
"Dia masih amat lugu. Kau harus mencari referensi untuk mengajarinya," kata Zeon yang membuat Yoga lekas menutup pintu ruang kerja kakaknya.
Yoga meninggalkan sang kakak yang sudah berkata tidak-tidak. Ia yakin jika dirinya tidaklah sama seperti sang kakak yang suka mengajak pasangan untuk naik ranjang bersama. Yoga lebih bisa menjaga dirinya. Tapi perkataan sang kakak seolah menjatuhkannya. Maka dari itu ia lekas pergi meninggalkan kakaknya.
Zeon sendiri tampak senang meledek adiknya. Ia tahu jika sang adik sedang beranjak dewasa. Ia pun ingin menguji sampai sejauh mana pengendalian diri yang Yoga punya. Namun nyatanya, Yoga malah pergi meninggalkannya. Zeon pun tertawa sendiri melihat adiknya. Ia tahu jika sang adik sedang menahan dirinya. Malam ini pun menjadi saksi perbincangan mereka yang mengarah ke hal dewasa.
Esok harinya...
Mentari sudah mulai menanjak ke atas bentangan bumi yang luas. Di sana, di sebuah halaman rumah yang besar, tampak Naira sedang sibuk menata bunga-bunga di setiap sudutnya. Ia datang mengenakan dres terusan berwarna putih yang formal. Yang mana penampilannya terlihat elegan. Zeon pun datang untuk melihat perkembangan riasan bunga.
Zeon mendekati Naira yang sedang menata bunga. "Ehem!" Ia kemudian berdehem, memecahkan kesibukan Naira yang fokus menata bunga bersama temannya.
Naira menoleh. Ia melihat pembeli bunganya kemarin yang kini sudah berdiri di hadapannya. "Tuan?" Naira pun menyapanya.
Zeon tersenyum. "Kau sudah datang sedari tadi?" tanya Zeon kepada Naira dengan raut wajah yang semringah. Ia pun memerhatikan penampilan Naira pagi ini.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Semalam saya sudah mengecek lokasi dan ternyata pesta pernikahan akan diselenggarakan besar-besaran. Jadi saya datang menggunakan pakaian yang formal pagi ini." Naira menuturkan.
Zeon tersenyum. Ia kemudian melihat jam di tangannya. "Sudah pukul setengah sebelas siang. Ingin makan bersamaku?" tanya Zeon kepada Naira.
"Eh?!" Naira pun tampak ragu menjawabnya.
"Tak apa. Pekerjaanmu bisa dilanjutkan nanti. Lagipula acaranya nanti malam." Zeon meminta lagi.
Dia ingin mengajak ku makan siang? Aduh, bagaimana ini? Dia sudah mengeluarkan puluhan juta untuk memborong semua bunga dari toko bibi. Dan sekarang mengajak ku makan siang. Apa yang harus kulakukan? Jika menolaknya tidak enak, jika menerima lebih tak enak. Bagaimana ya?
"Bagaimana, Nona?" tanya Zeon lagi.
"Em ...," Naira belum juga menjawabnya. "Saya ... saya ...." Naira masih ragu.
Zeon tersenyum. Ia kemudian mengulurkan tangannya kepada Naira. "Ayo. Kita makan siang bersama. Tak jauh dari sini." Zeon pun meminta kembali.
__ADS_1
Naira tersentak menghadapi keinginan Zeon. Pada akhirnya ia pun pasrah menerima ajakan Zeon. Naira akhirnya pergi makan siang bersama kakak dari Yoga. Ia tidak enak hati untuk menolaknya. Lantas apakah Yoga akan mengetahuinya?
Restoran Blue Sea, pukul sebelas siang...
Zeon memesan ruang makan privat di sebuah restoran mewah yang ada di ibu kota. Di mana di ruangan itu hanya ada Zeon dan Naira. Tampak Zeon yang sedari tadi memerhatikan Naira sambil menunggu pesanan tiba.
"Kau sudah mempunyai seorang pacar?" tanya Zeon membuka pembicaraan bersama Naira.
Sontak Naira kaget. "Be-belum." Ia akhirnya menjawab demikian.
"Teman dekat?" tanya Zeon lagi.
Naira pun berpikir keras untuk menjawabnya. "Tuan, Anda?"
Zeon tersenyum. "Aku tidak ada maksud apa-apa. Hanya sekedar ingin tahu saja. Kebetulan aku juga masih sendiri dan sedang mencari kekasih. Mungkin kau berminat dengan pria sepertiku," kata Zeon lagi.
__ADS_1