
Naira masih menunggu kedatangan Yoga. Langit yang tampak mulai gelap pun menjadi saksi dirinya yang menunggu. Di tengah itu Naira juga harus merasakan rintik-rintik hujan yang mulai turun. Ia masih menantikan Yoga di sana. Tapi adik dari Zeon itu masih belum datang juga.
"Telepon?" Tak lama dering ponsel pun menyadarkannya. Dan ternyata Yoga lah yang meneleponnya. "Halo?" Naira segera mengangkatnya.
"Kau masih menungguku?" tanya Yoga dari seberang.
"He-em. Kau bisa menjemputku?" tanya Naira balik.
"Em, aku akan sedikit telat. Mungkin setengah jam lagi baru sampai. Kau masih mau menungguku?" tanya Yoga kembali.
Saat itu juga Naira menjadi bersedih. Ternyata Yoga tidak dapat menjemputnya tepat waktu. Tapi karena perasaan bersalah atas kesalahpahaman itu begitu besar, Naira pun akan menunggunya.
"Aku sudah terlanjur menunggumu di sini. Aku akan menunggumu datang." Dengan sedih ia pun mengatakannya.
Yoga tersenyum di sana. "Baiklah. Tunggu aku. Aku akan segera sampai. Tapi jangan cemberut seperti itu," kata Yoga lagi.
__ADS_1
"Eh? Dari mana kau tahu?"
Naira pun merasa heran. Ia lalu melihat ke depan. Saat itu juga ia melihat Yoga telah sampai dan keluar dari mobilnya. Yoga melambaikan tangan ke Naira. Yoga memenuhi janjinya untuk menjemput Naira. Naira pun senang tak terkira.
"Yoga!"
Naira segera berlari keluar kampus lalu mendekati Yoga yang memarkirkan mobilnya di samping gerbang. Ia pun merasa dikerjai oleh Yoga hari ini. Naira tanpa sadar memukul-mukul lengan Yoga sendiri. Yoga pun menerima setiap pukulan itu tawanya. Ia merasa telah berhasil mengerjai Naira hari ini. Pada akhirnya keceriaan itu kembali kepada mereka.
Sesampainya di rumah Naira...
"Akhir-akhir ini Naira lebih banyak berdiam diri di kamarnya. Bibi pikir Naira sedang sibuk dengan tugas kampus dan tidak mau diganggu. Tapi ternyata karena sedang memikirkan seorang pemuda." Bibi Naira bercerita.
"Bibi!" Naira pun malu sendiri.
Yoga ikut tersipu malu. Sedang Naira segera mencegah bibinya untuk berbicara lebih lanjut.
__ADS_1
"Yoga, hari semakin malam. Kau tidak lelah?"
Naira menyinggung Yoga agar segera mengakhiri perbincangannya. Ia khawatir pamannya tiba-tiba pulang dan salah prasangka.
"Hm, ya. Kalau begitu aku permisi."
Yoga pun tampak menyadari kekhawatiran Naira. Sedang bibi Naira merasa lucu dengan tingkah keponakannya. Ia kemudian mencoba memecahkan suasana yang mulai canggung ini.
"Sering-seringlah main ke sini. Kita bisa makan siang bersama jika libur tiba." Bibi Naira pun tampak welcome kepada Yoga.
Yoga mengangguk. Ia kemudian berpamitan kembali. Sedang Naira mengantarkannya sampai ke depan pintu rumah. Gadis cantik itu masih perlu beradaptasi dengan kedekatannya bersama Yoga. Karena Yoga adalah pria pertama yang dekat dengannya.
"Yoga, terima kasih." Naira pun berterima kasih kepada Yoga.
Yoga mengangguk. Ia berdiri di hadapan Naira sebelum masuk ke dalam mobilnya. "Aku rasa apa yang sudah terjadi tidak perlu diungkit lagi. Aku sudah melupakannya. Aku harap kau juga tidak memikirkannya. Fokuslah dengan kuliahmu, Naira." Yoga menyemangati Naira.
__ADS_1