MENCINTAI KEKASIH KAKAKKU

MENCINTAI KEKASIH KAKAKKU
Tak Dihiraukan


__ADS_3

Yoga merasa harus menemui Naira secepatnya. Ia pun melihat kalender di meja kerjanya. "Aku akan menjemputnya nanti. Dia pasti ada jam kuliah sore ini." Yoga pun berniat menjemput Naira sore nanti.


Lain Yoga, lain juga dengan Tania. Wanita cantik yang merupakan model kelas atas itu tampak sedang mempersiapkan sesuatu di tangannya. Sebuah pistol ia dapatkan dari kotak hitam pemberian pria paruh baya yang bekerja sama dengannya. Tania pun segera memasukkan enam butir peluru ke dalam pistolnya. Ia sudah kehilangan arah.


Bila aku mati, kau juga harus mati, Zeon. Kau telah menyakiti hatiku. Aku tidak rela kau bahagia di atas penderitaan ini. Jadi mari kita selesaikan semuanya sendiri. Dan lihat apa yang akan terjadi.


Tania rupanya sedang mempersiapkan rencana untuk Zeon. Tentunya dengan bantuan pria bayuh baya tersebut. Hatinya diliputi kegelapan karena tidak dihargai Zeon. Tania pun berniat mengakhiri semuanya hari ini. Tapi, apakah hal itu akan terjadi?


Menjelang petang...


"Naira, tolong dengarkan penjelasanku dulu." Yoga berkata kepada Naira.


"Tidak perlu ada yang dijelaskan lagi. Aku sudah mengetahui semuanya." Naira menolak.


"Naira, dengarkan aku dulu. Naira!"

__ADS_1


Begitulah yang terjadi saat Yoga menjemput Naira di kampusnya. Naira tidak mengindahkan kehadiran Yoga di sana. Ia pergi bersama temannya dan meninggalkan Yoga sendiri. Yoga pun merasa frustrasi. Naira tidak mau mendengar penjelasannya.


"Aku harus meluruskan kesalahpahaman ini."


Pada akhirnya Yoga mengikuti Naira yang dibonceng temannya. Yoga ingin kesalahpahaman yang terjadi terurai segera. Yoga tahu jika Naira marah kepadanya. Yoga pun mengerti bagaimana perasaan Naira. Tapi kesibukan itu tidak bisa ditolaknya. Yoga harus tetap bekerja demi masa depannya. Dan kini ia mengejar Naira.


"Cepat, Len! Jangan sampai pria itu mengejar!"


Naira sendiri meminta temannya untuk melajukan motor dengan cepat agar Yoga tidak menemukannya lagi. Tapi bukan Yoga jika tidak dapat mengejar Naira. Akhirnya Naira pun sampai di rumahnya. Yoga juga segera turun dari mobilnya.


"Naira!" Sementara Yoga sendiri segera mengejar Naira.


Naira tidak menghiraukan. Ia lekas masuk ke rumah tanpa memedulikan Yoga. Pada akhirnya sang bibi pun melihatnya.


"Nak Yoga?" Sang bibi menyambut kedatangan Yoga.

__ADS_1


"Em, Bibi. Aku harus bicara pada Naira. Dia salah paham padaku. Aku harus menjelaskan semuanya," tutur Yoga segera.


Bibi Naira tampak mengerti. Ia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia kemudian membantu menenangkan Yoga.


"Mungkin Naira sedang tidak ingin diganggu saat ini. Yoga bisa bicara dengan bibi." Sang bibi menawarkan.


Mau tak mau Yoga pun mengangguk. Mereka akhirnya bicara di depan teras rumah. Sedang Naira tidak keluar juga dari kamarnya. Ia tidak ingin menemui Yoga. Hatinya masih kesal karena kejadian malam itu. Ia merasa tidak dipedulikan oleh Yoga.


Belasan menit kemudian...


"Jadi begitu." Bibi Naira tampak mengerti setelah diceritakan Yoga tentang permasalahan yang sebenarnya terjadi.


Yoga mengangguk. "Dia pacar kakakku, Bi. Dan aku punya tanggung jawab untuk menjaganya. Kakak telah menitipkannya karena dia sering keluar kota. Jadi saat dia menelepon, aku harus segera ke sana." Yoga menceritakan.


Sang bibi berusaha memahami kejadian ini. "Bibi mengerti. Tapi Naira juga begitu karena punya alasan tersendiri. Bibi harap Yoga dapat memaklumi," terang sang bibi.

__ADS_1


__ADS_2