MENCINTAI KEKASIH KAKAKKU

MENCINTAI KEKASIH KAKAKKU
Ingin Bertemu


__ADS_3

Mereka melakukannya terus menerus tanpa peduli aku mendengar atau tidak. Aku memang harus pergi dari tempat ini. Setidaknya tidak lagi mendengar hal-hal aneh seperti itu. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri.


Yoga menutup pintu kamarnya kembali. Ia segera mandi. Ia pun berniat untuk mencari tempat tinggal yang baru. Tak ingin seatap dengan Zeon dan juga Tania. Ia ingin menjaga dirinya.


Pukul sembilan pagi waktu ibu kota dan sekitarnya...


Hujan gerimis mengantarkan Yoga ke depan sebuah toko bunga yang ada di ibu kota. Tapi saat jam sembilan sudah datang, toko bunga itu belum juga dibuka. Yoga kembali mengecek ponselnya dan ternyata pesan Yoga sudah centang dua. Ia pun bergembira seketika.


Aku harus meneleponnya.


Lantas Yoga pun menelepon Naira. Nada tunggu itu ia dengar berulang kali dari ponselnya. Hingga akhirnya Naira mengangkat teleponnya.


"Halo?" jawab Naira dari seberang.

__ADS_1


"Naira, kau di mana? Aku mengkhawatirkanmu. Aku di depan tokomu sekarang," kata Yoga kepada Naira.


Terdengar suara bayi yang menangis dari sana. Yoga pun terkejut seketika. Pikirannya ke mana-mana. Namun, ia tidak ingin menanyakannya karena khawatir Naira tidak menyukainya.


"Aku sedang di rumah sekarang. Toko bunga tutup untuk beberapa hari ini. Bibiku baru saja melahirkan." Naira memberi tahu.


Saat mendengarnya, saat itu juga Yoga merasa lega. Karena suara bayi yang tadinya ia kira bayi Naira ternyata bukanlah bayi Naira. Melainkan bayi bibi Naira yang baru lahir ke dunia.


"Em ...," Naira seperti enggan mengiyakannya. "Di sini sedang ramai. Nanti sore saja kita bertemu di taman. Bagaimana?" Naira seperti tidak enak hati kepada Yoga.


Yoga mengangguk lemas. "Baiklah. Nanti aku jemput di kampusmu saja." Mereka pun akhirnya membuat janji temu.


"Sampai nanti." Naira terdengar terburu-buru.

__ADS_1


"Sampai nanti."


Percakapan itu pun akhirnya berakhir. Naira dan Yoga membuat janji temu sore nanti di depan kampus Naira sendiri. Yoga pun segera melajukan mobilnya dari toko bunga Naira. Ia berniat ke rumah Eno sambil menunggu sore tiba.


Jika tidak ada kerjaan dari kakaknya, Yoga pun bisa bebas ke mana saja. Tapi jika sebuah misi sudah diterima, Yoga bisa tidak memberi kabar sampai misi itu selesai. Maka dari itu ia memanfaatkan waktu luangnya untuk mendekati Naira. Karena belum tentu esok harinya bisa. Misi yang Yoga dapatkan terkadang datang tiba-tiba.


Naira, mungkin aku terlalu agresif kepadamu. Tapi ketahuilah aku mulai menyukaimu. Semalam di pesta kau sangat cantik sekali. Aku sampai tak percaya jika itu memang dirimu. Tapi kau bagai Cinderella yang pergi saat habis waktu. Aku pun kehilangan jejak akan dirimu. Tapi setelah ini tidak akan lagi. Aku sudah bertekad untuk mendapatkanmu.


Di usianya yang beranjak dewasa ini membuat Yoga juga mulai berpikiran dewasa. Ia tahu jika tidak akan bisa mendekati Tania yang merupakan kekasih kakaknya. Maka dari itu ia mengerahkan segenap usaha untuk mendekati Naira. Ia ingin mengalihkan perhatiannya dari Tania dan juga tenang dalam menjalani kehidupannya. Yoga akan memperjuangkan Naira.


Sore harinya...


Yoga menyewa mobil untuk menjemput Naira karena cuaca sedang tidak bagus. Tak lama ponsel Yoga pun berdering, pertanda ada panggilan masuk untuknya. Yoga pun segera mengangkatnya.

__ADS_1


__ADS_2