
Naira merasa bingung. Tapi akhirnya ia menerimanya. "Baik, Tuan. Akan saya hitung terlebih dahulu. Bisakah saya minta alamatnya? Nanti kami yang akan mengantarkannya," pinta Naira.
Zeon kemudian memberikan kartu nama seseorang. "Ini alamat rumahnya. Aku minta juga untuk merias ruangannya. Apakah bisa?" tanya Zeon segera.
Naira berpikir cepat mengenai hal ini. Aku rasa membutuhkan tenaga tambahan. Ia pun berpikir untuk mencari karyawan. "Baik, Tuan. Jam berapa dan hari apa? Bisakah kita melakukan pembayaran di muka?" tanya Naira kepada Zeon.
"Aku tidak membawa uang tunai. Bisa menggunakan kartu debit?" tanya Zeon kembali.
Naira mengangguk. Ia kemudian mengeluarkan mesin EDC-nya. Sejumlah nominal pun menjadi uang muka pesanan Zeon. Yang mana Zeon meminta Naira untuk ikut datang ke alamat yang ia berikan. Lantas apakah Yoga juga ada di sana?
Pukul dua siang waktu ibu kota dan sekitarnya...
__ADS_1
Naira pulang cepat ke rumah untuk mengabarkan penjualan bunga hari ini kepada bibinya. Yang mana membuat sang bibi terkejut seketika. Naira mampu menjual semua bunga di toko milik bibinya.
"Jadi ada seorang pengusaha kaya yang membeli semua bunganya?" tanya bibi Naira sambil menimang bayinya.
"Benar, Bi. Dan ini uangnya. Setelah dia pergi, Naira segera ke bank untuk mencairkan pembayarannya. Dan ini hasil penjualan bunga kita." Naira memberikan segepok uang kepada bibinya, hasil dari penjualan bunga.
"Ya Tuhan." Bibi Naira pun tampak terharu. Ia gemetaran menerima uang sebanyak itu. "Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya bibi Naira lagi.
"Kau membutuhkan bantuan bibi?" tanya bibi Naira lagi.
Naira menggelengkan kepalanya. "Bibi tidak perlu khawatir. Aku punya teman yang bersedia membantu. Jadi Bibi cukup di rumah saja bersama Reyhan ya." Naira pun tersenyum kepada Reyhan yang memerhatikannya.
__ADS_1
Sang bibi tersenyum. Ia merasa senang dengan usaha Naira. "Terima kasih, Naira. Untuk sementara toko ditutup terlebih dahulu sampai bibi bisa ke sana ya. Ini uang jajan untukmu." Bibi Naira pun mengambil beberapa lembar uang dari gepokan uang tersebut.
"Eh, Bibi apa-apapan? Tidak perlu, Bi. Naira masih ada, kok. Bibi tenang saja. Sudah ya, Naira ke kamar dulu. Mau siap-siap ke kampus." Naira pun lekas berpamitan.
Naira ....
Tanpa sadar bibi Naira pun meneteskan air matanya. Ia tak menyangka keponakan dari sang suami begitu baik kepadanya. Ia pun mendoakan Naira.
Semoga saja dia mendapatkan pasangan yang baik hati dan juga dermawan. Dan semoga dia bisa meraih cita-citanya sebagai dokter tanpa kendala. Aku berharap yang terbaik untuknya.
Naira baru beberapa bulan ini tinggal di rumah bibinya. Sekitar empat bulan yang lalu ia tiba di rumah sang bibi. Naira pun ringan tangan dan mau membantu bibinya yang sedang hamil besar. Sehingga pekerjaan bibinya dapat sedikit terbantu sejak Naira datang. Bahkan saat sudah masuk kuliah pun ia masih sempat membagi waktunya untuk mengajari anak pertama bibinya. Ia juga membantu bibinya menjaga toko bunga sambil belajar. Naira dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tak ayal doa baik juga selalu menyertainya.
__ADS_1
Kini Naira akan beristirahat sebentar sebelum kuliah malam. Ia pun lekas membasuh wajah lalu membaringkan tubuhnya. Ia sampai lupa untuk mengecek ponselnya lebih dulu. Naira terburu terlelap dalam tidur. Sedang seseorang tengah menunggu balasan pesannya di sana. Ialah Yoga yang berada di kantornya.