
Yoga terdiam. Ia tahu jika kata cinta itu belum pernah terucap langsung dari bibirnya. Tapi entah mengapa Yoga tidak ingin kesalahpahaman ini terjadi terus-menerus di antara mereka. Yoga ingin hubungannya baik-baik saja dengan Naira.
"Sebenarnya ... aku mempunyai niatan baik kepada Naira, Bi." Yoga akhirnya mengatakannya.
Sang bibi tersenyum. "Niat baik seperti apa, Nak Yoga?" Sang bibi pun segera menanyakannya. Tanpa terasa waktu sudah malam saja.
"Sebenarnya aku ingin--"
Tapi belum sempat menjawab, tiba-tiba dering ponsel terdengar. Yoga pun segera mengangkat teleponnya. "Sebentar, Bi."
Yoga berkata seperti itu kepada Bibi Naira. Ia juga segera menjauhkan dirinya untuk menerima telepon tersebut. Dan tak lama suara dari seberang pun terdengar olehnya.
"Apa?!!"
Namun, saat itu juga Yoga terbelalak seketika. Ponselnya jatuh ke lantai karena tak percaya. Yoga bak kehilangan udaranya.
__ADS_1
"Nak Yoga, ada apa?" Bibi Naira pun tampak menanyakannya.
Satu jam kemudian...
Yoga berlari tergesa-gesa menuju sebuah ruangan yang ada di salah satu rumah sakit ibu kota. Langkah kakinya begitu cepat bak pacuan kuda. Hingga akhirnya ia tiba di sebuah ruangan intensif. Yoga pun segera menanyakan di mana keberadaan kakaknya.
"Dok, aku Yoga. Adik dari Zeon Johnson. Di mana kakakku sekarang?" tanya Yoga dengan perasaan bercampur aduk.
Dokter tampak melepas kaca matanya. "Em, Anda keluarga tuan Zeon? Mari ikut saya." Dokter pun meminta Yoga untuk segera mengikutinya.
Dengan napas terengah-engah sehabis berlari, Yoga pun mengikuti ke mana langkah kaki dokter itu menuju. Hingga akhirnya Yoga memasuki sebuah ruangan yang sepi dari suara. Tampak peralatan dokter sudah tidak berada lagi di sana. Yang ada hanya pembaringan dengan kain putih yang melapisinya. Dokter pun meminta Yoga untuk membukanya.
Saat itu juga tangan Yoga gemetar untuk membukanya. Jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya. Dengan laju napas yang terhenti sejenak, Yoga harap-harap cemas membuka kain putihnya. Dan ternyata...
"Tidak. Ini tidak mungkin." Yoga pun tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Mohon maaf, Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi mungkin Tuhan berkehendak lain."
Dan begitulah yang dikatakan oleh dokter kepada Yoga. Yoga pun terjatuh lemas di atas lantai ruangan. Ia tidak mempunyai tenaga. Sang kakak ternyata telah tiada.
Beberapa jam kemudian...
Rangkaian bunga banyak menghiasi setiap sudut rumah duka. Tampak Yoga yang tidak berhenti menangis saat melihat ketiga jasad yang tidak bernyawa. Ialah Zeon, Tania dan juga Tiara yang akan dimakamkan bersama malam ini juga. Yoga pun tidak berhenti menangisinya.
"Kakak, kenapa kau begitu cepat meninggalkanku?!"
Zeon ditemukan tewas di kamar vila yang ia sewa bersama Tiara. Tiga butir peluru bersarang di tubuhnya. Di dada, kepala, dan juga area pribadinya. Dan ternyata pelakunya adalah Tania. Tania juga menghabisi nyawa Tiara yang tengah memadu kasih bersama Zeon.
Tania menembakkan peluru ke kepala dan dada Tiara. Alhasil Tiara pun tewas seketika. Dan setelah itu Tania membunuh dirinya sendiri. Tragedi ini pun menjadi perbincangan di kalangan pengusaha. Ternyata hubungan gelap mereka ketahuan juga.
Kini Yoga hanya bisa menangisi kepergian kakaknya. Ia juga menyesali perbuatan Tania. Tapi kini Tania juga telah tiada. Yoga merasa sendiri. Ia tidak mempunyai teman untuk berbagi. Dan air mata menjadi saksi kedukaannya. Yoga kehilangan orang-orang yang disayangnya.
__ADS_1
.........
...Tamat...