
Entah mengapa saat mendengarnya Naira merasa risih sendiri. Ia hanya bisa tersenyum di samping Zeon. Tujuan utamanya adalah Yoga, bukan Zeon. Naira pun tidak tertarik dengan tawaran itu.
Bagaimana cara agar Yoga mau bertemu denganku ya? Apa aku harus ke kantornya?
Naira pun memikirkan cara bagaimana agar dapat bertemu dengan Yoga secepatnya. Naira dilanda perasaan bersalah. Ia ingin segera mengurai kesalahpahamannya.
Lantas pada akhirnya Naira hanya bisa menanggapi tawaran Zeon dengan senyuman, bukan dengan anggukan. Zeon pun merasa Naira sangat sulit untuk ditaklukkan.
Dia cantik. Tapi sayang terlalu keras pada diri sendiri.
Pada akhirnya Zeon pun harus menerima penolakan secara halus yang Naira lakukan kepadanya. Karena nyatanya Naira tidak tertarik dengan tawarannya.
Esok harinya...
Pagi yang cerah telah datang. Pemuda tampan yang merupakan adik dari Zeon itu juga datang pagi ke kantornya. Ia baru saja memarkirkan mobilnya. Tapi saat keluar dari mobil, saat itu juga Yoga dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Yang mana seseorang itu telah menunggunya di depan pos satpam. Yoga pun tak bisa menghindar lagi dari pertemuannya.
"Naira???"
Ialah Naira yang nekat datang pagi-pagi ke LFS hanya untuk bertemu Yoga. Jam tujuh pagi ia sudah berada di sana. Gadis cantik itu pun tersenyum kepada Yoga lalu berjalan cepat mendekatinya. Naira ingin segera mengurai kesalahpahamannya.
__ADS_1
"Yoga, aku datang untuk menjelaskan semuanya."
Dan pada akhirnya Naira menuturkan maksud tujuannya datang ke kantor Yoga hari ini. Yoga pun tampak menelan ludahnya. Ia tak menyangka jika Naira akan menemuinya. Pada akhirnya keduanya pun mencari tempat bicara. Mereka menuju minimarket terdekat untuk meminum kopi bersama.
...... ...
...Yoga...
...Naira...
...... ...
Hening. Itulah yang terjadi saat dua cangkir kopi telah berada di atas meja mereka. Naira pun tampak ragu untuk mengatakannya segera. Raut wajah Yoga diam saja sedari tadi. Dingin, tidak seperti dulu lagi. Naira pun tahu jika Yoga masih marah kepadanya.
"Aku ... ingin minta maaf atas kejadian kemarin." Naira mulai mengutarakannya.
__ADS_1
Yoga melihat Naira sejenak. "Minta maaf untuk apa?" Ia pun berlagak tidak pernah terjadi masalah.
"Aku ... tidak ada niat untuk membohongimu, Yoga. Kemarin pikiranku hanya fokus dengan pekerjaan saja. Aku tidak ingin mengecewakan pelanggan toko bunga bibiku. Aku minta maaf jika telah mengabaikanmu." Naira berkata terus terang.
Yoga mengembuskan napasnya. "Aku sudah melupakan hal itu. Lagipula aku tidak mempunyai hak untuk marah padamu." Yoga meneguk kopinya.
"Tapi aku merasa kehilanganmu." Naira pun segera mengatakannya.
Saat mendengarnya, saat itu juga Yoga menoleh ke arah Naira. Ia merasa Naira benar-benar tulus mengatakannya. Hanya saja saat itu amarah dan api cemburu sedang melandanya. Yoga pun tak tega melihat Naira bersedih karenanya.
Hati Yoga mulai tersentuh. Ia teringat kenangan dulu saat bercanda bersama Naira. Tapi Yoga takut sakit hati kembali. Sehingga ia masih menjaga jaraknya.
"Aku sibuk beberapa hari ini. Maafkan aku." Pada akhirnya Yoga pun meminta maaf karena telah berubah sikap kepada Naira.
"Yoga ...," Naira melihat Yoga dengan tatapan sendu. "Aku harap kita bisa seperti dulu." Naira pun mengatakannya.
Yoga segera mengalihkan pembicaraan. "Kau jauh-jauh datang ke kantor. Dari mana kau tahu kantorku?" tanya Yoga kepada Naira.
Naira pun menunduk sedih. Ia takut Yoga marah jika berkata terus terang. "Aku tidak berani menjawabnya. Nanti kau marah." Dan dengan polos Naira mengatakannya.
__ADS_1