"Tuan, Anda yang kemarin?" tanya Tiara kemudian.
__ADS_1
Yoga mengangguk. "Bisa kita bicara sebentar?" tanya Yoga segera.
Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Tiara mengiyakan begitu saja permintaan Yoga. Mereka pun akhirnya berjalan bersama menuju kedai yang ada di seberang jalan. Yoga berniat berbicara sebentar dengan Tiara.
Aku harus mencegah selama bisa. Aku tidak ingin Tiara seperti Tania.
Pada akhirnya mereka menyeberangi jalan bersama lalu masuk ke kedai kopi tersebut. Yoga pun memesan kopi untuk Tiara dan dirinya. Ia akan membuka pembicaraan tentang sistem modeling perusahaan yang diasuh kakaknya. Yoga tidak ingin Tiara jadi korban yang ke dua.
.........
...Tiara...
.........
"Kau juga bekerja di sana, Tuan?" Tiara segera menanyakan Yoga.
Yoga mengangguk. "Aku pengawas di sana," jawab Yoga.
Seketika Tiara semringah. "Astaga. Kenapa bisa begini ya? Aku tak percaya jika orang yang hampir menabrakku kemarin bekerja di sana juga." Tiara tak menyangka sama sekali.
__ADS_1
"Minumlah."
Yoga pun meminta Tiara meminum kopi yang telah dipesannya. Tiara mengangguk lalu meminum kopi tersebut.
"Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan padamu." Yoga memulai pembicaraannya.
"Tentang apa?" tanya Tiara lagi.
"Tentang pekerjaanmu sebagai model di perusahaan," kata Yoga lagi.
Tiara meletakkan gelas kopinya ke meja. "Apakah kau mengetahui sesuatu, Tuan?" tanya Tiara lagi.
Yoga mengembuskan napasnya. "Kau masih sekolah. Kau yakin akan mengambil pekerjaan itu?" tanya Yoga memastikan.
Tiara mengangguk. "Aku butuh uang untuk membayar sekolahku. Dan juga untuk membeli keperluan sehari-hari. Aku bukan berasal dari kota ini. Sedang uang yang dikirimkan orang tuaku tidak cukup untuk hidup di kota sebesar ini. Jadi aku terpaksa menjalani hidup sebagai model." Tiara menceritakan.
"Kau punya pengalaman di bidang permodelan sebelumnya?" tanya Yoga lagi.
"Tentu. Dari kecil aku sudah jadi model. Dan aku sangat menyukai dunia modeling. Maka dari itu saat kudengar perusahaan ini membutuhkan model, aku segera mendaftar. Dan ternyata langsung mendapat panggilan." Tiara kembali menceritakan.
Yoga meneguk kopinya. "Kami memang sedang membutuhkan model dengan cepat. Dan ternyata bos tertarik padamu. Tapi apakah kau siap dengan segala konsekuensinya?" tanya Yoga kembali.
__ADS_1